MANTRA BANJAR: BUKTI ORANG BANJAR MAHIR BERSASTRA SEJAK DAHULU

Mahmud Jauhari Ali

Abstrak

Pur sinupur/Bapupur di piring karang/Bismillah aku bapupur/Manyambut cahaya si bulan tarang/Pur sinupur/Kaladi tampuyangan/Bismillah aku bapupur/Banyak urang karindangan…. Bait tersebut merupakan lantunan jampi-jampi Banjar yang sudah ada sejak dulu. Kita tahu bahwa jampi-jampi Banjar telah digunakan untuk berbagai kesempatan sejak dahulu kala, antara lain, untuk membantu bayi kelahiran, membuat badan kebal senjata, dan membuat anak berhenti menangis. Selain itu, jampi-jampi Banjar yang berkembang di masyarakat Banjar digunakan juga sebagai alat untuk mengungkapkan nilai sosial-kebudayaan. Melalui jampi-jampi Banjar, kita bisa menelusuri nilai kebudayaan yang lebih mendalam yaitu kepercayaan atau agama. Lewat jampi-jampi Banjar, kita juga  bisa mengetahui agama yang pernah ada di masyarakat Banjar. Dalam jampi-jampi Banjar terdapat pengaruh unsur agama Kaharingan, Melayu dan Jawa budha, dan Islam. Di antara seluruh Banjar Kuala, Banjar Hulu, dan Banjar Batang Banyu, tiga unsur agama yang ada atau pernah ada adalah Kaharingan, Budha, dan agama Islam.

Selain agama-agama tersebut dan hal-hal gaib, jampi-jampi Banjar merupakan bagian  kesusasteraan lisan orang Banjar. Jampi-jampi Banjar bisa dimasukkan ke dalam sajak lama orang Banjar. Sajak lama ini sudah diciptakan dan dibaca oleh orang Banjar untuk berbagai kesempatan sejak zaman dulu. Penciptaan dan pembacaan jampi-jampi  ini menunjukkan bahwa orang Banjar sudah bersastra khususnya dalam menciptakan dan membacakan sajak lama dalam bentuk jampi-jampi Banjar. Kita juga bisa menyebutkan bahwa jampi-jampi Banjar merupakan bukti bahwa orang Banjar sudah menjadi ahli dalam bidang kesusasteraan, dalam hal  ini, sajak lama. Kita harus melestarikan jampi-jampi Banjar karena selain berfungsi sebagai alat sosial budaya dan juga bermanfaat dalam mengeksplorasi nilai agama masyarakat Banjar. Melalui jampi-jampi Banjar kita bisa membuktikan bahwa orang Banjar sudah bersastra sejak zaman dulu. Pelestarian jampi-jampi Banjar dapat dilakukan dengan cara mendokumentasikan jampi-jampi dalam bentuk buku yang akan dengan mudah dibaca oleh orang Banjar dan orang-orang umum. Pelestarian yang terbaru berhubungan dengan jampi-jampi orang Banjar adalah dengan cara melanjutkan kebiasaan membaca puisi seperti yang sudah dilakukan oleh orang Banjar sejak dulu. Bentuk pelestarian yang nyata dan yang lebih langsung adalah dengan cara menciptakan sajak yang mirip secara kontemporer.

 

Kata kunci: jampi-jampi, orang Banjar, bait-bait yang ditulis dengan baik, kesusasteraan, pelestarian

Abstract

Pur sinupur/ Bapupur di piring karang/ Bismillah aku bapupur/ Manyambut cahaya si bulan tarang/ Pur sinupur/ Kaladi tampuyangan/ Bismillah aku bapupur/ Banyak urang karindangan…. The spell cited above is one of Banjarese spells which had existed from earlier times. We know that Banjarese from those times until now have been using these spells for various purposes, such as facilitating baby delivery, making body invulnerable to weapons, and stopping child’s crying. Apart from those purposes, Banjarese spells developed in Banjarese society were also served as means for expressing social-cultural values. Moreover, through Banjarese spells we can explore the deeper cultural values: belief or religion. Through Banjarese spells we can find out the religion ever existed in Banjarese community. In Banjarese spells there are religious influences of Kaharingan elements, Malay and Javenese Buddhism elements, and Islamic element. Among all of Banjar Kuala, Banjar Hulu, and Banjar Batang Banyu, these three elements of religions; Kaharingan, Buddhism, and Islam, exist or ever existed.

