<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>METASASTRA</title>
	<atom:link href="http://metasastra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://metasastra.wordpress.com</link>
	<description>Jurnal Penelitian Sastra</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Nov 2009 05:15:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='metasastra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>METASASTRA</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://metasastra.wordpress.com/osd.xml" title="METASASTRA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://metasastra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>AKTUALISASI DIRI PEREMPUAN-PEREMPUAN ODHA (ORANG DENGAN HIV/AIDS) DALAM KUMPULAN CERPEN AKU KARTINI BERNYAWA SEMBILAN</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/aktualisasi-diri-perempuan-perempuan-odha-orang-dengan-hivaids-dalam-kumpulan-cerpen-aku-kartini-bernyawa-sembilan/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/aktualisasi-diri-perempuan-perempuan-odha-orang-dengan-hivaids-dalam-kumpulan-cerpen-aku-kartini-bernyawa-sembilan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:04:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[aktualisasi diri]]></category>
		<category><![CDATA[Aku Kartini Bernyawa Sembilan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[ODHA]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Lailatul Munawaroh* Abstrak Memasuki era milenium ketiga ini karya sastra yang dihasilkan para perempuan penulis menyerbu kehidupan sastra Indonesia. Masing-masing dengan dunianya. Ada yang cerdas, radikal, bebas, bahkan lebih gila daripada lelaki. Ada juga yang gaul, melankolis, puitis, komunikatif, dan santun, tetapi sesungguhnya memberontak. Akan tetapi, belum banyak kisah penderita HIV yang dituangkan dalam karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=55&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lailatul Munawaroh*</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Memasuki era milenium ketiga ini karya sastra yang dihasilkan para perempuan penulis menyerbu kehidupan sastra Indonesia. Masing-masing dengan dunianya. Ada yang cerdas, radikal, bebas, bahkan lebih gila daripada lelaki. Ada juga yang gaul, melankolis, puitis, komunikatif, dan santun, tetapi sesungguhnya memberontak. Akan tetapi, belum banyak kisah penderita HIV yang dituangkan dalam karya sastra, khususnya cerpen ataupun novel. Hal tersebut dikarenakan selama ini AIDS dianggap sebuah aib yang harus ditutupi dan dijauhi. Perlakuan bagi penderita HIV/AIDS di berbagai rumah sakit pun terkadang masih memprihatinkan. Kenyataan tersebut  membuat mental penderita HIV/AIDS makin tertekan. Namun, beberapa tahun yang lalu telah terbit sebuah buku yang ditulis oleh perempuan-perempuan penderita HIV/AIDS. Buku tersebut berjudul <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em>. Kehadiran buku tersebut tentu saja sangat berarti bagi penderita HIV/AIDS dan bagi kita semua. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai terobosan untuk menuangkan kreatifitas. Selain itu, buku tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk berbagi pengalaman sekaligus menjadi terapi batin bagi para ODHA. Setidaknya apa yang dirasakan oleh ODHA dapat kita rasakan sehingga dapat menyebarkan kesadaran bahwa HIV/ AIDS adalah isu dunia yang sangat serius untuk ditangani.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata kunci: aktualisasi diri, perempuan dengan HIV/AIDS, cerita pendek<span id="more-55"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Entering the millennium era,  there are  three literary works that are  written by the women writers attacked the life of Indonesian literature. Each is with her world. There are those who are smart, the radical, free, in fact madder than  man . There are also  sociable, melancholic, poetic, communicative, and well-mannered writers , but actually rebelling. However, there has not been any story related with the sufferer of the HIV yet presented in the literary work, especially the short story or the novel. The reason of this is that the AIDS is considered a disgrace that must be covered and avoided. The treatment for the HIV/AIDS sufferer in various hospitals  sometimes consider still worrying. This reality makes bounced the HIV/AIDS sufferer increasingly pressed. However, several years ago was published  a book written by the women HIV/this AIDS sufferers. The book is entitled “ Aku Kartini Bernyawa Sembilan”. The presence of this book is meant for the HIV/AIDS sufferers and for all readers. This book can be made the breakthrough to present creativity. Moreover, this book can also used as  means of sharing the experience and becoming therapy for the HIV/ AIDS sufferers. At least, what happened to those to the sufferers can be used as information which can be taken into action with the serious solution. </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Key word: self actualization, woman with HIV/AIDS, short stories</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Karya sastra merupakan hasil dari proses kreatif sang pengarang. Pengarang dengan sadar mencipta suatu kegiatan yang menjadi bagian hidupnya meskipun masyarakat tidak merasa memilikinya. Pengarang tidak memedulikan apakah nantinya masyarakat merasa memiliki hasil karyanya atau tidak. Sastra sebagai buku, tidak sekadar sebagai gagasan atau pandangan kita mengenai bagaimana dan seperti apa sastra itu seharusnya. Escarpit (2005) berkata, “&#8230;memandang pengarang semata-mata sebagai pembuat kata-kata, tidak memiliki makna sastra. Ia hanya memiliki makna itu, yakni didefinisikan sebagai pengarang setelah seorang pengamat yang ada di pihak publik mampu melihatnya seperti itu. Seseorang menjadi pengarang hanya dalam hubungan dengan seseorang atau menurut pandangan seseorang lain&#8230;”. Pandangan Escarpit tersebut menyiratkan adanya sederet kegiatan dan lembaga yang berada antara benak orang yang menulis dan pikiran orang yang membaca tulisannya. Demikian pula dengan terciptanya buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> yang tidak terbit secara tiba-tiba begitu saja, tanpa perjuangan dan tanpa tujuan. Perwakilan UNAIDS (Badan PBB untuk Program Penanggulangan AIDS) di Indonesia, Krittayawan Tina Boonto, mengatakan bahwa buku tersebut merupakan bagian dari kampanye untuk perempuan dan penanggulangan HIV/AIDS.</p>
<p><em>Acquired Immuno Deficiency Syndrome</em> (AIDS) adalah sindrom menurunnya kekebalan tubuh akibat terinfeksi virus <em>Human Immuno Deficiency Virus</em> (HIV). Di Indonesia ratusan ribu orang kini hidup dengan HIV dan lebih dari setengahnya ialah perempuan. Perempuan penderita HIV/AIDS umumnya mengalami tekanan yang jauh lebih berat jika dibandingkan dengan penderita laki-laki. Mereka sering dianggap sebagai “perempuan nakal” yang menjadi “penyebar virus”. Padahal, data statistik menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan tertular HIV/AIDS akibat hubungan intim dengan suaminya yang sudah lebih dulu mengidap HIV. Meskipun demikian, sebagian besar dari mereka tidak meninggalkan suaminya. Mereka menganggap kenyataan tersebut merupakan takdir dari Tuhan yang harus mereka terima. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tidak dapat bertahan hidup lebih lama karena selain tidak adanya biaya untuk berobat juga karena tidak siap menerima stigma masyarakat. HIV secara perlahan memang akan membunuh badan, tetapi stigma dan penghakiman masyarakat akan membunuh jiwa jauh sebelum badan menyerah pada masanya.</p>
<p>Memasuki era milenium ketiga ini karya sastra yang dihasilkan para perempuan penulis menyerbu kehidupan sastra Indonesia. Masing-masing dengan dunianya. Ada yang cerdas, radikal, bebas, bahkan lebih gila daripada lelaki. Ada juga yang gaul, melankolis, puitis, komunikatif, dan santun, tetapi sesungguhnya memberontak. Akan tetapi, belum banyak kisah penderita HIV yang dituangkan dalam karya sastra, khususnya cerpen ataupun novel. Hal tersebut dikarenakan selama ini AIDS dianggap sebuah aib yang harus ditutupi dan dijauhi. Perlakuan bagi penderita HIV/AIDS di berbagai rumah sakit pun terkadang masih memprihatinkan. Kenyataan tersebut  membuat mental penderita HIV/AIDS makin tertekan. Namun, beberapa tahun yang lalu telah terbit sebuah buku yang ditulis oleh perempuan-perempuan penderita HIV/AIDS. Buku tersebut berjudul <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em>. Kehadiran buku tersebut tentu saja sangat berarti bagi penderita HIV/AIDS dan bagi kita semua. Buku tersebut dapat dijadikan sebagai terobosan untuk menuangkan kreatifitas. Selain itu, buku tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk berbagi pengalaman sekaligus menjadi terapi batin bagi para ODHA. Setidaknya apa yang dirasakan oleh ODHA dapat kita rasakan sehingga dapat menyebarkan kesadaran bahwa HIV/ AIDS adalah isu dunia yang sangat serius untuk ditangani.</p>
<p>Tulisan berikut bukan hanya sekadar untuk mengingatkan bukunya<em> </em>tetapi mencoba untuk memahami siapa para penulisnya, latar belakang mereka menulis cerita dan mengapa kumpulan cerita ini diterbitkan. Selain itu, tulisan ini mencoba menjelaskan makna dan pengaruhnya secara pribadi dalam hidup pembacanya.</p>
<p><strong>2. Latar Belakang Penulisan Cerita</strong></p>
<p><em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> merupakan judul buku yang berisi kumpulan cerpen karya perempuan-perempuan ODHA yang lolos seleksi dari seluruh tulisan yang ditulis oleh ODHA di Indonesia. Buku tersebut terbentuk dari hasil pelatihan menulis kreatif yang dimentori oleh enam perempuan penulis terkenal, yaitu Cok Sawitri, Oka Rusmini, Djenar Maesa Ayu, Nukila Amal, Ayu Utami, dan Dewi Lestari di berbagai kota, seperti Batam, Manado, Jayapura, Yogyakarta, Bandung, dan Denpasar. Banyak sekali pelatihan menulis kreatif, tetapi yang berkaitan dengan HIV/AIDS dianggap sebagai suatu pencapaian keberhasilan kegiatan apabila hasil karyanya tertulis dan “bermuatan”. Dengan demikian, publik mengetahui karya tersebut dibuat oleh ODHA yang ditempatkan sebagai sang kreator yang sekaligus sebagai penyandang stigma. Selain itu, dengan karya tersebut diharapkan dapat mencairkan stigma masyarakat mengenai penyandang HIV/AIDS.</p>
<p>Pelatihan menulis kreatif tersebut dijadikan sebagai solusi bagi para ODHA untuk mengaktualisasikan diri. Selain itu, kegiatan tersebut mendorong mereka dalam proses kreatif yang wajar untuk menguatkan identitas kultural  sehingga tidak terjebak  ke arah proses yang menghasilkan karya slogan semata. Proses kreatif yang ditawarkan ialah proses yang menempatkan individu sebagai seseorang yang normal dan wajar dalam proses ekspresinya. Persoalannya ialah apakah karya-karya tersebut akan membantu aktualisasi diri mereka untuk melawan stigma? Semua itu hanya penulis dalam buku tersebut yang mengetahui. Harapan terakhir, minimal karya-karya mereka bermanfaat bagi kita dan bagi generasi mendatang.</p>
<p><strong>3. Penerbitan</strong></p>
<p>Ide pembuatan buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> terlontar dalam pertemuan penulis yang diadakan <em>Ubud Writers &amp; Readers Festival </em>di Bali. Setelah menulis proposal lanjutan, akhirnya diperoleh juga sponsor yang berkenan membantu untuk melanjutkan ide tersebut yang dimulai tahun 2006. Selain itu, keenam perempuan penulis (Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Ayu Utami, Cok Sawitri, Nukila Amal dan Oka Rusmini) juga menyatakan bersedia membantu dan menerima animo untuk berpartisipasi dari puluhan perempuan yang hidup dengan HIV dari berbagai pelosok di Indonesia. Akhirnya, terpilih 35 perempuan yang karya tulisnya akan disempurnakan kembali melalui pelatihan bersama enam penulis tersebut. Nukila Amal menjalankan <em>workshop</em> menulis di Menado, Ayu Utami di Batam, Djenar Maesa Ayu di Jogya (yang kemudian diganti di Jakarta karena terjadi gempa di Jogya), Dewi Lestari di Bandung, Cok Sawitri di Papua, dan Oka Rusmini di Bali. Mereka menjalankan enam pelatihan simultan dalam waktu enam bulan di tahun 2006. Mereka bekerja keras untuk dapat menolong teman-teman perempuan peserta pelatihan untuk mencurahkan cerita mereka dalam bentuk tulisan yang tidak saja membawa makna pribadi, tetapi juga merupakan hasil karya kreatif yang layak diterbitkan.</p>
<p>Buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> berhasil diterbitkan setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hal tersebut disebabkan adanya kendala dalam penerbitannya. Kendala pertama, Elis dan Meirinda (anggota tim UNAIDS), yang menangani masalah penerbitan jatuh sakit. Elis sakit tipus karena kelelahan dan kondisi kesehatan Meirinda juga memburuk sehingga tidak dapat bekerja selama tiga bulan. Hal tersebut menyebabkan buku yang seharusnya di luncurkan akhir tahun 2005 menjadi terlambar dan terbit pada tahun berikutnya. Kendala kedua ialah dalam prosesnya, keduanya harus “bertengkar” dengan banyak orang mengenai konsep dan tujuan pembuatan buku tersebut. Keduanya juga terjebak dalam persoalan administrasi yang berbelit-belit dan berkepanjangan. Selain harus mendampingi peserta pelatihan di enam kota, keduanya juga harus berjuang mengais-ngais tambahan sponsor serta bernegosiasi dengan banyak penerbit, selain <em>Gramedia,</em> untuk mencari opsi lain. Kendala yang paling besar ialah faktor ketidakbiasaan peserta pelatihan dalam membuat karya. Meskipun banyak kendala, semua proses tersebut berhasil dilewati karena besarnya semangat, kesabaran, dan perjuangan dari para peserta dan penyelenggara. Akhirnya, mereka dapat menarik napas lega karena sebelas karya dari delapan perempuan ODHA dinyatakan layak terbit oleh PT Gramedia Pustaka Utama dan diluncurkan di Jakarta. Berita tersebut mereka terima tepat pada saat mereka mengakhiri masa kontrak di kantor yang lama dan pindah ke kantor yang baru. Namun sayangnya, ketika belum  sempat melihat bukunya diterbitkan, salah seorang dari penulis berpulang. Menurut Humas <em>Gramedia</em>, buku tersebut dicetak sebanyak 3000 eksemplar dan sudah dapat gabung di toko buku <em>Gramedia</em> di seluruh Indonesia. Buku tersebut diluncurkan di Jakarta pada hari Rabu, tanggal 29 Agustus 2006. Para penulis mengharapkan pihak UNAIDS meneruskan program pelatihan tersebut agar para penderita HIV/AIDS yang lain dapat menulis buku untuk edisi yang akan datang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Makna dan Pengaruh Cerita</strong></p>
<p><strong>4.1 Makna Cerita</strong></p>
<p>Buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> memuat sebelas cerpen pilihan, yakni cerpen “Mandul” karya Siti Rokhimiatun, “Karamnya Kapal Miosnan” karya Theresia Rao, “Seorang Ahli Membuat Perahu” karya Lenny, “Aku Kartini Bernyawa Sembilan” karya Rezerdia Adriana Kartini, “Kandas” karya Kartini, “Tujuh” karya Joan, “Istri” karya Luh Putu Ikha Widari, Abel Tak Pernah Tahu karya Tary, dan  Sari menulis tiga cerpen dengan judul “Perempuanku, Jangan Biarkan Aku Menangis”, dan “Tulisan Hati”. Buku tersebut juga dilengkapi dengan tujuh artikel karya tujuh perempuan penulis terkenal, yaitu Dewi Lestari menulis artikel “Mengenang Sendok dan Sedotan”, Ayu Utami menulis “Seabad Lagi&#8230;”, Jenar Maesa Ayu menulis “Terapi yang Membebaskan”, Cok Sawitri menulis “Biarkan Mereka Menulis Apa Saja”, Oka Rusmini menulis “Untuk Kemanusiaan Itu Sendiri”, Nukila Amal menulis “Lima Hari Bersama Lima Dunia”, dan Meirinda menulis “Kisah Saya, Mereka, dan Mereka”.</p>
<p>Cerita yang ada dalam buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> sarat dengan makna dan sebagian besar berisi  curahan isi hati para penulisnya, seperti yang terlihat dalam cerpen yang berjudul “Mandul”. Cerpen tersebut menceritakan kebesaran hati seorang perempuan yang tertular HIV dari suaminya yang pecandu heroin dengan jarum suntik. Perempuan tersebut bernama Ayu. Ayu merupakan perempuan yang tegar dan kuat. Ia rela mengubur keinginannya untuk memiliki keturunan dari rahimnya. Ia rela membiarkan orang lain menganggapnya mandul daripada harus menularkan virus HIV ke dalam darah anak kandungnya. Sebuah kisah yang memperlihatkan makna sebuah kebesaran hati, kepasrahan jiwa, dan  kesetiaan pada pasangan. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Jika orang-orang itu tahu. Ia sebenarnya takut janinnya tertular virus HIV. Ia tidak mandul. Tapi ia tidak berani hamil. Lebih baik baginya dicap mandul, daripada menularkan virus HIV ke dalam darah anak kandungnya. Ia tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi. Bagi Ayu, semua yang terjadi dalam hidup adalah misteri Ilahi. Manusia tak dapat menebak apa yang akan terjadi, apalagi memaksa segala sesuatu harus terjadi seperti yang diharapkan. Begitu juga dengan Ayu. Ia tidak dapat menolak apa yang Tuhan sudah berikan. Ia sadar bahwa ia tidak bisa membuat manusia kecil karena anak adalah titipan. Ia tidak dapat memaksa Tuhan menaruh janin dalam rahimnya, karena sebenarnya, ia tidak menginginkannya. (Siti Rokhimiatun, 2007: 6)</p>
<p>Makna ketulusan cinta, kebesaran hati, kepasrahan jiwa, dan kesetiaan pada pasangan juga dapat kita temukan dalam cerpen “Aku Kartini Bernyawa Sembilan”  karya Rezerdia Adriana Kartini, perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 21 April 1980. Kisah yang dituangkan dalam cerpen tersebut merupakan pengalaman pribadi penulisnya. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan pernyataan Rezerdia dalam <em>ANTARA</em> <em>News</em>, Jakarta. Pada kesempatan tersebut dia berkata, “Aku mengetahui bahwa aku positif HIV pada bulan Januari 2006. Aku tidak menangis dan juga tidak tertawa dengan kenyataan ini. Buat apa menangis, kenyataannya aku telah terlahir sebagai “orang baru””. Dari pernyataan tersebut sangat terbaca bahwa Rezerdia Adriana Kartini merupakan penderita HIV/AIDS yang tegar. Ia merupakan perempuan yang sangat tegar karena menyadari bahwa AIDS bukanlah satu-satunya ujian yang berat dalam hidupnya. Perempuan yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Kartini tersebut pernah terancam mati sebanyak sembilan kali. Ia pernah terancam mati karena jatuh dari lantai tiga, ditabrak motor, dan jatuh dari bus. Selain itu, ia pernah hampir mati karena berbagai penyakit, seperti demam tinggi, demam berdarah, herpes, dan mengidap HIV/AIDS. Ia tertular HIV dari suaminya, seorang pengguna narkoba dengan jarum suntik (<em>injecting drugs user</em>). Meskipun demikian, ia tidak pernah membenci suaminya. Ia ikhlas menerima semua cobaan dari Tuhan. Ujian terberat yang dirasakannya ialah ketika akhirnya suaminya meninggal pada tanggal 28 November 2006. Sebelum dan sesudah  suaminya meninggal, Rezerdia merupakan perempuan yang aktif berorganisasi. Ia pernah bekerja sebagai koordinator KDS Permata (Kelompok Dukungan Sebaya Perempuan Tegar). KDS Permata merupakan satu-satunya badan yang dijadikan tempat berkumpulnya perempuan HIV/AIDS  yang ada di Medan.  Kisah hidup tersebut dituangkan Rezerdia dalam cerpen yang berjudul “Aku Kartini Bernyawa Sembilan”.</p>
<p>Pendampingku berusaha menenangkan aku dengan caranya. Tetapi aku malah bingung, kenapa malah mereka yang kaget dan bersedih. Untuk menenangkan mereka aku berkata, “ini bukan yang pertama kali aku diuji dalam kematian”. Mereka bingung kenapa aku tidak menangis di pundak mereka. Untuk apa menangis, kita lihat saja nanti. Dengan status positifku, aku semakin terinformasi untuk melakukan yang lebih berarti dalam hidup tiap hari&#8230; tiap hari&#8230; tiap hari&#8230; Aku belajar untuk menghargai hidupku, anugerah yang diberikan tiap hari, aku bisa merasakan cinta lebih lagi &#8230; lebih lagi. (R.A. Kartini, 2007: 37)</p>
<p>Kisah  berbeda ditulis oleh Kartini dalam cerpen yang berjudul “Kandas”. Hanya satu fakta yang membuat cerpen tersebut berbeda dengan kedua cerpen sebelumnya, yaitu Kartini terinfeksi HIV karena pecandu narkoba dan pemakai jarum suntik.  Bahkan, ia dan suaminya pernah menjadi bandar narkoba. Semua itu bermula dari minimnya pengetahuan tentang HIV dan penularannya. Ketika dinyatakan mengidap HIV, ia hanya bisa pasrah, tetapi tidak putus asa. Ia masih memiliki semangat hidup yang tinggi demi anak dan orang yang dicintainya. Bahkan, ia masih berkeinginan untuk membina hubungan dengan lelaki lagi. Ada satu makna positif yang patut kita ambil dari kisah hidup Kartini yaitu kebesaran hati dan prinsip hidupnya. Ia merasa HIV mampu mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ia juga berprinsip untuk tidak menularkan penyakitnya pada orang lain.</p>
<p>Kartini, perempuan yang dilahirkan di Kabupaten Banyuwangi ini menuangkan pengalaman pribadinya dalam cerpen yang berjudul “Kandas”. Ia menulis semua kisah hidupnya mulai dari lahir, besar, sekolah, menikah, mempunyai anak, cerai, pecandu narkoba, masuk bui, melakukan poliandri, mengidap penyakit TBC, dan mengidap HIV. Meskipun HIV belum ada obatnya, ia tetap memiliki semangat hidup untuk anak dan orang-orang yang dicintainya. Oleh karena itu, ia selalu rutin mengikuti pertemuan di berbagai yayasan dan rutin menjalani terapi ARV (obat yang mampu membunuh virus HIV) untuk seumur hidup. Ia menceritakan kisah tersebut dengan bahasa yang lugas dan jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Kejujuran tersebut menyebabkan pembaca merasa terhanyut dan terbawa dalam kisahnya. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan kebesaran hati Kartini dalam cerpen “Kandas”.</p>
<p>Aku merasa HIV yang mampu mengubah hidupku jadi lebih baik, setidaknya aku aku tidak jadi pengecut. Karena aku punya prinsip untuk tidak menularkannya pada orang lain. Sampai saat ini aku selalu rutin mengikuti pertemuan di berbagai yayasan antara lain BALI PLUS dan YAKEBA. Dan aku salah satu anggota Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dari “TUNJUNG PUTIH”. Mungkin dari sini aku bisa tunjukkan kepada masyarakat, bahwa “HIV/AIDS” bukan <strong><em>stempel mati</em></strong>. (R.A. Kartini, 2007 :52-53)</p>
<p>Joan sangat gigih mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya untuk berbagi dan bersuara supaya orang-orang yang akan ditinggalkannya memiliki kenangan indah bersama dirinya. Tulisannya yang berjudul “Tujuh” merupakan puncak dari perseteruan yang selama dua tahun menahan perih karena terinfeksi HIV. Joan merasa telah siap berkisah. Dia siap menuliskan kisah hidupnya dalam lembaran cerita yang berjudul “Tujuh”. Hal tersebut  dilakukannya untuk menyingkirkan rasa sedih dalam hatinya. Hanya kekuatan cinta yang mampu menegakkan kerapuhan hati Joan dalam menghadapi ganasnya HIV. Dari kisah yang ada dalam cerpen “Tujuh”, kita dapat mengambil makna kekuatan cinta senjati. Dengan kekuatan cinta, hati Joan yang dulu rapuh menjadi tegar kembali dalam menghadapi kenyataan pahit yang harus dideritanya seumur hidup.</p>
<p>Kuingat saat kau memandangku sebelah mata. Aku ingin kau mengalihkan pandanganmu dariku. Aku sempat malu menatap dunia. Apakah karena tiga atau empat huruf ini, mudah menghapus ingatanmu tentangku? Aku berani menghakimimu dan tuhan-tuhanmu. (Joan, 2007: 56-57)</p>
<p>Hingga saatnya nanti. Bila mata ini tak lagi terbuka. Bila mulut ini tak lagi menganga. Hanya tinggal senyum di bibir kelu. Mataku pun akhirnya kan dapat terpejam. Seribu terima kasih akan terlayangkan. Indahnya persahabatan dengan sebaya-sebayaku. Sabar dan penuh cintanya kekasihku. Dorongan dan doa sederhana keluarga. Lucunya si kecilku dan semua yang telah mau mengerti, memberi semangat, mencintai dan mengucap syukur atas diriku. Takkan habis kata untuk semua ini. (Joan, 2007: 59)</p>
<p>Stigma masyarakat bagi penderita AIDS tidak dapat dihindari. Hal itu sangat wajar karena pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS masih sangat minim. Selain itu, faktor belum diketemukannya obat anti retroviral yang lebih ramah pada pasien akan lebih menistakan para penderita. Semakin banyaklah masyarakat yang berangggapan bahwa AIDS merupakan penyakit yang mematikan dan harus dihindari bagaimanapun caranya. Bahkan, perlakuan terhadap penderita AIDS di beberapa rumah sakit pun masih sangat memprihatinkan. AIDS secara perlahan memang akan membunuh badan, tetapi stigma dan penghakiman masyarakat akan membunuh jiwa jauh sebelum badan menyerah pada masanya. Demikian juga dengan keadaan yang dialami oleh suami Putu, sebutan untuk Luh Putu Ikha Widari. Suami Putu menerima perlakuan yang tidak adil ketika meninggal dunia akibat AIDS.</p>
<p>Pertanyaaku terjawab. Malam harinya, seorang kepala kampung di mana suamiku dimakamkan meminta kuburan suamiku diangkat kembali dan dikremasi. Dengan satu syarat, asap dari api yang membakar tubuh suamiku harus ditutup. Alasannya, agar virus yang ada dalam tubuh suamiku tidak menular kemana-mana. (Luh Putu Ikha Widari, 2007:66)</p>
<p>Berbagai ujian menghampiri hidup Putu. Ibu Putu mengalami vertigo setelah melahirkan adiknya yang terakhir. Selain itu, Putu juga harus berbesar hati menerima kenyataan bahwa dirinya juga terinveksi HIV dari suaminya. Semua ujian tersebut dapat ia jalani dengan optimis dan pikiran yang positif. Ia banyak belajar dari orang-orang kurang beruntung yang ada di sekitarnya. Ia banyak belajar juga dari teman-temannya yang sama-sama berjuang melawan ganasnya virus AIDS. Di saat terpuruk pun, ia masih memanjatkan rasa syukur karena anaknya terbebas dari virus yang membunuh suami dan menggerogoti tubuhnya. Hal itu pulalah yang membuatnya bangkit untuk terus bersemangat menjalani hidup.</p>
<p>Melihat ibu, membuatku selalu berkaca pada hidupku yang tidak beres. Suami mati kena HIV. aku pun sekarang menjelma seorang perempuan positif HIV. aku banyak belajar dari teman-teman sebayaku. Teman-teman yang berjuang sama untuk melawan ganasnya virus HIV yang menyerang sel darah putih kami.(Luh Putu Ikha Widari, 2007: 81)</p>
<p>Pendosa, pelacur, dan pemakai narkoba merupakan umpatan yang sering dituduhkan kepada perempuan penderita HIV. Kebanyakan dari penderita hanya bisa diam menerima umpatan tersebut sambil berusaha tegar untuk meneruskan hidup demi anak, demi pasangan, dan demi keluarga. Tidak banyak  masyarakat yang tahu dan peduli bahwa kebanyakan dari perempuan-perempuan ODHA merupakan ibu rumah tangga yang baik dan setia. Tanpa disadari, mereka terinfeksi dari pasangan mereka yang terlebih dahulu terinfeksi HIV. Hal tersebut sesuai pengalaman yang dialami oleh Tary yang dituangkan dalam cerpennya yang berjudul “Abel Tidak Pernah Tahu”. Melalui tokoh Abel, Tary menceritakan suka duka kehidupannya setelah terinfeksi HIV. Ia terinfeksi HIV dari suaminya. Meskipun demikian, ia tidak ingin membenci suaminya. Ia merupakan salah satu perempuan ODHA yang sangat bijak. Ia memberanikan diri untuk menjadi fasilitator di berbagai seminar yang memberikan ulasan tentang HIV. Ia berani bersuara demi perempuan-perempuan yang akan menyandang status janda, demi para ibu yang tidak ingin kehilangan anak-anaknya, dan demi perempuan-perempuan di dunia ini.</p>
<p>Abel tersenyum karena ada juga orang yang tertarik soal penutup kepalanya. Dengan nada seperti mengadu ia berkata lirih, “Bu, sehelai kain kerudung di atas kepala saya ini bukan saya pakai karena saya kena HIV. Jilbab ini saya pakai sejak SMP. Jadi Ibu bisa lihat, bahwa kerudung ini pun tidak melindungi saya dari virus itu. Virus itu bisa menyerang siapa pun, mengincar siapa pun, di mana pun, kapan pun, termasuk saya.” (Tary, 2007:89)</p>
