PERBANDINGAN HIKAYAT MAHARAJA MUNDING GIRI DAN PANGGUNG KARATON DENGAN NOVEL ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

Pipin Dasripin

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang wujud struktur, kebahasaan, gambaran sosial, dan budaya yang terdapat dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton sebagai suatu karya sastra lama dan novel Anak Perawan Disarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana sebagai suatu karya sastra baru.

Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dan mimesis. Pendekatan ini berhubungan dengan kenyataan dan rekaan dalam karya sastra. Yang dianalisis tidak hanya peristiwa, plot, tokoh, dan latar, tetapi bagaimana hubungan antarunsur tersebut dan sumbangan apa yang dapat diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.

Kedua karya sastra yang berlainan masanya, ternyata masih ada unsur kesamaanya. Novel ternyata meneruskan nilai-nilai yang ada dalam hikayat. Namun, berbeda dalam cara penyajian, bahasa, dan alur. Hal itu merupakan transformasi dari suatu karya sastra yang meneruskan tradisi-tradisi lama dalam menampilkan sebuah karya sastra.

 

Kata Kunci: hikayat, novel, sastra lama, transformasi, mimesis

Abstract

The aim of the research is to find the description about structure, language, social reflection, culture form in the story of Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton as an old literary work and the novel of Anak Perawan di Sarang Penyamun  written by Sutan Takdir Alisyahbana as an example of new literary work.

The research uses structural and mimesis approach. The approach is related to the fact and making of literary work.  The analyzed point in the research is not only dealing with event, plot, character but also dealing with how the relation among story contents and what the contribution can be given to the purpose of eastatic as well as the whole intended meaning.

Although both of the literary works existed  in different period of time, there is still having a certain similarity. In fact, the novel still gives the values as those written in the old story. However, it has some differences in writing, language, and story plot. It reflects that it is the transformation of literary work continuing the old traditions in performing a literary work.

Key word: story, novel, old literature, transformation, mimesis

1. Pendahuluan

Karya sastra merupakan sarana atau alat yang bertujuan memberikan petunjuk karena di  dalam karya sastra tersebut  terdapat nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Nilai-nilai yang tercermin dalam kandungan sastra merupakan budaya bangsa yang dapat dijadikan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat dan hubungan sosial di masa mendatang.

Rusyana (2002) mengungkapkan bahwa naskah mengandung kemungkinan yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan memajukan peradaban bangsa, yaitu usaha untuk mencapai tingkatan cerdas, berbudi, dan sejahtera. Oleh karena itu, nilai-nilai yang berasal dari pengalaman masa lalu yang terkandung dalam naskah itu diungkapkan agar dapat diketahui, diapresiasi, direnungkan, dan digunakan sehingga menjadi sesuatu yang aktual dalam kehidupan masa kini.

Perlu ada kritikan terhadap karya sastra karena beberapa penilaian kritik merupakan kebutuhan bagi seorang seniman (Coulter, 1930:356, dalam Tarigan, 1984:198). Sebuah karya sastra tanpa adanya kritikan mustahil akan menjadi sebuah karya yang bernilai tinggi. Kualitas baik, buruk, atau bermutu ditentukan dan ditunjuk oleh para kritikus sastra yang menilai secara objektif karena tugas seorang kritikus adalah memberitahukan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masa lampau, karya seni yang dihubungkan dengan pengalaman sendiri, dan relasi antara nilai-nilai artistik dan nilai-nilai lainnya.

Prosa merupakan bagian dari sastra. Novel, hikayat, roman, dan cerpen, merupakan wujud dari karya prosa yang diungkapkan melalui medium, yaitu bahasa. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam karya, seorang pembaca harus dapat memahami isi dari karya sastra tersebut. Pemahaman ini harus dengan cara menganalisis unsur-unsur yang terkandung dalam karya tersebut dengan berbagai pendekatan. Melalui pendekatan dan metode tertentu, pembaca dapat memberikan interpretasi terhadap karya tersebut.

Berdasarkan latar belakang ini, penulis melakukan penelitian terhadap karya sastra tersebut. Adapun karya sastra yang akan diteliti ialah hikayat dan novel. Dalam menganalisis digunakan pendekatan struktural dan mimesis.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang wujud struktur, kebahasaan, gambaran sosial, dan budaya yang terdapat dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton sebagai suatu karya sastra lama dan novel Anak Perawan Disarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana sebagai suatu karya sastra baru.

 

2. Hikayat dan Novel

Secara etimologis kata hikayat diturunkan dari bahasa Arab hikayat yang berarti cerita, kisah, dongeng-dongeng (Hava, 1951:137).

Hooykaas (1951:91) berpendapat bahwa hikayat adalah cerita-cerita roman dalam bahasa Melayu. Jika ditinjau dari bahasa Melayu, kata hikayat ini pun memiliki arti yang sama dengan yang dikemukakan Hava, yaitu berarti  (1) cerita kuno/cerita lama dalam prosa, (2) riwayat, sejarah (Iskandar, 1970:364).

Rusyana dalam Sistem Kesusastraan mengungkapkan bahwa hikayat merupakan narasi prosa rekaan yang panjang, sering mengandung hal yang mengesankan, dan mustahil terjadi. Hikayat merupakan karya sastra lama, umumnya menggunakan medium tulis, dalam wujud naskah (manuskrip). Ceritanya banyak berasal dari kontak dengan sastra Hindu dan sastra Islam.

Hikayat sebagai suatu jenis sastra produk Melayu, di samping pantun, sanjak, dan syair, dikatakan pula bahwa pokok cerita hikayat terutama dipetik dari raja dan keluarganya yang juga di dalamnya terdapat peristiwa yang dihiasi oleh kejadian yang sakti dan ajaib (Amir Hamzah 1982:1).

Dari uraian dan pendapat tersebut dapat digambarkan bahwa ciri-ciri hikayat ialah 1) sebagai suatu karya sastra mempunyai cara tersendiri dalam menceritakan realitas kehidupan; 2) unsur karya sastra hikayat ada yang terkesan mengandung unsur dongeng sehingga terkesan rekaan/fiksional; 3) isi hikayat sebahagian tidak logis; 4) isi hikayat menyingkap kehidupan raja dan keluarganya; 5) hikayat umumnya merupakan karangan yang berbentuk prosa dan tidak menutup kemungkinan unsur puisi ada di dalamnya; 6) mediumnya bahasa; 7) motif hikayat ialah kesaktian dan keajaiban.

Novel berasal dari bahasa Inggris. Dalam bahasa Itali disebut novella dan dalam bahasa Jerman disebut Novelle. Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’ dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa  (Abrams dalam Nurgiantoro, 1981:119). Dewasa ini istilah novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novel (Inggris:novellet) yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya sedang, tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 2002: 9—10).

Rusyana juga memandang novel merupakan sebuah narasi prosa yang panjang yang pada umumnya mengesankan peristiwa di dalamnya mungkin terjadi. Novel merupakan bagian dari sastra modern yang menggunakan medium cetak dalam wujud buku. Di samping itu ada pula yang dimuat dalam koran atau majalah sebagai cerita bersambung.