Apart from those religious and magical matters, Banjarese spells are parts of oral literature of Banjarese people. Banjarese spells can be included into old rhymes of Banjarese people. These old rhymes were created and uttered by Banjarese people from earlier times for various daily purposes. The creation and utterance of these spells mean that Banjarese people ought to be well-versed in poetry, especially in creating and uttering old rhymes in forms of Banjarese spells. We may also say that Banjarese spells is the evidence that since earlier times Banjarese people had been experts in literature, in this case, old rhymes. We must preserve Banjarese spells because besides their function as means of socio-cultural values and their benefit in the exploration of religious values of Banjarese community, through Banjarese spells we can prove that Banjarese people have been well-versed in literature since earlier times. The preservation of Banjarese spells can be carried out by documenting the spells in form of books, which will be easily  read by Banjarese community and other people outside Banjarese ethnic group in general. A more up-to-date preservation in relationship with Banjarese spells is by preserving poetry  reading habit as what had been Banjarese people done in the earlier times. The concrete form of this preservation, which is livelier, is by creating contemporarily similar rhymes.

 

Key words: spells, Banjarese, well-verse, literature, preservation

  1. 1. Pendahuluan

Secara administratif, wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan Banjarmasin sebagai ibu kotanya terletak di bagian tenggara pulau Kalimantan dengan batas-batas, yakni sebelah utara dengan Provinsi Kalimantan Timur, sebelah selatan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Selat Makasar, dan sebelah barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah  (Idham dkk., 2005:7). Provinsi ini mayoritas didiami oleh masyarakat dari suku Banjar. Hal inilah yang menyebabkan bahasa yang dipakai dalam masyarakat pada umumnya di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar. Memang kita temukan pemakaian bahasa selain bahasa Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Dusun Deyah, bahasa Ma’anyan, dan bahasa Dayak Meratus. Akan tetapi, bahasa-bahasa selain bahasa Banjar tersebut dipakai dalam kelompok masing-masing suku yang bersangkutan. Sebagai contoh, bahasa Bakumpai dipakai oleh masyarakat suku Bakumpai atau bahasa Ma’anyan dipakai dalam masyarakat suku Ma’anyan. Berbeda dengan bahasa-bahasa tersebut, bahasa Banjar dapat kita katakan sebagai bahasa perantara  (lingua franca) di Provinsi Kalimantan Selatan. Semua suku yang ada di provinsi ini dapat menggunakan bahasa Banjar. Dengan demikian, masyarakat dari suku Banjar tidak perlu harus menguasai bahasa dari suku lain di provinsi ini jika ingin berkomunikasi dengan masyarakat dari suku lain tersebut, misalnya, anggota masyarakat dari suku Banjar tidak perlu harus menguasai bahasa Bakumpai jika ingin berkomunikasi dengan anggota dari masyarakat suku Bakumpai. Anggota dari masyarakat suku Bakumpai akan menggunaan bahasa Banjar jika mereka berkomunikasi dengan anggota dari masyarakat suku Banjar.

Masyarakat Banjar memiliki khazanah sastra yang sudah hidup dan berkembang sejak dahulu. Karena bahasa perantara (lingua franca) yang dipakai di Provinsi Kalimantan Selatan adalah bahasa Banjar, bahasa yang digunakan dalam sastra lisan di Provinsi ini pun ialah bahasa Banjar. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa wujud cipta sastra terdiri atas tiga bentuk, yakni puisi, prosa fiksi, dan drama. Begitu pula dengan wujud sastra daerah di Provinsi Kalimantan Selatan, terdiri atas tiga bentuk tersebut. Dalam makalah ini akan dibahas salah satu bentuk puisi lama di provinsi ini. Puisi lama Banjar jarang diulas dalam bentuk makalah. Oleh karena itulah penulis bermaksud mengulas puisi lama Banjar, yakni berkaitan dengan mantra Banjar sebagai bukti orang Banjar mahir bersastra sejak dahulu.