<p>Sari menulis tiga cerpen yang berjudul “Perempuanku”, “Jangan Biarkan Aku Menangis”, dan “Tulisan Hati”. Dalam cerpen tersebut Sari menceritakan tokoh Lara sebagai sosok yang sangat dikagumi dan dicintainya. Sari kagum dengan keberanian Lara menuangkan gagasan-gagasannya dalam memerangi peredaran pasar gelap narkoba dan upayanya merevisi UU narkotika/psikotropika yang sudah tidak relevan dan hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu. Selain itu, Lara juga dianggap sebagai sosok yang mampu memberi semangat karena selalu menghadirkan keceriaan dalam hidup Sari. Kekaguman tersebut tertuang dalam cerpen yang berjudul “Perempuanku”. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Lara adalah keceriaan. Suaranya membuatku jatuh cinta padanya karena aku manusia yang amat membutuhkan keceriaan, atau tepatnya aku haus akan itu. Di tengah-tengah hidupku yang sarat keseriusan dan kerisauan, dia telah menghadirkan berjuta-juta tawa padaku. (Sari, 2007:99)</p>
<p>Cerpen “Jangan Biarkan Aku Menangis” menceritakan ketidaksiapan Sari menerima kenyataan bahwa dirinya mengidap HIV. Sari tidak siap ditinggalkan orang-orang terdekatnya hanya karena HIV. Ia takut ditinggalkan keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan terlebih lagi kekasihnya. Ia hanya bisa mengadu pada Tuhan. Ia menyembunyikan kenyataan pahit tersebut hingga diakhir cerita. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan hal tersebut.</p>
<p>Tuhan, hanya kamu yang bisa kuajak bicara jujur. Aku tidak pernah menyalahkanMu atau kehidupan, aku hanya mempertanyakan mengapa luka ini datang pada saat hidupku tidak lagi untuk diriku sendiri? Apa yang akan aku pertanggungjawabkan pada mereka yang mengasihiku ketika aku harus pergi? (Sari, 2007:105)</p>
<p>Cerpen ketiga Sari yaitu cerpen yang berjudul “Tulisan Hati”. Sari menceritakan tokoh “Aku” dengan begitu indah. Dalam cerpen tersebut “Aku” ialah ayunan besi yang menjadi saksi penyesalan perempuan yang telah melibatkan kekasihnya mengenal dunia gelap narkoba. Penyesalan itu bertambah ketika mengetahui dirinya terinfeksi HIV. Dengan kenyataan tersebut ia tidak dapat mewujudkan impiannya bersama kekasihnya. Ia tidak sanggup melihat kekasihnya menderita karena dirinya. Cerita tersebut berlatar di kota Bandung pada tanggal 10 Mei 2006. Berikut merupakan kutipan yang menunjukkan pernyataan tersebut.</p>
<p>Aku menyesali ketika aku merusak hidupku dengan racun dunia yang kutusukkan dalam aliran darahku, hanya untuk menciptakan khayalan semu yang dengan bangganya kusebut sebagai jalan pencarian jati diri. Aku menyesal katika kutahu pencarian jati diriku mempertemukan aku dengan virus ini. Dan aku lebih menyesal lagi ketika aku harus melibatkanmu di dalamnya. (Sari, 2007:111)</p>
<p>Sebagian besar tema yang diangkat dalam buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> mengenai  HIV/AIDS. Dari sebelas cerpen yang ada hanya dua cerpen yang mengambil tema di luar tema tersebut. Kedua cerpen tersebut yaitu “Karamnya Kapal Miosnam” karya Theresia Rao dan “Seorang Ahli Membuat Perahu” karya Lenny. Theresia Rao menceritakan tenggelamnya kapal Miosnam yang terjadi di Irian Jaya pada tahun 1982. Meskipun tidak membahas masalah HIV/AIDS, isi cerpen tersebut sangat bermanfaat. Hal tersebut disebabkan isi ceritanya menunjukkan tradisi yang menyertai kehidupan masyarakat Papua sehingga dapat dijadikan sebagai “jendela” atau “kunci” untuk memahami mengapa HIV/AIDS mudah menyebar di Papua.</p>
<p><strong>4.2 Pengaruh Cerita</strong></p>
<p>Perempuan-perempuan ODHA penulis dalam kumpulan cerpen <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> memilih untuk berbagi perasaan melalui tulisannya. Langkah tersebut sekaligus menjadi cara untuk menyebarkan kesadaran bahwa HIV/AIDS merupakan isu dunia yang sangat serius untuk ditangani. Banyak sudah yang dilakukan Pemerintah untuk mengadakan penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat dalam rangka menunjukkan betapa bahayanya HIV/AIDS, tetapi sepertinya langkah tersebut kurang mengena dan menyentuh masyarakat. Mungkin dengan membaca buku tersebut pembaca akan lebih menyadari bahaya HIV/AIDS karena karya tersebut langsung ditulis sendiri oleh orang yang terinfeksi HIV.</p>
<p>Kisah ODHA di buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> terkadang ibarat melodrama. Apakah kita percaya ada laki-laki yang mau menerima perempuan apa adanya, perempuan yang mengidap HIV? Atau adakah orang yang sudi berbagi sedotan dan sendok dengan para ODHA? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selama ini dianggap sebuah pertanyaan yang ‘bodoh’ karena jawabannya pastilah sebagian besar tidak ada yang mau. Akan tetapi, hal itu berbeda dengan kenyataan yang ada dalam buku tersebut. Pada kenyataannya banyak orang yang menjauh, semua teman menolak berbagi makanan dan minuman, bahkan enggan sekadar bersalaman, sedangkan Dewi Lestari malah mau berbagi sedotan dan sendok dengan para ODHA. Hal-hal sepele semacam itulah yang justru membuat ODHA terkesan karena orang tua mereka pun belum tentu mau melakukan itu. Dewi merasa senang karena perbuatan kecilnya telah menjadikan ODHA merasa dihargai, sebagai teman, dan telah dibangkitkan rasa percaya diri mereka. Orang sering berpikir ingin melakukan hal-hal yang besar untuk orang lain supaya tampak “megah” dan selalu diingat. Padahal, perbuatan dan perhatian kecil pun sudah membuat para ODHA terkesan dan bahagia. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengetahuan yang cukup soal virus HIV/AIDS. Hal itu  diharapkan agar kita tidak terpengaruh dengan stigma yang terlanjur menyebar di masyarakat. Selain itu, kita belajar melihat kenyataan dengan jujur dan apa adanya sehingga pikiran untuk menghakimi mereka makin jauh dari dalam diri kita.</p>
<p>Pada umumnya orang beranggapan bahwa pengidap HIV merupakan manusia yang hanya menunggu hari kematiannya saja. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Masih banyak ODHA yang dapat bertahan hidup dan beraktivitas sebagaimana layaknya orang sehat lainnya. Wajah ceria dan kondisi fisik yang tampak sehat terlihat pada Luh Putu Ikha Widari. &#8220;Coba lihat saya, tidak berbeda dengan orang lain. Saya tetap cantik, sehat, tidak sakit-sakitan seperti yang digambarkan di media massa selama ini,&#8221; kata Putu pada acara peluncuran buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em>.</p>
<p>Banyak stigma sosial yang dibebankan kepada ODHA, tetapi mereka tidak tampak terdeteksi seperti orang yang sakit. Dalam keseharian mereka ceria, bahkan makannya pun banyak. Hal itu menunjukkan bahwa virus HIV itu hanya menyerang ketika daya tahan tubuh ODHA menurun.</p>
<p>Selain menambah pengetahuan kita mengenai AIDS, kisah-kisah yang ada dalam buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em> juga sangat bermanfaat bagi kita. Karya-karya mereka sungguh bermanfaat karena dari kisah-kisah mereka kita dapat mengetahui tradisi-tradisi yang menyertai kehidupan keseharian masyarakat Jawa, Bali, Papua, dan yang lainnya. Karya mereka juga dapat dijadikan sebagai ‘kunci’ ataupun ‘jendela’ untuk memahami mengapa HIV/AIDS sangat mudah menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Selain itu, kisah-kisah tersebut juga dapat menjadi kisi-kisi untuk menganalisis dan memahami gaya hidup masyarakat Indonesia sehingga dapat diketahui bagaimana cara menolong mereka yang terkena dampak stigma HIV/AIDS.</p>
<p>Manfaat yang lain, ketika karya-karya itu ditulis tidak dengan bahasa slogan, yaitu dengan proses kreatif yang bebas, akan banyak pihak yang merasa terwakili, terkenang, dan teridentifikasi. Ketika mengetahui bahwa para penulis tersebut merupakan ODHA, pembaca akan memosisikan para penulis tersebut sebagai penulis kreatif, tidak tengah dalam proses berjarak pengalaman dan rasa akibat HIV/AIDS yang hanya dapat dimengerti oleh yang terjangkit saja.</p>
<p>Bukan suatu hal yang mustahil juga apabila nantinya kisah ODHA tersebut akan menjadi catatan kecil dari sebuah zaman. Zaman yang sangat primitif karena masih menganggap AIDS sebagai hukuman dari Tuhan dan ada sekelompok orang yang berjuang untuk hidup dengan virus itu. Sekelompok orang tersebut berjuang untuk menyuarakan bahwa AIDS bukanlah kutukan. Apabila nantinya obat AIDS ditemukan dan penyakit ini tidak dianggap nista, seperti kusta, penyakit yang di masa lalu menjadi alasan untuk membuang para penderitanya dari masyarakat. Kini keadaan itu nyaris tidak terlihat lagi. Kita hanya dapat membayangkan saat kita di perpustakaan dan membaca buku ini dan pasti kita akan berkata bahwa dunia ini pernah begitu primitif.</p>
<p><strong>5. Simpulan</strong></p>
<p>Buku <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan </em>sangat berarti bagi penderita HIV/AIDS dan bagi kita semua. Selain dapat dijadikan sebagai terobosan untuk menuangkan kreativitas, buku tersebut juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk berbagi pengalaman sekaligus menjadi terapi batin bagi para ODHA. Apa yang dirasakan oleh ODHA dapat kita rasakan sehingga kita dapat menyebarkan kesadaran bahwa HIV/AIDS merupakan isu dunia yang sangat serius untuk ditangani. Buku tersebut  terdiri atas sebelas cerpen dari sembilan perempuan ODHA penulis yang diseleksi dari seluruh provinsi di Indonesia. Enam sastrawan perempuan (Djenar, Dee, Ayu Utami, Cok Sawitri, Nukila Amal, dan Oka Rusmini) bekerja sama dengan UNAIDS, kemudian mementori ODHA yang terseleksi tersebut untuk belajar menulis. Buku kumpulan cerpen tersebut merupakan hasil pelatihan itu. Dari kisah-kisah mereka, kita dapat mengetahui bagaimana melihat dunia dari perspektif mereka, juga bermanfaat dalam memberikan makna lebih pada kehidupan dan menjadikan setiap detik kehadiran di dunia berguna, untuk apa pun  dan untuk siapa pun juga.</p>
<p>Buku ini akan menambah masukan yang menarik untuk dunia pembaca. Kita tidak hanya menemukan sekumpulan kisah yang menarik, tetapi sebuah kejujuran dan  ketulusan dari ODHA. Sebuah kejujuran bahwa mereka butuh untuk didengar, butuh tempat berbagi, dan butuh dihargai. Sebuah kisah bahwa perempuan-perempuan ODHA ingin bersuara dan berjuang hidup sebagaimana  orang lain hidup dengan penyakit lain, seperti kanker, hepatitis, dan diabetes. Mereka juga harus berjuang hidup dalam lingkungan masyarakat yang masih berjiwa patriakis yang penuh dengan  penghakiman moral. Jika mengingat semua cerita mereka, sepertinya begitu banyak “pekerjaan rumah” yang harus dilakukan untuk terus memberdayakan perempuan supaya tidak berada dalam posisi tawar-menawar yang lemah dalam masyarakat kita yang sangat yang patriakis.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Endraswara, Suwardi. 2008. <em>Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi</em>. Yogyakarta: MedPress (Anggota IKAPI)</p>
<p>Escarpit, Robert. 2005. <em>Sosiologi Sastra</em>. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.</p>
<p>Fakih, Mansour. 1996. <em>Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Primariantari <em>et al</em>. 1998. <em>Perempuan dan Politik Tubuh Fantantis: Seri Siasat Kebudayaan</em>. Yogyakarta: Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI)</p>
<p>Tanpa Nama. 2007. <em>Aku Kartini Bernyawa Sembilan</em>. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>* <strong>Lailatul Munawaroh</strong> bekerja sebagai staf teknis di Balai Bahasa Bandung. Nomor telepon yang dapat dihubungi adalah 022 4205468 dan pos-elnya adalah laila_calista@yahoo.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=55&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/aktualisasi-diri-perempuan-perempuan-odha-orang-dengan-hivaids-dalam-kumpulan-cerpen-aku-kartini-bernyawa-sembilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERPEN ”MALIN KUNDANG 2000”,  ”MALIN KUNDANG PULANG KAMPUNG”, DAN ”SI LUGU DAN MALIN KUNDANG” DALAM TINJAUAN INTERTEKSTUAL</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/cerpen-%e2%80%9dmalin-kundang-2000%e2%80%9d-%e2%80%9dmalin-kundang-pulang-kampung%e2%80%9d-dan-%e2%80%9dsi-lugu-dan-malin-kundang%e2%80%9d-dalam-tinjauan-intertekstual/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/cerpen-%e2%80%9dmalin-kundang-2000%e2%80%9d-%e2%80%9dmalin-kundang-pulang-kampung%e2%80%9d-dan-%e2%80%9dsi-lugu-dan-malin-kundang%e2%80%9d-dalam-tinjauan-intertekstual/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[analisis]]></category>
		<category><![CDATA[hipogram]]></category>
		<category><![CDATA[intertekstual]]></category>
		<category><![CDATA[Malin Kundang]]></category>
		<category><![CDATA[teks sastra]]></category>
		<category><![CDATA[transformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Halimah &#160; Abstrak &#160; Tulisan ini mengkaji cerpen “Malin Kundang 2000”, “Malin Kundang Pulang Kampung’, dan “Si Lugu dan Si Malin Kundang” secara intertekstual. Tujuan kajian intertekstual cerpen ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=53&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Halimah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tulisan ini mengkaji cerpen “Malin Kundang 2000”, “Malin Kundang Pulang Kampung’, dan “Si Lugu dan Si Malin Kundang” secara intertekstual. Tujuan kajian intertekstual cerpen ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut. Metode intertekstual dalam analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks-teks sastra yang menstransformasi dari teks yang lain yang merupakan teks hipogramnya. Dalam hal ini teks-teks cerpen mentransformasi teks cerita Malin Kundang<em>.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata Kunci: analisis, teks sastra, intertekstual, transformasi, hipogram.<span id="more-53"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Abstract</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>This article studies about the short story of “Malin Kundang 2000”, “Malin Kundang Pulang Kampung’, and “Si Lugu dan Malin Kundang” in an intertextual manner. The aim of the study of intertextual is to give the meaning in a manner more fully towards this work. The writing of a work has connection with his historical element. Therefore, giving meaning will be more complete if being connected with this historical element. The method intertextual in this analysis was carried out by  comparing, lining up, and contrasting with the texts of literature transforming from the other text  that will be the text hipogram.  In this case the texts of the short story transforms the story of Malin Kundang. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word</em><em>: the analysis, the text of literature, intertextual, the transformation, hipogram.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Kehadiran suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaan karya-karya sastra sebelumnya, yang pernah direspon oleh sastrawan. Pengarang tidak semata-mata memproduksi karya, tetapi terlebih dahulu juga merespon sebuah karya. Dari proses resepsi pengarang memiliki langkah pijak untuk mereproduksi karya yang baru. Jadi, pengarang tidak berangkat dari kekosongan. Melalui karya terdahulu, pengarang mempelajari gagasan yang tertuang dalam karya itu, memahami konvesi sastranya, konvensi estetiknya, kemudian mentransformasikannya ke dalam suatu karya sastra.</p>
<p>Karya sastra kapan pun ditulis tidak mungkin <em>lahir dari </em>situasi kekosongan budaya (Teeuw, 1983:63). Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini berupa persamaan atau pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum atau sesudahnya (Pradopo, 2003:167). Jadi, dalam menciptakan karya sastra pengarang juga tidak dapat melepaskan diri dari teks-teks sastra yang lain.</p>
<p>Karya sastra akan muncul pada masyarakat yang telah memiliki konvensi, tradisi, pandangan tentang estetika, tujuan berseni, dan lain-lain yang kesemuanya dapat dipan­dang sebagai wujud kebudayaan dan tidak mustahil sastra merupakan rekaman terhadap pandangan masyarakat tentang seni. Hal itu berarti bahwa sesungguhnya sastra merupakan konvensi masyarakat karena masyarakat menginginkan adanya suatu bentuk kesenian yang bernama sastra. Wujud konvensi budaya yang telah ada di masyarakat secara konkret antara lain berupa karya-karya yang ditulis yang diciptakan orang sebelumnya. Namun, ia dapat juga berupa cerita-cerita rakyat yang berwujud cerita lisan (<em>folklore</em>) yang mewaris secara turun-temurun (Nurgiyantoro, 1998:15).</p>
<p>Julia Kristeva dalam Nurgiyantoro (1998:15) menjelaskan bahwa tiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan (transformasi) teks-teks lain. Maksudnya, tiap teks itu mengambil hal-hal menarik yang kemudian diolah kembali dalam karyanya, atau ditulis setelah melihat, meresapi, menyerap hal yang menarik, baik sadar maupun tidak sadar. Setelah menanggapi teks lain dan menyerap konvensi sastra, konsep estetik, atau pikiran-pikirannya, kemudian mentransformasikannya ke dalam karya sendiri dengan gagasan dan konsep estetik sendiri sehingga terjadi perpaduan yang baru. Konvensi dan gagasan yang diserap itu dapat dikenali apabila kita membandingkan teks yang menjadi hipogramnya dengan teks baru, yakni teks transformasi.</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra, “Si Lugu dan Si Malin Kundang” karya Hamsad Rangkuti, dan “Malin Kundang Pulang Kampung” karya Achmad Muchlis Amrin mengangkat tema tentang sifat durhaka yang mengakibatkan kutukan. Teks-teks tersebut merupakan hipogram dari cerita Malin Kundang.</p>
<p>Pada dasarnya penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada tataran penelitian diakronis, yang mencoba melakukan penelitian terhadap karya-karya lama yang dihubungkan dengan karya baru. Berkaitan dengan hal itu, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori intertekstual.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Kajian Pustaka</strong></p>
<p><strong>2. 1 Intertekstual Karya Sastra</strong><strong> </strong></p>
<p>Secara luas intertekstual diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dan teks yang lain. Lebih dari itu teks itu sendiri secara etimologis (<em>textus</em>, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks yaitu melalui proses proposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara mencari hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai interteks tidak terbatas sebagai persamaan genre, interteks memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram<em>.</em> Interteks dapat dilakukan antara novel dan novel, novel dengan puisi, novel dan mitos. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, tetapi juga sebaliknya pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi (Ratna, 2004:173).</p>
<p>Mengenai keberadaan suatu <em>hypogram </em>dalam interteks, selanjutnya Riffaterre (Ratna, 2005:222) mendefinisikan <em>hipogram</em> sebagai struktur prateks, generator teks puitika lebih lanjut, Hutomo (Hartyanto, 2008, 2001:118) merumuskan hipogram sebagai unsur cerita (berupa ide, kalimat, ungkapan, peristiwa, dan lain-lain) yang terdapat dalam suatu teks sastra pendahulu yang kemudian teks sastra yang dipengaruhinya.</p>
<p>Teori intertekstual memandang bahwa sebuah teks yang ditulis lebih kemudian mendasarkan diri pada teks-teks lain yang telah ditulis orang sebelumnya. Tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti penciptaannya dengan konsekuensi pembacanya juga, dilakukan tanpa sama sekali berhubungan teks lain yang dijadikan semacam contoh, teladan, kerangka, atau acuan (Teeuw, 2003: 145).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2  Tujuan Kajian Intertekstual</strong></p>
<p>Tujuan kajian intertekstual itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut (Nurgiyantoro, 1998:15).</p>
<p>Frow (Hartyanto, 2008) mengemukakan interteks berdasarkan pada asumsi kritis. Asumsi tersebut adalah:</p>
<p>1) konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks bukan hanya sebagai isi, melainkan aspek perbedaan sejarah teks;</p>
<p>2) teks tidak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu sehingga terjadi perulangan atau transformasi teks;</p>
<p>3) ketidakhadiran struktur teks dalam rentang teks yang lain, tetapi hadir juga dalam teks tertentu yang ditentukan oleh proses waktu;</p>
<p>4) bentuk kehadiran struktur teks merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai implisit;</p>
<p>5) hubungan teks satu dengan teks yang lain boleh dalam rentang waktu lama, hubungan tersebut dapat secara abstrak dan juga sering terdapat penghilangan-penghilangan bagian tertentu;</p>
<p>6) pengaruh mediasi dalam interteks sering berpengaruh terhadap penghilangan gaya maupun norma-norma sastra;</p>
<p>7) dalam melakukan identifikasi interteks diperlukan proses interpretasi, dan pada pengaruh.eks berbngan melakukan kritik, mel</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Metode Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sastra yang disebut metode intertekstualitas (Jabrohim, 2001:87). Langkah-langkah dalam penelitian ini mengikuti metode kerja pendekatan intertekstual, yaitu dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks sastra dengan teks-teks lainnya.</p>
<p>Aspek yang akan diteliti dalam teks cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra, “Si Lugu dan Si Malin Kundang” karya Hamsad Rangkuti, serta “Malin Kundang Pulang Kampung” karya Achmad Muchlis Amrin dapat dilihat dalam tabel berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="42" valign="top"><strong>No</strong></td>
<td width="103" valign="top"><strong>Aspek yang diteliti</strong></td>
<td width="83" valign="top"><strong>Teks sumber</strong></td>
<td width="80" valign="top"><strong>Sudut pandang analisis</strong></td>
<td width="114" valign="top"><strong>Uraian/</strong></p>
<p><strong>analisis</strong></td>
<td width="118" valign="top"><strong>Hasil analisis</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="42" valign="top">1.</td>
<td width="103" valign="top">Alur dan   pengaluran, tokoh dan penokohan, latar, dan tema cerpen</p>
<p>“Malin Kundang 2000”</td>
<td width="83" valign="top">cerpen</p>
<p>“Malin Kundang 2000” karya Irwan-syah   Budiar Putra</td>
<td width="80" valign="top">Inter-</p>
<p>tekstual</td>
<td width="114" valign="top">Gambaran   perbandingan struktur cerpen</p>
<p>“Malin Kundang 2000” dan teks legenda <em>Malin   Kundang.</em></td>
<td width="118" valign="top">Persamaan dan   perbedaan struktur cerpen</p>
<p>“Malin Kundang 2000”dan teks legenda <em>Malin   Kundang.</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="42" valign="top">2.</td>
<td width="103" valign="top">Alur dan   pengaluran, tokoh dan penokohan, latar, dan tema cerpen“Si Lugu dan Si Malin   Kundang”</td>
<td width="83" valign="top">cerpen “Si Lugu   dan Si Malin Kundang” karya Hamsad Rangkuti</td>
<td width="80" valign="top">Inter-</p>
<p>tekstual</td>
<td width="114" valign="top">Gambaran   perbandingan teks cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dengan   teks legenda <em>Malin Kundang</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="118" valign="top">Persamaan dan   perbedaan struktur cerpen“Si Lugu dan Si Malin Kundang” dengan   teks legenda <em>Malin Kundang</em>.</td>
</tr>
<tr>
<td width="42" valign="top">3.</td>
<td width="103" valign="top">Alur dan   pengaluran, tokoh dan penokohan, latar, dan tema cerpen</p>
<p>“Malin Kundang   Pulang Kampung”</td>
<td width="83" valign="top">Cerpen “Malin   Kundang Pulang Kampung” karya Achmad Muchlis Amrin</td>
<td width="80" valign="top">Inter-</p>
<p>tekstual</td>
<td width="114" valign="top">Gambaran   perbandingan struktur cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” dengan teks legenda <em>Malin Kundang</em>.</td>
<td width="118" valign="top">Persamaan dan   perbedaan struktur cerpen</p>
<p>“Malin Kundang   Pulang Kampung” dengan teks legenda <em>Malin   Kundang</em>.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Tinjauan terhadap Cerita </strong><strong> <em>Malin Kundang</em></strong></p>
<p>Malin Kundang kita kenal sebagai seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Ia tidak mengakui ibunya sehingga dikutuk menjadi batu. Cerita berawal dari keadaan Malin dan keluarga yang memprihatinkan. Dilanjutkan oleh keterangan bagaimana kehidupan Malin bersama ibunya sepeninggal ayahnya. Karena melihat kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Malin tidak tega melihat ibunya banting tulang demi keluarganya sehingga ia bertekad untuk pergi berlayar dan merantau meninggalkan kampungnya. Malin Kundang bekerja di tengah lautan, ia dirampok oleh kawanan bajak laut yang membuat Malin terdampar di sebuah desa yang sangat subur karena ia satu-satunya orang yang selamat dari perampokan tersebut. Setelah lama tinggal di desa tersebut, karena keuletan dan kegigihannya, Malin menjadi orang yang kaya raya. Karena telah memiliki harta yang melimpah, Malin dan istrinya ingin berlayar mengarungi lautan sehingga tiba di kampung halamannya dahulu. Kemudian diceritakan bagaimana penantian ibu Malin akan kedatangan anaknya.</p>
<p>Setelah menjadi saudagar kaya raya,  Malin tak mau mengakui sang ibunda yang miskin papa. Berbohong pula ia pada istrinya, anak saudagar kaya nan terpandang, bahwa wanita tua tak berpunya di hadapannya bukanlah ibu yang mengandung dan mengasuhnya. Akhirnya, terkutuklah Malin menjadi batu beserta kapal dagang kebanggaannya. Dingin dan membatu diterpa ombak lautan sepanjang masa sebagai pelajaran bagi manusia.</p>
<p>Sosok Malin Kundang adalah sosok yang lupa diri akan asalnya. Ia tercerabut dari akarnya dan menjadi sosok sombong setelah mengalami perubahan status kelas sosial yang berbeda dengan sang Ibunda. Lupa diri si Malin merupakan contoh hilangnya kesadaran identitas dalam diri manusia. Kesadaran identitas adalah kesadaran individu yang utuh akan atribut-atribut  asal yang melekat pada dirinya. Bukan hanya nama, agama, dan alamat seperti di KTP, tetapi lebih dalam seorang individu sebagai manusia dan segala latar yang membentuk kehidupannya. Juga bukan hanya siapa diri kita, melainkan berlanjut ke pertanyaan apa dan bagaimana diri kita dengan segala atribut-atribut tadi. Apa itu manusia, agama, suku bangsa, dan negara, untuk apa eksistensinya sebagai manusi beragama, bersuku bangsa, dan bernegara, kemudian berlanjut hingga harus bagaimana manusia itu berperilaku sebagai seorang yang beragama, bersuku bangsa, dan bernegara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4.1 <strong>Interteks Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang<em> </em></strong></p>
<p><strong>4.1.1 Interteks Alur Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin  Kundang</strong></p>
<p>a)      Persamaan</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra  dan cerita Malin Kundang sama-sama mengungkap masalah-masalah   pertentangan adat-istiadat berupa kutukan dan berkutat pada masalah kedaerahan. Seperti pada kutipan berikut.</p>
