CERITA SI KABAYAN: TRANSFORMASI, PROSES PENCIPTAAN, MAKNA, DAN FUNGSI

Memen Durachman

 

Abstrak

Penelitian ini dilatar belakangi oleh betapa kayanya teks cerita Si Kabayan mengalami transformasi. Teks cerita Si Kabayan pada awalnya hanyalah sastra lisan/tradisi lisan. Akan tetapi, mengalami transformasi dalam tradisi tulis. Bahkan, teks cerita Si Kabayan mengalami transformasi juga dalam tradisi kelisanan kedua. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tentang struktur teks-teks cerita Si Kabayan dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Artinya, seluruh teks dideskripsikan dari segi struktur dan transformasinya, proses penciptaan, makna, dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur cerita Si Kabayan umumnya sederhana baik dari segi alur, tokoh, dan latar. Transformasi yang terjadi berupa ekspansi dan konversi. Proses penciptaannya didasari oleh skema. Maknanya umumnya tentang kearifan menghadapi hidup. Fungsinya, umumnya berkaitan dengan pengesahan kebudayaan, alat pemaksa belakunya norma-norma sosial, dan alat pengendali sosial, alat pendidikan, hiburan, memprotes ketidak adilan dalam masyarakat.

Kata kunci: penutur, transformasi, proses penciptaan, makna, fungsi, ekspansi, konversi, struktur, skema. Continue reading

Advertisements

CITRA KEPEMIMPINAN DALAM SASTRA LAMA: HIKAYAT SRI RAMA DAN WAWACAN BABAD TIMBANGANTEN

Asep Rahmat Hidayat

Abstrak

Karya sastra lama mengandung berbagai pelajaran, petuah, dan nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Salah satu nilai yang terkandung dalam naskah-naskah kuno tersebut adalah nilai kepemimpinan. Nilai ini dihadirkan dalam berbagai seginya. Salah satu segi yang diteliti adalah pencitraan.

Penelitian terhadap citra kepemimpinan ini dikhususkan pada dua karya sastra yang berasal dari khazanah sastra lama, yaitu Hikayat Sri Rama dan Wawacan Babad Timbanganten. Dalam kedua naskah ini ternyata terdapat berbagai citra yang berhubungan dengan kepemimpinan yang selama ini sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kata kunci: pencitraan, kepemimpinan, sastra lama Continue reading

EKSISTENSIALISME ALBERT CAMUS DALAM ORANG ASING

Harfiyah Widiawati

 

 

Abstrak

Karya Albert Camus, seorang penulis Aljazair yang kemudian pindah ke Perancis, secara signifikan memperlihatkan sifat eksistensialisme. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan unsur-unsur eksistensialisme dalam salah satu karya Camus, L’étranger, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Orang Asing.

 

Kata kunci: Albert Camus, eksistensialisme, absurdisme Continue reading

ILUSTRASI DALAM BUKU AJAR SEKOLAH DASAR: KEKUATAN GAMBAR PADA PENCITRAAN

Lina Meilinawati Rahayu

Abstrak

Dalam artikel ini diteliti gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar pada tingkat sekolah dasar (SD). Buku-buku yang dijadikan objek penelitian adalah buku sekolah elektronik yang diterbitkan Pusat Perbukuan (Pusbuk) Depdiknas, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Pada kelas awal (khususnya kelas 1) gambar lebih mendominasi isi buku untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Ilustrasi/gambar memiliki kekuatan untuk mengonversi, suatu kekuatan yang harus dianalisis. Gambar dapat menimbulkan pencitraan tertentu yang kuat melekat dalam benak para siswa. Dengan kata lain, pemilihan gambar dalam buku ajar perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi peserta didik pada pencitraan. Analisis akan menggunakan prinsip pemaknaan faktor kinesik (gerak tubuh) pada gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar. Faktor kinesik yang menjadi fokus penelitian adalah gesture (gerak, isyarat, sikap) yang ditunjukkan pada gambar-gambar yang menampilkan relasi anak laki-laki dan anak perempuan. Gambar tesebut memposisikan anak perempuan sebagai sosok yang pemalu, penakut, pasif, dan perlu perlindungan memperlihatkan ada relasi kekuasaan yang bermain.  Penggambaran ini akan membawa pencitraan yang dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik.