Di Provinsi Kalimantan Selatan terdapat banyak mantra. Mantra-mantra ini  terbagi dalam empat jenis, yakni mantra Banjar jenis tatamba, mantra Banjar jenis tatulak, mantra Banjar jenis pinunduk, dan mantra Banjar jenis pitua. Mantra Banjar merupakan produksi asli masyarakat Banjar. Masyarakat Banjar sejak dahulu menggunakan mantra Banjar untuk berbagai keperluan, seperti untuk mempermudah melahirkan, menjadikan tubuh kebal terhadap senjata tajam, dan untuk membuat anak berhenti menangis.

Di samping mengandung kebergunaan bagi orang Banjar, seperti yang telah dipaparkan, mantra Banjar yang telah berkembang dalam masyarakat Banjar hingga sekarang memiliki fungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya. Bahkan lewat mantra  Banjar, kita dapat menggali nilai budaya yang lebih mendalam, yaitu kepercayaan atau religi. Kita akan mengetahui religi yang ada atau pernah ada dalam masyarakat Banjar melalui mantra Banjar. Dalam mantra Banjar terdapat pengaruh religi berupa unsur Kaharingan, unsur Melayu dan Jawa Budha, dan unsur Islam. Berdasarkan pengaruh-pengaruh religi ini, kita akan mengetahui bahwa dalam masyarakat Banjar, baik Banjar Kuala, Banjar Hulu, maupun Banjar Batang Banyu ada atau pernah ada ketiga unsur religi tersebut, yakni Kaharingan, Budha, dan Islam.

Sebagai sebuah bentuk sastra lisan yang bersifat magis, mantra Banjar biasanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Akan tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan orang biasa juga mempunyai atau menguasai mantra-mantra tertentu untuk keperluan sehari-hari. Terlepas dari masalah religi dan unsur magis tersebut, mantra Banjar merupakan salah satu jenis sastra lisan milik orang Banjar. Sebagaimana kita ketahui bahwa mantra Banjar termasuk ke dalam jenis puisi lama orang Banjar. Puisi lama yang satu ini diciptakan dan dilafalkan oleh orang Banjar sejak dahulu untuk berbagai keperluan sehari-hari. Penciptaan dan pelafalan mantra Banjar tersebut mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu sudah mahir berpuisi, yakni dalam hal penciptaan dan pelafalan puisi lama yang berupa mantra Banjar. Dapat pula kita katakan bahwa mantra Banjar menjadi bukti bahwa sejak dahulu orang Banjar sudah mahir bersastra, yakni pada jenis puisi lama.

Mantra Banjar harus kita lestarikan karena selain berfungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya Banjar dan bermanfaat dalam penggalian nilai-nilai religi masyarakat Banjar, melalui mantra Banjar kita dapat membuktikan bahwa orang Banjar mahir bersastra sejak dahulu. Pelestarian mantra Banjar dapat dilakukan dengan mendokumentasikan mantra-mantra Banjar dalam bentuk buku yang mudah dibaca oleh masyarakat Banjar khususnya dan masyarakat di luar etnik Banjar umumnya. Satu hal yang juga perlu kita ingat adalah mantra Banjar harus kita jaga, jangan sampai diakui oleh pihak-pihak lain sebagai sastra milik mereka.