<p>“Penduduk pantai Air Manis tak henti-hentinya membicarakan batu yang selama ini mereka yakini sebagai Malin Kundang, anak  durhaka yang dikutuk ibunya (paragrap 4)</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang 2000” ini merupakan respon dari cerita “Malin Kundang” dengan kata lain pengarang mengambil ide untuk  melanjutkan cerita “Malin Kundang” setelah dikutuk jadi batu kemudian  diceritakan batu Malin Kundang hilang dan kembali menjadi manusia.</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang 2000”  memiliki persamaan alur cerita yaitu sama-sama menceritakan sikap Malin Kundang yang tetap angkuh, keras hati dan tinggi hati, dalam cerpen “Malin Kundang 2000” diceritakan batu Malin Kundang hilang dan kembali menjadi manusia, namun sikapnya tetap saja sama angkuhnya seperti pada cerita “Malin Kundang”. Malin tidak menunjukkan rasa bersalah, bahkan mengelak dari kesalahan-kesalahannya yang membuat ibunya sakit hati. Malin bahkan memberikan alasan-alasan kepada wartawan pada waktu dia menggelar jumpa pers, mengapa dia sampai tidak mengakui ibunya. Berikut cuplikan cerita ketika Malin  ditanya  wartawan.</p>
<p>“Seingatku, ibuku adalah perempuan muda yang berbadan kuat. Bukan nenek-nenek.”</p>
<p>“Bukankah umur manusia bertambah?” ( paragraf 19)</p>
<p>Keangkuhan Malin dalam cerpen “Malin Kundang 2000” tersebut, sama seperti dalam cerita Malin Kundang<em>, </em>Malin tidak mau mengakui ibu kandungnya bahkan tega menghina dan melukai hati ibunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b)     Perbedaan</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang 2000” menyuguhkan sajian menarik atas cerita masa lampau, yang dengan sendirinya menimbulkan kualitas estetis. Selain itu, karya sastra ini merupakan arus kesinambungan sepanjang masa sebagai struktur yang dinamik. Cerpen “Malin Kundang 2000” memberi kejutan bahwa batu Malin Kundang hilang. Masyarakat tak henti-hentinya membicarakan batu Malin Kundang dan terkejut dengan berita Malin Kundang yang kembali jadi manusia. berikut adalah kutipannya.</p>
<p>”Lihat! Batu itu sudah tak ada” seseorang menunjuk.</p>
<p>”Batu apa?”</p>
<p>”Batu Malin Kundang!”</p>
<p>”Kemana hilangnya?”</p>
<p>”Segerombolan orang kota pasti sudah membawanya!” (paragraf  3).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada cerita Malin Kundang dikisahkan kehidupan Malin Kundang yang durhaka pada ibunya dan dikutuk menjadi batu. Jadi, cerita Malin Kundang adalah kisah kutukan anak durhaka menjadi batu, sedangkan cerpen “Malin Kundang 2000” dapat dikatakan sebagai respon kisah cerita Malin Kundang. Dalam hal ini, respon yang ditunjukkan adalah cerita lanjutan atas konsep cerita Malin Kundang.</p>
<p>Pada cerita Malin Kundang<em> </em>berakhir dengan kisah Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Berikut kutipan ceritanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Kapal besar Malin Kundang dihantam gelombang laut dan badai yang datang secara tiba-tiba. Ketika itu Malin Kundang sempat memanggil ibunya, namun kebesaran Tuhan telah datang, Malin Kundang si Anak Durhaka itu tenggelam bersama kapalnya dan terdampar di tepi Pantai Air Manis. Konon karena kutukan ibunya, saat itu pula Malin Kundang beserta istrinya berubah menjadi batu (paragraf:14).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.1.2 </strong><strong>Interteks Tokoh dan Perwatakan Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Adapun cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin, 1987: 79).</p>
<p>Rahmanto dan  Hariyanto (1998:2—13) menyatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita, sedangkan penokohan atau perwatakan ialah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra.</p>
<p>Perbedaan tokoh pada cerpen “Malin Kundang 2000” dan cerita Malin Kundang dapat dilihat pada tabel berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="529">
<tbody>
<tr>
<td width="34"><strong>No</strong></td>
<td width="224"><strong>Cerita “Malin   Kundang”</strong></td>
<td width="271"><strong>Cerpen “Malin   Kundang 2000”</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="34">1</td>
<td width="224">Malin Kundang</td>
<td width="271">Malin Kundang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">2</td>
<td width="224">Ibu Malin Kundang</td>
<td width="271">Seorang ibu</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">3</td>
<td width="224">Istri Malin</td>
<td width="271">Wartawan</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">4</td>
<td width="224">Bajak laut</td>
<td width="271">Masyarakat Pantai Air Manis</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">5</td>
<td width="224">Ayah Malin</td>
<td width="271">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">6</td>
<td width="224">Masyarakat desa</td>
<td width="271">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>a) Tokoh Malin Kundang</p>
<p>Malin Kundang merupakan tokoh utama dalam cerpen “Malin Kundang 2000”, sama seperti pada cerita <em>Malin Kundang.</em><strong> </strong>Tokoh Malin sama memiliki watak yang angkuh, keras hati, tinggi hati bahkan menjadi pendendam. Dia akan menuntut ibunya kelak di hadapan Tuhan, karena ibunya tega mengutuknya menjadi batu. Berikut kutipan ceritanya.</p>
<p>“tak ada yang salah dengan peribahasa itu, nak”</p>
<p>“ jika peribahasa itu benar, tentu ibuku tidak mengutuk ku, kan?</p>
<p>“ sulit menjelaskannya, nak”</p>
<p>“ aku akan menuntut ibuku” ( paragraf 15).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada cerita Malin Kundang jadi batu tokoh yang ditampilkan hanya terdapat tiga tokoh yaitu, Malin Kundang sebagai tokoh utama-antagonis, ibu Malin Kundang sebagai tokoh utama-protagonis dan istri Malin Kundang sebagai tokoh pendukung atau tambahan. Sedangkan dalam cerpen “Malin Kundang 2000” tokoh yang ditampilkan lebih banyak, yaitu Malin Kundang sebagai tokoh utama-antagonis, seorang ibu sebagai tokoh pendukung, penduduk pantai air manis sebagai tokoh pendukung, dan para wartawan sebagai tokoh tambahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b) Tokoh Seorang Ibu</p>
<p>Tokoh ibu pada cerpen “Malin Kundang 2000” merupakan seorang penduduk Pantai Air Manis yang sering berdialog dengan Malin Kundang dan sering menasihati anak-anaknya. Berikut kutipan ceritanya.</p>
<p>“Sang ibu tersenyum, “kutukan itu selalu tidak mengenakkan anakku”</p>
<p>“mengapa orang tua tega mengutuk anaknya”</p>
<p>“karena si anak terlalu membuat sakit hati”(paragrap 7)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan demikian, berdasarkan kutipan-kutipan di atas, seorang ibu merupakan tokoh pendukung yang menggambarkan sebagian cerpen ini. Watak ibu yang keibuan membuat dia mampu merawat anak-anaknya dengan baik dan selalu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak melawan orang tua.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.1.3 </strong><strong>Interteks Latar Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>Persamaan dan perbedaan latar yang terdapat pada Legenda <em>Malin Kundang</em> dengan cerpen “Malin Kundang 2000” dapat terlihat pada tabel di bawah ini.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="541">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="60">No</td>
<td colspan="2" width="216" valign="top">Cerita &#8220;Malin Kundang&#8221;</td>
<td colspan="2" width="264">Cerpen ”Malin Kundang 2000”</td>
</tr>
<tr>
<td width="106" valign="top">Latar Tempat</td>
<td width="110">Latar Waktu</td>
<td width="92" valign="top">Latar Tempat</td>
<td width="172">Latar Waktu</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">1</td>
<td width="106">Pesisir pantai wilayah Sumatra</td>
<td width="110">Semingu</td>
<td width="92">Pantai Air Manis</td>
<td width="172">Malam</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">2</td>
<td width="106">Kapal</td>
<td width="110">dua minggu</td>
<td width="92">pinggir pantai</td>
<td width="172">Pagi</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">3</td>
<td width="106">Ruang kecil</td>
<td width="110">sebulan</td>
<td width="92">kota Padang</td>
<td width="172">Sore</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">4</td>
<td width="106">Tengah laut</td>
<td width="110">dua bulan</td>
<td width="92">Pulau pisang kecil</td>
<td width="172">Jumat</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">5</td>
<td width="106">Pantai</td>
<td width="110">1 tahun lebih</td>
<td width="92">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="172">Di awal tahun 2000</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">6</td>
<td width="106">Desa</td>
<td width="110">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="92">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="172">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada legenda aslinya, latar tempat yang mendominasi adalah wilayah sekitar pesisir pantai. Perhatikan kutipan-kutipan berikut!</p>
<p>“Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di <em>pesisir pantai wilayah Sumatra.</em> Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang . Karena kondisi ekonomi keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri sebrang dengan mengarungi lautan yang luas”. (paragraf 1)</p>
<p>Latar tempat pada cerpen “Malin Kundang 2000” terdapat pada kutipan berikut.</p>
<p>“Penduduk <em>Pantai Air Manis</em> tak henti-hentinya membicarakan batu yang selama ini mereka yakini sebagai Malin Kundang, anak yang durhaka yang dikutuk ibunya”. (paragrap 4)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Akan tetapi Malin Kundang sudah melenggang pergi dan tinggal di <em>Pulau Pisang Kecil</em> yang letaknya tidak jauh dari Pantai Air Manis,(paragrap:17)”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Latar waktu cerpen “Malin Kundang 2000” terdapat pada kutipan berikut.</p>
<p>“<em>Malam</em>, angin puting beliung menyiutkan nyali. Halilintar menggelegar membuat badan menggigil&#8230;(paragraf:1)”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Selesai shalat <em>Jum’at</em> di suatu hari <em>di awal tahun 2000</em>, bersama sepuluh orang lelaki berbadan gempal yang membantunya membuat kapal. Malin Kundang berlayar meninggalkan Pantai Air Manis(paragrap:18)”</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.1.4 </strong><strong>Interteks Tema Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>Tema yang diusung pada cerpen “Malin Kundang 2000” yaitu  batu Malin Kundang yang dianggap sebagai Malin Kundang anak durhaka, hidup  kembali menjadi manusia. Dia berusaha menjelaskan alasan-alasan atau pembelaan diri atas anggapan-anggapan semua orang tentang dia selama ini yaitu dianggap sebagai anak durhaka. Selain itu, di balik kesombongan dan keangkuhan Malin Kundang ada hal-hal yang patut ditiru, yaitu kegigihan dalam bekerja, ulet, dan pantang menyerah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2       Interteks cerpen</strong><strong> “Malin Kundang Pulang Kampung” dan cerita Malin Kundang</strong></p>
<p><strong>4.2.1 </strong><strong>Interteks alur cerpen</strong><strong> “Malin Kundang Pulang Kampung” dan cerita  <em>Malin Kundang</em></strong></p>
<p>1)      Persamaan</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” menceritakan keahlian atau kehidupan Malin sebagai seorang pelaut. Hal tersebut tergambar dalam cuplikan berikut.</p>
<p>“Ia melecut temali sampan yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istrinya yang berdiri di atas bukit pasir&#8230;.”  (paragraf 12)</p>
<p>Begitu pula dalam legenda <em>Malin Kundang</em> diceritakan tentang Malin yang menjadi seorang pelaut. Berikut cuplikan ceritanya.</p>
<p>”Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman”  (paragraf 4).</p>
<p>Hal yang merupakan persamaan dalam cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” dengan cerita “Malin Kundang” yaitu sama-sama berakhir dengan kutukan menjadi batu.</p>
<p>Pada cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” ibu Malin dikutuk jadi batu, sebagaimana tampak pada cuplikan berikut.</p>
<p>“Tapi bila ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini,” kutuknya.” uga tergambar pada cuplikan berikut: “ Kini ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri.”  (paragraf 19)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2)      Perbedaan</p>
<p>Jalan cerita  legenda <em>Malin Kundang</em> cukup kompleks, mulai dari tahap pengenalan, konflik, klimaks, antiklimaks, hingga penyelesaian sedangkan pada cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung”<em>, </em>cerita  disajikan secara langsung dengan pemunculan konflik batin dan diakhiri dengan penyelesaian. Secara keseluruhan isi cerita cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” berbeda dengan cerita “Malin Kundang” atau disebut juga cerita kebalikan dari legenda Malin Kundang.</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” karya Achmad Muchlis Amrin dicipta dengan versi lain. Dalam cerpen ini justru yang durhaka dan menjadi batu (terkena kutukan) adalah ibu Malin Kundang.  Ibu Malin terkena kutukan bukan karena tidak mengakui Malin sebagai anaknya melainkan ia dikutuk menjadi batu karena terkena sumpah serapah Malin akibat ia telah membohongi anaknya, Malin, dan almarhum suaminya seperti pada kutipan berikut.</p>
<p>“Tapi bila ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini,” kutuknya.” uga tergambar pada cuplikan berikut: “ Kini ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri.”  (paragraf 20)”</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.2.2 </strong><strong>Interteks Tokoh dan Perwatakan Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang Pulang Kampung” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>Perbedaan tokoh cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” dan cerita   Malin Kundang dapat dilihat dalam bagan berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="529">
<tbody>
<tr>
<td width="34">No</td>
<td width="224">Cerita &#8220;Malin Kundang&#8221;</td>
<td width="271">Cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung”</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">1</td>
<td width="224">Malin   Kundang</td>
<td width="271">Malin   Kundang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">2</td>
<td width="224">Ibu   Malin Kundang</td>
<td width="271">Ibu   Malin Kundang</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">3</td>
<td width="224">Istri   Malin</td>
<td width="271">Istri   Malin</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">4</td>
<td width="224">Bajak   laut</td>
<td width="271">Sekelompok   orang penyembah matahari</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">5</td>
<td width="224">Ayah   Malin</td>
<td width="271">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="34">6</td>
<td width="224">Masyarakat   desa</td>
<td width="271">-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>a)      Tokoh Malin Kundang</p>
<p><strong>1) </strong>Persamaan</p>
<p>Pada cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” dari awal hingga akhir cerita, tokoh Malin Kundang memiliki watak yang relatif tetap atau statis, yaitu sayang dan hormat kepada ibunya. Berikut cuplikannya.</p>
<p>“Angin laut mengantarku pulang”</p>
<p>“Menemui ibuku tersayang”</p>
<p>“ Kangen menderu ke ambang”( paragraf 11)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Malin Kundang adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Dia rela merantau dan jauh dengan orang tuanya demi meringankan beban orang tuanya.</p>
<p>……Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya…… (paragraf:3)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>2) </strong>Perbedaan</p>
<p>Malin adalah seorang anak yang kuat, memiliki keyakinan dan keteguhan hati yang kuat dan bersifat pemberani. Namun, beranjak dewasa ia berubah. Ia telah menjadi seorang pemuda yang ambisius dan rela melakukan apa saja demi pencapaian ambisinya tersebut, ia pun tipe seorang bawahan yang patuh kepada tuannya dan seorang suami yang sangat mencintai dan menyayangi istrinya. Akibat dari terlalu ambisiusnya seorang Malin, ia menjadi orang yang sombong dan durhaka kepada ibunya sendiri meskipun hati kecilnya sangat berat berlaku seperti itu hingga akhirnya ibunya mengutuknya menjadi batu.</p>
<p>&#8220;Wanita itu ibumu?&#8221;, Tanya istri Malin Kundang. &#8220;Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku&#8221;, sahut Malin kepada istrinya…(paragraf10)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada cerpen <em>“</em>Malin Kundang Pulang Kampung” karakter tokoh Malin Kundang digambarkan sebagai anak yang sayang kepada ibunya dan selalu merindukan ibunya.</p>
<p>“Angin laut mengantarku pulang”</p>
<p>“ Menemui ibuku tersayang”</p>
<p>“ Kangen menderu ke ambang”  (paragraf 11)</p>
<p>Hal di atas tentu saja sangat berbeda dengan legenda Malin Kundang. Tokoh Malin Kundang diceritakan sebagai orang yang kaya raya, tetapi sombong, angkuh, dan durhaka karena tidak mau mengakui ibunya.</p>
<p>“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang.” Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapat hartaku”, sahut Malin kepada istrinya  (paragraf 10).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b) Tokoh Ibu</p>
<p>1)      Persamaan</p>
<p><strong> </strong>Tokoh ibu di cerpen ”Malin Kundang Pulang Kampung” memiliki watak sayang kepada Malin. Ibu Malin mengakui kalau pemuda yang datang itu adalah Malin, anaknya. Walaupun dia berprilaku kurang bermoral dalam berbusana,  dia mau mengakui anaknya, hal tersebut berarti ibu Malin sayang kepada anaknya. Berikut ini cuplikan ceritanya.</p>
<p>”Kau Malin, kan?” Diam. Tatapannya seolah menusukkan anak panah di jantung Malin.</p>
<p>“Kau?Kau?” terhenti lagi. Malin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Namun perempuan itu terus mendekatinya. Air matanya tumpah ruah di pipinya.</p>
<p>“Kau anakku, Malin” (paragraf 17).</p>
<p><em> </em></p>
<p>2)      Perbedaan</p>
<p>Pada cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” tokoh ibu digambarkan sebagai ibu yang suka berbohong dan kurang bermoral jika dilihat dari adat ketimuran dalam menutupi aurat wanita seperti tampak pada kutipan berikut.</p>
<p>“Byaarrr!! Degup jantung Malin menghentak seketika, sorot matanya tertuju pada perempuan itu, ya, perempuan yang dikelilingi oleh beberapa lelaki. Kutang warna jingga dan kain tipis berwarna kelabu membalut tubuhnya. Sorot mata Malin makin tajam. Dan sesekali tercengang melihat perempuan itu”. (Paragraf 15).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hal di atas berbeda dengan watak tokoh ibu pada cerita “Malin Kundang”. Tokoh ibu pada cerita Malin Kundang jujur, hal tersebut didasarkan pada paragraf 8 bahwa ibu Malin mengaku sebagai ibu dari Malin ketika dia melihat bekas luka di lengan kanan Malin. Dia jujur tidak berbohong mengaku-ngaku sebagai ibu Malin Kundang, berikut cuplikan cerita legenda Malin Kundang</p>
<p>“Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.”( paragraf 21)</p>
<p><em> </em></p>
<p>c) Tokoh Istri Malin Kundang</p>
<p>Cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” tokoh istri Malin berwatak sayang kepada suami dan hormat pada orang tua dalam hal ini mertuanya yaitu ibu Malin.<em> </em></p>
<p>“&#8230;seolah-olah istrinya berkata padanya “ Malin, Sampaikan salamku pada ibu, bila sudah saatnya, kuharap kau segera pulang. Aku menunggumu” (paragraf 10).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Pada cerita Malin Kundang karakteristik tokoh istri kurang begitu jelas. Namun, ada pesan moral yang tersirat, yaitu seorang istri seharusnya mampu meredam atau bisa memperingatkan suami dalam tingkah laku, yaitu ketika Malin Kundang dipeluk ibunya lalu Malin mendorongnya dengan kasar, dan memaki-maki ibunya, seharusnya seorang istri mampu memperingatkan suami untuk tidak bersikap sombong kepada orang lain, apalagi kepada ibu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>4.2.3 </em></strong><strong>Interteks Latar Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang Pulang Kampung” dan Cerita Malin Kundang<em> </em></strong></p>
<p>Perbedaan latar cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” dan cerita <em>Malin Kundang</em> dapat dilihat pada tabel berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="529">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="60">No</td>
<td colspan="2" width="214" valign="top">Cerita &#8220;Malin Kundang&#8221;</td>
<td colspan="2" width="255">Cerpen ”Malin Kundang Pulang Kampung”</td>
</tr>
<tr>
<td width="105" valign="top">Latar Tempat</td>
<td width="109">Latar Waktu</td>
<td width="110" valign="top">Latar Tempat</td>
<td width="145">Latar Waktu</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">1</td>
<td width="105">Pesisir   pantai wilayah Sumatra</td>
<td width="109">Semingu</td>
<td width="110">Pantai</td>
<td width="145">Sore</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">2</td>
<td width="105">Kapal</td>
<td width="109">Dua minggu</td>
<td width="110">Atas karang</td>
<td width="145">Dua hari</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">3</td>
<td width="105">Ruang   kecil</td>
<td width="109">Sebulan</td>
<td width="110">Gubuk</td>
<td width="145">Siang</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">4</td>
<td width="105">Tengah   laut</td>
<td width="109">Dua bulan</td>
<td width="110">Bukit pasir</td>
<td width="145">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">5</td>
<td width="105">Pantai</td>
<td width="109">1 tahun lebih</td>
<td width="110">Dapur</td>
<td width="145">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">6</td>
<td width="105">Desa</td>
<td width="109">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="110">Sampan</td>
<td width="145">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">7</td>
<td width="105">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="109">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="110">Balik pohon</td>
<td width="145">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="60">8</td>
<td width="105">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="109">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="110">Kampung kelahiran Malin</td>
<td width="145">
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Gambaran latar dalam cerpen  “Malin Kundang Pulang Kampung” dapat diperhatikan melalui kutipan-kutipan cerpen berikut.<strong> </strong></p>
<p>”Malin segera keluar dari <em>gubuk</em>nya, ia menggendong buntalan sarung dan di tangannya sebuah pisang dan dua buah kelapa muda, ia melangkah pelan ke <em>pantai</em>, melewati <em>bukit pasir pesisir </em>(paragraf 10)”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Pelan-pelan Malin mendayung<strong> </strong><em>sampan</em> yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istri yang mematung di atas <em>bukit pasir</em>. Dadanya sesak digasak sekian kangen dan kerinduan pada Ibunya, juga istri yang ditinggalkannya” (paragraf 12)</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>3)      Perbedaan</p>
<p>Pada cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung”<em> </em>hanya terdapat dua latar, yakni kampung halaman Malin dan ibunya serta kampung halaman Malin dan istrinya. Dari segi latar waktu transformasi terjadi dengan pengurangan beberapa latar waktu. Pada cerita <em>Malin Kundang </em>terdapat beberapa latar waktu yang kompleks, sedangkan pada cerpen <em>Malin Kundang Pulang Kampung </em>hanya terdapat waktu yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Dari segi latar sosial transformasi terjadi pada keadaan sosial masyarakat tempat ibu Malin tinggal. Pada cerita Malin Kundang<em> </em> latar sosial masyarakat tempat ibu Malin tinggal tidak mengalami perubahan, sedangkan pada cerpen“ Malin Kundang Pulang Kampung<em>“</em> latar sosial tersebut berubah menjadi tidak baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2.4 Interteks Tema Cerpen</strong><strong> “Malin Kundang Pulang Kampung” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>Tema cerita <em>Malin Kundang </em>berbeda<em> </em>dengan tema cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung”.  <em> </em>Tema cerita <em>Malin Kundang </em>adalah tentang akibat durhaka kepada orang tua khususnya ibu sendiri. Sementara, tema  cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” adalah terkutuknya ibu Malin Kundang karena sumpah serapahnya sendiri. Dia telah berbohong, durhaka kepada anak dan almarhum suaminya, dia menghianati janji sang suami dan anaknya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.3 </strong><strong>Interteks Cerpen</strong><strong> “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dengan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” mengangkat permasalahan yang berkenaan dengan problematika sosial yang berada di masyarakat. Dalam cerpen ini diceritakan  keraguan sekuriti dan polisi kepada orang tua yang hendak bertemu anaknya, karena alasan yang cukup sederhana, yaitu orang tua tersebut datang dari kampung. Dilema yang cukup mengiris hati, tidak adil rasanya menilai seseorang hanya melihat dari latar belakangnya. Apakah salah jika seseorang yang berasal dari kampung memiliki anak orang yang sukses di kota? Terkadang orang hanya melihat sebelah mata dan terkesan meremehkan. Oleh karena itu, cerpen ini mengajarkan kepada pembaca bagaimana memandang dan menghargai orang lain. Selain itu, tersisipkan di dalam cerpen ini bahwa kasih sayang orang tua terhadap darah dagingnya sendiri sangatlah besar. Walaupun pedih, segala rintangan akan ditempuh untuk sekadar bersua dengan anaknya.</p>
<p><strong>4.3.1 </strong><strong>Interteks Alur Cerpen</strong><strong> “Si Lugu dan Si Malin Kundang ” dengan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>a)      Persamaan</p>
<p>Cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” menceritakan seorang ayah yang miskin pergi menemui anaknya yang kaya raya di sebuah kompleks perumahan mewah. Namun, ketika mau memasuki gerbang kompleks mewah itu, dia dihadang oleh securiti kompleks dan polisi lalu lintas. Tokoh ayah kemudian mengutuk tokoh polisi lalu lintas menjadi batu. Jadi, cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang”  sebetulnya tidak ada kaitannya secara langsung dengan tokoh Malin Kundang. Pada cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” ada beberapa alur cerita yang sama dengan cerita Malin Kundang. Seorang ayah pada cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” menerima perlakuan yang sama dengan tokoh ibu pada cerita Malin Kundang, yaitu dihina dan dianiaya. Berikut cuplikan cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang”.</p>
<p>&#8230;&#8221;Maaf Pak. Ayam ini harus dimusnahkan. Satu butir peluru&#8230;,&#8221; dia mulai menimbang-nimbang, &#8220;sayang juga.&#8221; Dia balikkan arah pistol. Moncong pistol dia pegang. Dia sangat berbakat dalam hal tak berperasaan. Dia tetak kepala ayam itu dengan gagang pistol. Ayam menggelupur dalam anyaman daun kelapa. Dia menoleh ke sekuriti, &#8220;Bawa ke sana. Gali lubang. Bakar!&#8221;&#8230;( paragraf 5).</p>
<p>Persamaan lain dari cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dengan cerita <em>Malin Kundang</em> yaitu tokoh yang dianiaya mengutuk tokoh yang menganiaya menjadi batu. Berikut cuplikannya.</p>
