AKTUALISASI DIRI PEREMPUAN-PEREMPUAN ODHA (ORANG DENGAN HIV/AIDS) DALAM KUMPULAN CERPEN AKU KARTINI BERNYAWA SEMBILAN

Lailatul Munawaroh*

Abstrak

Memasuki era milenium ketiga ini karya sastra yang dihasilkan para perempuan penulis menyerbu kehidupan sastra Indonesia. Masing-masing dengan dunianya. Ada yang cerdas, radikal, bebas, bahkan lebih gila daripada lelaki. Ada juga yang gaul, melankolis, puitis, komunikatif, dan santun, tetapi sesungguhnya memberontak. Akan tetapi, belum banyak kisah penderita HIV yang dituangkan dalam karya sastra, khususnya cerpen ataupun novel. Hal tersebut dikarenakan selama ini AIDS dianggap sebuah aib yang harus ditutupi dan dijauhi. Perlakuan bagi penderita HIV/AIDS di berbagai rumah sakit pun terkadang masih memprihatinkan. Kenyataan tersebut  membuat mental penderita HIV/AIDS makin tertekan. Namun, beberapa tahun yang lalu telah terbit sebuah buku yang ditulis oleh perempuan-perempuan penderita HIV/AIDS. Buku tersebut berjudul Aku Kartini Bernyawa Sembilan. Kehadiran buku tersebut tentu saja sangat berarti bagi penderita HIV/AIDS dan bagi kita semua. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai terobosan untuk menuangkan kreatifitas. Selain itu, buku tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk berbagi pengalaman sekaligus menjadi terapi batin bagi para ODHA. Setidaknya apa yang dirasakan oleh ODHA dapat kita rasakan sehingga dapat menyebarkan kesadaran bahwa HIV/ AIDS adalah isu dunia yang sangat serius untuk ditangani.

Kata kunci: aktualisasi diri, perempuan dengan HIV/AIDS, cerita pendek Continue reading

Advertisements

CERPEN ”MALIN KUNDANG 2000”, ”MALIN KUNDANG PULANG KAMPUNG”, DAN ”SI LUGU DAN MALIN KUNDANG” DALAM TINJAUAN INTERTEKSTUAL

Halimah

 

Abstrak

 

Tulisan ini mengkaji cerpen “Malin Kundang 2000”, “Malin Kundang Pulang Kampung’, dan “Si Lugu dan Si Malin Kundang” secara intertekstual. Tujuan kajian intertekstual cerpen ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut. Metode intertekstual dalam analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks-teks sastra yang menstransformasi dari teks yang lain yang merupakan teks hipogramnya. Dalam hal ini teks-teks cerpen mentransformasi teks cerita Malin Kundang.

 

Kata Kunci: analisis, teks sastra, intertekstual, transformasi, hipogram. Continue reading

D. ZAWAWI IMRON: MADURA DALAM PUISI INDONESIA

Wan Anwar

Abstrak

D. Zawawi Imron adalah seorang penyair yang setia menghadirkan nuansa tanah kelahirannya, Madura dalam puisi-puisinya. Kekhasan gaya pengucapan dan konsistensinya membuat dirinya menempati posisi yang khas dalam sejarah perpuisian Indonesia.

Tulisan ini mengupas lebih dalam mengenai gagasan D. Zawawi Imron, terutama gagasan dalam puisi-puisi yang berlatarkan Madura dikaitkan dengan keindonesiaan.

 

Kata Kunci: D. Zawawi Imron, Madura, puisi, keindonesiaan Continue reading

DOMINASI IBU TERHADAP ANAK DALAM CERPEN “ANAK IBU”

Yeni Mulyani Supriatin

Abstrak

Ketidakadilan gender sebagai akibat sosiokultural cenderung memihak maskulinitas yang menyeret perempuan sebagai korban. Ketidakadilan gender  yang justru dikukuhkan oleh seorang perempuan (ibu) yang berpikiran tradisional di dalam cerpen “Anak Ibu” digambarkan secara gamblang. Sebagai akibatnya, seorang perempuan (anak) yang berpendidikan tinggi dan berpikiran moderat pun tidak mampu melawan ibunya yang dalam cerpen ini mewakili pandangan ideologi gender yang mennjunjung supremasi laki-laki sebagai pihak yang mendominasi.

 

Kata Kunci: ideologi gender Continue reading

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MARAKNYA KARYA SASTRA YANG MENGUPAS PERSOALAN SEKSUALITAS DAN TUBUH DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN PADA ERA REFORMASI

Nenden Lilis Aisyah

Abstrak

 

Penelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Maraknya Karya Sastra yang Mengupas Persoalan Seksualitas dan Tubuh dalam Kesusastraan Indonesia Modern pada Era Reformasi”.

Latar belakang penelitian ini adalah fenomena yang terjadi dalam Kesusastraan Indonesia pada era Reformasi dengan maraknya karya sastra yang mengetengahkan dan mengupas seksualitas dan tubuh. Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi fenomena tersebut.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini secara umum adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan  wawancara. Teknik pengolahan data menggunakan pendekatan sosiologi sastra.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi maraknya karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh di era Reformasi, yaitu 1) faktor kebijakan Pemerintah era Reformasi, 2) faktor ekonomi, 3) faktor ideologi, dan 4) faktor politik kanoni sastra.