Mantra Banjar juga mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu memiliki kebiasaan berpuisi (menciptakan dan melafalkan puisi lama yang disebut mantra Banjar). Bentuk pelestarian yang lebih hidup dan sesuai perkembangan zaman  pada masa sekarang ini berkaitan dengan mantra Banjar adalah melestarikan kebiasaan berpuisi, seperti yang dilakukan orang Banjar zaman dahulu. Bentuk konkret pelestarian yang lebih hidup ini adalah menciptakan puisi-puisi pada zaman sekarang. Alhamdulillah bentuk konkret pelestarian yang lebih hidup ini sudah banyak dilakukan oleh orang Banjar zaman sekarang. Bahkan, orang Banjar sekarang sudah ada yang memasukkan puisi-puisi ciptaan mereka dalam laman atau website internet pribadi, sebut saja laman atau website milik penyair terkenal Kalimantan Selatan yang bernama M. Arsyad Indradi, yakni http://www.sastrabanjar.blogspot.com dan http://www.penyair-kalsel.blogspot.com.

 

  1. 2. Sastra Daerah Banjar

Sastra daerah Banjar atau yang lebih dikenal dengan sastra Banjar terdiri atas tiga jenis. Ketiga jenis sastra itu mencakup jenis prosa fiksi, drama (teater tradisional), dan puisi lama. Bentuk prosa fiksi di Provinsi Kalimantan Selatan merupakan cerita rakyat yang dapat berupa mite, fabel, legenda, dan dongeng.

Mite erat hubungannya dengan kepercayaan terhadap hal gaib, seperti kesaktian, hantu, dan roh nenek moyang. Mite masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Banjar hingga sekarang. Ada kepercayaan orang Banjar bahwa makhluk halus yang dinamai datu adalah penjelmaan manusia karena ajian tertentu ia menjadi datu. Cerita tentang datu ini tersebar di Kalimantan Selatan, seperti datu Baduk dan datu Mambur yang dapat menghidupkan manusia apabila dia menari di sekeliling mayat. Cerita rakyat yang termasuk mite lainnya ialah Galung Ciciri Mulik, Raja Baung, dan Kucing Balaki Raja.

Dalam fabel terdapat unsur mendidik anak-anak dengan meneladani perilaku tokoh protagonis, yang baik, dan tidak mencontoh perilaku para tokoh antagonis, yang buruk. Hal ini dapat kita lihat dalam carita fabel berjudul Warik lawan Kura-Kura ‘Kera dengan Kura-Kura’ yang menceritakan kera yang licik dan kura-kura yang berperan sebagai tokoh protagonis.

Banyak legenda Banjar, seperti Raden Pangantin, Liang Naga, Asal Desa Ulin, Si Punjung, dan Si Angui wan Diang Kudampai. Radin Pangantin berisi cerita seorang anak bernama Radin Pangantin, anak dari perempuan bernama Diang Ingsun. Dalam usahanya, ia mendapatkan kekayaan dan kawin dengan seorang puteri bangsawan. Karena kekayaan harta dan istri dari kalangan bangsawan itulah Radin Pangantin mendurhakai ibunya dengan tidak mengakui ibunya sendiri. Akibatnya, kapal yang ditumpanginya pecah dan menjadi batu. Bagian depan kapal dan bagian belakangnya menjadi Gunung  Batu Laki dan Gunung Batu Bini di daerah Kandangan. Bagian buritannya menjadi Gunung Batu Banawa dan bagian anjungannya menjadi Gunung  Liang Hadangan.

Salah satu jenis dari bentuk drama di Provinsi Kalimatan Selatan yang sampai hari ini masih dipentaskan, walaupun tingkat frekuensi pementasannya mulai berkurang adalah mamanda. Mamanda merupakan salah satu teater tradisional di Indonesia yang berasal dari daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Teater tradisional ini  dapat kita sebut sebagai salah satu sastra daerah yang setingkat dengan sastra daerah sejenis di daerah lainnya seperti lenong di daerah Jakarta dan ketoprak di daerah Jawa. Bahasa yang digunakan para tokoh dalam pementasan mamanda adalah bahasa Banjar yang hidup dan berkembang di Provinsi Kalimantan Selatan, baik di daerah pesisir (kuala) maupun di daerah pedesaan (pahuluan).