<p>“Jadi Engkau tidak percaya kalau aku adalah orangtua salah seorang penghuni rumah mewah yang kalian katakan itu? Kalian adalah masyarakat Malin Kundang. Engkau mewakili masyarakat itu! Engkau akan menjadi batu.&#8221; Orang tua itu menunjuk ke polisi lalu lintas itu. Polisi lalu lintas itu terkejut” (paragraf 11).<strong> </strong></p>
<p>b)     Perbedaan</p>
<p>Pada cerita Malin Kundang kutukan ibu Malin terhadap Malin Kundang menjadi kenyataan. Beberapa saat setelah ibu Malin mengutuk Malin Kundang menjadi batu, datanglah badai dahsyat menghancurkan  kapal Malin Kundang dan perlahan tubuh Malin Kundang menjadi batu karang. Berikut cuplikannya.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang (paragraf 10).</p>
<p>Pengarang pada cerpen ”Si Lugu dan Si Malin Kundang” menampilkan cerita lain dari cerita Malin Kundang. Kutukan tokoh ayah terhadap polisi lalu lintas tidak terjadi. Tokoh ayah merasa kutukannya terjadi, padahal hanya dugaan dia saja. Sebenarnya yang dia lihat waktu itu adalah patung polisi yang sengaja dibuat untuk ditempatkan di beberapa tempat, bukan polisi yang dikutuk jadi batu. Berikut cuplikannya.</p>
<p>Patung-patung polisi lalu lintas itu belum semua terpasang di tempat-tempat strategis di jalan-jalan kota  (paragraf 21).</p>
<p>Dalam cerita Malin Kundang tokoh yang menjadi batu adalah Malin Kundang akibat durhaka kepada ibu kandungnya, sedangkan dalam cerpen ”Si Lugu dan Si Malin Kundang ” tokoh yang menjadi batu itu seorang polisi akibat tidak mempercayai orang tua (ayah Malin Kundang). Berikut kutipan cerpennya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Oh Tuhan, kalau dia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Setelah sumpah itu diucapkan oleh ibu malin kundang, hanya selang waktu yang tidak lama kemudian tubuh malin kundang perlahan menjadi kaku dan kelamaan akhirnya berbentuk menjadi batu.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Setelah membandingkan cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang ” dengan cerita Malin Kundang dapat dicermati adanya perbedaan cerita dalam kedua teks tersebut. Dari kilasan peristiwa di atas dapat disimpulkan bahwa  cerpen <strong> </strong>“Si Lugu dan Si Malin Kundang ” mentransformasi legenda  zaman dahulu dengan menampilkan tokoh polisi yang hidup di zaman modern.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.3.2 </strong><strong>Interteks Tokoh dan Perwatakan Cerpen</strong><strong> “Si Lugu dan Si Malin    Kundang” dan Cerita Malin Kundang</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perbedaan tokoh cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dan cerita   Malin Kundang dapat dilihat dalam bagan berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="529">
<tbody>
<tr>
<td width="36"><strong>No</strong></td>
<td width="223"><strong>Cerita Malin Kundang</strong></td>
<td width="270"><strong>Cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang”</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">1</td>
<td width="223">Malin   Kundang</td>
<td width="270">Sekuriti   kompleks</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">2</td>
<td width="223">Ibu   Malin Kundang</td>
<td width="270">Polisi</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">3</td>
<td width="223">Istri   Malin</td>
<td width="270">Orang   tua (ayah dari laki-laki pemilik rumah di kompleks)</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">4</td>
<td width="223">Bajak   laut</td>
<td width="270">Suami</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">5</td>
<td width="223">Ayah   Malin</td>
<td width="270">Istri</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">6</td>
<td width="223">Masyarakat   desa</td>
<td width="270">-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dilihat dari perbandingan di atas, keduanya sangat berbeda. Semua tokoh cerita asli hilang dan muncul tokoh-tokoh yang baru. Ada beberapa tokoh yang ada dalam cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” sehingga alur cerita menjadi jelas dan menarik, yaitu tokoh ayah, sekuriti kompleks, polisi lalu lintas, anak dan menantu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tokoh ayah memiliki watak yang teguh pendirian. Hal itu terbukti saat orang tua itu bersikeras akan menemui anaknya yang kaya raya. Berikut cuplikan ceritanya.</p>
<p>&#8220;O, begitu. Tapi itu tidak mungkin. Tidak masuk akal kami. Kami tidak yakin Bapak adalah ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini.&#8221; (paragraf 7).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tokoh polisi lalu lintas berwatak arogan, ikut campur urusan orang lain, dan suka melecehkan orang. Hal itu terlihat pada cuplikan berikut.</p>
<p>&#8220;Di sini tinggal orang-orang kaya. Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ayah dari salah seorang penghuni rumah mewah ini adalah Bapak. Pakaian Bapak adalah pakaian orang yang tak berpunya. Hampir sama dengan pakaian fakir miskin. Apa lagi ini.” (paragraf 10)</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.3.3 Interteks Latar Cerpen</strong><strong> “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dan Cerita</strong><strong> Malin Kundang</strong></p>
<p>Perbedaan latar cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dan cerita   Malin Kundang dapat dilihat dalam tabel berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="525">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="36"><strong>No</strong></td>
<td colspan="2" width="209" valign="top"><strong>Cerita   &#8220;Malin Kundang&#8221;</strong></td>
<td colspan="2" width="280"><strong>Cerpen ” Si Lugu dan Si Malin Kundang”</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="126" valign="top"><strong>Latar Tempat </strong></td>
<td width="84"><strong>Latar Waktu</strong></td>
<td width="159" valign="top"><strong>Latar Tempat </strong></td>
<td width="122"><strong>Latar Waktu</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="36">1</td>
<td width="126">Pesisir pantai wilayah Sumatra</td>
<td width="84">Semingu</td>
<td width="159">kompleks perumahan mewah</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">2</td>
<td width="126">Kapal</td>
<td width="84">dua minggu</td>
<td width="159">markas kepolisian</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">3</td>
<td width="126">Ruang kecil</td>
<td width="84">sebulan</td>
<td width="159">ruang markas</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">4</td>
<td width="126">Tengah laut</td>
<td width="84">dua bulan</td>
<td width="159">kamar kecil</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">5</td>
<td width="126">Pantai</td>
<td width="84">1 tahun lebih</td>
<td width="159">gudang</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">6</td>
<td width="126">Desa</td>
<td width="84">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="159">mobil mewah</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
<tr>
<td width="36">7</td>
<td width="126">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="84">
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="159">perempatan</td>
<td width="122">-</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perhatikan kutipan-kutipan di bawah ini.</p>
<p>”Sekuriti <em>kompleks perumahan mewah</em> menghambat masuk orang tua dengan beban sepikul hasil bumi. Pintu gerbang tidak dia buka. Orang tua itu mengatakan dia berjalan dari stasiun kereta api mencari kompleks perumahan itu&#8230;” (paragaf:1)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Lelaki yang didatangi ayahnya itu ingin membawa ayahnya berjalan-jalan melihat-lihat kota. Kali ini lelaki itu membawa langsung <em>mobil mewahnya</em> bersama istrinya yang duduk di sampingnya. Dia puas bisa menyenang-nyenangkan ayahnya. Waktu itu hujan lebat. Lampu lalu lintas tiba-tiba berwarna merah waktu mobil itu sampai di <em>perempatan</em>. Mobil dia hentikan. Setelah menunggu agak lama, si istri berpaling ke kiri dan ke kanan, lalu berkata  (paragraf 22)”</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>4.3.4 Interteks Tema Cerpen</strong><strong> “Si Lugu dan Si Malin Kundang” dan Cerita</strong><strong> Malin Kundang</strong></p>
<p>Cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” mengangkat permasalahan yang berkenaan dengan problematika sosial yang berada di masyarakat. Kita dapat melihat bagaimana keraguan sekuriti dan polisi kepada orang tua yang hendak  bertemu anaknya karena alasan yang cukup sederhana, yaitu orang tua tersebut datang dari kampung. Dilema yang cukup mengiris hati, tidak adil rasanya menilai seseorang hanya melihat dari latar belakangnya. Apakah suatu kesalahan jika seseorang dari kampung memiliki anak orang yang sukses di kota? Terkadang orang hanya melihat sebelah mata saja dan malah terkesan meremehkan. Oleh karena itu, cerpen ini mengajarkan kita bagaimana kita memandang dan menghargai orang lain.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5. Simpulan</strong></p>
<p><em>a) </em>Cerpen “Malin Kundang 2000”,  “Si Lugu dan Si Malin Kundang”, dan “Malin Kundang Pulang Kampung” merupakan bentuk transformasi dari cerita <em>Malin Kundang.</em></p>
<p><em>b) </em>Alur cerpen “Malin Kundang 2000” mengisahkan batu Malin Kundang yang menjadi manusia kembali. Dapat dikatakan cerpen itu merupakan kelanjutan atau perluasan dari cerita <em>Malin Kundang.</em> Cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” mengisahkan orang tua yang dihadang sekuriti dan polisi di sebuah kompleks perumahan mewah ketika menemui anaknya. Kemudian, orang tua itu mengutuk polisi menjadi batu. Cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” merupakan kebalikan dari cerita<em> </em>Malin Kundang yang terkena kutukan dalam cerpen ini adalah ibu Malin Kundang karena telah menghianati almarhum ayah Malin dan berbohong kepada Malin.<em> </em></p>
<p>c)      Tokoh cerita Malin Kundang<em> </em>berbeda dengan  cerpen “Malin Kundang 2000”,  “Si Lugu dan Si Malin Kundang”, dan “Malin Kundang Pulang Kampung”. Tokoh-tokoh pada cerita  Malin Kundang<em> </em>adalah Malin Kundang, ibu Malin Kundang, istri Malin, bajak laut, ayah Malin, dan masyarakat desa. Tokoh-tokoh cerpen“Malin Kundang 2000”adalah Malin Kundang, seorang ibu, wartawan, dan masyarakat Pantai Air Manis. Tokoh-tokoh cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” adalah sekuriti kompleks, polisi lalu lintas, orang tua, suami, dan istri. Tokoh-tokoh cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” adalah Malin Kundang, ibu Malin Kundang, istri Malin, sekelompok orang penyembah matahari</p>
<p>d)     Latar cerpen “Malin Kundang 2000” diperluas dari cerita Malin Kundang.<em> </em>Latar cerpen “Si Lugu dan Si Malin Kundang” sungguh sangat berbeda dengan cerita Malin Kundang<em>.</em> Latar cerpen “Malin Kundang Pulang Kampung” secara keseluruhan hampir sama dengan cerita Malin Kundang, hanya ada beberapa tambahan.</p>
<p>e)      Tema yang diusung pada cerpen “Malin Kundang 2000”,  “Si Lugu dan Si Malin Kundang”, dan “Malin Kundang Pulang Kampung”, dan cerita Malin Kundang mengetengahkan permasalahan hubungan anak dengan orang tua dan masalah kutukan. Namun, pengemasan setiap cerita masing-masing sangat berbeda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Culler, J. 1981. <em>The Pursuit of Signs: Semiotics, Literarure, Deconstruction</em>. Ithaca, New York: Cornell University Press.</p>
<p>Hartyanto, R.A. 2008. “Keperempuanan Tokoh Matsumi dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang dan Tokoh Srintil dalam Novel Ronggeng Dukuh paruk Karya Ahmad Tohari: Kajian Intertekstual”. Diunduh dari <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://kunthink.blogspot.com/2008/03/intertekstual-perempuan-kembang-jepun.html">http://kunthink.blogspot.com/2008/03/intertekstual-perempuan-kembang-jepun.html</a></span>.  [15 Juli 2008].</p>
<p>Jabrohim, dkk. 2001. <em>Metodologi Penelitian Sastra</em>. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.</p>
<p>Luxemburg, B. M., Westeinjn. 1984. <em>Pengantar Ilmu Sastra</em>. Jakarta: PT Gramedia.</p>
<p>Muchlish, Ahmad AR . 2007. ”Malin Kundang Pulang Kampung”. [Online]. Tersedia:  <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.sriti.com/story_view.php?key=2612">http://www.sriti.com/story_view.php?key=2612</a></span> [8 Maret 2008].</p>
<p>Nurgiyantoro, B. 1998. <em>Transformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia.</em> Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.</p>
<p>Nurgiyantoro, B. 2000. <em>Teori Pengkajian Fiksi</em>. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.</p>
<p>Pradopo, Rahmat Djoko. 2003. <em>Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Rangkuti, Hamsad. 2007. ”Si Lugu dan Si Malin Kundang”. [Online]. Tersedia: <span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.sriti.com/story_view.php?key=2597">http://www.sriti.com/story_view.php?key=2597</a></span>.  [10 Maret 2008].</p>
<p>Ratna, Nyoman Kutha. 2004. <em>Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Teeuw, A. 1983. <em>Membaca dan Menilai Sastra</em>.Jakarta: Gramedia.</p>
<p>Teeuw, A. 2003. <em>Sastra dan Ilmu Sastra</em>. Jakarta: Pustaka Jaya.<strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=53&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/cerpen-%e2%80%9dmalin-kundang-2000%e2%80%9d-%e2%80%9dmalin-kundang-pulang-kampung%e2%80%9d-dan-%e2%80%9dsi-lugu-dan-malin-kundang%e2%80%9d-dalam-tinjauan-intertekstual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>D. ZAWAWI IMRON: MADURA DALAM PUISI INDONESIA</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/d-zawawi-imron-madura-dalam-puisi-indonesia/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/d-zawawi-imron-madura-dalam-puisi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[D Zawawi Imron]]></category>
		<category><![CDATA[keindonesiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Wan Anwar Abstrak D. Zawawi Imron adalah seorang penyair yang setia menghadirkan nuansa tanah kelahirannya, Madura dalam puisi-puisinya. Kekhasan gaya pengucapan dan konsistensinya membuat dirinya menempati posisi yang khas dalam sejarah perpuisian Indonesia. Tulisan ini mengupas lebih dalam mengenai gagasan D. Zawawi Imron, terutama gagasan dalam puisi-puisi yang berlatarkan Madura dikaitkan dengan keindonesiaan. &#160; Kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=51&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wan Anwar</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>D. Zawawi Imron adalah seorang penyair yang setia menghadirkan nuansa tanah kelahirannya, Madura dalam puisi-puisinya. Kekhasan gaya pengucapan dan konsistensinya membuat dirinya menempati posisi yang khas dalam sejarah perpuisian Indonesia.</p>
<p>Tulisan ini mengupas lebih dalam mengenai gagasan D. Zawawi Imron, terutama gagasan dalam puisi-puisi yang berlatarkan Madura dikaitkan dengan keindonesiaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata Kunci: D. Zawawi Imron, Madura, puisi, keindonesiaan<span id="more-51"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Abstract</strong></p>
<p><em>D. Zawawi Imron was a loyal poet presented nuances of his birth land, Madura in his poetries. His unique style in pronunciation and his consistency have made him get his own position in the history Indonesian poetry. This article concerns with the D. Zawawi Imron idea, especially the idea in poetries with Maduranese background connected in an Indonesianess. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word: D. Zawawi Imron, Madura, poetry, Indonesianess</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Sastra Indonesia modern pada dasarnya merupakan bentuk ekspresi baru yang ditransformasi dari peradaban Barat. Oleh karena itu, sejak awal kelahirannya pertentangan (konflik) dunia modern dengan dunia tradisi merupakan tema utama yang muncul dalam sastra Indonesia. Karya-karya Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya, menggambarkan pertentangan budaya tersebut. Polemik Kebudayaan (tahun 30-an) tidak lepas dari situasi kebudayaan saat itu: kehadiran dunia baru/modern (Barat) di tengah dunia lama (tradisi). Sastra Indonesia kemudian berkembang dalam “rindu-dendam” pertentangan budaya tersebut, bahkan hingga kini masih terasa dengan versi dan variasi yang berbeda.</p>
<p>Hingga kini bentuk ekspresi sastrawan kita masih dapat dikatakan bentuk ucap baru karena mereka umumnya memiliki “bahasa/budaya ibu” (tradisi). Hampir seluruh sastrawan kita menggauli bahasa (budaya) Indonesia sebagai bahasa (budaya) kedua karena bahasa/budaya pertama mereka adalah bahasa/budaya daerah. Tarik menarik antara “kedaerahan dan keindonesiaan” tidak terelakkan, bahkan ketika globalisasi kini makin merangsek ke berbagai sendi kehidupan. Pada taraf tertentu wawasan keindonesiaan dan/atau  globalisasi yang memungkinkan terjadinya penyeragaman budaya, justru melahirkan sikap makin peduli pada budaya (tradisi) sendiri. Pada masa awal pembangunan keindonesiaan “semangat kedaerahan” memang sering tergusur dan terlupakan, tetapi kini terbuka untuk melakukan “reaktualisasi kedaerahan”, termasuk dalam bidang sastra dan budaya.</p>
<p>Di tengah pergulatan dan saling silang komunikasi beragam kebudayaan, perkembangan sastra Indonesia sekurang-kurangnya memperlihatkan dua arus tarikan; <em>pertama,</em> arus yang kental berorientasi pada budaya Barat dan <em>kedua</em> yang cenderung menggali khazanah budaya daerah. Demikian dikatakan Mursal Esten dalam suatu seminar di Padang (1988) melalui makalahnya “Sastra Indonesia dan Akar Budaya Indonesia”. Dalam makalah itu Mursal Esten  menegaskan <em>arus pertama</em> tampak pada karya-karya STA serta Chairil Anwar dan <em>arus kedua</em> terlihat pada karya-karya Ajip Rosidi, Rendra, Umar Kayam, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Wisran Hadi, Abdul Hadi W.M., Zawawi Imron, Ahmad Tohari, dan S.M. Ardan, misalnya. Perkembangan <em>arus kedua</em> itu dimulai tahun 60-an dan makin subur tahun 70-an.</p>
<p>Jika dilihat dari kedua arus itu, Zawawi Imron teranglah berada dalam arus kedua. Itu sebabnya alam-budaya (khazanah) Madura kental terasa, juga khasanah Makasar (dalam <em>Berlayar di Pamor Badik</em>), khazanah Gorontalo (dalam <em>Zamrud Serambi Mekah</em>), bahkan dalam <em>Refrein di Sudut Dam</em> (2003) yang ditulis ketika ia mengunjungi Belanda/Eropa tahun 2002. Singkat kata, alam budaya daerah, khususnya daerah Madura, merupakan orientasi utama kerja kepenyairan Zawawi Imron.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.  Madura dalam Puisi </strong></p>
<p>Buku puisi <em>Bantalku Ombak Selimutku Angin</em> (1996; cetakan kedua, 2000) terdiri atas 4 bagian (subkumpulan puisi): <em>Semerbak Mayang</em> (24 sajak), <em>Madura, Akulah Lautmu</em> (11 sajak), <em>Tembang Dusun Siwalan</em> (17 sajak), dan <em>Bantalku Ombak Selimutku Angin</em> (7 sajak). Amat jelas puisi-puisi dalam buku ini menghadirkan gambaran alam budaya Madura bagi khazanah keindonesiaan.</p>
<p>Kekayaan alam Madura, terutama dalam buku puisi ini, muncul dominan hampir dalam setiap bait puisinya. Diksi <em>siwalan</em>, nira atau <em>lahang</em>, lenguh sapi, bulan purnama, bukit dan lembah, tongkol pisang, kopyor, gula, lokan-lokan dan mutiara, sawah dan petani, laut dan nelayan, musim kemarau, sumur kering, tanah coklat, garam, angin dan  gelombang, misalnya, tersebar dalam puisi-puisinya. Diksi-diksi itu secara khusus mengacu pada keberadaan alam Madura yang dikelilingi laut, dihiasi bukit-bukit dan lembah, dihuni para petani dan nelayan, serta menghasilkan produk pertanian dan hasil-hasil lautan. Jika dilihat dari diksi saja, puisi-puisi Zawawi jelas berpijak pada alam dan berbicara tentang khazanah masyarakat Madura.</p>
<p>Alam dalam kerja kepenyairan Zawawi Imron, sebagaimana dalam <em>Priangan si Jelita,</em> Ramadhan K.H., misalnya, merupakan inspirasi utama yang kemudian tampil menjadi idiom (metafora atau perbandingan) dalam puisinya. Majas-majas itu umumnya digunakan untuk mengungkapkan “sesuatu” atau disandingkan dengan perasaan/kegelisahan aku lirik ketika mengungkapkan sesuatu/segugus makna. Tentu saja diksi-diksi alam dalam puisi-puisi Zawawi tidak selalu hadir sebagai idiom, tetapi juga sebagai gambaran realitas alam itu sendiri. Puisi di situ tampil penuh dengan ambiguitas baik sebagai teks itu sendiri (potensi ambigu dalam jalinan teks) maupun dalam resepsi pembacanya (potensi ambigu dalam pencerapan pembaca).</p>
<p>Susunan diksi alam sebagai idiom/majas yang disandingkan dengan kegelisahan/perasaan aku lirik dengan sendirinya menghasilkan ungkapan-ungkapan yang segar: <em>nira kecut yang bersumber dari makna</em> (“Anak Malang”), <em>mayat semerbak mayang</em> (“Sajak Ungu Lembah Tamidun”), <em>seteguk nira yang bening yang menetes dari matamu</em> (“Pesan”), <em>restuku semerbak mayang</em> (“Semerbak Mayang”), <em>sedap kopyor susu dan ronta kenakalanku</em> (“Ibu”), <em>lalu kuteruskan perjalanan/jalan berdebu, aku jalan kaki/pohon siwalan di kana kiri/lahang atau hatinyakah/yang kuminum barusan ini?/mengapa dadaku semakin dahaga/malam-malam tiba di rumah/hanya tubuhku yang bisa pulang/hatiku tertinggal di kebun siwalan</em> (“Di Kebun Siwalan”), <em>anakku, tumpuan harapanku/wangi hati ayahmu/dimulai di pohon itu</em> (“Senja yang Merah”), <em>jika kini kuteguk air kelapa muda/yang kubeli pada orang dusun yang sederhana/apa kau nanti merasakan seperti aku/dahaga ribuan jiwa?</em> (“Di Pantai Salopeng”), dan varian-varian larik lain yang mengesankan sekaligus menyaran pada pesan atau makna yang ingin dikomunikasikan.</p>
<p>Kehadiran diksi alam sebagai idiom/majas berpadu dengan diksi-diksi dari lingkungan budaya, kebiasaan (tradisi) masyarakat Madura, misalnya: <em>saronen</em>, kerapan sapi, pisau (belati), celurit, berlayar, merantau, pukat, gong dan gendang, suara bonang, doa, gembala, <em>salampar</em>, dan lesung.</p>
<p>Sebagaimana diksi-diksi dan idiom-idiom alam, diksi-diksi dari lingkungan budaya Madura pun sering disandingkan dengan perasaan/kegelisahan aku lirik untuk memperkuat sesuatu yang disarankan puisi. Dengan pola ucap seperti itu kerap sulit dibedakan mana diksi alam dan mana diksi budaya, keduanya tampil menyatu sebagai sesuatu (budaya) yang tampak khas Madura.</p>
<p>Perpaduan (menyatunya) diksi alam dengan perasaan/kegelisahan aku lirik terlihat misalnya pada larik-larik: <em>bunyi saronen/suara sedih penghuni</em> (“Puisi Hitam”), <em>di palung bukit di batang-batang/talu lesung berlentung-lentung/lantara ibuku menumbuk padi/sisa panen semusim lalu/maka akan kamu biarkankan angin semilir ini/tanpa kamu naikkan layang-layangmu/untuk menentang kesepian?</em> (“Kembang-kembang Tanah Sumekar”), <em>hati-hati memasak garam!/pagar bermata/ angin akan sampai/berbisik ke setiap telinga</em> (“Pembunuh”), <em>Kiai Poleng mengidung di atas bubungan/&#8211;Cung kuncung konce/wadon mutamat lanang sejati/telah diminum getah jarak/telah dikunyah pinang muda/yang genap telah ganjil/yang ganjil telah genap</em> (“Sepasang Mempelai”), <em>Hai, perempuan-perempuan di atas bukit!/kabar amis bagimu/sediakan daun widara/dan rautlah kayu cendana</em> (“Padang Kaduwang”), dan  <em>tanah kelahiran yang besok mulai kusungkal!/sepuluh tahun engkau kutinggal/karena di atasmu aku tak sudi/ada selaput pecah/di luar nikah</em> (“Jumarit”).</p>
<p>Orientasi Zawawi Imron sebagai penyair yang mengerahkan energi kreatifnya untuk menghadirkan Madura dalam puisi Indonesia dengan memetik diksi alam dan budaya (tradisi) Madura agaknya merupakan upaya untuk menelisik manusia dan kehidupan sosial masyarakat Madura. Dalam hal ini manusia dan masyarakat Madura hidup di dua alam, yakni alam budaya modern (kota) dan budaya tradisi (kampung). Itu sebabnya hubungan desa dan kota menjadi tema utama yang digelisahkan Zawawi Imron, selain tema eksistensi diri beserta kegelisahan, kesunyian, dan perenungan hakikat hidup yang menyertainya. Jika dilihat dari sudut ini, ada banyak puisi Zawawi yang sesungguhnya merupakan protes sosial meski dilantunkan sebagai nyanyian pilu, bukan teriakan dari tangan yang dikepalkan.</p>
<p>Hubungan antara desa (tradisi) dan kota (modernitas) dalam puisi-puisi Zawawi Imron agaknya memang merupakan masalah sosial yang membelit manusia (masyarakat) Madura dewasa ini. Desa yang sunyi, miskin, dan terlupakan dengan sendirinya mendorong penyair bertanya, misalnya, arti kemerdekaan bagi orang dusun (“Puisi Hitam”), kemiskinan dan nasib menyedihkan di tanah Madura yang kerontang (“Dari Kamal ke Kalianget”), kebiasaan merantau dan kesepian para petani (“Pengembara”), makna dan hakikat merantau untuk menghapus kemiskinan, memperluas persahabatan dan memperdalam pengalaman (“Ayah”), dan nasib tragis yang mengharukan bagi orangtua/kakek-nenek yang ditinggal anak/cucunya mengembara/merantau (“Mawar dan Nenek Tua”).</p>
<p>Seperti umumnya kondisi daerah-daerah di Indonesia, Madura dalam puisi-puisi Zawawi hadir sebagai masyarakat yang dirundung kemiskinan. Sebagaimana juga terlihat dari puisi-puisinya, baik eksplisit maupun implisit,  kemiskinan itu terjadi karena pembangunan di negeri ini terlalu berpusat di kota-kota besar, terutama Jakarta, bahkan ketika era Reformasi atau politik desentralisasi (otonomi daerah) sudah hampir 10 tahun kini bergulir. Di Indonesia kata “daerah” sering langsung berkonotasi negatif karena merupakan tanda kemiskinan, pinggiran, udik, kurang beradab, kurang maju, terbelakang, baik dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan. Orang-orang daerah dalam konteks ini dapat dikatakan mengalami semacam perasaan <em>homeless</em> karena di satu sisi berhadapan dengan dunia modern (budaya kota) yang tidak mudah untuk dimasuki, di sisi lain akar budaya (tradisinya) mulai lepas dari jiwa dan raganya.</p>
<p>Gambaran kondisi Madura sebagai daerah miskin dan terpinggirkan memang tidak sulit ditemukan dalam puisi-puisi Zawawi Imron. Akan tetapi, meskipun Madura itu miskin, ternyata penduduknya amat mencintainya sehingga mereka yang merantau selalu merindukan untuk kembali ke kampung halaman. Pulang menjadi sesuatu yang dirindukan karena meskipun Madura itu miskin dan kerontang, pada akhirnya merupakan tempat yang kepadanya segala cinta dan luka dilekatkan. Madura –perhatikan puisi “Madura, Akulah Lautmu”, “Madura, Akulah Darahmu”, atau puisi “Ibu”&#8211;bagi Zawawi rupanya adalah darah, tangis, jantung, dan hati yang senantiasa memompa gairah hidup orang Madura meskipun dalam kondisi miskin, kesepian, dan terlupakan. Dalam penggambaran semacam ini terasa nada umum puisi-puisi Zawawi Imron adalah semacam ode (pujaan) untuk “tanah air” atau “tanah kelahiran” yang bernama Madura itu.</p>
<p>Perhatikan beberapa contoh larik yang menggambarkan kemiskinan Madura dan ketenteraman hati penduduknya: <em>kalau di rantau tak ada rumput menghijau/wahai, sapi kerapanku!/segeralah pulang ke kandang teduh!/ke ribaan bunda yang kosong/nasi ubi dan sayur singkong</em> (“Ibu Bersama Rindu”), <em>tentang merantau sebagai suatu keharusan/kebiasaan, tetapi juga kepulangan yang juga keharusan/kebiasaan </em>(“Nyanyian Kampung Halaman”), <em>di tanah wangi siwalan ada sepi, ada petani yang miskin, ada nyanyian pilu, tetapi di situ pula makna hidup tumbuh</em> (“Musim Labuh”), <em>kalau aku merantau lalu datang musim kemarau,/sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting/hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir</em> (“Ibu”). <strong> </strong></p>
