Menyoal Perjuangan Perempuan dalam Novel Galaksi Kinanthi

Galaksi Kinanthi oleh Tasaro GK. 2009. Bandung: Salamadani, 432 halaman.

Diresensi oleh Desie Natalia, Balai Bahasa Bandung

 

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada pemberitaan mengenai penyiksaan terhadap Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri. Sungguh miris nasib para TKW tersebut. Mereka diperlakukan dengan semena-mena, disiksa, diperkosa, bahkan ada yang dipulangkan ke tanah air sudah menjadi mayat. Banyak persoalan yang menyangkut pada pengiriman TKW ke luar negeri, di antaranya, yaitu trafficking, pemalsuan umur dalam paspor, dan pengiriman TKW ilegal. Sampai saat ini Pemerintah dan para pemangku kekuasaan belum dapat mengatasi persoalan mengenai TKW ini dengan baik, sehingga semakin hari semakin hari banyak TKW yang menjadi korban kekerasan oleh majikan. Continue reading

PERBANDINGAN HIKAYAT MAHARAJA MUNDING GIRI DAN PANGGUNG KARATON DENGAN NOVEL ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

Pipin Dasripin

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang wujud struktur, kebahasaan, gambaran sosial, dan budaya yang terdapat dalam Hikayat Maharaja Munding Giri dan Panggung Karaton sebagai suatu karya sastra lama dan novel Anak Perawan Disarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisyahbana sebagai suatu karya sastra baru.

Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural dan mimesis. Pendekatan ini berhubungan dengan kenyataan dan rekaan dalam karya sastra. Yang dianalisis tidak hanya peristiwa, plot, tokoh, dan latar, tetapi bagaimana hubungan antarunsur tersebut dan sumbangan apa yang dapat diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai.

Kedua karya sastra yang berlainan masanya, ternyata masih ada unsur kesamaanya. Novel ternyata meneruskan nilai-nilai yang ada dalam hikayat. Namun, berbeda dalam cara penyajian, bahasa, dan alur. Hal itu merupakan transformasi dari suatu karya sastra yang meneruskan tradisi-tradisi lama dalam menampilkan sebuah karya sastra.

 

Kata Kunci: hikayat, novel, sastra lama, transformasi, mimesis Continue reading

REFLEKSI PEREMPUAN SUNDA DALAM NOVEL SUNDA

Rieza Utami Meithawati

Abstrak

Karya sastra merupakan sebuah media untuk merepresentasikan berbagai bentuk gagasan ataupun persoalan perempuan yang berkembang dalam masyarakat, baik secara ideologis maupun secara praktis. Masalah refleksi perempuan dalam ruang publik dan ruang privat yang didominasi oleh kaum patriarkat terungkap dalam novel Pipisahan. Peranan tokoh perempuan dalam memperjuangkan hidupnya dengan mengais rezeki di ruang publik mendapat banyak hambatan dari kaum laki-laki. Bahkan, kaum laki-laki berusaha untuk menempatkan kembali tokoh perempuan itu kembali ke ruang privat.

 

Kata Kunci: perempuan, ruang publik, ruang domestik Continue reading

TEMA SEKS DALAM LIMA NOVEL YANG DITULIS OLEH NOVELIS PEREMPUAN INDONESIA

Nandang R. Pamungkas

 

Abstrak

Akhir-akhir ini dunia sastra Indonesia diwarnai oleh kemunculan novel-novel yang ditulis oleh novelis perempuan. Novel-novel para novelis perempuan yang muncul antara tahun 2002—2004 pada umumnya secara gamblang menyampaikan berbagai hal tentang seks. Kehadiran Larung (Ayu Utami), Ode untuk Leopold Von Sacher Massoch (Dinar Rahayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto), Garis Tepi Seorang Lesbian (Herlinatien), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), di samping mengundang decak kagum karena memperlihatkan terkembangnya layar estetika baru juga menuai kritik. Semua itu tak lain karena dampak dari karya sastra yang telah mengeksplorasi tema seks dengan narasi yang vulgar, binal, dan sarkastik.

Dalam kelima novel tersebut penokohan perempuan dan tema seks begitu terasa mendominasi. Para perempuan dalam novel-novel tersebut semuanya dililit oleh permasalahan cinta dan seksual. Permasalahan tersebut di antaranya, perselingkuhan, penindasan, budaya patriarkat, dan feminisme. Bahkan, lebih dari itu seks menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan perempuan yang disuarakan oleh perempuan pengarang. Meskipun beberapa novel menjadikan laki-laki sebagai tokoh sentral, tetapi secara umum cerita melibatkan begitu banyak tokoh perempuan.

Dalam kelima novel tersebut kita juga melihat pergeseran cara pandang para tokoh perempuan terhadap eksistensi laki-laki. Para perempuan tersebut tidak lagi melihat laki-laki sebagai laki-laki, tetapi menjadi objek atau mangsa. Kata tersebut secara gamblang disuarakan dalam kelima novel tersebut.

Kata Kunci: seksualitas, penokohan perempuan Continue reading