Bentuk puisi di Provinsi Kalimantan Selatan yang akan penulis bahasa dalam makalah ini berupa mantra. Mantra-mantra ini juga terbagi dalam empat jenis, yakni mantra Banjar jenis tatamba, mantra Banjar jenis tatulak, mantra Banjar jenis pinunduk, dan mantra Banjar jenis pitua. Adapun penjelasan tentang mantra Banjar ini dapat kita lihat pada bagian yang membahas jenis mantra Banjar dan mantra Banjar dalam kaitannya dengan masyarakat penggunanya.

 

  1. 3. Jenis Mantra Banjar

Yayuk, dkk. (2005:8) menyatakan bahwa ada empat jenis mantra Banjar yang berhubungan dengan penggunaannya. Keempat jenis mantra Banjar itu adalah sebagai berikut.

 

  1. a. Pitua

Pitua adalah mantra Banjar yang digunakan hanya untuk kepentingan pemakainya, tetapi tidak merugikan orang lain (Yayuk dkk., 2005:8). Maksudnya ialah mantra ini digunakan hanya untuk pemenuhan kebutuhan si penggunanya. Kebutuhan itu berupa dihargai orang, terlihat cantik, dan dimudahkan dalam melahirkan. Contoh mantra agar terlihat cantik ialah seperti berikut.

Pur sinupur                                                    ‘pur sinupur

Bapupur di piring karang Berbedak di piring karang

Bismillah aku bapupur Dengan menyebut nama Allah aku berbedak

Manyambut cahaya di bulan tarang Menyambut cahaya si bulan terang’

  1. b. Pinunduk

Pirunduk adalah mantra yang dipergunakan untuk menundukkan orang lain (Yayuk dkk., 2005:9). Contoh mantra jenis ini adalah sebagai berikut.

Kataku si kata kukang Kataku si kata kukang

Makukang sinurmayu                                    Mekukang sinurmayu

Mayu kahandak Allah Cukup kehendak Allah

Barakat dua La ilahaillallah Berkat doa tiada Tuhan selain Allah

Muhammadurrasulullah Muhammad adalah utusan Allah

 

  1. c. Tatamba

Tatamba adalah jenis mantra yang dipergunakan dalam pengobatan, baik pengobatan jasmaniah maupun penyakit rohaniah (Yayuk dkk., 2005:11). Contoh mantra tatamba penyakit jasmaniah adalah sebagai berikut.

Jaluhu, jalukap, kipasat                                   ‘Jaluhu, jalukap, kipasat

Jaluhu, jalukap, kipasat Jaluhu, jalukap, kipasat

Uguk, ugur                                                     Uguk, ugur

Sang maharaja baruntik Sang maharaja baruntuk

Barakat La ilaha illallah Berkat tiada Tuhan selain Allah

Muhammadurrasulullah Muhammad adalah utusan Allah’

 

  1. d. Tatulak

Tatulak adalah mantra untuk menolak bahaya atau penyakit dan merupakan perisai diri. Mantra ini ditujukan kepada hewan buas dan makhluk gaib (Yayuk dkk., 2005:12). Contoh mantra tatulak adalah sebagai berikut.

Tarah-tarah papanku jati                                ‘Tarah-tarah papanku patah

Mati kusuma Mati kusuma

Mati sumpah anak Batara Mati sumpah anak Batara’

  1. 4. Mantra Banjar dan Masyarakat Penggunannya

Mantra Banjar merupakan salah satu cipta sastra lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Banjar sebagai penggunanya. Masyarakat Banjar pada mulanya memiliki kepercayaan animisme atau disebut juga sebagai pemeluk agama Kaharingan. Mereka percaya dengan adanya kekuatan alam atas dan alam bawah. Berdasarkan kenyataan itu, pada awalnya mantra Banjar timbul dari suatu hasil imajinasi dalam alam kepercayaan animisme dan dinamisme. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu contoh mantra berikut.