<p>Demikianlah, Madura adalah kampung halaman yang dirindukan, sepahit dan sesakit apa pun keadaannya. Itu sebabnya barangkali yang menyebabkan Zawawi Imron senantiasa khusuk mencintai dan memujanya. Gaya ode/pemujaan lebih jelas lagi pada puisi-puisi persembahan untuk pahlawan (baik pahlawan Madura maupun dalam konteks keindonesiaan), misalnya puisi “Kepada Patimura”, “Padang Kaduwang”, “Padang Parapat”, “Padang Landing”, “Pertemuan dengan Pak Dirman”, “Di Bawah Layar”, “Pahlawan dari Sampang”, dan tentu sosok ibu yang ditempatkan sebagai “pahlawan paling utama dan pertama” dalam puisi berjudul “Ibu”.</p>
<p>Zawawi Imron dengan demikian adalah penyair yang mencintai dan memuja “tanah kelahiran dan tempat tinggalnya” sebagai kampung yang setia dipuisikan, bahkan dijadikan tempat tinggal jiwa dan raganya. Tentu saja ini tidak berarti Zawawi tidak peduli pada khazanah keindonesiaan. Kecintaannya pada Madura sepatutnya dipandang sebagai bentuk cinta terhadap keberagaman Indonesia yang dibangun oleh kekayaan alam/budaya daerah-daerah di Indonesia, termasuk Madura. Lagi pula, ia sendiri menulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi tanda sekaligus alat persatuan Indonesia. Dalam bahasa Louis Althusser, puisi-puisi Zawawi Imron, sebagaimana puisi-puisi penyair Indonesia lainnya, merupakan bagian dari “aparatus Negara ideologis” untuk melanggengkan suatu “ideologi” kebangsaan yang bernama Indonesia, sekalipun ia mengisinya dengan kekayaan budaya dan spiritual yang lahir dan hidup di sebuah masyarakat etnis (daerah/budaya daerah) bernama Madura.</p>
<p>Selain mencintai dan memuja Madura, Zawawi Imron adalah penyair yang amat mencintai dan memuja sosok ibu, baik ibu sebagai ibu biologis maupun ibu sebagai “spirit” yang dalam hal ini boleh jadi adalah Madura sendiri. Bagi Zawawi, ibu (perempuan) tegas memiliki makna luhur sehingga leluhurnya (kesedihan, penderitaan) adalah nenek moyang (<em>nenek moyangku airmata</em>, katanya!). Maka, Zawawi tidak menyebut leluhur dalam pengertian manusia pendahulu dengan sebutan “nenek moyang”, melainkan “kakek moyang” karena nenek moyang adalah air mata (Madura) itu.</p>
<p>Jika dilihat dari cara bertutur, puisi-puisi Zawawi Imron umumnya bersifat (puisi) lirik. Oleh karena itu, ia tidak lain adalah seorang penyair lirik yang memiliki kepekaan kuat terhadap geliat dan “putih tulang” kata yang disentuhnya. Memang dalam <em>Bantalku Ombak Selimutku Angin</em> terdapat pula sejumlah puisi naratif-dramatik atau paling tidak paduan lirik-naratif, seperti tampak pada puisi-puisinya yang mengisahkan suatu peristiwa, termasuk ode untuk para pahlawan, leluhur, dan sejenisnya. Namun, kekuatannya dalam menemukan kata, menyusun kata-kata dalam suatu rangkaian majas yang segar, tidak bisa tidak memperkuat keberadaannya sebagai penyair lirik penting di Indonesia.</p>
<p>Uraian tersebut memang sengaja difokuskan pada puisi-puisi Zawawi Imron yang terkumpul dalam <em>Bantalku Ombak Selimutku Angin</em> (merangkum karya-karya dalam rentang 1963 hingga 1995, dari masa paling awal kepenyairan hingga perkembangannya 30 tahun kemudian). Namun, sejauh terlihat dari puisi-puisi dalam buku itu, puisi-puisi yang ditulis belakangan tidak dengan sendirinya menunjukkan kualitas yang lebih (matang) jika dibandingkan dengan puisi-puisi yang ditulis pada masa awal kepenyairannya. Dapat dikatakan bahwa di setiap masa penulisan lahir puisi yang matang, kuat, baik dari segi diksi, idiom, maupun kesatuan suasana dan makna, selain itu terdapat pula puisi yang belum dapat dikatakan berhasil. Namun, satu hal yang amat jelas bahwa representasi alam budaya Madura dalam kumpulan puisi ini lebih tampak menonjol jika dibandingkan, misalnya, dengan puisi-puisi dalam <em>Bulan Tertusuk Lalang</em> (1982), <em>Nenekmoyangku Airmata</em> (1985), hingga <em>Refrein di Sudut Dam</em> (2003). Pada ketiga buku puisi terakhir khazanah Madura tidak tampil secara fisikal (eksplisit), tetapi lebih implisit menjadi gambaran pengalaman universal, meski diksi atau idiom Madura tetap terasa.</p>
<p>Masalah kualitas atau kematangan puisi tentulah tidak bergantung pada masa penulisan. Melalui esei “Sajak tentang Sajak” ketika membicarakan puisi-puisi Zawawi Imron, Subagio Sastrowardoyo dengan kritis membuktikannya. Subagio mengira puisi-puisi dalam <em>Nenekmoyangku Airmata</em> ditulis lebih kemudian jika dibandingkan <em>Bulan Tertusuk Lalang</em> karena puisi dalam buku pertama lebih matang dan dewasa, baik dalam hal tema maupun daya ucap. Ternyata, masa penulisan kedua buku itu nyaris berlangsung pada tahun bersamaan, yakni 1974-1981.  Itu berarti bahwa pada setiap masa penulisan memang lahir puisi-puisi matang sekaligus puisi-puisi yang dianggap kurang berhasil.</p>
<p>Sudah dikatakan di muka, secara umum puisi-puisi Zawawi Imron adalah puisi-puisi yang memperlihatkan rasa cinta yang dalam terhadap alam budaya Madura. Dengan mengambil contoh puisi “Madura, Akulah Darahmu” dan puisi “Ibu”, melalui esei “D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia” Jamal D. Rahman, bahkan menegaskan bahwa cinta Zawawi terhadap Madura adalah cinta yang aktif, hal yang berbeda dengan cinta pada sosok ibu yang bersifat pasif.</p>
<p>Agaknya cinta yang mendalam dan aktif terhadap Madura itulah yang membuat Zawawi Imron terus berproses menulis puisi yang senantiasa berakar pada alam dan budaya Madura, meskipun pada karya-karyanya yang kemudian alam budaya Madura tidak lagi tampil eksplisit, sebagaimana dalam buku <em>Bantalku Ombak Selimutku Angin</em> yang kita bicarakan ini. Cara pandang terhadap Madura seperti itu terlihat pula dalam <em>Berlayar di Pamor Badik</em> (berpijak pada khazanah Bugis-Makasar) atau <em>Serambi Zamrud Madinah</em> (berpijak pada khazanah Gorontalo). Dalam puisi-puisi itu tegas terasa bahwa sepahit apa pun kampung halaman tetaplah tampil sebagai kampung halaman yang dirindukan. Cara pandang semacam ini dalam beberapa hal membuat sajak menjadi tipikal sehingga keutuhan sebagai sosok (alam, manusia, dan budaya) adakalanya kurang tergambar utuh. Contoh yang paling gampang adalah puisi-puisi ode untuk pahlawan yang dicitrakan sebagai sosok tanpa cela dan cacat. Dengan kata lain pandangan dunia yang digunakan untuk menulis tidak lain adalah kampung halaman sendiri yang didambakan: Madura!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Zawawi Imron dan Keindonesiaan</strong></p>
<p>Sejak awal Zawawi Imron memang menulis dalam bahasa Indonesia. Ia menulis dalam bahasa Indonesia bukan karena bahasa Madura adalah “labu busuk yang dikerumuni lalat” (istilah Okot p’Bitek dalam <em>Afrika yang Resah</em>) dan ia pun kental menghadirkan alam-budaya Madura bukan karena “keindonesiaan” merupakan sumber masalah yang harus dihujat dan dikritik. Bagi Zawawi, Madura adalah kampung halaman (budaya tradisi/daerah) yang dirindukan, yang pada gilirannya memiliki peluang untuk turut merespons kelemahan-kelemahan keindonesiaan sekaligus memberikan kontribusi nyata baginya.</p>
<p>Hal itu membedakan Zawawi dari sejumlah sastrawan kini, terutama setelah Soeharto jatuh, yang menulis sastra Indonesia warna lokal (budaya daerah) karena menganggap pusat “kemodernan Indonesia” (Jakarta dan cara pandang sosial-politik-nasionalnya) sebagai “sumber masalah”. Oleh karena itu karya-karya Zawawi tidak tampil beringas, tetapi lembut sebagai nyanyian atau semacam ode (pujaan) kepada alam, sosial, dan budaya. Pemujaan itu tidak lahir dari kebencian terhadap “kemodernan Indonesia”, meskipun dalam beberapa karya dihadirkan kemiskinan Madura (sisi lain Indonesia) yang terpinggirkan.</p>
<p>Berbeda pula dengan Chairil Anwar yang memuja Barat, pemujaan Zawawi terhadap Madura dibarengi penerimaan wajar terhadap kemodernan Indonesia sehingga ia tidak dirundung gelisah dalam bentuk ucap puisinya. Zawawi tidak pernah terlepas dari akar lokal budaya (Madura) dan juga tidak menjauhkan diri dari kemodernan Indonesia sebagai kenyataan yang wajar. Justru di antara keduanya berjalan beriringan, saling mengisi, memahami, dan memberi.</p>
<p>Sebagaimana sastrawan Indonesia lainnya, Zawawi pada dasarnya merupakan  “manusia perbatasan” karena kehadiran modernitas sebagai budaya baru “bertabrakan” dengan budaya tradisi yang berakar di hati manusia Indonesia. Sebagai manusia perbatasan, tentu ia dilanda kegelisahan, terombang-ambing pilihan, yang akhirnya memunculkan konflik, baik fisik maupun batin.  Berkaitan dengan keterombang-ambingan, Ajip Rosidi pernah mengutarakan perasaannya. Ketika ia hidup di Jatiwangi, Jakarta dibayangkannya sebagai kota impian dan harapan. Akan tetapi, ketika ia hidup di Jakarta, Jatiwangilah yang dirindukan. Namun, manakala kembali ke Jatiwangi justru Jatiwangi tidak lagi memberikan rasa betah. Maka, mengembara ke luar negeri, secara batin ataupun fisik, merupakan alternatif untuk meredakan ketegangan. Itu sebabnya (mungkin) Ajip betah tinggal di Jepang, meski akhirnya kembali ke kampung halamannya: tanah Sunda dan segala masalahnya!</p>
<p>Berbeda dengan kebanyakan sastrawan Indonesia yang tidak betah di “kampung halaman”, Zawawi Imron hingga kini menetap di Madura dan terus menulis puisi dengan muatan kemaduraan. Adakah ia merasa jemu sebagaimana Ajip Rosidi dan sastrawan lain yang kemudian menjadi “Malinkundang”, sebagaimana tampak pada banyak karya sastra kita?!</p>
<p>Mungkin hanya Zawawi yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Namun, patut dicatat bahwa Zawawi tidak melulu hidup dan menulis tentang Madura. Ia intens menulis khazanah Bugis-Makasar (<em>Berlayar di Pamor Badik</em>, 1994), menulis persentuhannya dengan Eropa (<em>Refrein di Sudut Dam</em>, 2003), bahkan menulis masyarakat Gorontalo (<em>Zamrud Serambi Madinah</em>, 2004). Dengan kata lain ia “merantau” juga ke alam budaya di luar Madura, sekaligus mengembara ke banyak kota/daerah, baik di Indonesia maupun di mancanegara. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Miharja, Achdiat K. 1977. Polemik Kebudayaan.</p>
<p>Esten, Mursal. 1999. Kajian Transformasi Budaya.</p>
<p>Sastrowardoyo, Subagio. 1992. “Menilai Karya Berwarna Lokal”. Dalam Sekilas Soal Sastra dan Budaya</p>
<p>Althusser, Louis. 2008. Tentang Ideologi (Essay on Ideology). Diterjemahkan oleh Olsy Vinoli Arnof.</p>
<p>Sastrowardoyo, Subagio. 1989. “Sajak tentang Sajak” dalam Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan.</p>
<p>Rahman, Jamal D. 2001. “Duta Madura untuk Sastra Indonesia”. Artikel dalam Jurnal Puisi No. 1 Tahun 2001</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=51&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/d-zawawi-imron-madura-dalam-puisi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOMINASI IBU TERHADAP ANAK DALAM CERPEN “ANAK IBU”</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/dominasi-ibu-terhadap-anak-dalam-cerpen-%e2%80%9canak-ibu%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/dominasi-ibu-terhadap-anak-dalam-cerpen-%e2%80%9canak-ibu%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:59:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[anak ibu]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Yeni Mulyani Supriatin Abstrak Ketidakadilan gender sebagai akibat sosiokultural cenderung memihak maskulinitas yang menyeret perempuan sebagai korban. Ketidakadilan gender  yang justru dikukuhkan oleh seorang perempuan (ibu) yang berpikiran tradisional di dalam cerpen “Anak Ibu” digambarkan secara gamblang. Sebagai akibatnya, seorang perempuan (anak) yang berpendidikan tinggi dan berpikiran moderat pun tidak mampu melawan ibunya yang dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=49&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yeni Mulyani Supriatin</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Ketidakadilan gender sebagai akibat sosiokultural cenderung memihak maskulinitas yang menyeret perempuan sebagai korban. Ketidakadilan gender  yang justru dikukuhkan oleh seorang perempuan (ibu) yang berpikiran tradisional di dalam cerpen “Anak Ibu” digambarkan secara gamblang. Sebagai akibatnya, seorang perempuan (anak) yang berpendidikan tinggi dan berpikiran moderat pun tidak mampu melawan ibunya yang dalam cerpen ini mewakili pandangan ideologi gender yang mennjunjung supremasi laki-laki sebagai pihak yang mendominasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata Kunci: ideologi gender<span id="more-49"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Injustice gender as resulting from sericulture tended to take sides masculinities dragging the woman as casualties. Injustice gender that precisely is strengthened by a woman (the mother) that has traditional ideas in the short story of “Anak Ibu” is depicted explicitly. Thus, even, a woman (the child) that is  highly educated and modern thought cannot oppose her mother who in this short story represented the view of the ideology of gender that respected  male supremacy as the dominating side. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Key word</em></strong><em>: the ideology of gender</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.  Pendahuluan</strong></p>
<p><em>Kompas</em> adalah surat kabar yang secara konsisten memuat  rubrik sastra, seperti kritik dan karya sastra (cerpen, cerbung, dan sajak). Salah satu karya  kreatif yang dipublikasikan <em>Kompas Minggu</em> pada tanggal 6 Agustus 2006 adalah sebuah cerpen yang berjudul “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo. Cerpen ini cukup  menarik dalam segi temanya, yaitu penggambaran sosok seorang ibu yang menguasai anaknya. Tema tersebut terwujud atau terimplementasikan dalam struktur cerpen, seperti dalam alur cerita yang tersusun dari awal sampai dengan akhir.</p>
<p>Cerpen “Anak Ibu”  dari awal hingga akhir dinarasikan dalam dialog antara ibu dan anak. Cerpen ini pada dasarnya berkisah tentang seorang ibu yang terlalu dominan dalam perjalanan hidup si anak atau dengan kata lain, si anak telah kehilangan haknya untuk menentukan sendiri corak kehidupan yang bakal dijalaninya karena intervensi orang tua yang terlalu berlebihan.</p>
<p>Padahal, seorang anak selayaknya bebas menentukan nasibnya,  terutama apabila si anak sudah dipandang “dewasa”.  Sesungguhnya, dalam  hubungan ibu dan  anak,  sebagaimana yang terungkap dalam larik-larik sajak Kahlil Gibran  yang berbicara tentang hakikat hubungan orang tua—anak, seorang anak  diibaratkan sebagai anak panah yang lepas dari busurnya. Busur panah itu sendiri merupakan representasi orang tua. Jadi, meskipun secara biologis dan genetis seorang anak berasal atau lahir dari rahim seorang ibu, sang ibu pada hakikatnya bukanlah pemilik si anak itu. Si anak tetap saja titipan Ilahi.</p>
<p>Dominasi ibu terhadap anak perempuannya dalam cerpen “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo ini di sisi lain, sesungguhnya merefleksikan ideologi gender, suatu pandangan yang menempatkan perempuan sebagai sobordinasi laki-laki. Kondisi ini berangkat dari pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki. Konsep gender dengan pembagian tugas yang berbeda antara perempuan dan laki-laki dan yang menempatkan perempuan di belakang terbentuk dan bekerja dalam masyarakat yang berlangsung selama berabad-abad. Akibatnya, ideologi gender oleh sebagian orang dipandang sesuatu yang wajar dan tidak perlu diganggu-gugat.</p>
<p>Budianta (1998 ) menyatakan bahwa secara umum gender dapat didefinisikan sebagai pembedaan-pembedaan yang bersifat sosial yang dikenakan  atas pembedaan=pembedaan biologis atau pembedaan yang tampak antara jenis kelamin. Dalam konsep ini jelas dibedakan antara yang bersifat alami, yakni pembedaan biologis, dan yang bersifat sosial. Bahwa perempuan mempunyai rahim dan  laki-laki mempunyai penis, misalnya , adalah sesuatu kenyataan biologis, tetapi bahwa perempuan hanya memakai rok, berdandan, dan menghabiskan sebagian waktunya di ruang domestik, sedangkan pria di ruang publik adalah suatu norma sosial yang terbentuk oleh kondisi budaya dan masyarakat tertentu.</p>
<p>Dengan demikian, satu prinsip dasar dalam konsep gender, menurut Budianta, adalah antideterminisme biologis, keterkaitan, dan multidimensi. Persfektif antideterminisme biologis tidak serta-merta menentukan perbedaan sikap, sifat, dan perilaku. Seorang perempuan berlaku lemah lembut dan bertutur kata manis bukan karena secara biologis ia berkelamin wanita, melainkan karena norma-norma masyarakat dan budayanya mengondisikan untuk berperilaku demikian.</p>
<p>Istilah gender juga mengacu pada hubungan yang relasional. Artinya ialah gagasan tentang pria atau maskulinitas tidak bisa dipisahkan dari gagasan tentang perempuan atau feminitas. Pendekatan yang berwawasan gender dengan demikian mengoreksi kecenderungan sementara kaum feminis yang memfokuskan perhatian pada perempuan saja. Pendekatan ini dianggap keliru karena identitas kategori (termasuk jenis kelamin) berpijak pada hubungan relasional dengan kelompok yang ada dalam kategori itu, hitam, misalnya, tidak dapat dipahami tanpa merah, putih, atau kuning.</p>
<p>Dalam kaitan dengan pembentukan gagasan-gagasan tentang gender inilah  sastra memainkan peranan penting. Sastra sebagai bagian dari praktik sosial dan identitas sosial dalam masyarakat ikut menyusun, menggugat, dan mengubah ideologi yang berkaitan dengan gender. Melalui karya sastra dapat diketahui bagaimana skenario representasi menyusun,  mengukuhkan,  dan sekaligus menggugat ideologi gender yang ada.</p>
<p>Untuk memahami praktik ideologi gender dalam cerpen “Anak Ibu” karya Reda Gaudarmo yang diungkapkan lewat dominasi sang ibu terhadap kehidupan    si anak yang menyebabkan anak menjadi bayang-bayang ibu, selanjutnya akan dikupas secara detail di bagian berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Anak yang Menjadi Bayang-Bayang Ibu</strong></p>
<p>Seorang bayi yang baru lahir pertama-tama secara kodrati dan alami pasti membutuhkan air susu ibunya. Setelah itu, masih ada fase-fase tertentu yang masih harus dilewati hingga seorang anak manusia  benar-benar mandiri, lepas dari perawatan dan perlindungan kedua orang tuanya, atau dengan kata lain si anak menjadi anak panah yang lepas dari busurnya (sebagaimana dinyatakan dalam larik-larik sajak Kahlil Gibran). Meskipun telah merawat dan membesarkan anaknya, seorang ibu  tidak mungkin memiliki anaknya secara mutlak karena setiap manusia itu pada dasarnya merupakan individu yang merdeka. Jadi, dapat dikatakan bahwa seorang ibu sesungguhnya hanya memfasilitasi seorang anak untuk memasuki kehidupan lebih lanjut, tetapi tidak berhak untuk terlalu mengintervensi kehidupan si anak itu sendiri.</p>
<p>Namun, larik-larik sajak Kahlil Gibran yang menyamakan hubungan ibu dan anak dengan busur dan anak panah tersebut tidak  berlaku dalam cerpen Reda Gaudiarmo “Anak Ibu”.  Cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221; karya Reda Gaudiamo ini terdiri atas lima bagian dan masing-masing bagian diberi penanda angka tahun, yakni 1978, 1983, 1994, 2002, dan 2006 sehingga membayangkan fase-fase perkembangan kehidupan tokoh anak dalam cerpen ini yang senantiasa diintervensi dan didominasi oleh tokoh ibu.   Berikut sebuah penggalan cerpen “Anak Ibu”  yang menggambarkan hal itu.</p>
<p>&#8220;Lima setengah, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima setengah ya lima!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bisa jadi enam, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi lima setengah, tetap lima! Lima!&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan, sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-kejar, dimarahi, tidak belajar!&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221; <em>(Kompas</em>, 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagian awal cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221; yang terbaca dalam kutipan itu  memperlihatkan bagaimana si ibu memaksa anaknya untuk berprestasi di sekolah. Si anak masih merupakan anak panah yang belum lepas dari busurnya karena orang tua yang selalu mengkhawatirkan perkembangan si anak dan kemudian mengurungnya dengan sejumlah kriteria baik-buruk dari sudut pandang orang tua. Oleh arena itu, pada akhirnya si anak tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri. Ia hanya menjadi bayang-bayang ibunya.</p>
<p>Cukup banyak orang tua yang tanpa sadar telah mencetak seorang anak menjadi sekadar bayang-bayang dirinya dengan mengabaikan kemampuan dan keinginan si anak itu sendiri. Misalnya ialah  karena ingin anaknya berprestasi luar biasa, orang tua mengikutkan anaknya dalam berbagai les dan kursus sehingga akhirnya si anak kehilangan waktu untuk bermain, kehilangan masa kanak-kanak atau kehilangan masa remajanya, sesuatu yang sebetulnya kurang sehat bagi perkembangan kepribadian si anak itu sendiri.</p>
<p>Tokoh anak dalam cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221; sesungguhnya hanya sekadar bayang-bayang diri sang ibu. Pada waktu si anak masih duduk di bangku SMA,  ia terpaksa masuk jurusan IPA sesuai dengan keinginan ibunya. Kemudian,  ia melanjutkan ke fakultas kedokteran sesuai dengan keinginan ibunya pula. Demikian pula dengan pekerjaannya. Sebagai dokter baru, tokoh anak harus mengabdikan diri di daerah terpencil.  Namun, hal itu ditentang habis-habisan oleh ibunya. Ia pun terpaksa membatalkan keinginannya untuk membuka praktik di perkampungan nelayan karena ibunya menginginkannya  membuka klinik spesialis yang pasiennya berasal dari kelas atas. Singkatnya, si anak&#8211;yang kebetulan perempuan hanya menjadi &#8220;pelaksana&#8221; dari cita-cita dan keinginan sang ibu. Untuk memperlihatkan betapa si anak hanya tunduk pada keinginan ibunya, akan dikutipkan penggalannya berikut .</p>
<p>“Tobat! Tobat!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu tidak setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kaya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit, langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak suka yang model begitu, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu. Begitu sial betulan, teriak-teriak. minta tolong sama Ibu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu hanya ingin kamu bahagia.&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-mahal, lama-lama, eh tenyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan. Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!&#8221; <em>(Kompas</em>, 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menarik untuk disimak dalam dialog antara si anak dan ibu yang  terbaca di atas, yakni ketika si anak melontarkan pernyataan <em>&#8220;Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau mengabdikan ilmu, Ibu larang &#8230;&#8221;</em>, yang kemudian ditimpali ibunya dengan pernyataan <em>&#8220;Pintar omong  kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang. Buang waktu. Percuma.&#8221;</em> Pernyataan sang ibu itu mengimplikasikan bahwa sang ibu bersedia menyekolahkan anaknya hingga jadi dokter, tetapi dengan syarat si anak harus  mau menuruti keinginan dan kemauan ibunya hingga kapan pun.</p>
<p>Patut diperhatikan pula tokoh si anak dalam cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221; adalah seorang perempuan. Dari sisi kesetaraan gender, pernyataan sang ibu jadi  menarik, terlebih-lebih jika disimak berdasarkan kronologi waktu.<strong> </strong>Implikasi lebih lanjut yang bisa kita petik ialah meskipun dari tahun ke tahun semakin banyak perempuan yang berpeluang menikmati pendidikan, tetapi itu tidak berarti makin banyak pula perempuan yang bisa melepaskan diri dari kungkungan dan penindasan gender, sebagaimana diperlihatkan oleh cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221;. Situasi sosiokultural yang cenderung berpihak pada maskulinitas pada akhirnya akan menyeret perempuan sebagai korban ketimpangan gender, sebagaimana dipaparkan pada bagian akhir cerpen &#8220;Anak Ibu&#8221; yang akan dikutipkan berikut ini</p>
<p>&#8220;Tidak pulang? Tugas luar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aduh, Gusti!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde Mursid, Paklikmu, Herry &#8230; hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu biasa. Biasa sekali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita. Belajar bertahan! Kuat! Lihat, ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana, Ibu tetap di sini &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Bapak tidak pernah kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-adikmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku bukan Ibu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak bisa, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuat sampai tua. Sampai mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bu &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik melepaskan diri dari suami. Aib itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini anak Ibu. Kau pasti tidak ingin Ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan? Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam &#8230; Apa susahnya? Apa?&#8221; (<em>Kompas</em>, 2006)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagian akhir cerpen itu mengimplikasikan bahwa  perempuan dalam pandangan sang ibu  harus berperilaku dan bersikap seperti dirinya dalam menghadapi “ulah” suami yang suka “main sana-sini”.  Perempuan harus bertahan, bersabar, dan  berkuat diri meskipun suaminya pergi ke mana-mana dengan perempuan lain,  sebagaimana yang diperlihatkan oleh dirinya dan saudara-saudara  perempuan lainnya. Perbuatan laki-laki seperti yang dilakukan oleh suami sang ibu dan anaknya  itu di mata sang ibu hanyalah suatu penyakit musiman laki-laki yang tidak perlu dirisaukan.  Namun, tokoh anak yang berpikiran moderat tidak dapat menerima pandangan ibunya. Meskipun berontak dan berusaha melawan ibunya tetap saja tokoh anak tidak mampu menaklukkan pandangan ibunya  karena tokoh  ibu yang merupakan produk  tradisional  dengan latar belakang kekuatan ideologi gender yang telah berurat- berakar   tidak mudah dirobohkan dalam sekejap. Dengan demikian, lingkungan atau sosiokultural yang berpihak pada maskuliinitas tetap saja menyeret perempuan sebagai korban ketidakadilan  gender.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Simpulan </strong></p>
<p>Pemaparan singkat dalam subbabagian  “Anak yang Menjadi Bayang-Bayang Ibu”  dalam cerpen Reda Gaudiamo &#8220;Anak Ibu&#8221;  secara tegas mengimplikasikan  sosok seorang anak yang kepribadiannya tersita dan terjajah oleh dominasi sang ibu. Cerpen ini sekaligus juga memaparkan masalah ketimpangan gender, sebagaimana terungkap dalam penggalan bagian akhir cerpen yang telah dikutipkan.  Biarpun sang suami selingkuh dengan perempuan lain, si anak oleh ibunya &#8220;diwajibkan&#8221; untuk tabah dan menerima saja kenyataan itu. Hal itu sesungguhnya merupakan &#8220;kewajiban&#8221; yang mengungkung perempuan dalam suatu ketimpangan gender. Namun, di sisi lain cerpen ini juga merefleksikan pandangan sosiokultural yang &#8220;mewajibkan&#8221; seorang istri untuk tabah dalam menghadapi tingkah dan ulah suami yang bagaimanapun.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Budianta, Melani. 1998. “Sastra dan Ideologi Gender”. Jakarta: <em>Horison</em> XXXII/4.</p>