 

Kata Kunci: ilustrasi/gambar, pencitraan, gestur, relasi kekuasaan Continue reading

MANTRA BANJAR: BUKTI ORANG BANJAR MAHIR BERSASTRA SEJAK DAHULU

Mahmud Jauhari Ali

Abstrak

Pur sinupur/Bapupur di piring karang/Bismillah aku bapupur/Manyambut cahaya si bulan tarang/Pur sinupur/Kaladi tampuyangan/Bismillah aku bapupur/Banyak urang karindangan…. Bait tersebut merupakan lantunan jampi-jampi Banjar yang sudah ada sejak dulu. Kita tahu bahwa jampi-jampi Banjar telah digunakan untuk berbagai kesempatan sejak dahulu kala, antara lain, untuk membantu bayi kelahiran, membuat badan kebal senjata, dan membuat anak berhenti menangis. Selain itu, jampi-jampi Banjar yang berkembang di masyarakat Banjar digunakan juga sebagai alat untuk mengungkapkan nilai sosial-kebudayaan. Melalui jampi-jampi Banjar, kita bisa menelusuri nilai kebudayaan yang lebih mendalam yaitu kepercayaan atau agama. Lewat jampi-jampi Banjar, kita juga  bisa mengetahui agama yang pernah ada di masyarakat Banjar. Dalam jampi-jampi Banjar terdapat pengaruh unsur agama Kaharingan, Melayu dan Jawa budha, dan Islam. Di antara seluruh Banjar Kuala, Banjar Hulu, dan Banjar Batang Banyu, tiga unsur agama yang ada atau pernah ada adalah Kaharingan, Budha, dan agama Islam.

Selain agama-agama tersebut dan hal-hal gaib, jampi-jampi Banjar merupakan bagian  kesusasteraan lisan orang Banjar. Jampi-jampi Banjar bisa dimasukkan ke dalam sajak lama orang Banjar. Sajak lama ini sudah diciptakan dan dibaca oleh orang Banjar untuk berbagai kesempatan sejak zaman dulu. Penciptaan dan pembacaan jampi-jampi  ini menunjukkan bahwa orang Banjar sudah bersastra khususnya dalam menciptakan dan membacakan sajak lama dalam bentuk jampi-jampi Banjar. Kita juga bisa menyebutkan bahwa jampi-jampi Banjar merupakan bukti bahwa orang Banjar sudah menjadi ahli dalam bidang kesusasteraan, dalam hal  ini, sajak lama. Kita harus melestarikan jampi-jampi Banjar karena selain berfungsi sebagai alat sosial budaya dan juga bermanfaat dalam mengeksplorasi nilai agama masyarakat Banjar. Melalui jampi-jampi Banjar kita bisa membuktikan bahwa orang Banjar sudah bersastra sejak zaman dulu. Pelestarian jampi-jampi Banjar dapat dilakukan dengan cara mendokumentasikan jampi-jampi dalam bentuk buku yang akan dengan mudah dibaca oleh orang Banjar dan orang-orang umum. Pelestarian yang terbaru berhubungan dengan jampi-jampi orang Banjar adalah dengan cara melanjutkan kebiasaan membaca puisi seperti yang sudah dilakukan oleh orang Banjar sejak dulu. Bentuk pelestarian yang nyata dan yang lebih langsung adalah dengan cara menciptakan sajak yang mirip secara kontemporer.

 

Kata kunci: jampi-jampi, orang Banjar, bait-bait yang ditulis dengan baik, kesusasteraan, pelestarian Continue reading

PERBANDINGAN HIKAYAT MAHARAJA MUNDING GIRI DAN PANGGUNG KARATON DENGAN NOVEL ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

Pipin Dasripin

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang wujud struktur, kebahasaan, gambaran sosial, dan budaya yang terdapat dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton sebagai suatu karya sastra lama dan novel Anak Perawan Disarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana sebagai suatu karya sastra baru.

Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dan mimesis. Pendekatan ini berhubungan dengan kenyataan dan rekaan dalam karya sastra. Yang dianalisis tidak hanya peristiwa, plot, tokoh, dan latar, tetapi bagaimana hubungan antarunsur tersebut dan sumbangan apa yang dapat diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.

Kedua karya sastra yang berlainan masanya, ternyata masih ada unsur kesamaanya. Novel ternyata meneruskan nilai-nilai yang ada dalam hikayat. Namun, berbeda dalam cara penyajian, bahasa, dan alur. Hal itu merupakan transformasi dari suatu karya sastra yang meneruskan tradisi-tradisi lama dalam menampilkan sebuah karya sastra.

 

Kata Kunci: hikayat, novel, sastra lama, transformasi, mimesis Continue reading

RANDA BENGSRAT: EMANSIPASI, CINTA, DAN KEIMANAN

Cucu Suminar

Abstrak

Dalam cerita-cerita tentang wanita, ditemukan citra wanita sesuai dengan sudut pandang pengarangnya. Citra wanita pertama ialah yang bertingkah baik yang menampilkan sifat penurut dan berbakti kepada orang lain. Citra wanita kedua ialah wanita yang dapat mengekspresikan diri melawan dominasi pria.