Novel dapat diartikan dengan melihatnya dari segi bentuk, isi, sifat, kesan, struktur, bahkan secara keseluruhan. Dari segi bentuk, novel diwujudkan dalam karangan prosa bebas, sangat memungkinkan adanya unsur kepuitisan bahasa, sedangkan dari segi isi umumnya membicarakan liku-liku kehidupan manusia. Dari segi sifat, novel tergolong jenis narasi yang diceritakan secara fiktif.

Novel adalah jenis cerita dengan alur cukup panjang yang mengisi satu buku/lebih yang menggarap kehidupan manusia yang bersifat imajinatif. Ia merupakan gambaran kehidupan dan perilaku nyata dari zaman pada saat novel itu ditulis (Wellek dan Waren, 1993;282).

Dari pandangan tersebut dapat dikatakan bahwa novel mempunyai ciri-ciri 1) dari segi bentuk dapat  diwujudkan dalam bentuk karangan prosa  dan tidak menutup kemungkinan adanya unsur puitis; 2) dari segi jenisnya novel lebih cendrung menampilkan karangan narasi karena novel lebih mengutamakan unsur penceritaan; 3) isi novel lebih mengetengahkan gambaran hidup dan kehidupan lahir dan batin tokohnya dalam mengarungi dunia dan masyarakatnya, 4) unsur utama dari novel adalah cerita/kisah, sehingga novel berkesan fiktif, khayalan; dan 5) novel memiliki struktur, dengan struktur utamanya ialah plot, penokohan, dan peristiwa. Struktur tersebut tersusun secara kronologis.

Dalam menganalisis karya sastra ada  beberapa analisis pendekatan yang dilakukakan, di antaranya dengan menggunakan analisis pendekatan struktural. Analisis pendekatan struktural menekankan adanya fungsi dan hubungan antarunsur (intrinsik) dalam sebuah karya, sedangkan pemaknaan karya itu dipandang sebagai sebuah sistem tanda (Nurgiantoro, 2002:3). Jadi, analisis pendekatan strutural terhadap fiksi  ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi, menganalisis, dan mendeskripsikan fungsi serta hubungan antara unsur intrinsik fiksi. Unsur ini antara lain berupa peristiwa-peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, dan sudut pandang. Setelah dijelaskan dari segi fungsi setiap unsur dalam menunjang makna secara keseluruhan dan hubungan antarunsur secara bersamaan analisis membentuk sebuah totalitas-kemaknaan yang padu.

Untuk menelaah sebuah karya sastra, diperlukan pendekatan. Pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan mimesis. Pendekatan ini berhubungan dengan kenyataan dan rekaan dalam karya sastra.

Hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam sastra ialah hubungan dialektik atau tetangga; mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, tetapi kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Takaran dan perkaitan antara kedua-duanya dapat berbeda menurut kebudayaan, jenis sastra, zaman, dan kepribadian pengarang (A. Teeuw, 1984:249).

Dengan demikian, analisis tidak cukup hanya sampai pada kajian peristiwa, plot, tokoh, latar dan lainnya. Yang lebih penting dalam analisis ini ialah bagaimana hubungan antarunsur tersebut dan sumbangan apa yang dapat diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.

 

3. Perbandingan Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton dengan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun

3.1 Analisis Struktur Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton

Naskah Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton hanya ada satu, yaitu yang terdapat di Museum Pusat Jakarta, dengan nomor naskah W 145; naskah ini berukuran 34 x 21 cm; berjumlah 40 halaman isi, dengan 39 halaman masing-masing terdiri atas 21 baris, sedangkan halaman terakhir terdiri atas 11 baris.

Naskah yang akan dianalisis ini merupakan hasil tranliterasi dari naskah asli. Naskah ini terdapat di Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Naskah yang dianalisis berhuruf Latin dengan tulisan jelas terbaca.

Isi naskah menceritakan pengembaraan Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton dalam membangun sebuah kerajaan. Kisah ini dimulai dari Sri Maharaja Munding Pakuan yang bertahta di negeri Pakuan Pajajaran bersama permaisurinya, Mayang Sarasah. Mereka mempunyai anak tunggal yang bernama Munding Giri. Sri Maharaja Munding Pakuan mengutus putra tunggalnya itu pergi ke Tatar Wetan dengan ditemani oleh Panggung Karaton, Bungsu Sari Kembang (istri Munding Giri), dan beberapa saudara lainnya.

Di Tatar Wetan, Munding Giri bertahta sebagai maharaja dan Panggung Karaton sebagai perdana menteri. Kerajaannya diberi nama Pondok Sipararambon yang terletak di Sanghiyang Kepuh Tunggal.

Setelah Panggung Karaton menaklukan kerajaan Genggelang dan Jutang, Maharaja Munding Giri pindah ke Genggelang karena alamnya yang subur dan makmur. Lama-kelamaan kerajaan Maharaja Munding Giri dan Panggung Keraton di Genggelang menjadi termashur sehingga banyak kerajaan lain yang iri terhadap kerajaan Munding Giri dan Panggung Karaton.

Panggung Karaton bertapa di hutan, disusul oleh Permaisuri Bungsu Sari Kembang (adiknya). Permaisuri menolak ajakan Panggung Karaton untuk kembali ke istana karena merasa dirinya sebagai penyebab peperangan dengan negeri lain. Selama mengembara di dalam hutan permaisuri beberapa kali bermimpi berhubungan dengan Munding Giri, suaminya sehingga permaisuri mengandung. Setibanya di Kedung Petahunan, permaisuri tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan sehingga beliau terpaksa istirahat dan membuat pondok di sana. Mulanya Panggung menolak karena di daerah tersebut ada ular naga. Tidak lama kemudian permaisuri melahirkan anak kembar laki-laki.

Anaknya yang muda, berhasil membunuh ular naga yang menelan permaisuri ketika sedang mandi di sungai. Nyawa ular kemudian menyatu dengan diri anak yang muda itu dan permaisuri pun dihidupkan kembali oleh Panggung Karaton. Setelah peristiwa itu anak yang tua diberi nama Boma Manggala dan yang muda diberi nama Jaya Paningal. Atas usul kedua anak kembar itu mereka kembali ke istana. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan banteng lilin dan dapat dibunuh oleh Jaya Paningal. Jiwa banteng lilin menyatu dengan Jaya Paningal. Akhirnya, mereka dapat bertemu kembali dengan Maharaja Munding Giri. Negeri Genggelang menjadi lebih masyhur dan mendapat tiga lagi negeri taklukan.

Munding Giri dan rombongan kembali ke Pakuan Pajajaran. Walaupun dalam perjalanan kembali ke Pajajaran mendapat gangguan, akhirnya mereka selamat sampai di Pakuan Pajajaran. Kemudian, Sri Maharaja Munding Pakuan menyerahkan Negeri Tanah Tinggi kepada Maharaja Munding Giri dan menyerahkan paseban kepada Panggung Karaton.

3.1.1 Tema

Sumardjo (1986:56) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan tema adalah ide sebuah cerita yang ingin disampaikan pengarang pada pembacanya, dapat merupakan suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan, atau komentarnya terhadap kehidupan yang wujudnya dapat dalam bentuk ajaran moral, pengamatan pengarang, atau sebuah simpulan. Selanjutnya, Scharbach dalam Aminudin (2004:91) menjelaskan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.