Hai sangiang barubuk ‘Hai sangiang barubuk

Ikam jangan handak mamakan diaku Kamu jangan hendak membinasakan diriku

Aku tahu asal kajadian Ikam Aku tahu asal kejadianmu

Anak raja baruntik Anak raja baruntik’

 

Dalam mantra tersebut terdapat anggapan bahwa sangiang baruhuk merupakan makhluk jahat penyebar racun yang dapat ditaklukkan apabila namanya disebut dan diketahui asal kejadiannya.

Bersama-sama dengan imigran Melayu dan Jawa, berkembanglah agama Budha Syiwa, terutama di daerah-daerah pusat kerajaan yang terdapat antara abad ke-10 sampai dengan abad ke-15. Peninggalan sejarah yang berkaitan  dengan kepercayaan ini, misalnya Candi Agung di Amuntai dan Candi Laras di Margasari (Nawawi, 1984:26 dalam Ismail, 1996:7).

Setelah Islam masuk dan berkembang pada abab ke-16, perilaku masyarakat Banjar pun mengalami perubahan berkenaan dengan kepercayaan lama. Umar (1977: 89) menyatakan agama Islam tidaklah secara keseluruhan ketauhidannya menggantikan kepercayaan dari pengaruh terdahulu. Hal ini dapat kita pahami karena memang dalam masyarakat Banjar masih ada sesaji yang dalam bahasa Banjar disebut dengan istilah manggantung ancak. Dalam masyarakat Banjar juga masih ada pembakaran dupa atau menyan pada suatu waktu yang dikenal dengan nama parapin. Selain itu dalam masyarakat Banjar masih ada kepercayaan terhadap makhluk gaib selain makhluk gaib dalam agama Islam. Tentunya juga dalam kaitannya dengan tulisan ini, dalam masyarakat Banjar masih ada kepercayaan terhadap mantra.

Pengaruh Islam terhadap mantra Banjar terlihat dari adanya penggunaan bahasa Arab atau ayat-ayat Alquran. Pengaruh Islam dapat kita lihat dalam mantra berikut.

Bismilahirrahmanirahim Dengan nama Allah Tuhan Yang Maha

Pengasih lagi Maha Penyayang

Kecuali pandira ini bagarak kecuali bendera ini bergerak

Maka maling kawa bagarak maka pencuri bisa bergerak

Barakat La ilahaillah Berkat tiada Tuhan malainkan Allah

Muhammadarasulullah Muhammad adalah utusan Allah’

 

Berdasarkan penjelasan tersebut terlihat bahwa mantra Banjar sangat berkaitan dengan masyarakat penggunanya. Pada masyarakat Banjar yang masih memegang kepecayaan lama, mantra Banjar sangat kental dengan kepercayaan lama tersebut, yang dikuatkan dengan adanya penyebutan kata sangiang, datu, dan hantu-hantu. Pada masa masuk dan berkembangnya agama Syiwa Budha dalam masyarakt Banjar, mantra Banjar pun dipengaruhi oleh ajaran tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, mantra Banjar dipengaruhi oleh agam Islam. Pada masyarakat Banjar Islam, mantra Banjar dimasuki unsur Islam, seperti adanya penyebutan nama Allah dan Muhammad.

 

  1. 5. Mantra Banjar Masa Dulu dan Sekarang

Mantra Banjar sebagai sastra lama telah meramaikan dunia sastra masyarakat Banjar lama dan masyarakat Banjar masa kini. Akan tatapi ada perbedaan pada masa dahulu dan pada masa kini dalam hal penggunaan mantra Banjar. Pada masyarakat Banjar lama, mantra Banjar sangatlah kentara dalam penggunaannya. Hal ini karena pada masyarakat Banjar lama, mantra Banjar merupakan salah satu bentuk kepercayaan mereka yang masih bersifat animisme dan dinamisme atau lebih dikenal dengan agama Kaharingan.