<p>Djajanegara, Soenarjati. 2003. <em>Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar</em>.</p>
<p>Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>Fakih, Mansoer. 1996. <em>Menggeser  Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial.</em></p>
<p>Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Gaudiarmo, Reda. 2006. “Anak Ibu”. Jakarta: Kompas Minggu, 6 Agustus 2006.</p>
<p>Gibran, Kahlil. 2009. <em>Syair-Syair Cinta: Sajak-Sajak Kahlil Gibran</em>. Yogyakarta: Narasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=49&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/dominasi-ibu-terhadap-anak-dalam-cerpen-%e2%80%9canak-ibu%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MARAKNYA KARYA SASTRA YANG MENGUPAS PERSOALAN SEKSUALITAS DAN TUBUH  DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN PADA ERA REFORMASI</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/faktor-faktor-yang-memengaruhi-maraknya-karya-sastra-yang-mengupas-persoalan-seksualitas-dan-tubuh-dalam-kesusastraan-indonesia-modern-pada-era-reformasi/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/faktor-faktor-yang-memengaruhi-maraknya-karya-sastra-yang-mengupas-persoalan-seksualitas-dan-tubuh-dalam-kesusastraan-indonesia-modern-pada-era-reformasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[kesusastraan Indonesia modern]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Nenden Lilis Aisyah Abstrak &#160; Penelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Maraknya Karya Sastra yang Mengupas Persoalan Seksualitas dan Tubuh dalam Kesusastraan Indonesia Modern pada Era Reformasi”. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena yang terjadi dalam Kesusastraan Indonesia pada era Reformasi dengan maraknya karya sastra yang mengetengahkan dan mengupas seksualitas dan tubuh. Penelitian ini ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=47&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nenden Lilis Aisyah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penelitian ini berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Maraknya Karya Sastra yang Mengupas Persoalan Seksualitas dan Tubuh dalam Kesusastraan Indonesia Modern pada Era Reformasi”.</p>
<p>Latar belakang penelitian ini adalah fenomena yang terjadi dalam Kesusastraan Indonesia pada era Reformasi dengan maraknya karya sastra yang mengetengahkan dan mengupas seksualitas dan tubuh. Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi fenomena tersebut.</p>
<p>Metode yang digunakan dalam penelitian ini secara umum adalah deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dan  wawancara. Teknik pengolahan data menggunakan pendekatan sosiologi sastra.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi maraknya karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh di era Reformasi, yaitu 1) faktor kebijakan Pemerintah era Reformasi, 2) faktor ekonomi, 3) faktor ideologi, dan 4) faktor politik kanoni sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata kunci: Kesusastraan Indonesia Modern, seksualitas, tubuh, Era Reformasi<span id="more-47"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>The research entitles “ The factors Influencing the Booming  of Literary Work Writing about Sexuality and Body Issue on Modern Indonesian Literature in Reformation Era”. </em></p>
<p><em>The background of the research in phenomenon occurring on Indonesian literature in reformation era with the  of literary work performing and concerning about sexuality and body issue. The aim of the research is trying to find factors influencing the phenomenon.</em></p>
<p><em>The applied method is descriptive. The data collection is book research and interview. The data treatment technique uses literary sociological approach.</em></p>
<p><em>The result of the research shows that there are four factors influencing the booming literary work writing about sexuality and body issue in reformation era, namely, (1) government policy factor in reformation era, (2) economic factor, (3) ideological factor, and (4) literary political factor.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word: Indonesian Modern Literature, sexuality, body, Reformation Era</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Karya sastra pada dasarnya adalah pencerminan atau penggambaran suatu zaman. Setiap zaman memiliki persoalan dan kecenderungan yang berbeda-beda. Persoalan dan kecenderungan tersebut akan tercermin dalam karya sastra yang muncul pada zaman itu. Sebagai contoh, kecenderungan karya sastra masa tahun 1920—30-an (Balai Pustaka) berbeda dengan tahun 1945-an. Kecenderungan karya sastra tahun 1920-30-an berisi tentang permasalahan-permasalahan adat dan gap antara kaum tua dengan kaum muda. Hal itu berbeda dengan karya sastra tahun 1945-an yang cenderung berbicara tentang masalah-masalah kemasyarakatan, kemiskinan, pelanggaran HAM, dan lain-lain.</p>
<p>Masih banyak contoh lainnya. Kini, sejak era Reformasi bergulir, ada fenomena penting dalam kesusastraan Indonesia modern, yaitu kecenderungan karya sastra pada tema-tema tentang seksualitas dan tubuh, yang ditandai dengan maraknya karya sastra yang mengupas persoalan seksualitas dan tubuh tersebut. Contohnya ialah novel <em>Saman</em> dan <em>Larung</em> karya Ayu Utami, novel <em>Ode untuk Leopold von Sacher Masoch</em> karya Dinar Rahayu, dan kumpulan cerpen <em>Jangan Main-Main dengan Kelaminmu</em> karya Djenar Maesa Ayu.</p>
<p>Pada masa-masa sebelumnya terdapat pula karya-karya sastra yang mengetengahkan/berisi persoalan seksualitas, tetapi tidak seradikal dan sesemarak pada era Reformasi ini.</p>
<p>Adanya gejala khusus tersebut menimbulkan pertanyaan tersendiri, apa yang menyebabkan atau memengaruhi merebaknya karya-karya demikian? Mengapa karya-karya seperti itu bermunculan secara mencolok pada era Reformasi? Faktor-faktor apa sajakah yang memengaruhinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong penulis untuk meneliti Faktor-faktor apa sajakah yang memengaruhi maraknya karya sastra yang mengupas masalah seksualitas dan tubuh dalam kesusastraan Indonesia modern pada era Reformasi?</p>
<p>Secara lebih terinci, rumusan-rumusan tersebut diuraikan dalam beberapa pertanyaan penelitian, yaitu sebagai berikut,</p>
<p>1)      Apakah maraknya karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah pada era Reformasi?</p>
<p>2)      Apakah hal ini dipengaruhi pula oleh faktor ekonomi yang diusung para penerbit buku?</p>
<p>3)      Apakah terdapat faktor ideologi?</p>
<p>4)      Apakah dipengaruhi oleh faktor media massa dan pembaca, serta adanya faktor-faktor lainnya?</p>
<p>5)      Bagaimanakah bentuk dari semua faktor tersebut?</p>
<p>Tulisan ini bertujuan mengetahui faktor-faktor tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif. Adapun teknik pangumpulan datanya, selain dengan studi pustaka, ialah juga dengan wawancara. Teknik pengolahan data menggunakan pendekatan sosiologi sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Kajian Pustaka</strong></p>
<p>Kesusastraan Indonesia Modern, yang dimulai dari kurun waktu yang dimulai dari babak awal Reformasi (1998) hingga penelitian ini dibuat, memperlihatkan suatu fenomena, yaitu fenomena berupa maraknya ekspresi seksual dalam beragam teks sastra. Munculnya fenomena ini menimbulkan perdebatan tersendiri di masyarakat. Ada yang merasa risau dan mencerca keberadaannya. Ada pula yang membelanya karena yakin dengan pendapat bahwa karya-karya tersebut telah memberi kontribusi bagi perkembangan kesusastraan Indonesia dengan mutu pengucapannya dan penggalian tema-tema di dalamnya.</p>
<p>Berbagai kajian telah dilakukan terhadap teks-teks sastra tersebut, baik dalam bentuk penelitian-penelitian di perguruan-perguruan tinggi, semacam skripsi ataupun dalam berbagai artikel jurnal atau media massa lainnya, dan dalam bentuk buku, seperti terkumpul dalam bunga rampai <em>Seks, Teks, Konteks</em><strong> </strong>yang diterbitkan Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.</p>
<p>Penelitian ini tidak melakukan kajian terhadap teks sastranya, tetapi memanfaatkan hasil kajian-kajian teks tersebut beserta tanggapan-tanggapannya, termasuk perdebatan-perdebatan di seputar persoalan itu seperti digambarkan sebelumnya. Kajian pun dilakukan  terhadap kebijakan sosial-politik Pemerintah pada era Reformasi, penerbit, pengarang, pembaca, media massa, baik yang terkumpul dari hasil studi pustaka, maupun dari wawancara.</p>
<p>Adapun konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1. Seksualitas dan Tubuh</strong></p>
<p><strong>2.1.1 Pengertian</strong></p>
<p>Persoalan seksualitas dan tubuh telah menjadi objek kajian berbagai pihak. Persoalan tersebut terkait dengan berbagai hal dan pengertiannya tidak selalu sederhana. Dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> (1995: ) seksualitas diartikan 1) ciri, sifat, atau peranan seks, 2) dorongan seks, dan 3) kehidupan seks. Lebih tegas dari pengertian tersebut Ann Oakley menyebutkan bahwa seksualitas mendeskripsikan keseluruhan aspek kepribadian yang berhubungan dengan perilaku seksual. Patricia Spencer Fawnce dan Susan Phippps-Yonas mengatakan bahwa seksualitas mencakup kegiatan yang paling manusiawi yang tidak harus bertujuan untuk memenuhi tugas reproduksi dan bahwa kenikmatan bukan satu-satunya serta bukan pula tujuan utama dari hubungan seks antarmanusia. Dengan demikian, seks bukan sekadar kegiatan atau penampilan kinerja atau prestasi, melainkan cara berkomunikasi dan berekspresi. Adapun pengertian seksualitas dari Jackson dan Scott (1996) adalah hasrat, praktik, ataupun identitas yang membawa/mengandung signifikansi erotis. Definisi ini mengisyaratkan keterkaitan seksualitas  yang berhubungan dengan aspek personal dan sosial.</p>
<p>Jika memperbincangkan seksualitas, sesungguhnya kita memperbincangkan hal yang bersifat tidak sederhana dan kerap bermasalah sebab pada satu sisi kita berbicara hal yang bersifat pribadi dan berdampak pribadi, yakni yang berupa hasrat. Sementara itu, di dalamnya juga ada hal-hal yang bersifat sosial dan berdampak sosial, seperti praktik dan identitas.</p>
<p>Bahwa seksualitas memiliki keterkaitan dengan aspek sosial telah dibuktikan oleh Michel Foucoult. Foucoult melihat bahwa seksualitas sesungguhnya merupakan suatu etisitas yang terikat pada jejak sejarahnya. Seksualitas, menurutnya adalah suatu konstruksi sejarah. Oleh karena itu, batasan atau definisi seksualitas tidak kaku dan selalu berpeluang untuk redefinisi dan rekonstruksi. Seksualitas sebagai konstruksi sosial mengindikasikan adanya relasi-relasi sosial yang ada di dalam dan mengikatnya (Noorman, 2004:43).</p>
<p>Dengan demikian, seksualitas juga pada dasarnya adalah konstruksi sosial. Hal ini telah terbukti dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryakusumah (1996) mengenai kontrol negara (Pemerintah Orde Baru) terhadap seksualitas.</p>
<p>Dalam penelitian ini, seksualitas yang dimaksud tentunya menyangkut kedua aspek tersebut, yaitu personal dan sosial.</p>
<p>Adapun tubuh yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jasmani atau raga manusia. Menurut Faruk (2004), tubuh ini sesungguhnya adalah identitas yang paling niscaya dan paling alamiah dari manusia sebagai pribadi. Tubuh, akhir-akhir ini banyak muncul dalam berbagai ekspresi teks sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1.2 Sepintas Sejarah tentang Seksualitas dan Tubuh dalam Ekspresi Sastra di Indonesia</strong></p>
<p>Prabasmoro (2004:92) menyatakan bahwa kebudayaan Indonesia secara keseluruhan membangun citra seks dan seksualitas sebagai wacana yang seharusnya sangat personal, yang tidak semestinya dibuka atau dibicarakan di depan umum.</p>
<p>Benarkah hal itu? Jika kita menengok ke belakang, yaitu pada zaman kesusastraan lama kita, apa yang dinyatakan Prabasmoro itu tidak sepenuhnya benar. Pengupasan atau pengetengahan seksualitas dan tubuh dalam kesusastraan sesungguhnya bukan hanya milik sastra di zaman kini. Dalam sastra tradisional atau sastra lama pengetengahan masalah tersebut sudah terjadi, tetapi tidak menimbulkkan reaksi seperti sekarang. Sastra zaman lama adalah sastra anonim. Media yang digunakan bersifat lisan dengan khalayak yang telah memiliki persiapan jiwa. Artinya ialah publiknya merupakan publik yang intim.</p>
<p>Seperti dinyatakan Mohamad (1981:11), kesusastraan lama, selain memiliki khalayak yang intim, juga bersifat homogen dan lebih toleran terhadap penggambaran seksual karena rasa aman dari gangguan perubahan serta rasa yang pasti tentang diri sendiri. Dalam keadaan semacam itu pengarang serta pembaca/pendengar mempunyai prerogratif untuk mengendurkan yang amat kaku serta mengembangkan kehidupan fantasi mereka dengan gembira, tanpa ketegangan. Dalam keadaan semacam itu penggambaran seksualitas dapat tumbuh sedemikian rupa hingga kebirahian terlukis secara wajar, menyenangkan, dan indah.</p>
<p>Penggambaran tersebut, misalnya, terdapat dalam cerita Panji <em>Malat</em> dalam versi Bali, atau pada karya <em>Gotoloco</em> di Jawa. Dalam Gotoloco penggambaran seksualitas itu dekat dengan perlambangan mistik. Di Sunda terdapat cerita Kabayan yang juga mengetengahkan seksualitas secara wajar.</p>
<p>Masuk pada sastra modern, penggambaran tersebut bukan tidak ada, tetapi pada umumnya pengarang dalam sastra modern seolah terbebani tatkala mereka harus mengemukakan secara jujur tentang nafsu birahi. Di sekeliling mereka berdiri sensor, organisasi massa, pengadilan, dan rambu-rambu moralitas. Para pengarang akhirnya lebih banyak memilih tema-tema lain, seperti kritik sosial. Jika pun ada penggambaran seksualitas, penggambaran itu, seperti dapat kita lihat pada karya-karya N.H. Dini dan Ahmad Tohari, ditulis secara metaforis.</p>
<p>Hal itu berbeda dengan penggambaran seksualitas yang ditulis oleh pengarang yang muncul pada era Reformasi ini. Penggambaran tersebut dapat dikatakan radikal. Tabu-tabu masyarakat (seperti dalam pengucapan alat kelamin) ditabrak. Bahkan, hasrat dan adegan persetubuhan diketengahkan dan digambarkan dengan tidak segan-segan. Tidak hanya diketengahkan, persoalan seksualitas dan tubuh itu sendiri adalah tema yang dikupas para pengarang tersebut, termasuk seksualitas yang bersifat abnormal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.2 Era Reformasi</strong></p>
<p>Era Reformasi adalah suatu era dalam sejarah/perkembangan politik pemerintahan di Indonesia yang ditandai oleh pernyataan lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaannya sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998. Soeharto menyatakan lengser dari kedudukannya tersebut atas desakan berbagai komponen rakyat Indonesia yang perjuangannya dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan mahasiswa di seluruh Indonesia dalam sebuah gelombang besar aksi demo yang meminta Soeharto segera meletakkan jabatannya. Berhentinya Soeharto sebagai presiden tersebut sekaligus menjadi tanda runtuhnya kekuasaan Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.</p>
<p>Era ini muncul akibat berbagai ketidakpuasan dan kekecewaan rakyat Indonesia terhadap berbagai kebijakan dan perilaku para penguasa Orde Baru yang dianggap tidak lagi memedulikan keinginan dan kepentingan rakyat. Hal-hal yang diprotes dari kebijakan dan perilaku Pemerintah Orde Baru tersebut adalah kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) serta sikap represif terhadap rakyat dengan pembatasan berbagai kebebasan berpendapat bagi seluruh rakyat Indonesia. Pencekalan terhadap tokoh-tokoh yang vokal, pelarangan pengedaran buku-buku yang dianggap membahayakan Pemerintah, pembredelan surat kabar, dan berbagai kebijakan lainnya yang berhubungan dengan pola pengaturan pemerintahan dan tatanan sosial yang dianggap merugikan masyarakat mewarnai era Orde Baru ini.</p>
<p>Era Reformasi bercita-cita mengubah dan memperbaiki keadaan-keadaan tersebut. Pada era ini, keran kebebasan berbicara dan berpendapat mulai dibuka, salah satunya dengan tidak lagi dipersyaratkan SIUPP untuk penerbitan media massa, dibubarkannya Departemen Penerangan (termasuk badan sensor di dalamnya), diberlakukannya asas desentralisasi yang lebih memberikan kebebasan bagi masyarakat mengelola daerahnya masing-masing, dan otonomi daerah.</p>
<p>Kebijakan-kebijakan tersebut tentunya menimbulkan berbagai imbas dalam kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan sastra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3 Sosiologi Sastra</strong></p>
<p>Sosiologi sastra adalah pendekatan yang mengkaji hubungan karya sastra dengan kenyataan sosial (masyarakat). Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa karya sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, dalam mengkaji dan memahaminya, diperlukan pula kajian dari segi kemasyarakatannya.</p>
<p>Ada berbagai jenis kajian dalam menelaah hubungan karya sastra dengan kehidupan sosial masyarakat ini.</p>
<p>Wellek dan Waren (1995:111) mengemukakan tiga jenis pendekatan yang berbeda dalam sosiologi sastra. Pertama adalah sosiologi pengarang yang memasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain, yang menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra. Kedua adalah sosiologi karya sastra yang memasalahkan isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga adalah sosiologi sastra yang memasalahkan pembaca dan pengaruh sosial karya sastra.</p>
<p>Di samping ketiga jenis pendekatan tersebut, masih ada pendekatan lainnya seperti yang dikemukan oleh Ian Watt. Dalam buku <em>Sosiologi Sastra</em>: <em>Sebuah Pengantar</em> (1978), Damono menguraikan tiga pendekatan dari Watt tersebut. Pendekatan yang dimaksud ialah berikut ini: Pertama, konteks sosial pengarang. Hal ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Dalam pokok ini termasuk pula faktor-faktor sosial yang dapat memengaruhi pengarang sebagai perseorangan di samping memengaruhi isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti dalam pendekatan ini adalah bagaimana pengarang mendapatkan mata pencahariannya, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. <em> </em>Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Yang terutama mendapat perhatian adalah sejauh mana sastra mencerminkan masyarakat pada waktu karya sastra itu ditulis, sejauh mana sifat pribadi pengarang memengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikannya, dan sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang  dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Ketiga, fungsi sosial sastra. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang menjadi perhatian, yaitu sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perombak masyarakatnya, sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur, dan sejauh mana terjadi sintesis antara kedua hal tersebut.</p>
<p>Tujuan tulisan ini adalah untuk mengkaji hubungan sastra dengan masyarakat. Penelitian yang penulis lakukan tidak terbatas pada sosiologi pengarang saja, sosiologi karya sastra saja, atau sosiologi pembaca saja. Penelitian sosiologi sastra yang penulis lakukan melibatkan dan menggunakan prosedur dari ketiga metode sosiologi tersebut karena penelitian ini mengkaji interaksi antara realitas sosial pelaku sastra dan juga dengan karya sastranya dan pergulatan di antara ketiganya. Lebih khusus lagi sosiologi sastra yang digunakan adalah model Eagleton. Dengan model Eagleton ini sosiologi sastra yang akan penulis lakukan mencakup produksi, distribusi, pengarang, pembaca, dan lain-lain yang terkait dengan penulisan karya sastra yang dianggap memengaruhi penulisan karya sastra tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Deskripsi Hasil Penelitian dan Pembahasan</strong></p>
<p>Dari penelitian yang penulis lakukan akhirnya dapat diketahui faktor-faktor yang memengaruhi maraknya karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh dalam kesusastraan Indonesia modern pada era Reformasi seperti diuraikan di bawah ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.1 Faktor Kebijakan Pemerintah Era Reformasi</strong></p>
<p>Foucoult (1998), dalam bukunya yang terkenal, yaitu <em>Seks dan Kekuasaan</em>, menegaskan bahwa seksualitas dikonstruksi secara sosial. Seksualitas sangat berhubungan dengan kekuasaan.</p>
<p>Dalam pandangan Foucoult seksualitas adalah produk historis suatu sistem pengawasan, kontrol, dan ekspresi dari yang membangun suasana sosial. Segala unsur represi, yakni pelarangan, penolakan, penyensoran, dan penyangkalan merupakan mesin sentral dalam konstruksi sosial, termasuk konstruksi seksualitas.</p>
<p>Secara lebih detil, Foucoult, seperti digambarkan kembali oleh Pramodharwani, mengemukakan ciri-ciri bagaimana kekuasaan mengonstruksi seksualitas ini, yaitu sebagai berikut.</p>
<ol>
<li>Ada hubungan negatif (<em>the negative relation</em>), yakni berupa penyingkiran, pengabaian,      penolakan, dan sejenisnya.</li>
<li>Ada pemaksaan diberlakukannya aturan tertentu (<em>the insistence of the rule</em>). Dalam      hal ini seks diuraikan berdasarkan hubungannya dengan hukum, seperti      tampak dalam aturan-aturan berupa sistem biner, yaitu halal-haram dan      boleh-terlarang.</li>
<li>Ada siklus larangan (<em>the cycle of prohibition</em>), yaitu kekuasaan hanya memfungsikan      hukum larangan. Tujuannya sederhana, yaitu agar seks menyangkal dirinya      sendiri.</li>
<li>Ada logika sensor (<em>the logis of cencorship</em>). Sensor ini mengejawantah dalam tiga      bentuk, yaitu: 1) “itu” tidak boleh; 2) menghalangi “itu” untuk dikatakan;      dan 3) menyangkal bahwa “itu” ada.</li>
<li>Ada keseragaman perangkat (<em>the uniformtly of the apparatus</em>). Kekuasaan atas seks      diterapkan secara merata di segala tataran; dari atas ke bawah; dalam      keputusan global ataupun intervensi yang bersifat sangat halus.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, pendapat Foucoult tersebut mendapat penegasan, salah satunya dari penelitian Suryakusumah (1996). Penelitian ini menjelaskan bagaimana negara (Pemerintah Orde Baru) melakukan kontrol terhadap seksualitas.</p>
<p>Penelitian Suryakusumah tersebut, dalam kaitan dengan penelitian ini, sehubungan dengan merebaknya karya-karya yang mengupas seksualitas dan tubuh di era pasca-Orde Baru (era Reformasi) menjadi penegasan bahwa ada pengaruh dari kebijakan penguasa di era Reformasi terhadap merebaknya karya sastra-karya sastra yang demikian.</p>
<p>Sesuai dengan tuntutan masyarakat untuk Reformasi Indonesia, dalam berbagai kebijakannya pemerintah tidak seketat pada masa Orde Baru dalam mengontrol kehidupan masyarakat. Pada era Reformasi pun Pemerintah lebih menghargai keberagaman, kebebasan berpendapat, dan sebagainya. Sementara pada masa Orde Baru, yang terjadi adalah penyeragaman sehingga banyak hal dari keberagaman aspek-aspek kehidupan masyarakat ditekan. Masyarakat pada masa Reformasi ini tidak dibayangi ketakutan tatkala ingin mengekspresikan apa pun yang ingin diekspresikannya.</p>
<p>Dicabutnya pemberlakuan SIUPP (izin penerbitan pers), dilonggarkannya peran Badan Sensor, dicabutnya berbagai larangan terhadap peredaran buku-buku yang semula dilarang pada era Orba, seperti karya-karya Pramoedya Ananta Toor, merupakan bukti dari kelonggaran-kelonggaran kontrol yang diberlakukan Pemerintah era Reformasi ini.</p>
<p>Atmosfir ini telah menjadi salah satu faktor yang membuat karya-karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh secara radikal marak pada era ini. Atmosfir ini telah menjadikan pengarang tidak takut dan ragu-ragu untuk menyuarakan apa yang ingin disuarakannya, termasuk masalah seksualitas yang pada era sebelumnya cenderung dibungkam melalui berbagai aturan dan sensor.</p>
<p>Apa yang dinyatakan Dinar Rahayu, pengarang novel <em>Ode</em> <em>Leopold von Socher Masoch </em>(2002), yang mengupas tema seksualitas yang masokistis, membuktikan pernyataan tersebut. Dalam wawancara dengan penulis tentang apakah penulisan novel itu dipengaruhi oleh kebijakan di era Reformasi, Dinar mengakui bahwa perubahan iklim yang dirasakannya dalam era Reformasi memengaruhi penciptaan novelnya itu. Dinar mengakui bahwa dengan Reformasi ini, alam bawah sadarnya dapat merasakan ada iklim yang berubah yang memungkinkan pengarang dapat mengemukakan secara lebih leluasa apa yang ingin dikemukakannya (lihat transkrip wawancara dengan Dinar Rahayu yang dilampirkan dalam laporan penelitian ini). Novel itu sendiri ditulis dan diterbitkan pada era Reformasi ini (2003).</p>
<p>Pengaruh berbagai situasi dan kebijakan yang terjadi pada era Reformasi terhadap maraknya karya sastra yang mengupas seksualitas juga diakui Taufiq Ismail. Dalam sebuah artikel di harian <em>Seputar Indonesia</em> No. 329/Tahun ke-1 yang berjudul “Gerakan Syahwat Merdeka”, Ismail dengan penuh nada kekhawatiran menulis:</p>
<p>Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun bersusun dengan suatu keteraturan. Mulai 1999, ketika Reformasi meruntuhkan represi 39 tahun Gabungan Zaman Demokrasi terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia…</p>
<p>Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengkritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP, dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilu bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sewindu. Tapi…tagihan rekening Reformasi ternyata mahal sekali.</p>
<p>Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuhsuburkan kelompok permisif dan adikatif negeri kita, yang sejak 1999 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut Ismail, salah satu komponen dari “Gerakan Syahwat Merdeka” itu adalah penulis, penerbit, dan propagandis buku-buku yang mengetengahkan seksualitas, yang disebut Ismail dengan buku syahwat? Sastra dan? Sastra yang ditulis para perempuan aliran SMS (sastra mazhab selangkang) (harian<em> Seputar Indonesia</em> No. 329/Tahun ke-1).</p>
<p>Bahkan, menurut Ismail, gerakan tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi didukung suatu jaringan global dengan kapital raksasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.2  Faktor Ekonomi</strong></p>
<p>Kehadiran sebuah buku karya sastra pada ranah politik tentulah tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi ada peran pihak lain, yakni peran penerbit. Dalam menerbitkan sebuah buku, setiap penerbit tentulah memiliki kebijakan dan kriteria-kriterianya masing-masing sesuai dengan filosofi mereka. Namun, seperti diungkapkan Clark (1998:40—41), salah satu alasan penerbit membuat buku adalah untuk mencari keuntungan dari penjualan buku. Apakah faktor ekonomi pihak penerbit ini juga turut memengaruhi maraknya karya sastra para perempuan yang mengupas seksualitas dan tubuh?</p>