Tema dari Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton ini adalah untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan itu kita harus berusaha keras, ulet, sabar, dan tekun. Hal ini dapat digambarkan dalam hikayat tersebut. Misalnya ialah untuk mencapai kerajaan yang subur makmur Maharaja Munding Giri dan Perdana Menteri Panggung Karaton harus berjuang keras dalam membangun negerinya dengan berusaha melintasi rintangan yang terus menerus menghadangnya. Dengan keuletan, kesabaran, dan kesaktian sang Perdana Menteri, Kerajaan Pondok Sipararambon dapat mencapai kemakmurannya sehingga terkenal ke mana-mana.

Kesabaran dan keuletan Perdana Menteri Panggung Karaton, dapat tergambar dari peristiwa mencari sang adik atau Permaisuri Maharaja Munding Giri yang bernama Bungsu Sari Kembang yang beberapa kali diculik oleh raja-raja yang menginginkannnya karena kecantikannya. Selain itu juga pada waktu sang permaisuri dan Panggung Karaton mengembara di hutan, Panggung Karaton dengan setia mendampingi sang permaisuri yang hamil sampai melahirkan.

 

3.1.2 Penokohan

Tokoh dalam suatu cerita merupakan unsur yang paling penting karena tokoh berfungsi untuk memberikan gambaran tentang watak atau karakter manusia yang hidup dalam angan pengarang.

Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut tokoh, sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut penokohan (Aminuddin, 2004:79). Tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut tokoh inti atau tokoh utama, sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu.

Wellek dan Waren (1965:219) mengatakan bahwa tokoh mempunyai karakter yang berbeda, yakni karakter datar dan karakter bulat. Karakter datar bersifat dinamis statis yang hanya mempunyai sifat tertentu, sedangkan karakter bulat bersifat dinamis, yaitu mempunyai sifat bermacam-macam. Untuk lebih jelas menggambarkan watak tiap-tiap tokoh, karya sastra dapat dianalisis berdasarkan perilakunya.

Dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton yang menjadi tokoh utamanya adalah Panggung Karaton karena ia yang paling banyak berhubungan dengan tokoh lain, serta ia pun paling banyak berperan pada peristiwa-peristiwa dalam keseluruhan cerita.

Dikisahkan bahwa Panggung karaton itu seorang yang sakti. Dengan kesaktiannya dia dapat menaklukkan raja-raja yang hendak mengganggu kerajaan Munding Giri. Yang ditaklukannya, di antaranya, ialah Raja Datu Jongrang dan Gajah Mandala dari Genggeleng serta Pamerat Langit dari Negeri Atas Bukit yang semua itu membuat kerajaan Tatar Wetan menjadi tambah masyhur.

Karena tokoh utama dalam cerita hanya satu, yaitu Panggung Karaton, Maharaja Munding Giri termasuk tokoh bawahan atau tokoh tambahan. Dalam Hikayat ini tokoh tambahan itu cukup banyak yang dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok (1) terdiri atas Maharaja Munding Giri, Bungsu Sari Kembang, Boma Manggala, dan Jaya Paningal serta Kelompok (2) terdiri atas Datu Jongrang, Gajah Manggala, Lembu Wulung, Pamerat Ari, Munding Senjaya, Manggola Jagat, Bandu Perkasa, Rangga Sinoman, Rangga Pupuk, Banyak Lumanglang, Gagak Patih, dan Sarasah Wayang.

Maharaja Munding Giri pada cerita ini sedikit sekali ditampilkan. Dia hanya diceritakan ketika ia mengembara di wilayah Tatar Wetan bersama istrinya, Panggung Karaton, dan beberapa saudaranya.

Bungsu Sari Kembang adalah permaisuri raja yang cantik dan menjadi objek penculikan kerajaan lain. Ia merupakan tokoh yang paling dekat dengan Panggung Karaton. Sebagai permaisuri, ia pun mempunyai kesaktian dalam dirinya, antara lain terlihat pada waktu ada tanding dengan Puteri Sarasah Wayang di muara kali Cilamaya. Bungsu Sari Kembang berhasil mengambil sirih dari dalam air.

Boma Manggala dan Jaya Paningal adalah putera raja yang dilahirkan di hutan ketika permaisuri mengembara. Kedua anak raja ini mempunyai kesaktian, antara lain, ketika Jaya Paningal membunuh ular naga yang memangsa ibunya dan banteng lilin. Juga dikisahkan kedua anak raja ini menaklukkan kerajaan lain, yaitu kerajaan Tanjung Singguru yang ditaklukkan oleh Boma Manggala dan kerajaan Gagah Hanjuang serta kerajaan Cariunggang yang dikalahkan oleh Jaya Paninggal.

Tokoh Bawahan Kelompok 2 yang terdiri atas Datu Jongrang, Gajah Manggala, Lembu Wulung, Pamerat Ari, Munding Senjaya, Manggola Jagat, Bandu Perkasa, Rangga Sinoman, Rangga Pupuk, Banyak Lumanglang, Gagak Patih,d an Sarasah Wayang, semuanya itu merupakan tokoh yang menentang atau mencoba kekuatan tokoh-tokoh yang berasal dari Pakuan Pajajaran. Semua tokoh itu akhirnya dapat dikalahkan dan menjadi taklukan kerajaan Pakuan Pajajaran yang rajanya adalah Munding Giri dan Perdana Menterinya adalah Panggung Karaton.

 

3.1.3 Latar / Setting

Latar atau setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa yang memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis (Aminuddin, 2004:67). Latar menyokong peristiwa dan penokohan serta menciptakan suasana tertentu (Becker, 1978:51).

Latar pada Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton ini ditentukan berdasarkan latar tempat tertentu. Latar tempat di sini mengacu pada pusat tempat terjadinya suatu peristiwa. Latar atau tempat terjadinya peristiwa yang ditampilkan dalam Hikayat Munding Giri dan Panggung Karaton ini adalah latar kerajaan. Dari awal sampai akhir cerita latar kerajaan selalu tampak. Selain latar kerajaan, juga ada latar hutan yang merupakan tempat bertapa. Selain tempat bertapa, juga ditampilkan hutan tempat petualangan Bungsu Sari Kembang.

Berdasarkan uraian latar tersebut, dapat disimpulkan bahwa latar kerajaan tampak sekali dengan ditampilkannya lingkungan istana yang merupakan pusat kegiatan, yaitu tempat tinggal raja. Selain lingkungan istana, ditampilkan pula lingkungan hutan. Biasanya dalam lingkungan hutan terdapat tempat bertapa.

 

3.1.4 Alur

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2004:83)

Alur cerita dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Keraton dimulai dari Kerajaan Pakuan Pajajaran tempat Sri Maharaja  Munding Pakuan mengutus putranya, Munding Giri, pergi ke Tatar Wetan dengan ditemani oleh Panggung Karaton. Di Tatar Wetan, Munding Giri berhasil membuat kerajaan yang bernama Pondok Sipaparabon. Setelah Panggung Karaton menaklukkan Genggelang dan Jutang, mereka memutuskan untuk tinggal di Genggelang sehingga kerajaan Genggelang menjadi termasyur. Beberapa kerajaan lainnya menjadi taklukan kerajaan Genggelang.