 

Kata kunci: Kesusastraan Indonesia Modern, seksualitas, tubuh, Era Reformasi Continue reading

KEDUDUKAN PEREMPUAN PENGARANG DALAM KEHIDUPAN SASTRA INDONESIA

Sarip Hidayat

Abstrak

Penerbitan karya sastra Indonesia dewasa ini disemarakkan oleh kehadiran karya-karya yang ditulis oleh perempuan pengarang. Perdebatan demi perdebatan yang mengiringi kehadiran mereka begitu sering dilakukan oleh para pemerhati sastra, baik itu kritikus maupun para praktisi sastra. Kehadiran para perempuan pengarang ini tidak dapat dilepaskan pula dari merebaknya kajian dan wacana mengenai feminisme. Gagasan feminisme yang berasal dari Barat tersebut dihadirkan dalam karya-karya mereka.

Tulisan ini mencoba mengungkapkan dan menelusuri sejarah kehadiran perempuan pengarang dalam khazanah sastra Indonesia sejak berkembangnya sastra Indonesia Modern sampai saat ini. Selain itu, tulisan ini mengkaji pula peran perempuan pengarang dalam kehidupan sastra Indonesia dan perkembangan pemikiran dalam karya-karya mereka

 

Kata kunci: perempuan pengarang, sastra Indonesia, feminisme, gagasan. Continue reading

PENERAPAN TEKNIK PAGELARAN WAYANG BEBER DALAM PEMBELAJARAN MENGARANG SISWA SEKOLAH DASAR

Ida Widia

 

Abstrak

Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Penyajian yang  menarik dan langsung akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkannya kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakannya.

Pengajaran yang paling disenangi siswa jenjang sekolah dasar adalah mendongeng. Mendongeng yang disertai dengan media akan membantu pemahaman siswa.Teknik pagelaran wayang, khususnya teknik pagelaran wayang beber sebagai media tradisional, dapat dijadikan alternatif lain oleh guru dalam kegiatan mendongeng.

Studi ini dilakukan untuk mengetahui tiga permasalahan, yaitu (1) mengetahui proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa sekolah dasar, (2) mengetahui cara penerapan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng oleh guru, (3) mengetahui hasil belajar mengarang siswa dengan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng.

Kata kunci: media pendidikan, teknik pagelaran wayang beber,  menulis Continue reading

REPRESENTASI JAWARA DALAM CERPEN “PEMBELAAN BAH BELA” KARYA MOH. WAN ANWAR

Asep Muhyidin

 

 

Abstrak

 

Sastra merupakan produk budaya. Sastra merupakan hasil dari karya cipta manusia. Sebuah karya sastra yang baik tentunya menyodorkan pengetahuan tentang fakta sosial ataupun budaya. Pengarang merupakan anggota masyarakat yang hidup dan berhubungan dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, maka proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra menampilkan gambaran pola pikir, perubahan tingkah laku, dan tata nilai budaya. Dengan kata lain, karya sastra merupakan potret segala aspek kehidupan sosial dengan segala permasalahannya yang terjadi di masyarakat. Jawara adalah realitas sosial masyarakat Banten. Sejumlah literatur memasukkan jawara sebagai subkultur di samping kiai atau ulama. Dalam cerpen “Pembelaan Bah Bela” karya Moh. Wan Anwar, sosok jawara tercermin dari perselisihan dan persaingan yang terjadi antara keluarga Bah Bela dan keluarga Bah Kahot. Perkenalan keduanya diawali dengan sebuah perkelahian yang sengit demi membela kebenaran yang diyakini oleh keduanya. Sosok jawara muncul pada tokoh Bah Kahot dan Bah Bela. Karena kelebihannya dalam ilmu kedigjayaan, mereka dapat menjadi  tokoh yang karismatik. Bah Kahot menjadi seorang ketua organisasi dan Bah Bela menjadi ketua dewan pakar. Jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten pada umumnya sehingga jawara tidak hanya menggambarkan suatu sosok, tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai,  norma,  dan  pandangan  hidup  yang khas.

 

Kata kunci:  Representasi, jawara, budaya Banten Continue reading

SOSOK WANITA DALAM PUISI SUNDA MODERN

Ariyanti

Abstrak

Puisi merupakan salah satu produk budaya yang dihasilkan masyarakat pemiliknya. Puisi Sunda terlahir dari pemikiran, imajinasi dan rasa orang Sunda terhadap hidup dan kehidupannya. Wanita sebagai bagian dari kehidupan telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair Jawa Barat.

Seorang sastrawan kenamaan, Ajip Rosidi, mengumpulkan dan menerjemahkan puisi karya beberapa penyair Jawa Barat dalam sebuah buku berjudul Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa. Buku tersebut memuat beberapa puisi yang menjadikan wanita sebagai sumber inspirasinya. Setiap penyair mempunyai cara yang beragam dalam mengapresiasi wanita. Ada yang positif, ada pula yang negatif.

Tulisan ini menguak bagaimana citra wanita dari sudut pandang para penyair Jawa Barat.

 

Kata kunci: wanita, puisi Sunda modern Continue reading

TOKOH PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN KEDUA: ANTARA PENDIDIKAN, KARIER, DAN RUMAH TANGGA

Jujun Herlina

 

Abstrak

Kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik semakin terbuka lebar bagi perempuan. Mereka juga mampu menempati posisi-posisi penting di wilayah publik. Namun, keberhasilan perempuan dalam pendidikan dan karier belum berdampak positif terhadap perannya di wilayah domestik.

 

Kata kunci: pendidikan, karier, dominasi laki-laki Continue reading