<p>Dalam wawancara dengan <em>Kompas</em> (Minggu, 7 Maret 2004), Djenar Maesa Ayu mengakui bahwa pengarang-pengarang seperti dirinya mulai dianggap sebagai <em>selling point</em> oleh penerbit, yang sangat membantu penjualan buku-buku fiksi. Diakui pula bahwa antusiasme para pengarang perempuan sangat ditunjang oleh mekanisme bisnis buku sastra yang sedang memperoleh pembaca-pembaca baru di luar komunitas sastra sebelumnya. Menurut Ayu, industrialisasi sastra ini dipicu oleh perubahan pandangan di pihak penerbit.</p>
<p>Perubahan pandangan tersebut, ditambahkan oleh pengarang perempuan lain, Nukila Amal, dalam wawancara yang sama, terjadi karena sastra tidak lagi dianggap menara gading yang pakem dan tua sebab sudah lebih bernilai populer. Hal itu terjadi karena persona beberapa dari perempuan pengarang tersebut sangat bersentuhan dengan budaya pop yang efeknya bagi anak muda, kini sastra itu asyik dibaca dan perlu saja, tanpa perlu khawatir dianggap kutu buku dan kurang keren. Ayu Utami, pengarang novel <em>Saman,</em> mengakui bahwa salah satu hal yang menarik dari novelnya, <em>Saman</em>, ialah  memang eksploitasi terhadap dunia seks (“Bayang-Bayang Perempuan Pengarang”, <em>Kompas</em>, 7 Maret 2004).</p>
<p>Pengaruh faktor ekonomi yang tampak pada penerbitan buku karya-karya sastra para perempuan pengarang yang telah menjadi bagian dari industrialisasi atau bisnis buku ini terlihat pula dari penjualan buku-buku tersebut yang terbilang fantastis untuk ukuran penjualan karya sastra Indonesia selama ini. Buku Djenar Maesa Ayu, <em>Jangan Main-Main dengan Kelaminmu</em>, telah mengalami cetak ulang dalam dua hari. Novel <em>Saman </em>karya Ayu Utami dari awal terbitnya pada tahun 1999 hingga 2004 telah mengalami cetak ulang hingga 23 kali dengan mengedarkan hampir 100.000 eksemplar. Buku-buku karya Fira Basuki dalam waktu sangat singkat dapat mengalami cetak ulang antara dua sampai empat kali. Novel <em>Mahadewa-Mahadewi</em> karya Nova Riyanti Yusuf dalam waktu tidak terlalu lama telah dicetak lebih dari 12.000 eksemplar (<em>Kompas</em>, 7 Maret 2004).</p>
<p>Bahkan, untuk kepentingan ekonomi ini, ada trik-trik khusus yang digunakan, baik oleh pengarang maupun penerbit, untuk mendongkrak penjualan buku itu. Sebagai contoh, Djenar Maesa Ayu meluncurkan buku <em>Jangan Main-Main dengan Kelaminmu</em> secara “gegap gempita” (<em>Kompas</em>, 7 Maret 2004). Selain itu digunakan pula cara-cara dengan pem-<em>blow-up-</em>an lewat media massa. Contoh untuk hal ini dapat dilihat pada saat Ayu Utami memenangkan Sayembara DKJ untuk novelnya <em>Saman</em>. <em>Kompas</em>, saat itu (Minggu, 5 April 1998) menurunkan berita tersebut secara besar-besaran dengan liputan tentang kemenangan tersebut disertai pemuatan artikel dari para kritikus/ahli sastra Indonesia ternama yang isinya penuh dengan sanjungan untuk novel tersebut.</p>
<p>Adanya peran media massa ini diakui pula oleh kritikus sastra dan Guru Besar Universitas Indonesia, Melani Budianta. Dalam wawancara dengan HU <em>Kompas</em>, Melani Budianta menyatakan:</p>
<p>Selain hasil karya yang menarik dan mempunyai sensasi baru, industri media massa juga telah semakin besar. Toko buku semakin banyak. Ketenaran perempuan pengarang juga ditunjang serangkaian liputan dan promosi menarik yang diselenggarakan oleh industri tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(“Industri Lahirkan Perempuan Pengarang Baru” <em>Kompas, 7 Maret 2004).</em></p>
<p>Apa yang dinyatakan Melani Budianta mendapat pembenaran dari pengarang Ayu Utami, seperti dikutip HU <em>Kompas</em> berikut.</p>
<p>Ketika saya memenangi Sayembara Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998, ada perlakuan lain terhadap perempuan pengarang. Tiba-tiba kami ditempatkan sebagai selebriti. Profesi sebagai penulis novel dilihat sebagai posisi yang sangat gemerlap dan sering diliput media.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(“Industri Lahirkan Perempuan Pengarang Baru” <em>Kompas, 7 Maret 2004).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3  Faktor Ideologi</strong></p>
<p>Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kehadiran karya sastra-karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh telah menghadirkan kajian-kajian terhadap teks tersebut. Hasil kajian para kritikus sastra terhadap karya-karya tersebut mendeskripsikan bahwa teks-teks sastra tersebut mengusung ide feminisme. Para kritikus pada umumnya melihat bahwa pengaktualan seksualitas dan tubuh dalam karya-karya para perempuan pengarang ini merupakan pendobrakan terhadap nilai dan sistem patriarki yang selama ini telah menstereotipkan seksualitas dan tubuh perempuan sedemikian rupa dan melakukan kontrol atasnya untuk melanggengkan kekuasaan patriarki tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh, keterusterangan penyebutan bagian tubuh yang selama ini dianggap tabu bagi perempuan oleh masyarakat, yang dilakukan pengarang perempuan dalam karyanya, seperti dilihat kritikus Afrizal Malna dalam diskusi pada “Fokus Sastra Indonesia 2004” tentang “Sastra Feminis” adalah pendobrakan terhadap pembatasan yang dilakukan masyarakat dengan nilai-nilai yang ditabukan bagi perempuan. Apa yang dilakukan pengarang perempuan tersebut adalah upaya membebaskan stereotip negatif terhadap bagian-bagian tertentu dari tubuh perempuan yang telah dibebani oleh berbagai moralitas. (HU <em>Pikiran Rakyat</em>, 19 Januari 2004). Hal yang sama juga dikemukakan Faruk H.T. (<em>Kompas</em>, 7 Maret 2000).</p>
<p>Contoh lainnya ialah gugatan perempuan yang dianggap bersifat feminis ini adalah pada pandangan masyarakat yang mengharuskan perempuan menjaga keperawanannya yang dianggap sebagai sebuah nilai baku keberhasilan seorang perempuan yang tidak diperuntukkan bagi perempuan itu sendiri karena pada akhirnya keperawanan itu dipersembahkan kepada laki-laki. Secara sepihak perempuan dibebani oleh kewajiban tersebut dan dianggap gagal jika ia tidak dapat menjaganya, dihitung dari rusaknya selaput dara yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak ternilai-hanya untuk membuat perempuan tidak terlalu menyeluruh menjelajahi tubuhnya sendiri karena akan membahayakan sistem patriarki yang memberikan kenyamanan bagi laki-laki (Hanafi, dkk., 2004:i). Contoh pendobrakan terhadap nilai masyarakat tersebut, menurut Manggong dalam penelitiannya (2004), terdapat pada novel <em>Saman</em> karya Ayu Utami lewat tokoh perempuan, Shakuntala, yang merenggut keperawanannya dengan sendok teh, yang ternyata dilihatnya hanya sarang laba-laba merah.</p>
<p>Jika kita membaca secara saksama hasil-hasil kajian para kritikus tentang pengupasan seksualitas dan tubuh pada karya-karya pengarang perempuan itu, dapat disimpulkan bahwa faktor yang turut memengaruhi penulisan karya-karya tersebut adalah ideologi feminisme. Ideologi feminisme yang paling berpengaruh dalam pandangan para perempuan ini adalah aliran feminisme radikal. Feminisme radikal melihat bahwa sumber penindasan perempuan oleh sistem patriarki adalah aspek biologis (tubuh)-nya. Agar perempuan terbebas dari penindasan tersebut, yang harus dilakukan perempuan adalah revolusi biologis (tubuh) tersebut.</p>
<p>Selain ideologi feminis, ideologi lain yang disinyalir memengaruhi merebaknya karya-karya sastra jenis tersebut adalah imperialisme dan kapitalisme yang ingin menghancurkan budaya Indonesia. Imperialisme dan kapitalisme ini menyusup lewat lembaga-lembaga tertentu dengan pemberian sejumlah dana bagi kegiatan lembaga-lembaga tersebut dengan catatan mengikuti ideologi para imperialis dan kapitalis ini. (hal ini ditengarai oleh Taufiq Ismail dalam artikel “Gerakan Syahwat Merdeka” (HU <em>Seputar Indonesia</em> No. 359/Tahun ke-1), Wowok Hesti Prabowo dalam <em>Joernal Sastra Boemi Poetra</em>, serta Saut Situmorang dalam jurnal yang sama dan juga dalam artikelnya pada Jurnal <em>Cerpen Indonesia</em>. Akan tetapi, pernyataan-pernyataan mereka tidak disertai data-data yang detail dan menguatkan sehingga untuk menyatakan ada faktor imperialisme dan kapitalisme dalam merebaknya karya-karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh ini merupakan hal yang terlalu dini. Masih perlu penelitian yang lebih dalam untuk menyatakan hal tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.4 Faktor Politik Sastra</strong></p>
<p>Dalam perjalanan kesusastraan di Indonesia kehadiran wawasan estetika karya sastra yang berkembang tidak dapat dilepaskan dari peran pihak-pihak yang dianggap memiliki otoritas sastra. Kritikus sastra H.B. Jassin sejak awal perjalanan kesusastraan Indonesia menjadi acuan pembaptisan layak/tidaknya kesastrawanan dan kebernilaisastraan suatu karya sastra sampai-sampai beliau dijuluki <em>Paus Sastra Indonesia</em>. Pada perjalanan berikutnya sejumlah media yang diredakturi sastrawan-sastrawan ternama, antara lain, majalah sastra <em>Horison</em> menjadi acuan berikutnya. Seorang pengarang baru akan merasa dan diakui kesastrawanannya jika karyanya berhasil menerobos media tersebut dengan dimuatnya karya itu.</p>
<p>Seiring dengan peran media massa berupa surat kabar yang banyak membuka ruang untuk sastra, otoritas pun beralih pada media-media tersebut, terutama pada media yang memiliki bonafiditas tersendiri, baik dalam kualitas karya sastra yang dimuat, maupun pemberian honorariumnya. Rubrik budaya/sastra di HU <em>Kompas</em>, baik yang terbit setiap minggu, maupun setiap bulan, melalui lembaran <em>Bentara</em> sempat menjadi target para sastrawan dalam publikasi karya-karyanya. Ada semacam prestise tersendiri jika dapat dimuat di media itu. Hal ini terjadi, selain karena sistem seleksinya yang lumayan ketat, juga karena setiap tahun <em>Kompas</em> memberi penghargaan terhadap karya-karya cerpen terbaik.</p>
<p>Selain berupa media, otoritas pun dipegang oleh lembaga-lembaga yang kerap menyelenggarakan <em>even-even</em> sastra, antara lain DKJ. Di luar lembaga Pemerintah, Komunitas Utan Kayu, dengan sejumlah perannya, baik dengan penerbitan jurnal, maupun penyelenggaraan <em>even-even</em> sastra yang berskala internasional, turut menjadi  alasa pengarang Indonesia. Seolah ada perasaan merasa sah sebagai sastrawan apabila pernah diundang komunitas ini atau karyanya dimuat dalam jurnal mereka.</p>
<p>Lembaga-lembaga yang dianggap sebagai pemegang otoritas sastra itu tentu saja hadir dengan sejumlah kriteria estetikanya, yang hal ini akan berpengaruh pada perkembangan sastra secara umum. Ada estetika yang diusung oleh otoritas tertentu yang didasarkan atau menjadi acuan bagi para pengarang yang ingin diakui pemegang otoritas tersebut. Dengan kriteria estetika yang dikuasai oleh pihak tersebut, komunitas sastra pun akan berdasar pada kriteria estetika yang diusung oleh pihak tersebut. Inilah yang kemudian oleh Situmorang (2007:385) disebut <em>politik kanon sastra</em>.</p>
<p>Bahkan, dalam pandangan Saut, Komunitas Utan Kayu paling serius berambisi untuk mendominasi dunia sastra Indonesia.</p>
<p>Berkaitan dengan karya-karya sastra para perempuan pengarang yang mengupas seksualitas dan tubuh, banyak pihak menilai bahwa merebaknya karya-karya demikian tidak lepas dari politik kanoni sastra yang dilakukan komunitas ini.</p>
<p>Ayu Utami, pengarang <em>Saman</em>, seperti diberitakan HU <em>Kompas </em>(5 April 1998) berasal dari Komunitas Utan Kayu, yang di dalamnya juga terdapat Teater Utan Kayu, Galeri Lontar yang menyelenggarakan peristiwa kesenian, keredaksian jurnal <em>Kalam</em>, dan Institut Studi Arus Informasi. Dalam komunitas ini pun ada sejumlah sastrawan, seperti Sitok Srangenge, Ahmad Sahal, Prasetyohadi, Nirwan Dewanto, dan tentu saja “kepala suku”, yaitu Goenawan Mohamad. Naskah <em>Saman</em> mendapat “penggodokan” di sini (<em>Kompas</em>, 5 April 2004).</p>
<p>Jika kita menengok tulisan Goenawan Mohamad beberapa puluh tahun yang lalu tentang <em>Seks, Sastra, Kita</em>, akan tampak jelas novel <em>Saman</em> merupakan pengejawantahan cita-cita Goenawan Mohamad dalam esainya itu. Cita-cita itu menular pula kepada pengarang-pengarang lainnya, seperti Djenar Maesa Ayu.</p>
<p>Bukti lain dari politik kanoni sastra yang dilakukan oleh Komunitas Utan Kayu adalah pengangkatan sejumlah nama perempuan pengarang dengan bantuan media yang mereka kuasai yang berasal dari komunitas mereka sebagai pengarang sastra Indonesia yang memiliki mutu yang luar biasa. Nukila Amal, Linda Cristanty, misalnya, hadir lewat pengangkatan nama oleh komunitas ini. Selain itu, anggota komunitas Utan Kayu ini menguasai pula sejumlah media, seperti <em>Kompas</em> dan <em>Koran Tempo</em>.</p>
<p>Politik sastra yang dilakukan komunitas ini merupakan faktor yang turut pula memengaruhi merebaknya karya-karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh dalam kesusastraan Indonesia modern. Sejumlah perempuan pengarang mengakui bahwa mereka menulis terinspirasi oleh Ayu Utami. Dewi Sartika, misalnya mengakui bahwa ia menulis karyanya, <em>Dadaisme, </em>novel yang juga memenangkan Sayembara Penulisan Novel DKJ, karena terinspirasi oleh isi dan gaya penulisan Ayu Utami (<em>Kompas</em>, 7 Maret 2004). Dinar Rahayu pun mengakui bahwa sebelum menulis novelnya,<em> Leopold von Socher Masoch,</em> ia membaca <em>Saman</em> karya Ayu Utami (transkrip wawancara peneliti dengan Dinar Rahayu).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Simpulan</strong></p>
<p>Dari deskripsi dan analisis terhadap berbagai sumber data, baik berupa sumber-sumber pustaka, maupun hasil wawancara tentang faktor-faktor yang memengaruhi maraknya karya-karya sastra yang mengupas seksualitas dan tubuh dalam kesusastraan Indonesia modern dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.</p>
<p>Terdapat empat faktor yang berpengaruh dalam hal tersebut, yaitu: 1) faktor kebijakan Pemerintah pada era Reformasi, 2) faktor ekonomi, 3) faktor ideologi, dan 4) faktor politik sastra. Penelitian ini, meskipun dapat mengungkap faktor-faktor tersebut, karena sumber datanya terbatas, hasilnya belum teramati secara mendalam. Oleh karena itu, dapat dilakukan penelitian yang lebih tajam dengan sumber data yang lebih luas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Boemi Poetra. “Gunawan Pelacur Budaya&#8221;, wawancara dengan Wowok Hesti</p>
<p>Prabowo, edisi 07.</p>
<p>Damono, Sapardi Djoko. 2002. <em>Pedoman Penelitian Sosiologi Sastra</em> Jakarta: Pusat</p>
<p>Bahasa.</p>
<p>Faruk H.T. 2004. “Tubuh, Kebudayaan, dan Seksualitas”. Dalam Hanafi, (ed.)</p>
<p><em>Seks,Teks, Konteks</em>. Bandung: Jurusan Sastra Inggris, Unpad.</p>
<p>Imran, Ahda. “Sastra Feminis dalam Tiga Diskusi”. Dalam HU <em>Pikiran Rakyat, </em>19 Februari 2004.</p>
<p>Ismail, Taufiq. “Gerakan Syahwat Merdeka”. Dalam harian <em>Seputar Indonesia</em> No.</p>
<p>329/Tahun ke-1.</p>
<p><em>Kompas</em>. “Saman, Generasi Baru Sastra Indonesia”. Minggu, 5 April 1998.</p>
<p><em>Kompas</em>. “Kayam: Potret Realitas, Pram: Integritas Tinggi”. 25 April 1998.</p>
<p><em>Kompas</em>. “Bayang-Bayang Perempuan Pengarang”. 7 Maret 2004.</p>
<p><em>Kompas</em>. “Industri Lahirkan Perempuan Pengarang Baru”. 7 Maret 2004.</p>
<p>Mangunwijaya, YB. “Menyambut Roman Saman”. Dalam <em>Kompas</em>, 5 April 1998.</p>
<p>Mohamad, Goenawan. 1981. <em>Seks, Sastra, Kita</em>. Jakarta: Sinar Harapan.</p>
<p>Noorman, Safrina. 2004. “Entik, Enok, serta Seksualitas Mereka” dalam Hanafi (ed.) <em>Seks, Teks, Konteks</em>. Bandung: Jurusan Sastra Inggris, Unpad.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pramodharwadani, Jaleswari. 2004. “Merayakan Tubuh Perempuan”. Dalam Hanafi (ed.) <em>Seks, Teks, Konteks</em>. Jakarta: Jurusan Sastra Inggris, Unpad.</p>
<p>Situmorang, Saut. 2007. “Politik Kanonisasi Sastra Indonesia”. Dalam <em>Jurnal Cerpen</em>, edisi 08.</p>
<p>Yananda, M. Rahmat. 1997. “Sistem Reproduksi karya <em>Best Seller</em>: Kasus Karya Sastra Populer Gramedia Pustaka Utama” (Skripsi). Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.</p>
<p>Transkrip Wawancara dengan Dinar Rahayu.</p>
<p>Transkrip Wawancara dengan Hawe Setiawan.</p>
<p>Suryakusumah, Yulia. 1996.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=47&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/faktor-faktor-yang-memengaruhi-maraknya-karya-sastra-yang-mengupas-persoalan-seksualitas-dan-tubuh-dalam-kesusastraan-indonesia-modern-pada-era-reformasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN PEREMPUAN PENGARANG  DALAM KEHIDUPAN SASTRA INDONESIA</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/kedudukan-perempuan-pengarang-dalam-kehidupan-sastra-indonesia/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/kedudukan-perempuan-pengarang-dalam-kehidupan-sastra-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan pengarang]]></category>
		<category><![CDATA[sastra Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Sarip Hidayat Abstrak Penerbitan karya sastra Indonesia dewasa ini disemarakkan oleh kehadiran karya-karya yang ditulis oleh perempuan pengarang. Perdebatan demi perdebatan yang mengiringi kehadiran mereka begitu sering dilakukan oleh para pemerhati sastra, baik itu kritikus maupun para praktisi sastra. Kehadiran para perempuan pengarang ini tidak dapat dilepaskan pula dari merebaknya kajian dan wacana mengenai feminisme. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=45&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sarip Hidayat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Penerbitan karya sastra Indonesia dewasa ini disemarakkan oleh kehadiran karya-karya yang ditulis oleh perempuan pengarang. Perdebatan demi perdebatan yang mengiringi kehadiran mereka begitu sering dilakukan oleh para pemerhati sastra, baik itu kritikus maupun para praktisi sastra. Kehadiran para perempuan pengarang ini tidak dapat dilepaskan pula dari merebaknya kajian dan wacana mengenai feminisme. Gagasan feminisme yang berasal dari Barat tersebut dihadirkan dalam karya-karya mereka.</p>
<p>Tulisan ini mencoba mengungkapkan dan menelusuri sejarah kehadiran perempuan pengarang dalam khazanah sastra Indonesia sejak berkembangnya sastra Indonesia Modern sampai saat ini. Selain itu, tulisan ini mengkaji pula peran perempuan pengarang dalam kehidupan sastra Indonesia dan perkembangan pemikiran dalam karya-karya mereka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata kunci: perempuan pengarang, sastra Indonesia, feminisme, gagasan.<span id="more-45"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstract</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>The publication of the Indonesian literary work today is adorned by the presence of works that were written by women writers. There are some debates that accompanied with their presence often carried out by the observers of literature either by literature critic and  practitioners. The presence of women writers cannot be released also from spreading their  study and  discourse concerning feminism. The idea of feminism that comes from the West this is produced in their works. This article has tried to tell and investigate the history of the presence of women writers in the Indonesian literature treasury since the literature expansion of Indonesian Modern literature emerged. Moreover, this article also concerned about the role of the women writer in the life of Indonesian literature and the development of thought in their works. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word</em><strong><em>:</em></strong><em> the writer&#8217;s woman, Indonesian literature, feminism, the idea.</em><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Jika dihitung sejak kemunculan Hamzah Fansuri sebagai tonggak dimulainya kehidupan sastra Indonesia, sejarah sastra Indonesia modern telah mengalami berbagai peristiwa dan perkembangan yang sangat dinamis. Hal ini setidaknya tercatat dalam setiap periode sastra yang telah dibuat oleh para pakar sastra dengan berbagai versinya.</p>
<p>Dalam setiap periode sastra tersebut kemudian memunculkan pula para sastrawan yang menjadi ikon dalam setiap zamannya. Kita pun kemudian mengenal Marah Rusli, Armyn Pane, Sanusi Pane, H.B. Jassin, Sutan Takdir Alisyahbana, Pramudya Ananta Toer, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Taufik Ismail, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardojo, Ajip Rosidi, Gunawan Muhamad, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, dan lain-lain sebagai tokoh-tokoh sastra yang memiliki kredibilitas di dunia sastra karena telah mencatatkan diri sebagai sastrawan produktif pada masanya sehingga menjadi referensi kreatif untuk generasi selanjutnya.</p>
<p>Baik penyebutan angkatan maupun periode sastra oleh para kritikus sastra didasarkan pada gerakan sastra yang menghasilkan perkembangan estetika baru di setiap periode sastra. Dalam perkembangan tersebut peranan para sastrawan telah diakui dan tercatat dalam setiap buku sejarah sastra yang telah ditulis. Dengan demikian, para pakar pun mengakui peran yang telah dimainkan oleh setiap tokoh. Sepak terjang mereka dalam kehidupan sastra diyakini telah mengawal sastra ke dalam perkembangan yang dinamis hingga saat ini.</p>
<p>Namun, jika dilihat dalam setiap periode sastra, peran yang dimainkan para sastrawan tersebut lebih banyak didominasi oleh laki-laki. Penulis mencatat hanya sedikit perempuan sastrawan yang hadir di setiap periode sastra yang telah ditulis. Lantas, di mana dan bagaimana peran perempuan sastrawan dalam peta perkembangan sastra Indonesia dari awal lahirnya sastra Indonesia sampai saat ini? Tulisan ini akan mencoba memotret peran dan posisi perempuan sastrawan dalam konstelasi sastra Indonesia. Hal ini berkaitan dengan mulai dominannya peran perempuan sastrawan dewasa ini dalam mengusung perubahan yang signifikan dalam peta kesusastraan Indonesia, terutama orientasi estetis yang dilakukan oleh para perempuan pengarang dalam awal abad XXI ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Perempuan dalam Dominasi Laki-Laki</strong></li>
</ol>
<p>Hadirnya studi mengenai feminisme di tahun 70-an telah menyadarkan sejumlah kalangan mengenai pentingnya memosisikan perempuan pada tempatnya semula. Jauh sebelum paham ini lahir, posisi perempuan di setiap segi kehidupan terkesan lemah dan seolah menjadi warga kelas dua. Mereka selama itu berada di dalam bayang-bayang keperkasaan lelaki. Jika dirunut ke masa silam, posisi perempuan memang demikian adanya. Kita bisa melihat misalnya di tanah Arab sebelum agama Islam mengubah paradigma masyarakat Arab pada waktu itu ketika sistem perbudakan masih menjadi adat kebiasaan. Pada saat itu perempuan diposisikan seperti binatang piaraan yang bisa diperjualbelikan. Kedudukan mereka pun sangat rendah dalam tatanan masyarakat Arab Jahiliyah. Mereka sudah terbiasa dijadikan budak nafsu, alat jual-beli, hadiah persembahan, dan sebagainya.</p>
<p>Di dunia Barat masa lampau pun kedudukan perempuan masih rendah. Pada abad XVIII dan XIX dikenal adanya pembagian wilayah antara laki-laki dan perempuan. Pada masa itu laki-laki berada dalam wilayah umum (<em>public sector</em>), sedangkan perempuan berada dalam wilayah khusus (<em>privat sector</em>). Ideologi pembagian peran tersebut setidaknya dapat kita temukan pada buku-buku sastranya. Menurut ideologi ini wilayah perempuan hanya berada di rumah, memainkan piano, dan menari. Adapun wilayah laki-laki berada di luar rumah, mengurusi pabrik, pasar, dan sebagai <em>gentleman</em>. Ideologi ini semakin menguat sejak era Victoria di Inggris dan di awal terbentuknya masyarakat modern.</p>
<p>Di Indonesia sendiri kedudukan perempuan di masa lampau hampir sama dengan keadaan di dunia pada saat itu. Budaya patriarki di zaman kerajaan yang kemudian masih diwariskan hingga saat ini telah menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua.</p>
<p>Akibat adanya ketimpangan yang dialami oleh perempuan tersebut, timbul perlawanan yang berujung pada perlunya kehadiran sebuah studi mengenai hal ini yang kemudian melambungkan studi kesetaraan gender atau feminisme yang mulai marak dijadikan referensi. Menurut Moeliono (1993:241) feminisme adalah gerakan kaum perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Persamaan hak itu meliputi semua aspek kehidupan baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Dengan kata lain, feminisme merupakan gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan menentukan dirinya sendiri.</p>
<p>Gerakan ini kemudian merambah pula ke dunia sastra yang menghadirkan sebuah pendekatan alternatif dalam menganalisis karya sastra, yaitu kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahir sebagai respons atas semakin berkembangnya gerakan feminisme di berbagai penjuru dunia.</p>
<p>Menurut Sholwater dalam Sugihastuti (1991:29), kritik sastra feminis mencoba menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Kehadirannya berupaya untuk menepis anggapan selama ini yang menyatakan bahwa dalam dunia sastra,<br />
yang mewakili penciptaan dan pembacaan karya sastra adalah kaum laki-laki.  Sementara itu telah dianggap biasa pula bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam karya sastra Barat adalah kaum pria.</p>
<p>Untuk itu, kritik sastra feminis berupaya menghadirkan alternatif yang lain dengan menunjuk gejala bahwa wanita pun sebenarnya membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya. Di sisi lain,  Culler (1983:43) menyatakan bahwa kritik sastra feminisme adalah suatu usaha sadar para <em>women scholar</em> untuk mengubah tirani kritik <em>andosentris</em> yang sangat <em>male oriented</em> dan cenderung memengaruhi pembaca wanita untuk mengidentifikasikan diri dengan tokoh pria.</p>
<p>Dalam usahanya mengukuhkan kedudukan sastra wanita pada tempat yang selayaknya, <em>feminist criticism</em> merangkum berbagai pendekatan yang ada, seperti sosiologi sastra, resepsi strukturalisme, tekstual, semiotik, psikologi, sosiologi, antropologi, dsb (Winata, 1988:1).</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Peran Perempuan Pengarang  dalam Sejarah Sastra Indonesia</strong></li>
</ol>
<p>Sebenarnya jika ditanyakan bagaimana peran perempuan pengarang dalam sejarah sastra? Hal itu masih sukar dipetakan, terutama jika kita melihat peran perempuan pada periode-periode awal sejarah sastra Indonesia. Namun begitu, penulis mencoba menguraikannya meskipun dengan data yang terbatas mengenai sepak terjang perempuan pengarang pada masa lampau.</p>
<p>Satu nama yang berhasil ditemukan penulis dalam sejarah awal penulisan sastra Indonesia  tertuju pada Selasih atau Sariamin. Dalam buku-buku sejarah sastra yang ditulis oleh para pakar sastra, nama ini selalu hadir dan tercatat sebagai satu-satunya perempuan sastrawan yang dapat bersaing dengan para sastrawan lainnya dari golongan laki-laki.</p>
<p>Selasih adalah salah satu novelis Indonesia modern yang pertama. Nama sebenarnya adalah Sariamin, tetapi sejak awal sudah terkenal dengan nama samaran Selasih, diambil dari nama sejenis tumbuhan kecil, obat penawar panas, minuman penyegar. Ia lahir di Talu, Sumatera Barat, pada tanggal 31 Juli 1909 dengan nama Basariah. Namun, karena sering sakit ketika masih bayi, namanya lalu diganti dengan Sri Amin. Setelah dewasa, namanya berubah menjadi Sariamin. Selasih menerbitkan dua roman yang telah tercatat dalam sejarah sastra Indonesia. Kedua buah roman itu ialah <em>Kalau Tak Untung</em> (1933) dan <em>Pengaruh Keadaan</em> (1937). Sajak-sajaknya banyak dimuat dalam majalah <em>Poedjangga Baroe</em> dan <em>Pandji Poestaka</em>.</p>