Sang permaisuri mempunyai anak kembar bernama Boma Manggala  dan Jaya Paningal dan keduanya sakti. Kedua anaknya juga dapat menaklukkan kerajaan lainnya hingga delapan kerajaan yang dapat ditaklukannya.

Maharaja Munding Giri kembali ke Pakuan Pajajaran dan menjadi raja di sana menggantikan ayahnya.

Berdasarkan alur cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa cerita Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton merupakan cerita kronologis. Alur tersebut juga sama seperti alur cerita pantun Sunda, yaitu tokoh utama keluar dari keraton untuk mengembara, di pengembaraan harus menghadapi berbagai rintangan, dan rintangan tersebut dapat dilaluinya. Akhirnya, tokoh utama kembali lagi ke keraton.

3.1.5 Peristiwa

Ada beberapa peristiwa dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton, yaitu sebagai berikut

  1. Di Pakuan Pajajaran Sri Maharaja Munding Pakuan memerintahkan anaknya, Munding Giri, untuk membangun negara di wilayah Tatar Wetan. Ia ditemani oleh Panggung Karaton, Bungsu Sari Kembang (istri Munding Giri), dan saudara lainnya.
  2. Munding Giri mendirikan kerajaan di Tatar Wetan dengan nama Pondok Sipararambon. Munding Giri menjadi raja, sedangkan Panggung Karaton menjadi Perdana Menteri. Di Tatar Wetan ini Bungsu Sari Kembang menjadi objek penculikan kerajaan lain.
  3. Raja Jutang, yaitu Datu Jongrang, mencuri dan membawa Bungsu Sari Kembang melalui Genggelang.
  4. Panggung Karaton mencari permaisuri yang diculik. Berbagai peristiwa dialami oleh Panggung Karaton. Akhirnya, dia berhasil menemukan permaisuri.
  5. Di Genggelang, Panggung Karaton berhasil mengalahkan Gajah Manggala yang membantu Datu Jongrang dalam penculikan permaisuri.
  6. Panggung Karaton menaklukan raja-raja yang menculik permaisuri.
  7. Muding Giri pindah ke Genggelang setelah menerima surat dari Panggung Karaton untuk pindah ke Genggelang. Di Genggelang mereka bertemu.
  8. Raja Negeri Atas Bukit, yaitu Pamerat Langit, menculik Permaisuri. Panggung Karaton berhasil menemukan dan membawa adik Pamerat Langit ke Genggelang.
  9. Di hutan, Panggung Karaton bertapa dan Permaisuri Bungsu Sari Kembang menyusulnya dan menetap di hutan.

10.  Di hutan, Permaisuri beberapa kali bermimpi berhubungan dengan suaminya, Munding Giri, sehingga ia hamil. Saat melahirkan anak kembar ia dibantu oleh Panggung Karaton.

11.  Anak kembar permaisuri yang muda menaklukkan ular naga yang memakan ibunya serta menaklukkan banteng lilin hingga mati. Roh dari ular naga dan banteng lilin menyatu dengan jiwa anak tersebut.

12.  Sari kembang Bungsu atau Permaisuri dihidupkan kembali oleh Panggung Karaton. Setelah hidup, ia memberikan nama pada anak kembarnya, yaitu Boma Manggala dan Jaya Paningal.

13.  Anak kembar, permaisuri, dan Panggung Karaton kembali ke Genggelang dan bertemu dengan Munding Giri (ayah dari anak kembar tersebut).

14.  Boma Manggala dan Jaya Paningal berhasil mengalahkan raja-raja yang ingin mengadu kekuatan dengan kerajaan Genggelang, yaitu raja Munding Senjaya, Bandu Pekasa, dan Rangga Pupuk. Semua kerajaannya menjadi taklukan kerajaan Genggelang.

15.  Munding Giri dan rombongan kembali ke Negara Pakuan dan bertemu dengan Munding Pakuan. Raja Pakuan menyerahkan Tanah Tinggi ke Munding Giri dan menyerahkan paseban kepada Panggung Karaton.

 

Berdasarkan analisis peristiwa itu, dapat diketahui lima belas peristiwa yang terdapat pada Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton ini. Ada peristiwa yang logis dan ada juga mistis. Peristiwa yang mistis ialah pada waktu permaisuri mengembara, bermimpi berhubungan dengan suaminya dan hamil, kemudian, peristiwa anak kembar Permaisuri yang dapat membunuh ular naga dan banteng lilin. Selain itu, peristiwa mistis terjadi pada orang mati yang dapat dihidupkan kembali.

 

3.1.6 Bentuk Karangan

Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton termasuk bentuk karangan prosa karena merupakan cerita dan dilulis tidak dengan bentuk puisi.

 

3.1.7 Sifat Karangan

Jika dilihat dari sifatnya, Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton termasuk karangan fiksi atau cerita rekaan. Isi ceritanya banyak yang tidak masuk akal, seperti ada manusia yang sudah mati dapat dihidupkan kembali, manusia sakti yang dapat terbang, anak kecil yang dapat membunuh ular naga, dan mimpi bersetubuh dapat hamil.

 

3.1.8 Jenis karangan

Berdasarkan jenis karangan secara keseluruhan berupa narasi. Dari segi isi penceritaannya, ada yang disampaikan secara deskripsi, eksposisi, dan dialog. Hal tersebut dapat diketahui dalam cuplikan cerita berikut.

“Alkisah maka diceriterakan oleh orang yang empunya caritera ini, adapun yang bertahta di atas kota kerajaan di dalam negeri Pakuan Pajajaran yaitulah Sri Maharaja Munding Pakuan dan permaisurinya bernama tuan Puteri mayang Sarasah.”

 

“Maka baginda bersabda kepada anakandanya yang bernama Maharaja Munding Giri, duamikianlah sabdanya, “Hai anakku Munding Giri, sekarang engkau hendaklah berangkat ka negeri Tatar Wetan dan adapun sekalian saudaranya engkau bawa.” (HMP:13).

 

3.1.9 Kesan Kejadian

Cerita Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton bukan merupakan cerita yang benar-benar terjadi. Jadi, jika dilihat dari isinya, cerita ini mustahil terjadi.

 

3.1.10 Gambaran Sosial dan Budaya

Nilai-nilai keyakinan yang relatif menetap dan pandangan hidup tertentu merupakan unsur-unsur yang melandasi suatu kebudayaan. Unsur-unsur yang bersifat abstrak tersebut dapat diamati melalui berbagai unsur budaya. Salah satu bentuk ekspresi budaya tersebut adalah cerita yang berupa hikayat.

Penilaian yang bertujuan untuk mengetahui sejumlah nilai-nilai sosial dan budaya dalam hidup suatu masyarakat dapat diketahui dengan mengamati bentuk-bentuk ekspresi sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya dan dapat diketahui melalui bahasa sebagai ungkapan verbalnya.

Nilai sosial dan budaya merupakan jiwa dari  kebudayaan dan yang menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Selain itu, kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup sosial yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai-nilai budaya yang dikandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai sosial dan budaya yang bersifat abstrak. Oleh sebab itu, Suriasumantri (1993: 262) mengatakan bahwa kegiatan manusia dapat ditangkap oleh pancaindra, sedangkan nilai budaya hanya tertangkap oleh budi manusia.

Dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton ada nilai-nilai sosial dan budaya, di antaranya dapat dijabarkan sebagai berikut.

 

1) Nilai Kasih Sayang

Maharaja Munding Pakuan dengan rasa kasih sayang terhadap anak tunggalnya beliau memerintahkan untuk membangun kerajaan di Tatar Wetan. Munding Giri dengan rasa hormat dan kasih sayang terhadap ayahnya menjalankan tugasnya mendirikan kerajaan di Tatar Wetan.  Maharaja Munding Giri beberapa kali kehilangan istrinya. Ia memerintahkan Panggung Karaton sebagai Perdana Menteri sekaligus kakak dari permaisuri untuk mencarinya.

 

2). Nilai Kepahlawanan

Dalam cerita hikayat ini terdapat nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung di dalamnya, seperti kegagahan Panggung Keraton menghadapi musuh-musuhnya. Raja-raja yang menculik permaisuri Bungsu Sari Kembang dengan gagah dikalahkannya. Selain itu, juga nilai kepahlawanan terdapat pada kisah anak kembar permaisuri, yaitu Boma Manggala dan Jaya Paningal. Mereka dapat mengalahkan ular naga, banteng lilin, dan raja-raja yang ingin mengadu kekuatan dengan kerajaannya.

 

3) Nilai Kependidikan

Pendidikan sangat penting bagi manusia karena melalui pendidikan ini pengetahuan manusia akan bertambah. Sebagaimana dikisahkan dalam cerita hikayat ini, peran Munding Giri sebagai Maharaja dan Panggung Karaton sebagai Perdana Menterinya memperlihatkan struktur kerajaan Sunda. Raja mempunyai kekuasaan sentral yang menyatukan pelaksanaan kekuasaan tertinggi dalam wilayah kerajaannya, sedangkan perdana menteri yang sakti mempunyai hak serta kewajiban melindungi dan memperkokoh kerajaan serta ikut bertanggung jawab dalam mengatur kerajaan. Jadi, hubungan raja dan perdana menteri sangat erat: raja sebagai pusat dalam struktur pemerintahan kerajaan, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari untuk menjaga kelestarian kerajaan dilakukan oleh perdana menteri.

Berdasarkan keterangan tersebut, nilai pendidikan yang terkandung dalam hikayat ini adalah agar generasi muda mengetahui kehidupan struktur pemerintahan pada zaman kerajaan Pakuan Pajajaran. Selain itu, perdana menteri sebagai seorang abdi yang setia, taat, dan sebagai pelindung patut menjadi contoh bagi generasi selanjutnya.

Datu Jongrang, Munding Senjaya, dan Bandu Pekasa adalah tokoh-tokoh yang ingin mencoba mengadu kekuatan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Kerajaan Negeri Pakuan Pajajaran, tetapi tidak berhasil. Peristiwa tersebut dapat menjadi contoh dan peringatan yang mendidik generasi selanjutnya, agar jangan bersikap congkak dan mencoba mengadu kekuatan dengan lawan yang mempunyai kemampuan lebih dari kemampuan yang ada dalam dirinya sendiri.

 

4) Nilai Usaha Keras

Munding Giri dan Panggung Karaton berusaha untuk mencari permaisuri. meskipun harus menghadapi berbagai rintangan, akhirnya mereka berhasil merebut permaisuri dari raja-raja yang menculiknya. Beberapa kali permaisuri diculik oleh raja yang menginginkannya karena kecantikannya, tetapi Panggung Karaton dengan berusaha keras dapat menyelamatkannya dan mengembalikannya ke keraton.

 

3.1.11 Kebahasaan

Kedudukan bahasa sangat penting dalam sastra sebab bahasa menjadi perwujudan sastra dan semua unsur bahasa dalam sastra diperlukan sekali. Penggunaan bahasa dalam sastra dapat menarik perhatian dan menimbulkan kesadaran untuk kita akan kemampuan yang terkandung dalam bahasa. Apa yang telah dilakukan oleh para pengarang dalam menggunakan bahasanya dapat menghasilkan sesuatu yang selanjutnya dapat dipergunakan masyarakat dan karena itu berpengaruh ke dalam perkembangan bahasa itu secara keseluruhan (Rusyana, 1984:301-302).

Naskah asli Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton ditulis dalam huruf Arab-Melayu yang disertai tanda-tanda penunjuk vokal dan merupakan terjemahan dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Melayu (Isnamurtia, 1983:9). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan cuplikan transliterasi naskah Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton berikut.

Inilah buku pantun hikayat dari carita Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton; yang telah dipindahkan daripada bahasa Sunda kepada bahasa Melayu dikarang di negeri Manonjaya, kabupaten Sukapura, resident Preanger, regent Sahapan, yang telah mengarang dia yaitu yang bernama Raden Hasan Mustafa adanya. (Isnamurtia, 1983:12)

 

Kalimat yang digunakan pada hikayat ini panjang-panjang, sebagaimana ciri dari bahasa Melayu. Mengenai pemakaian kosakata dalam naskah Hikayat ini, terlihat ada pengaruh dari bahasa daerah dan bahasa asing, seperti dari bahasa Sunda (ngumbara, ka, berkoreak); bahasa Jawa (paseban, lawang, bende); bahasa Betawi (selempang, bangsat); bahasa Minangkabau (digeretangkan); bahasa arab (taklim, halqayum, holqum, wallahu’alam).

 

3.2 Analisis Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun

Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun dikarang oleh Sutan Takdir Alisjahbana pada tahun 1940. Walaupun, dikarang sebelum merdeka, novel ini merupakan karya sastra modern. Novel ini mengisahkan petualangan para penyamun yang ganas dan buas yang tidak berperikemanusiaan dalam menjalankan aksinya. Pembunuhan yang mengerikan juga sering terjadi dalam peristiwa perampokan yang dilakukan oleh sekawanan penyamun itu. Akan tetapi, setelah penculikan seorang anak perawan dalam peristiwa perampokan terhadap ayah perawan tersebut ada perasaan yang berbeda di dalam hati sang pemimpin penyamun. Sang pemimpin penyamun tergetar hatinya ketika melihat kesabaran dan keuletan sang perawan dalam mengobati setiap penyamun yang terluka. Akhirnya, sang pemimpin penyamun berubah seratus persen setelah kembali ke masyarakat. Dia menjadi seorang tokoh yang disegani di masyarakat. Dia seorang yang dermawan dan pemerhati rakyat kecil yang berbeda sekali ketika dia sedang menjadi seorang penyamun yang buas, kejam, dan serakah.

 

3.2.1 Peristiwa

Beberapa peristiwa yang terdapat dalam novel Anak Perawan di Sarang  Penyamun karangan Sutan Takdir Alisyahbana ini, yaitu sebagai berikut.