Salah satu roman yang menceritakan tentang kehidupan wanita ialah Randa Bengsrat ‘Janda utuh’. Randa Bengsrat merupakan roman Sunda karya Jus Rusamsi. Randa Bengsrat adalah sebuah roman (modern) yang cukup menarik dan mengesankan untuk bacaan generasi muda. Randa Bengsrat banyak membahas masalah-masalah aktual bertalian dengan perjuangan kaum wanita untuk menempatkan dirinya dalam masyarakat di negara sedang berkembang yang bersifat majemuk seperti Indonesia.

 

Kata kunci: pergerakan wanita, cinta, keimanan Continue reading

REFLEKSI ANAK INDIGO DALAM PEREMPUAN MENCARI TUHAN

Resti Nurfaidah

 

Abstrak

 

Anak indigo merupakan fenomena abad neew age, abad milenium. Anak-anak tersebut kerapkali menunjukkan karakter yang cenderung aneh. Terkadang, kehadiran mereka kerapkali menjadi bumerang bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan, mereka sering  dicap sebagai anak yang berperilaku  menyimpang. Terlebih lagi bagi orang tua yang tidak sabar cenderung membawa anak indigo ke pusat rehabilitasi mental. Salah satu sebab yang membedakan anak indigo dengan anak lainnya adalah mereka senantiasa menunjukkan perilaku yang aneh. Padahal, tanpa mereka sadari kebanyakan anak indigo memiliki intelegensi di atas rata-rata atau bahkan kemampuan yang belum tentu dapat dimiliki anak sebayanya. Sementara itu salah seorang psikoterapis senior di Indonesia mengatakan bahwa anak indigo merupakan anak yang abnormal karena terjadinya kerusakan pada sistem otak. Sehubungan dengan hal itu, anak indigo harus mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal dan mereka harus dianggap sebagai anak biasa. Berbeda dengan kondisi di negeri ini,  Amerika menjadikan anak indigo sebagai aset yang sangat berharga. Di sana anak indigo dilibatkan dalam penanganan kasus kriminal. Semakin maraknya fenomena anak indigo tersebut, banyak penulis yang mengangkat hal itu ke dalam karya mereka. Salah satu di antaranya, dapat kita temukan dalam novel Perempuan Mencari Tuhan yang ditulis oleh Yudhistira. Novel tersebut bercerita tentang konflik antara anak indigo dan lingkungan sekitarnya. Lingkungan tersebut menunjukkan sikap tidak berterima kepada anak indigo.  Tokoh Ganet menjadi korban ketidakberterimaan atas kelebihan yang dimilikinya. Hal itu menimbulkan kekecewaan dalam diri Ganet dan ia tidak bisa menerima kondisi itu. Hal itu tanpa sengaja membawanya menuju pintu gerbang pencarian jalan menuju Tuhan. Sayang sekali, Tuhan Mahakuasa yang ingin ia temui didapatinya di penghujung ajalnya. Novel tersebut sarat dengan penyampaian konflik antara lingkungan dan anak istimewa itu.

Kata kunci: anak indigo, ketidakberterimaan lingkungan, dan konflik Continue reading

REFLEKSI PEREMPUAN SUNDA DALAM NOVEL SUNDA

Rieza Utami Meithawati

Abstrak

Karya sastra merupakan sebuah media untuk merepresentasikan berbagai bentuk gagasan ataupun persoalan perempuan yang berkembang dalam masyarakat, baik secara ideologis maupun secara praktis. Masalah refleksi perempuan dalam ruang publik dan ruang privat yang didominasi oleh kaum patriarkat terungkap dalam novel Pipisahan. Peranan tokoh perempuan dalam memperjuangkan hidupnya dengan mengais rezeki di ruang publik mendapat banyak hambatan dari kaum laki-laki. Bahkan, kaum laki-laki berusaha untuk menempatkan kembali tokoh perempuan itu kembali ke ruang privat.

 

Kata Kunci: perempuan, ruang publik, ruang domestik Continue reading

TEMA SEKS DALAM LIMA NOVEL YANG DITULIS OLEH NOVELIS PEREMPUAN INDONESIA

Nandang R. Pamungkas

 

Abstrak

Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan novel-novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 pada umumnya secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Kehadiran Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch (Dinar Rahayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru juga menuai kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.

Dalam kelima novel tersebut penokohan perempuan dan tema seks begitu terasa mendominasi. Para perempuan dalam novel-novel tersebut semuanya dililit oleh permasalahan cinta dan seksual. Permasalahan tersebut di antaranya, perselingkuhan, penindasan, budaya patriarkat, dan feminisme. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh perempuan pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, tetapi secara umum cerita melibatkan begitu banyak tokoh perempuan.

Dalam kelima novel tersebut kita juga melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.

Kata Kunci: seksualitas, penokohan perempuan Continue reading