Pada masyarakat Banjar masa kini yang telah menganut agama Islam, mantra sebagai sastra lama masih dipakai oleh sebagian orang di masyarakat. Hal ini sejalan dengan Umar (1997:55) yang mengatakan bahwa agama Islam tidaklah secara keseluruhan ketauhidannya menggantikan kepercayaan dari pengaruh yang terdahulu. Akan tetapi, penggunaan mantra Banjar tidak sebanyak pada masyarakat Banjar lama. Pengaruh Islam telah mengurangi penggunaan mantra Banjar oleh masyarkat Banjar. Hal ini dapat kita pahami karena dalam agama Islam kita tidak mengenal mantra untuk keperluan tertentu, melainkan doa langsung kepada Allah swt dan usaha kita sendiri. Hal ini sejalan dengan firman Allah yang artinya Telah berfirman Tuhanmu: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan permohonanmu” (Surah Almukmin ayat 60). Maksud ayat ini adalah semua umat Islam wajib berdoa langsung kepada Allah dan dengan tentunya tidak menggunakan mantra-mantra. Hal itu sejalan pula dengan firman Allah yang artinya ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu mengubah keadaan mereka sendiri’ (Surah Arrad ayat 11). Maksud ayat ini adalah umat Islam wajib berusaha untuk mencapai segala sesuatu dan tentunya juga tanpa adanya mantra-mantra dalam hal berusaha tersebut.

 

  1. 6. Fungsi Mantra Banjar

Fungsi mantra Banjar dapat dilihat terutama dalam hubungannya dengan jenis mantra itu sendiri. Mantra dapat berfungsi dalam hubungannya dengan kekeluargaan, permainan anak-anak, pengobatan, kecantikan, cinta kasih, kharisma/wibawa, kekebalan, mata pencaharian, dan keamanan. Jadi, setiap mantra memiliki fungsi masing-masing. (Ismail  dkk., 1996:19). Fungsi mantra yang berhubungan dengan kekeluargaan, misalnya terdapat dalam mantra berikut.

Bismillahirahmanirrahim                                            ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih   lagi Penyayang

Nun kalamun walayar turun Tuhan yang mengetahui sebenarnya demi yang mereka tuliskan

Insya Allah inya ilang aritan Dengan izin Allah dia hilang rasa

Inya turun Dia turun

Barakat La ilahailallah Berkat tiada Tuhan selain Allah

Muhammadarasulullah Muhammad adalah utusan Allah’

Mantra tersebut berfungsi agar seorang calon ibu atau ibu mudah untuk melahirkan. Begitu pula dengan fungsi mantra yang lain yang juga berhubungan dengan jenis mantranya. Mantra berikut berfungsi untuk menyembuhkan sakit perut (berhubungan dengan jenis mantra tatamba atau pengobatan).

Bismilahirahmanirrahim                                             ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih   lagi Penyayang

Ruk manggaluruk                                                       Ruk manggaluruk

Rik manggalirik                                                           Rik manggalirik

Asalnya di ari mantuk ka kamih Asalnya di ari kembali ke kemih

Asalnya di angin mantuk ka angin Asalnya di angin kembali ke angin

Asalnya di banyu mantuk ka banyu Asalnya di air kembali ke air

Insya Allah inya hilang Dengan izin Allah dia hilang

Barakat La ilahailallah Berkat tiada Tuhan selai Allah

Muhammadaraulullah Muhammad adalah utusan Allah

  1. 7. Wujud Pelestarian Mantra Banjar

Sebagaimana yang sudah penulis sebutkan di atas bahwa mantra Banjar harus kita lestarikan karena selain berfungsi sebagai pengungkap tata nilai sosial budaya Banjar dan bermanfaat dalam penggalian nilai-nilai religi masyarakat Banjar, melalui mantra Banjar kita dapat membuktikan bahwa orang Banjar mahir bersastra sejak dahulu. Pelestarian mantra Banjar dapat kita wujudkan dengan beberapa cara. Mendokumentasikan mantra-mantra Banjar dalam bentuk buku yang mudah dibaca masyarakat Banjar khususnya dan masyarakat di luar etnik Banjar umumnya merupakan salah satu cara untuk melesarikan mantra Banjar.