  1. Peristiwa di hutan, para penyamun gagal menyamun saudagar karena kesalahan informasi yang diterima dari mata-mata mereka.
  2. Peristiwa perampokan terhadap Saudagar kaya, H. Sahak, yang telah menjual hasil ternaknya. Dalam peristiwa itu satu penyamun tewas dan satu orang terluka.
  3. Penyamun berhasil merampok H. Sahak dan membawa anak perawannya yang bernama Sayu.
  4. Sayu melarikan diri, tetapi dapat ditangkap kembali.
  5. Petualangan anak perawan (Sayu) yang merawat penyamun yang terluka, walaupun akhirnya penyamun yang terluka itu mati, yang tersisa hanya tiga orang lagi dan satu orang mata-mata.
  6. Menceritakan keadaan istri H. Sahak setelah suaminya meninggal akibat perampokan dan dia pun harus kehilangan anak gadisnya.
  7. Penyamun merampok lagi, tetapi gagal karena yang dirampoknya itu adalah serdadu kompeni yang mempunyai senjata lengkap. Malah satu orang penyamun tewas lagi, sedangkan mata-mata mereka lenyap entah ke mana. Jadi, penyamun itu jumlahnya tinggal dua orang, yaitu sang pemimpin yang bernama Mendasing dan anak buahnya, Sanif.
  8. Penyamun berburu dan masuk jurang. Satu orang mati dan satu terluka. Selama sakit, penyamun itu dirawat oleh Sayu.
  9. Karena persediaan makanan habis, Sayu dan Mendasing (pemimpin penyamun) pergi ke dusun tempat tinggal Sayu. Sayu bertemu ibunya dalam keadaan sakit dan akhirnya meninggal. Mendasing pergi entah ke mana.

10.  Menceritakan H. Karim yang menjadi kepala kampung yang disegani, karena sangat perhatian kepada rakyatnya. Ternyata, H. Karim adalah Mendasing, kepala penyamun yang telah insaf, sadar dari kesalahannya. Ia bertemu dengan Samad, bekas mata-matanya, dalam keadaan yang menyedihkan.

Dari peristiwa yang terjadi dapat dinyatakan bahwa hubungan antara tokoh dan peristiwa tergambar jelas dalam cerita. Keduanya saling berhubungan dan jalan ceritanya menyatu sehingga alur dalam novel ini padu.

 

3.2.2 Alur

Alur dalam novel ini diawali dari penceritaan keadaan tempat penyamun di dalam hutan belantara. Mereka sedang berisitirahat untuk mengumpulkan tenaga yang akan digunakan pada malam harinya untuk menjalankan aksi, yaitu merampok seseorang yang menurut mata-mata mereka membawa harta yang banyak.

Perampokan terjadi terhadap H. Sahak yang dalam perjalanan pulang setelah menjual hasil ternaknya. Keluarga H. Sahak, yaitu istri dan anaknya, ikut dalam perjalanan tersebut. Malam yang mengerikan itu terjadi. H. Sahak dan keluarga dirampok oleh Mendasing dan kawan-kawan. H. Sahak terluka, Sayu, anak H. Sahak, dibawa oleh kawanan perampok.

Petualangan Sayu di dalam hutan bersama kawanan Penyamun membuat pemimpin penyamun, yaitu Mendasing insaf setelah menyadari kelemahan dirinya ketika dia terluka. Semua anak buahnya tewas, tinggal dia sendiri. Dengan penuh kesabaran, Sayu menolong mengobati luka yang diderita oleh Mendasing, pemimpin penyamun yang berwatak keras dan kejam. Akan tetapi, setelah melihat kesabaran dan keanggunan seorang wanita, akhirnya dia menyadari kesalahannya dan kembali ke masyarakat serta menjadi seorang yang baik hati, pemurah terhadap sesama sehingga disegani oleh masyarakat.

 

3.2.3 Pelaku

Dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun ini terdapat beberapa pelaku yang dapat digolongkan ke dalam pelaku utama dan pelaku tambahan atau pelaku pendukung pelaku utama.

Mendasing  merupakan kepala penyamun yang berwatak keras, kejam dan tidak berperikemanusiaan terhadap korban yang dirampoknya. Sering ia melakukan pembunuhan terhadap orang yang dirampoknya, termasuk terhadap ayah sang perawan yang diculiknya, yaitu H. Sahak. Mendasing merupakan tokoh utama yang sering diceritakan dari awal sampai akhir cerita. Mendasing pada akhir cerita insaf dan berubah nama menjadi Pesirah Karim, seorang tokoh masyarakat yang disegani dan selalu memperhatikan masyarakat kecil.

Sayu, anak perawan yang diculik sang penyamun, mempunyai watak lemah lembut, mempunyai hati yang baik, dan sabar dalam menghadapi cobaan yang dideritanya. Walaupun diculik dan dibawa ke hutan, ketika melihat kawanan penyamun yang terluka, ia dengan sabar mengobatinya. Sebagai orang yang taat beragama, Sayu selalu menjalankan perintah-Nya. Hutan dan sarang penyamun tidak menjadi halangan baginya untuk menjalankan sembahyang. Selain itu, ia juga menyediakan makanan untuk para penyamun. Sayulah yang menjadikan Mendasing sadar dan insaf akan kekeliruannya selama ia menjadi seorang pemimpin penyamun.

Amat, Sohan, Tusin, dan Sanif merupakan anak buah Mendasing yang berwatak sama dengan pemimpinnya. Mereka buas, ganas, dan kejam dalam melaksanakan aksinya.

Samad anak buah Mendasing juga. Ia beraksi sebagai mata-mata yang menginformasikan mangsa yang akan dirampok kepada kawanan para penyamun yang berada di hutan. Berbeda dengan kawanan penyamun yang lain yang hidupnya di hutan, Samad selalu ada di masyarakat.

H. Sahak, ayah Sayu, seorang saudagar yang kaya raya yang menjadi sasaran perampokan Mendasing dan kawan-kawan. karena perampokan itulah, Sayu akhirnya berada di hutan bersama para penyamun. H. Sahak tidak banyak diceritakan dalam novel ini. Ia hanya diceritakan ketika menjadi sasaran perampokan yang menjadikan Sayu, anaknya menjadi sandera dan dibawa ke hutan oleh para penyamun.

Istri H. Sahak, yaitu Hj. Andun, ialah seorang ibu yang mendambakan kedatangan anak yang dicintainya yang hilang begitu saja. Ia dengan sabar menanti anaknya pulang. Setiap orang yang lewat disangka anaknya sehingga ketika yang lewat di depan rumahnya itu bukan anaknya, sangat kecewalah hatinya. Karena selalu memikirkan anaknya yang hilang dan suaminya yang meninggal akibat perampokan, ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia setelah berjumpa dahulu dengan anaknya, Sayu.

Sima, ialah anak angkat Hj. Andun, yang setiap harinya menemani Hj. Andun. Dengan sabar Sima melayani Hj. Andun yang sakit-sakitan karena memikirkan anaknya yang hilang. Tokoh Sima ini tidak banyak diceritakan, hanya dibicarakan pada episode Hj. Andun, tetapi kehadirannya sangat mendukung cerita ini.

Bedul, kakak Hj. Andun, merupakan tokoh yang membukakan jalan pikiran Hj. Andun, adiknya, ketika Hj. Andun dalam masalah. Dia orang yang tidak punya, tidak seperti adiknya yang kaya. walaupun orang miskin, dia selalu dimintai pertolongan oleh adiknya. Tokoh Bedul juga tidak banyak diceritakan. Tokoh ini dikisahkan hanya dalam episode Hj. Andun. Dalam episode ini tokoh Bedul selalu ada. Bedul merupakan tokoh yang baik hati dan suka menolong orang yang kesusahan.

Istri Bedul, tidak disebutkan namanya, merupakan tokoh yang selalu mendukung suaminya dalam menolong orang lain. Istri Bedul tidak banyak diceritakan. Tokoh ini  hanya ada dalam bagian cerita Hj. Andun.

Penokohan dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Penamaan

Untuk menunjukkan seorang pemimpin penyamun, nama Mendasing cukup seram kedengarannya dan cukup mewakili untuk mengenal watak dari orang yang bernama itu. Lain halnya dengan anak buahnya, yaitu Amat, Sohan, Tusin, dan Sanif. Walaupun mempunyai watak yang sama dengan pemimpinnya, dapat diramalkan bahwa nama-nama tersebut merupakan anak buah dari sekumpulan penyamun.

Sayu dari namanya sudah dapat diduga bahwa Sayu adalah seorang gadis yang cantik dengan budi pekerti yang baik, lemah lembut, dan taat beribadah.

b. Pemerian

Dalam novel ini juga terdapat pemerian terhadap para pelaku yang dilakukan untuk menggambarkan tokoh utama, seperti tokoh Mendasing dan tokoh Sayu.

c. Percakapan

Keadaan diri tokoh terungkap pula dalam percakapan. Dari percakapan antartokoh tergambar watak dari seorang Mendasing. Ketika memberi perintah kepada anak buahnya, ia berbicara dengan nada yang keras.

d. Tingkah Laku Tokoh

Dari tingkah lakunya tergambar pula diri pelaku seperti Mendasing dan kawan-kawan. Ketika merampok Mendasing dan kawan-kawan digambarkan sangat kejam dan buas. Juga ketika Mendasing menyeret dengan paksa Sayu, seorang wanita yang lemah dan tidak berdaya.

 

3.2.4 Latar

Latar tempat dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun ini hanya di beberapa tempat, yaitu:

  1. hutan, tempat para penyamun tinggal, dan disebut-sebut nama tanah pasemah;
  2. lembah pematang, tempat perampokan yang dilakukan oleh kawanan penyamun terhadap H. Sahak, ayah Sayu, dan menjadikan Sayu menjadi tawanan para penyamun;
  3. dusun Pagar Alam, tempat H. Sahak dan istri tinggal dan tempat meninggalnya H. Sahak setelah perampokan terjadi.

Latar waktu dalam novel ini tidak disebutkan tanggal dan tahun, tetapi hanya disebutkan waktu malam hari dan siang hari.

 

3.2.5 Tema

Tema dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun ini adalah tema sosial, yaitu kekerasan dapat luluh oleh keanggunan dan kesabaran seorang wanita. Dari sisi lain tema dalam novel ini dapat dirumuskan bahwa kejahatan akan selalu kalah oleh kebaikan.

3.2.6 Jenis Karangan

Berdasarkan jenis karangan, novel Anak Perawan di Sarang Penyamun merupakan sebuah narasi. Dari segi isi penceritaan,  sebagian ada yang bersifat deskriptif.

 

3.2.7 Sifat Karangan

Jika dilihat dari sifat karangan, novel Anak Perawan di Sarang Penyamun merupakan cerita fiksi atau cerita rekaan, yaitu hasil dari imajinasi seorang pengarang.

 

3.2.8 Bentuk Karangan

Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun termasuk karangan yang berbentuk prosa karena merupakan cerita dan tidak ditulis dalam bentuk puisi.

 

3.2.9 Kebahasaan

Ada beberapa hal yang akan dianalisis berkenaan dengan penggunaan bahasa dalam novel Anak Penyamun di Sarang Penyamun karangan Sutan Takdir Alisjahbana, yakni bahasa yang digunakan untuk mewakili dan mengakhiri penceritaan, kalimat yang digunakan, serta aspek pragmatis, yakni situasi penggunaan bahasa.

Dari segi bahasa, kalimat yang digunakan ialah kalimat yang pendek-pendek. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengarang memanfaatkan bahasa sebagai sarana penyampaian masalah secara langsung. Pengarang tidak bertele-tele dalam mengungkapkan persoalannya. Pengarang secara langsung mengacu pada pokok persoalan. Hal ini menunjukkan suatu peristiwa yang logis karena kalimat-kalimat yang disusun pendek-pendek. Artinya ialah struktur dan susunan kalimat mementingkan keindahan yang berupa kiasan bahasa.

Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1940 sehingga banyak gaya bahasa yang digunakan. Pada penulisan, kata ulang masih memakai angka dua, seperti kata hampir-hampir ditulis hampir2 dan berguling-guling ditulis ber-guling2. Dalam novel ini masih terdapat ikatan-ikatan bahasa Melayu.

 

3.3 Perbandingan Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Keraton dengan Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun

3.3.1 Struktur

Persamaan yang dominan dari karya sastra Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton dan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun keduanya merupakan karya sastra yang diwujudkan dalam bentuk prosa, berjenis narasi, berkesan fiktif, dan berukuran panjang.

Unsur-unsur struktur, baik itu pada hikayat maupun novel, menampakkan unsur-unsur struktur yang dominan sama, yaitu adanya alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan tema.

Alur pada Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton disajikan secara kronologis, antarperistiwa ada hubungan yang sebab akibat, juga ada hubungan mistis, sedangkan dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun disajikan secara logis, empiris, dan kompleks. Karakteristik tokoh dalam hikayat karakteristik lebih banyak ditampilkan secara stereoti, maksudnya ialah disajikan berikut posisi sosialnya, sedangkan tokoh dalam novel selalu diilustrasikan sebagai suatu karakter yang serba kompleks dan menampilkan karakter yang bersifat analitis dan dramatis.

Isi novel Anak Perawan di Sarang Penyamun lebih menekankan realitas kehidupan yang terjadi sesuai dengan masa terbitnya novel ini, yaitu sekitar tahun 1940. Realitas kehidupan pada zaman itu, ialah zaman penjajahan, ketika masyarakat serba kekurangan dan memunculkan orang-orang yang jahat yang menjadikan sebagian orang menjadi penyamun. Saudagar yang kaya pada zaman itu merupakan objek perampokan para penyamun.

Dari struktur pelaku, Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton, lebih menekankan fisik tokohnya. Tokoh laki-laki, seperti tokoh Munding Giri, Panggung Karaton, Boma Manggala, Jaya Paningal digambarkan sebagai satria yang gagah dan perkasa. Perempuannya, seperti Bungsu Sari Kembang, digambarkan sebagai wanita yang cantik jelita. Dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun juga digambarkan fisik tokoh laki-laki, yaitu orang-orang yang gagah perkasa walaupun penggambarannya tidak seperti pada hikayat. Misalnya ialah dalam hikayat ada tokoh yang dapat menghidupkan orang mati, anak kecil yang dapat mengalahkan ular naga, dapat berubah wujud, dan sebagainya, sedangkan penggambaran tokoh yang gagah pada novel Anak Perawan di Sarang Penyamun hanya sebatas orang yang gagah pada zaman modern walaupun disebutkan pada penggambaran tokoh Mendasing, sang pemimpin penyamun, adalah orang yang kebal terhadap senjata. Akan tetapi, ketika jatuh ke jurang, dia terluka juga. Jadi, penggambaran tokoh yang gagah pada novel ini tidak seperti pada penggambaran tokoh dalam hikayat.