Mantra Banjar juga mengandung arti bahwa orang Banjar sejak dahulu memiliki kebiasaan berpuisi (menciptakan dan melafalkan puisi lama yang disebut mantra Banjar). Cara pelestarian mantra Banjar yang lebih hidup dan sesuai perkembangan zaman  pada masa sekarang adalah meneruskan kebiasaan berpuisi, seperti yang dilakukan orang Banjar zaman dahulu. Bentuk konkret pelestarian yang lebih hidup ini adalah menciptakan puisi-puisi pada zaman sekarang (puisi modern).

Alhamdulillah, bentuk konkret pelestarian yang lebih hidup ini sudah banyak dilakukan oleh orang Banjar zaman sekarang. Bahkan, orang Banjar sekarang sudah ada yang memasukkan puisi-puisi ciptaan mereka dalam laman atau website internet pribadi, sebut saja laman atau website milik penyair terkenal Kalimantan Selatan yang bernama M. Arsyad Indradi, yakni http://www.sastrabanjar.blogspot.com dan http://www.penyairkalsel.blogspot.com.

 

  1. 8. Penutup

Mantra Banjar merupakan salah satu sastra daerah Banjar. Dalam perkembangannya mantra mendapatkan pengaruh berdasarkan keyakinan masyarakat penggunanya. Pada saat masyarakat penggunanya berkeyakinan terhadap kepercayaan animisme dan dinamisme, dalam mantra Banjar pun terkandung unsur-unsur kepercayaan animisme dan dinamisme tersebut. Begitu pula Ketika agama Budha Syiwa dianut dalam keyakinan penggunanya, unsur-unsur agama tersebut ada dalam mantra Banjar.  Saat agama Islam dipeluk oleh masyarakat penggunanya pun mantra Banjar masih ada dan terdapat unsur Islam di dalamnya, seperti penyebutan nama Allah dan Muhammad Rasul Allah. Oleh karena itulah, melalui mantra Banjar kita dapat mengetahui religi yang pernah ada atau dianut oleh masyarakat Banjar.

Setelah Islam masuk dan dianut oleh masyarkat Banjar, mantra Banjar kurang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan dalam agama Islam tidak ada mantra. Untuk mencapai sesuatu dalam Islam diperlukan usaha dan doa kepada Allah dan bukan dengan mantra. Mantra Banjar sebagai sastra daerah Banjar harus kita lestarikan dengan cara mendokumentasikannya dan meneruskan kebiasaan berpuisi yang pernah dilakukan oleh masyarakat Banjar zaman dahulu.

Daftar Pustaka

 

http://www.sastrabanjar.blogspot.com diakses pada tanggal 14 April 2008.

http://www.penyair-kalsel.blogspot.com diakses pada tanggal 14 April 2008.

Idham, M. Suriansyah. 2005. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.

Ismail, dkk. 1996. Fungsi Mantra dalam Masyarakat Banjar. Jakarta: Pusat Bahasa.

Jarkasi. 2002. Mamanda: dari Realitas Tradisional ke Kesenian Populer Seni Pertunjukan Banjar. Banjarmasin: Grafika Wangi.

Umar, Rasyidi A. 1997. Unsur Magis dalam Puisi Daerah Banjar. Banjarmasin: Universitas Lambung  Mangurat.

Yayuk, Rissari, dkk. 2005. Mantra Banjar. Banjarmasin: Balai Bahasa Banjarmasin.

 

3 comments on “MANTRA BANJAR: BUKTI ORANG BANJAR MAHIR BERSASTRA SEJAK DAHULU

  1. memang mantra selalu merupakan susunan kata-kata yang sastra. namun musti di amati berguna tidaknya. sebab jika itu menjauhkan kita dari Tuhan, justru makin bahaya. btw… bagus kali ini posting ya….

    cuk cinucuk bangcuk
    ini cuman surat sepucuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s