Tokoh perempuan, yaitu Sayu, juga digambarkan sebagai tokoh wanita yang cantik, cerdik, baik hati, dan suka menolong orang, walaupun kepada orang  yang telah menyakitinya.

Cerita dalam novel ini diakhiri dengan kebahagiaan tokoh  utama, yaitu Mendasing, sang pemimpin penyamun, yang sudah insaf, yang sudah bersatu kembali dengan masyarakat, dan dia menjadi seseorang yang disegani di masyarakat.

 

3.3.2 Latar

Ada kesamaan latar yang terdapat pada kedua karya sastra ini, yaitu di kota dan di hutan. Pada hikayat terdapat latar kota kerajaan dan hutan. Pada novel juga terdapat latar tempat penduduk dan hutan tempat sang penyamun.

 

3.2.3 Tema

Tema pada kedua karya sastra ini juga terdapat persamaan, yaitu tema sosial. Tema pada hikayat adalah untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan itu kita harus berusaha keras, ulet, sabar, dan tekun, sedangkan tema novel yang dianalisis ialah kejahatan akan selalu kalah oleh kebaikan.

3.3.4 Kebahasaan

Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton disajikan dengan menggunakan bahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab Melayu. Kalimat yang digunakan pada hikayat ini panjang-panjang, sebagaimana ciri dari bahasa Melayu. Mengenai pemakaian kosakata dalam naskah hikayat ini, terlihat ada pengaruh dari bahasa daerah dan bahasa asing, seperti dari bahasa Sunda (ngumbara, ka, berkoreak); bahasa Jawa (paseban, lawang, bende); bahasa Betawi (selempang, bangsat); bahasa Minangkabau (digeretangkan); bahasa arab (taklim, halqayum, holqum, wallahu’alam).

Kalimat yang digunakan dalam novel Anak Perawan di Sarang Penyamun ialah kalimat yang pendek-pendek. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengarang memanfaatkan bahasa sebagai sarana penyampaian masalah secara langsung. Pengarang tidak bertele-tele dalam mengungkapkan persoalannya. Majas masih menghiasi novel ini. Dalam penulisan masih menggunakan ejaan lama, seperti pada penulisan kata ulang yang masih menggunakan angka dua diakhir kata yang diulang.

 

3.3.5 Gambaran Sosial Budaya

Ternyata, perbandingan sosial budaya dalam kedua karya sastra tersebut tidak jauh berbeda. Ada kesamaan walaupun masanya berbeda. Nilai-nilai sosial budaya kedua karya sastra itu, di antaranya ialah: 1) nilai kasih sayang; 2) nilai kepahlawanan; 3) nilai usaha keras; 4) nilai pendidikan; 5) nilai tidak pendendam.

 

4.  Simpulan

Berdasarkan unsur-unsur struktur, Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton maupun novel Anak Perawan Disarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana menampakkan unsur-unsur yang dominan sama. Unsur itu, antara lain, ialah plot, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan tema.

Alur pada Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton berjalan secara kronologis, yaitu dimulai dari kepergian anak raja, Maharaja Munding Giri, ditemani Panggung Karaton untuk membangun sebuah kerajaan. Kerajaannya maju pesat walaupun menghadapi berbagai rintangan. Akhir cerita, Munding Giri kembali ke Pakuan, negeri asalnya. Antarperistiwa dalam hikayat tersebut terdapat hubungan sebab akibat, bahkan ada hubungan mistis. Naskah tersebut berbahasa Melayu. Novel Anak Perawan Disarang Penyamun ditampilkan secara logis, empiris, dan kompleks, baik dari sisi filsafat, psikologi, maupun dari segi sosiologi. Bahasa yang digunakan dalam novel ini ialah bahasa Indonesia dan ada sedikit pengaruh bahasa Melayu, sesuai dengan masa terbitnya novel dan situasi yang terjadi pada latar yang diceritakan.

Karakteristik tokoh dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton umumnya berbentuk stereotip artinya cerita disajikan berdasarkan posisi sosialnya. Pada novel Anak Perawan Disarang Penyamun tokoh selalu diilustrasikan dengan karakter yang kompleks, analitis, dan juga dramatis.

Kedua karya sastra yang berlainan masa ini ternyata masih memiliki unsur kesamaan. Novel tersebut mengandung nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat, seperti nilai keberanian, kerja keras, kasih sayang, musyawarah, dan cinta tanah air.  Yang berbeda dari keduanya ialah cara penyajian, bahasa, alur, tokoh, dan latar. Hal tersebut merupakan transformasi suatu karya sastra yang meneruskan tradisi-tradisi lama dalam menampilkan sebuah karya sastra.

Karakter seorang wanita yang terdapat pada novel dan hikayat mempunyai kemiripan. Tokoh Bungsu Sari Kembang dalam hikayat merupakan tokoh wanita yang cantik yang menjadikannya objek penculikan bagi yang menginginkannya. Begitu juga pada novel Anak Perawan Disarang Penyamun, tokoh Sayu, seorang wanita yang cantik, diculik oleh para penyamun. Walaupun berada di sarang penyamun, Sayu tetap memperlihatkan perilaku yang baik. Ia menolong orang yang terluka. Ia juga menyediakan segala keperluan para penyamun. Dia tidak terpengaruh oleh keadaan yang menjadikan dia berada di tengah-tengah hutan bersama para penyamun. Ia juga masih menjalankan ibadah, sebagai penganut agama yang taat, walaupun berada di tengah hutan.

 

Daftar Pustaka

Alisjahbana, S.Takdir. 1990. Anak Perawan Disarang Penyamun.

Jakarta: PT Dian Rakyat.

Aminuddin, 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru

Algensindo.

Eddy, Nyoman T. 1991. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Flores: Nusa Indah.

Hamzah, A. 1982. Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya. Jakarta: PT Dian        Rakyat.

Hooykaas, C. 1951. Perintis Sastra. Terjemahan Rathoel Amar Gelar Datoek Besar. Jakarta: J. B. Wolter- Groningen.

Isnamurti A. 1983. Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Koentjaraningrat. 1992. Kebudayaan Mentalis dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Milligan, I. 1984. The English Novel. England: Logman New York Press.

Monks, F.J. dkk. 2004. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Jogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurgiantoro, B. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Rusyana. 1979. Novel Sunda Sebelum Perang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

——-. 1984. Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV Diponegoro.

——-. 2000. “Memperlakukan Sastra Berbahasa Indonesia dan Sastra Berbahasa Daerah sebagai Sastra Milik Nasional” . Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional XI Himpunan Sarjana- Kesustraan Indonesia. Solo.

——-. 2002. ”Naskah Nusantara Dalam Pendidikan Kesastraan di Indonesia”. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. Bogor.

Sumardjo, Jakob. 1980. Seluk-Beluk Cerita Pendek. Bandung: Mitra Kancana

——- dan Saini KM. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT.Gramedia.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

——-. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT. Gramedia

——-. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

Wellek, R. dan Waren, A. 1993. Teori Kesusastraan. Diindonesiakan oleh Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One comment on “PERBANDINGAN HIKAYAT MAHARAJA MUNDING GIRI DAN PANGGUNG KARATON DENGAN NOVEL ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s