<p>Menurut Rosidi (1982), kehidupan yang penuh penderitaan dan kemelaratan agaknya menjadi minat Selasih. Salah satu romannya, <em>Kalau Tak Untung,</em> melukiskan percintaan dua orang anak yang bersahabat sejak masih kecil, sama-sama sekolah dan sama-sama pula hidup serba kekurangan. Namun ternyata, cinta Masrul dan Rusmani yang sudah tertanam dan tumbuh sejak masih kanak-kanak itu tidak sesuai dengan harapan mereka. Dalam <em>Pengaruh Keadaan</em> dikisahkannya kesengsaraan dan kemalangan seorang gadis bernama Jusnani yang hidup dalam tekanan ibu tirinya sehingga kehilangan kepercayaan akan diri sendiri. Namun, sekali ini kemalangan dan kesengsaraan si gadis berakhir dengan kebahagiaan, yaitu setelah diambil oleh saudaranya dan ditolong oleh sahabat saudaranya bernama Sjahruddin yang kemudian mengambilnya sebagai istri (Rosidi, 1982:61).</p>
<p>Dalam periodisasi sastra yang dibuat Ajip Rosidi, Selasih dimasukkan sebagai sastrawan yang aktif berkarya pada periode 1933—1942. Pada waktu itu yang menjadi ikon sastranya adalah lahirnya majalah <em>Poejangga Baroe</em> yang kemudian pada masa tersebut lebih dikenal sebagai Angkatan Poedjangga Baroe.</p>
<p>Selain Selasih, perempuan pengarang yang pernah berkarya pada masa ini adalah Hamidah atau Fatimah H. Delais (1914—1953). Pada masa itu Hamidah bekerja sebagai pembantu majalah <em>Poedjangga Baroe</em> dari Palembang. Dalam catatan Rosidi, roman yang ditulisnya hanya satu berjudul <em>Kehilangan Mestika</em> (1935). Hampir sama dengan Selasih, dalam pandangan Rosidi, pengarang ini juga lebih banyak menceritakan kisah-kisah sedih. Yang diceritakannya dalam roman itu adalah kemalangan dan penderitaan pelakunya, seorang gadis yang mula-mula kehilangan ayah dan kemudian kehilangan kekasih berturut-turut. Karena putus asa, akhirnya ia menyetujui dikawinkan dengan seorang yang tidak dia cintai. Perkawinan itu pun malang karena bertahun-tahun tak juga kunjung mempunyai anak sehingga terpaksa akhirnya ia memberikan izin kepada suaminya untuk mengambil istri yang lain (Rosidi, 1982:61).</p>
<p>Nama lain yang tercatat dalam buku <em>Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia</em> karya Ajip Rosidi (1982) adalah Adlin Affandi dan Sa’adah Alim (1898—1968) masing-masing menulis sebuah sandiwara yang berjudul <em>Gadis Modern</em> (1941) dan <em>Pembalasannja</em> (1941). Di samping itu, Sa’adah Alim pun menulis sejumlah cerpen yang kemudian dibukukan dengan judul <em>Taman Penghibur Hati</em> (1941). Ia  pun menerjemahkan <em>Angin Timur Angin Barat</em> buah tangan pengarang wanita berkebangsaan Amerika yang pernah mendapat hadiah Nobel 1938, yaitu Pearl S. Buck (1892). Di samping itu, ia pun banyak menerjemahkan buku-buku lain.</p>
<p>Pada saat-saat menjelang Jepang datang, muncul pula Maria Amin (dilahirkan di Bengkulu pada tahun 1921) yang menulis sajak-sajak dalam majalah <em>Poedjangga Baroe</em>. Meskipun mulai berkarya pada periode ini, sebenarnya Maria Amin lebih aktif berkarya di periode selanjutnya, yaitu pada periode 1942-1945, terutama ketika ia menulis dan mengumumkan beberapa karya berupa prosa lirik yang bersifat simbolis.</p>
<p>Ketika Jepang masuk ke Indonesia, sebagai bagian dari bangsa, Maria Amin merasa kecewa melihat kehidupan sosial politik pada waktu itu. Akhirnya, ia memilih menyampaikan gagasan-gagasannya dalam dunia simbolik. Ia menggambarkan kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia sebagai ikan dalam akuarium, seperti yang dilukiskannya dalam prosa liriknya “Tengoklah Dunia Sana”.</p>
<p>Pada masa ini, selain Maria Amin, perempuan pengarang yang tercatat dalam sejarah adalah Nursjamsu (lahir di Lintau, Sumatera Barat, pada tanggal 6 Oktober 1921). Karya yang ditulisnya berupa puisi dan cerpen. Sejumlah sajaknya banyak melukiskan suasana hati yang diamuk remaja. Pada masa sesudah perang ia menulis cerpen, antara lain “Terawang” dimuat dalam majalah <em>Gema Suasana</em> (1948).</p>
<p>Pada masa setelah kemerdekaan dunia sastra masih didominasi oleh kaum laki-laki. Hanya sedikit saja para pengarang dari jenis kelamin perempuan yang menghasilkan karya. Pada tahun lima puluhan nama-nama perempuan pengarang memang lebih banyak. Pada masa ini tercatat nama Ida Nasution, Walujati (Supangat), S. Rukiah (Kertapati), St. Nuraini (Sani), dan Suwarsih Djojopuspito.</p>
<p>Walujati dan St. Nuraini lebih dikenal sebagai penyair meskipun sebenarnya mereka pun pernah menulis prosa, baik cerpen, esai, maupun novel. Suwarsih Djojopuspito hanya menulis cerpen. Hanya S. Rukiah yang dikenal baik sebagai penyair maupun penulis prosa.</p>
<p>Menurut Rosidi (1982), Ida Nasution adalah seorang pengarang esai yang berbakat. Ia menulis beberapa buah esai yang dimuat dalam majalah-majalah. Namun Ida kemudian menjadi korban revolusi. Ia hilang ketika dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke Bogor (1948).</p>
<p>Adapun Walujati (lahir di Sukabumi tanggal 5 Desember 1924) mulai menulis sajak pada masa-masa pertama revolusi. Sajaknya “Berpisah” mendapat pujian dari Chairil Anwar sebagai sajak romantis yang menjadi. Sejak itu ia banyak menulis sajak. Selain menulis sajak, ia pernah pula menulis novel. Novelnya yang berjudul <em>Pudjani</em> diterbitkan pada tahun 1950.</p>
<p>Dalam catatan Rosidi (1982:125), St. Nuraini yang lahir di Padang tanggal 6 Juli 1930 menulis sajak, cerpen, esai, dan terutama menerjemahkan hasil sastra asing. Ia beberapa lamanya bekerja sebagai sekretaris redaksi <em>Gelanggang</em>/<em>Siasat</em> bersama dengan antara lain Asrul Sani yang kemudian untuk beberapa lamanya menjadi suaminya.</p>
<p>Dalam pandangan Rosidi, sajak-sajak Nuraini terasa sekali kewanitaannya. Salah satu sajaknya halus dan lembut sekali melukiskan perasaannya sebagai ibu yang meratapi kematian anaknya karena keguguran.</p>
<p>Perempuan pengarang lainnya pada masa ini adalah S. Rukiah. S.Rukiah yang lahir di Purwakarta tanggal 25 April 1927 juga menulis sajak. Bahkan, sajak-sajaknya yang dimuat dalam bukunya <em>Tandus</em> (1952) mendapat hadiah sastra nasional B.M.K.N. tahun 1952 untuk kategori puisi. Meskipun demikian, S. Rukiah sebenarnya lebih berhasil sebagai pengarang prosa. Kecuali cerpen-cerpen yang juga dimuat dalam <em>Tandus</em>, ia juga menulis sebuah roman yang berjudul <em>Kejatuhan dan Hati</em> (1950). Dalam kisah itu dilukiskan perasaan seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang politikus, tetapi kemudian terpaksa kawin dengan pedagang pilihan ibunya.</p>
<p>Pengarang lainnya yang tercatat hadir dalam periode ini adalah Suwarsih Djojopuspito. Ia lebih dikenal sebagai pengarang prosa. Suwarsih Djojopuspito lahir di Bogor tanggal 20 April 1912. Pada masa sebelum perang, menjelang Jepang datang, ia menerbitkan roman yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, berjudul <em>Buiten het Gareel</em> (<em>Di Luar Garis</em>) yang terbit tahun 1941.</p>
<p>Roman ini melukiskan kehidupan kaum pergerakan nasional Indonesia, terutama di lingkungan perguruan partikelir (Taman Siswa) pada masa tahun tiga puluhan. Sebelum menulis roman dalam bahasa Belanda itu, sebenarnya pada tahun 1937 ia telah menulis roman dalam bahasa bundanya, yaitu bahasa Sunda. Namun, sayangnya roman ini ditolak oleh Balai Pustaka dan hal itulah yang menyebabkan ia merasa lebih baik menulis dalam bahasa Belanda. Baru pada tahun 1959 roman berbahasa Sunda yang berjudul <em>Marjanah</em> itu dapat diterbitkan. Baru pada masa sehabis revolusi, Suwarsih yang menurut usianya lebih dekat pada lingkungan para pengarang pujangga baru itu menulis dalam bahasa Indonesia. Buku kumpulan cerpennya yang pertama berjudul <em>Tudjuh Tjerita Pendek</em> (1951) yang sebenarnya lebih tepat digolongkan sebagai bacaan kanak-kanak. Kumpulan cerpennya yang kedua berjudul <em>Empat Serangkai</em> (1954) mulai memperlihatkan bakat dan kemampuannya dalam menulis prosa. Kumpulan cerpen ini merupakan salah satu karangan terpenting yang ditulis oleh pengarang ini. Sesudah itu ia masih banyak menulis cerpen yang belum dibukukan. Kebanyakan karyanya dimuat dalam majalah kebudayaan <em>Konfrontasi</em>.</p>
<p>Setelah generasi Ida Nasution dkk. nama lain yang dicatat dalam peta perkembangan sastra Indonesia adalah N.H. Dini. Dalam Rosidi (1982), N.H. Dini dimasukkan ke dalam pengarang yang aktif berkarya pada periode 1953—1961.</p>
<p>N.H. Dini yang nama lengkapnya Nurhajati Srihardini (lahir di Semarang tanggal 29 Februari 1936) mulai menulis cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah <em>Kisah</em> dan lain-lain. Menurut Rosidi (1982), cerpen-cerpen yang ditulis N.H. Dini tidak lagi berisi protes-protes yang berkisar soal-soal kewanitaan yang dunianya terjepit di tengah dunia laki-laki. Tokoh wanita Dini adalah manusia-manusia yang kalaupun berontak adalah berontak karena hendak memperjuangkan harga dirinya sebagai manusia. Hal tersebut dapat dilihat dalam cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam <em>Dua Dunia</em> (1956).</p>
<p>Dalam cerpen-cerpen itu N.H. Dini menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kepincangan-kepincangan sosial yang dia lihat terjadi di sekelilingnya, misalnya dalam cerpen “Kelahiran” dan “Perempuan Warung”.</p>
<p>Setelah terbit dengan kumpulan cerpen itu, N.H. Dini kemudian menerbitkan sebuah roman pendek berjudul <em>Hati yang Damai</em> (1961). Roman itu bercerita tentang seorang istri penerbang yang terlibat dalam cinta segi empat ketika suaminya mendapat kecelakaan. Akhirnya, ia menemukan kedamaian pada keluasan hati suaminya. Kisah ini sangat mengharukan dan ditulis dengan sangat menyentuh hati wanita.</p>
<p>N.H. Dini kemudian menikah dengan seorang diplomat Perancis. Sebagai seorang istri diplomat, Dini berkesempatan menetap di berbagai negara. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia menulis sejumlah novel yang mengambil <em>setting</em> di beberapa tempat yang pernah dikunjunginya. Pada periode ini hadirlah novel-novel N.H. Dini yang berjudul <em>Pada Sebuah Kapal </em>(1973), <em>La Barka </em>(1975), <em>Keberangkatan </em>(1977), dan <em>Namaku Hiroko </em>(1977). Adapun novel-novel seperti <em>Sebuah Lorong di Kotaku </em>(1978), <em>Padang Ilalang di Belakang Rumah </em>(1979), <em>Langit dan Bumi Sahabat Kami </em>(1979) merupakan novel yang mengambil latar di tempat kelahirannya di Semarang. Selain novel-novel tersebut, N.H. Dini pun menulis <em>Sekayu </em>(1981), <em>Amir Hamzah Pangeran dari Seberang </em>(1981), <em>Kuncup Berseri </em>(1982), <em>Tuileries </em>(1982), <em>Segi dan Garis </em>(1983), <em>Orang-orang Tran </em>(1985), <em>Pertemuan Dua Hati </em>(1986), <em>Jalan Bandungan </em>(1989), <em>Liar </em>(1989; perubahan judul kumpulan cerita pendek <em>Dua Dunia</em>), <em>Istri Konsul </em>(1989), <em>Tirai Menurun </em>(1995), <em>Panggilan Dharma Seorang Bhikku Riwayat Hidup Saddhamma Kovida Vicitta Bhanaka Girirakkhitto Mahathera </em>(1996), dan <em>Kemayoran </em>(2000).</p>
<p>Selain N.H.. Dini, pada periode ini tercatat oleh Rosidi beberapa perempuan pengarang wanita lain, yaitu Surtiningsih, Nj. Dyiantinah B. Supeno, dan Hartini. Mereka adalah para penulis cerpen yang cerpennya dimuat di sejumlah majalah.</p>
<p>Pada periode 1961 sampai dengan tahun 70-an, sepak terjang perempuan pengarang sudah mulai memperlihatkan perkembangan. Hal itu setidaknya terlihat dari mulai banyaknya nama-nama yang sering menampilkan tulisannya. Nama-nama seperti Titie Said, S. Tjahjaningsih, Titis Basino, Sugiarti Siswadi, Erni Siswati Hutomo, dan Enny Sumargo hadir sebagai pengarang prosa. Nama-nama seperti Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susy Aminah Aziz, Bipsy Soenharjo, Toeti Heraty Noerhadi, dan Rita Oetoro lebih dikenal sebagai penyair.</p>
<p>Titie Said atau yang nama lengkapnya Ny. Titie Raja Said Sadikun adalah seorang pengarang wanita yang banyak menulis cerpen. Ia dilahirkan di Bojonegoro tanggal 11 Juli 1935. Beberapa lamanya Titie Said pernah menjadi anggota redaksi majalah <em>Wanita</em>. Cerpen-cerpennya kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul <em>Perdjuangan dan Hati Perempuan</em> (1962). Sebagian besar dari cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku itu mengisahkan perjuangan dan perasaan hati perempuan. Cerpennya “Maria” dan “Kalimutu” merupakan cerpen-cerpen terbaik yang dimuat dalam buku tersebut.</p>
<p>S. Tjahjaningsih muncul dengan sebuah kumpulan cerpennya <em>Dua Kerinduan</em> (1963). Menurut Rosidi, cerpen-cerpennya masih kurang meyakinkan dan belum menampilkan kematangannya.</p>
<p>Sugiarti Siswadi banyak menulis cerpen yang dimuat dalam lembaran-lembaran penerbitan Lekra. Kumpulan cerpennya <em>Sorga Dibumi</em> terbit tahun 1960. Di samping itu, masih banyak cerpennya yang belum dibukukan.</p>
<p>. Selain Sugiarti Siswadi, nama Ernisiswati Hutomo sering pula mengisi rubrik cerpen di majalah-majalah. Salah satu majalah yang memuat cerpen-cerpennya adalah majalah <em>Sastra</em>.</p>
<p>Perempuan pengarang yang sangat produktif pada periode ini adalah Titis Basino. Cerpen-cerpennya banyak melukiskan sifat dan perilaku yang kadang-kadang tidak terduga, merupakan misteri.</p>
<p>Titis Basino dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, tanggal 17 Januari 1939. Karya-karya novelis yang cukup produktif ini, antara lain adalah  <em>Pelabuhan Hati </em>(1978), <em>Dataran Terjal, Di Bumi Kita Bertemu, Di Langit Kita Bersua </em>(1983), <em>Bukan Rumahku</em> (1986), <em>Dari Lembah ke Coolibah </em>(1997), <em>Welas Asih Merengkuh Tajali </em>(1997), <em>Menyucikan Perselingkuhan </em>(1998), <em>Tersenyum Pun Tidak Untukku Lagi </em>(1998), <em>Rumah K. Seribu </em>(1998), <em>Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah </em>(1998), <em>Mawar Hitam Milik Laras </em>(1999), <em>Garis Lurus, Garis Lengkung </em>(2000).</p>
<p>Pengarang lainnya pada periode ini adalah Enny Sumargo yang lahir di Blitar tanggal 21 November 1943. Ia lebih banyak mempublikasikan cerpen-cerpennya di Yogyakarta dan Semarang. Karya romannya berjudul <em>Sekeping Hati Perempuan</em> (1969).</p>
<p>Selain Enny, nama Susy Aminah Aziz (lahir di Jatinegara tahun 1939) tercatat dalam buku <em>Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia</em> karangan Ajip Rosidi (1982). Pengarang ini telah berhasil menerbitkan sejumlah sajaknya dalam kumpulan berjudul <em>Seraut Wadjahku</em> (1961). Namun, dalam pengamatan Rosidi, sajak-sajaknya tidak lebih dari hanya menjanjikan kemungkinan, seperti juga dengan sajak-sajak Dwiarti Mardjono yang dimuat dalam majalah <em>Sastra</em>.</p>
<p>Menurut Rosidi, yang menulis sajak lebih dewasa dan lebih baik adalah Isma Sawitri dan Toeti Heraty Noerhadi.</p>
<p>Isma Sawitri dilahirkan di Langsa, Aceh, tanggal 21 November 1940. Sajak-sajaknya banyak dimuat dalam <em>Sastra</em>, <em>Indonesia</em>, dan majalah-majalah lain pada awal tahun enam puluhan. Kumpulan kwatrinnya berjudul <em>Kwatrin</em> terdiri atas lebih dari seratus buah. Ketika mengikuti kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jakarta, ia lama menjadi anggota redaksi surat kabar <em>Angkatan Bersendjata</em> kemudian pindah ke <em>Pedoman</em>.</p>
<p>Toeti Heraty dilahirkan di Bandung tanggal 27 November 1933. Ia baru mulai mengumumkan sajak-sajaknya tahun 1967 dalam <em>Horison</em>. Sarjana Filsafat dari Rijk Universiteit Leiden ini meraih doktor filsafatnya di Univeristas Indonesia. Karya-karyanya adalah <em>Sajak-sajak 33 </em>(1973), <em>Seserpih Pinang Sepucuk Sirih </em>(1979; [ed.]), <em>Mimpi dan Pretensi </em>(1982), <em>Aku dan Budaya </em>(1984), <em>Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda </em>(1986; dengan Teeuw [ed.]), <em>Wanita Multidimensional </em>(1990), <em>Nostalgi = Transendensi </em>(1995). Puisi-puisinya dimuat pula dalam <em>Antologi Puisi Indonesia 1997 </em>dan <em>Sembilan Kilap Cermin</em> (2000).</p>
<p>Pada perkembangan selanjutnya hadir nama-nama perempuan pengarang yang meramaikan blantika sastra Indonesia. Nama-nama seperti M. Poppy Donggo Hutagalung, Marianne Katoppo, Upita Agustine, Ike Supomo, Leila S. Chudori, Ratna Indraswari Ibrahim, Oka Rusmini, Medi Lukito, dan Rayani Sriwidodo mulai berkarya di penghujung tahun 70-an dan di awal-awal tahun 80-an. Bahkan, mereka pun masih berkarya hingga sekarang.</p>
<p>M. Poppy Donggo Hutagalung lahir tanggal 10 Oktober 1940 di Jakarta. Dia pernah bekerja sebagai redaktur ruang anak-anak dan ruang remaja harian <em>Sinar Harapan</em>. Sajaknya “Pada Suatu Bulan yang Cerah” dan “Kereta Tua” memperoleh hadiah ketiga majalah <em>Sastra</em> tahun 1962. Sajak-sajaknya terkumpul dalam buku antologi sajak <em>Hari-hari yang Cerah</em> (1970). Sajak-sajaknya yang lain dimuat dalam buku Toeti Heraty (ed.), yaitu <em>Seserpih Pinang Sepucuk Sirih</em> (1979). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak.</p>
<p>Henriette Marianne Katoppo lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, pada tanggal 9 Juni 1943 dan meninggal di Bogor pada tanggal 12 Oktober 2007. Sejak kecil ia sudah aktif menulis. Pada usia 8 tahun karyanya yang pertama diterbitkan di rubrik <a title="Anak-anak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anak-anak">anak-anak</a> harian <a title="Bahasa Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Belanda">berbahasa Belanda</a>, <em><a title="Nieuwsgier (suratkabar) (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nieuwsgier_%28suratkabar%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nieuwsgier</a></em> di <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a>.</p>
<p>Pada tahun 1960-an ia menulis beberapa cerpen yang dimuat di harian <em>Sinar Harapan</em> dan majalah bulanan <em>Ragi Buana</em>. Novelnya, <em>Raumanen</em>, mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1975), Yayasan Buku Utama (1978), dan South East Asian Writer Award (1982) sebagai pemenang pertama. Novel ini diterbitkan kembali pada tahun 2006.</p>
<p>Novelnya yang lain adalah <em>Dunia Tak Bermusim</em> (1974), <em>Anggrek Tak Pernah Berdusta</em> (1977), <em>Terbangnya Punai</em> (1978), dan <em>Rumah di Atas Jembatan</em> (1981).</p>
<p>Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, tanggal 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan, antara lain, di <em>Horison.</em> Karya-karyanya adalah <em>Bianglala </em>(1973), <em>Dua Warna</em> (1975; bersama Hamid Jabbar), <em>Terlupa dari Mimpi </em>(1980), <em>Sunting </em>(1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi <em>Laut Biru Langit Biru </em>(1977; Ajip Rosidi [ed.]), <em>Tonggak 3</em> (1987; Linus Suryadi [ed.]), dan <em>Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia</em> (Korrie Layun Rampan<strong> </strong>[ed.]).<strong> </strong></p>
<p>Ike Soepomo dilahirkan di Serang, Banten, tanggal 28 Agustus 1946. Dia  menulis sejak duduk di sekolah menengah pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, dan skenario film. Karya-karyanya, antara lain, adalah <em>Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, </em>dan<em> Kabut Sutra Ungu.</em> Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, <em>Kabut Sutra Ungu, </em>meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Adapun beberapa skenario film yang ditulisnya adalah <em>Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, </em>dan<em> Hilangnya Sebuah Mahkota. </em></p>
<p>Leila S. Chudori<strong> </strong>dilahirkan di Jakarta, tanggal 12 Desember 1962. Karyanya dimuat, antara lain, di <em>Horison, Matra, </em>dan<em> Media Indonesia</em>. Kumpulan cerita pendeknya <em>Malam Terakhir </em> terbit pada 1989.</p>
<p>Ratna Indraswari Ibrahim dilahirkan di Malang, Jawa Timur, tanggal 24 April 1949. Cerpen-cerpennya dimuat, antara lain, di <em>Kompas, Jawa Pos, Basis, Horison, </em>dan<em> Republika</em>. Kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan adalah <em>Menjelang Pagi</em> (1994). Selain itu, karya-karyanya dimuat pula dalam antologi cerpen terbaik <em>Kompas:</em> <em>Pelajaran Mengarang</em> (1993), <em>Lampor </em>(1994), dan <em>Dua Tengkorak Kepala</em> (2000), serta dalam <em>Dunia Ibu: Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia</em> dan <em>Ungu: Antologi Puisi wanita Penyair Indonesia</em> (Korrie Layun Rampan [ed.]).</p>
<p>Oka Rusmini dilahirkan di Jakarta, tanggal 11 Juli 1967. Kumpulan puisinya <em>Monolog Pohon</em> terbit pada 1997 dan novelnya <em>Tarian Bumi</em> diluncurkan tiga tahun kemudian. Selain itu karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi, antara lain <em>Rindu Anak Mendulang Kasih </em>(1987), <em>Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia </em>dan<em> Dunia Ibu: Antologi Cerpen Wanita Cerpenis Indonesia</em> (keduanya dieditori Korrie Layun Rampan), <em>Negeri Bayang-bayang</em> (1996) dan <em>Mimbar Penyair Abad 21</em>. Cerpennya, “Putu Menolong Tuhan”, memenangi Sayembara Mengarang Cerita Pendek Majalah <em>Femina</em> 1994.</p>
<p>Medy Lukito dilahirkan di Surabaya, tanggal 21 Juli 1962. Puisi, cerpen, serta artikel-artikelnya tersiar di berbagai surat kabar sejak tahun 1978. Selain dalam antologi <em>Festival Puisi XIV</em> (1994), <em>Trotoar</em> (1996), dan <em>Jakarta, Jangan Lagi</em> (1997), puisi-puisinya dikumpulkan dalam <em>In Solitude</em> (1993) dan <em>Jakarta, Senja Hari</em>. Medy Loekito termasuk penyair yang berkembang secara pelan, tetapi stabil. Dia mulai dikenal sejak terbit kumpulan puisinya <em>In Solitude</em> (1993). Kemudian, ia muncul dalam <em>Jakarta, Senja Hari </em>(1998) yang memperlihatkan corak sajak-sajak impresionis. Dalam sejumlah sajaknya, ia membangun imaji kanak-kanak yang dihubungkan dengan realitas orang dewasa. Dalam berbagai pengucapannya kadang muncul model aforisme Cina, haiku, atau tanka dari Jepang, terutama dalam permainan bunyi dan suara yang membawa bayangan angan ke dalam situasi yang liris.</p>
<p>Rayani Sriwidodo<strong> </strong>dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara tanggal 6 November 1946. Cerpennya “Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan <em>Nemis Prize</em> dari Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumni Iowa Writing Program, Iowa University, Amerika Serikat ini, antara lain, adalah <em>Pada Sebuah Lorong </em>(1968; bersama Todung Mulya Lubis), <em>Kereta Pun Terus Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria </em>(1989), <em>Balada Satu Kuntum </em>(1994), dan S<em>embilan Kerlip Cermin </em>(2000).</p>
<p>Selain nama-nama tersebut, perlu dicatat pula kehadiran beberapa pengarang yang lebih banyak berkarya di tataran sastra populer yang begitu mendominasi dalam pemasaran buku-buku novel. Mereka adalah Mira W., Marga T., dan La Rose. Tiga orang perempuan pengarang ini menghadirkan fiksi romantis yang menjadi ciri novel-novel yang ditulisnya. Pada umumnya tokoh utama dalam novel-novel mereka adalah perempuan. Berbeda dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Barat abad 19 yang mematikan tokoh-tokoh utamanya untuk menonjolkan romantisme dan idealisme, karya-karya pada periode 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.</p>
<p>Pada periode tahun 1990-an sampai sekarang, jumlah perempuan pengarang semakin banyak. Hal itu menandakan semakin terbukanya ruang perempuan bila dibandingkan dengan masa-masa awal kelahiran sastra Indonesia modern.</p>
<p>Para perempuan pengarang yang mulai menampilkan karyanya di periode ini adalah Dorothea Rosa Herliany, Nenden Lilis Aisyah, Ayu Utami, Helvy Tiana Rosa, dan Dewi Lestari.<strong> </strong></p>
<p>Dorothea Rosa Herliany<strong> </strong>dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, tanggal 20 Oktober 1963. Sejak tahun 1985 ia menulis di berbagai media massa, antara lain di  <em>Horison, Kompas, Jawa Pos, Basis,</em> dan <em>Dewan Sastra</em> (Malaysia). Karya-karya puisinya dibukukan dalam <em>Nyanyian Gaduh</em> (1987), <em>Matahari yang Mengalir </em>(1990), <em>Kepompong Sunyi</em> (1993), <em>Nyanyian Rebana</em> (1993), <em>Nikah Ilalang </em>(1995), <em>Mimpi Gugur Daun Zaitun</em> (1999; terpilih sebagai pemenang kedua Sayembara Mengarang Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2000). Karya lainnya adalah <em>Kill The Radio</em> dan <em>Santa Rosa</em> (2008).</p>
<p>Nenden Lilis A.<strong> </strong>dilahirkan di Garut, Jawa Barat, tanggal 26 September 1971. Tulisannya, antara lain, dimuat di <em>Kompas, Pikiran Rakyat, Republika, </em>dan<em> Media Indonesia</em>. Kumpulan puisi tunggalnya, <em>Negeri Sihir</em>, diluncurkan pada tahun 1999. Selain itu, tulisannya dimuat pula dalam sejumlah antologi, di antaranya: <em>Mimbar Penyair Abad 21</em> (1996) dan <em>Dua Tengkorak Kepala: Kumpulan Cerita Pendek Terbaik Kompas 2000</em>.<strong> </strong></p>
<p>Ayu Utami dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, tanggal 21 November 1968.Dia lulusan S-1 Sastra Rusia dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ayu pernah bekerja sebagai wartawan <em>Matra, Forum Keadilan,</em> dan <em>D &amp; R.</em> Sepanjang tahun 1991 ia menulis kolom mingguan “Sketsa” di harian <em>Berita Buana</em>. Esai-esainya kerap dipublikasikan di jurnal <em>Kalam.</em> Novelnya, <em>Saman</em>, memenangi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Kini ia bekerja sebagai redaktur jurnal <em>Kalam.</em><strong> </strong></p>
<p>Helvy Tiana Rosa<strong> </strong>dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, tanggal 2 April 1970. Dia lulusan S-1 Sastra  Arab dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dia sering menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel. Sebagian karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, Perancis, dan Jepang. Karya-karyanya, antara lain, adalah <em>Aminah dan Palestina</em> (1991), <em>Negeri Para Pesulap </em>(1993), <em>Maut di Kamp </em>(1997; bersama M. Syahidah), <em>Luka Bumi </em>(1998; bersama Rahmadianti), <em>Ketika Mas Gagah Pergi </em>(1997), <em>Mc. Alliester </em>(1996), <em>Lentera </em>(1999; ditulis bersama Nadia), <em>Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah </em>(1999), <em>Nyanyian Perjalanan </em>(2000; bersama Gola Gong). Helvy pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi <em>Annida</em> dan Forum Lingkar Pena, sebuah wadah penggemar sastra dan perempuan pengarang pemula dengan 2000 anggota se-Indonesia.</p>
<p>Dewi Lestari dilahirkan di Bandung, tanggal 20 Januari 1976. Dia lulusan S-1 Ilmu Politik dari Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Bandung. Ia lebih dulu dikenal sebagai pencipta lagu dan penyanyi dari trio vokal “Rida, Sita, Dewi”. Dewi Lestari tercatat sebagai dewan redaksi CIMM (<em>Circle of Information for Mass Media</em>), dan kontributor majalah <em>Trolley</em>.  <em>Supernova</em> episode <em>Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh</em> (2001) adalah novelnya pertama yang direncanakan sebagai suatu novel serial dengan spirit penelusuran terhadap spiritualitas dan sains. Episode kedua <em>Supernova</em> berjudul <em>Akar</em> (2002) dan episode ketiganya berjudul <em>Petir</em> diterbitkan tahun 2005.</p>
<p>Selain itu, hadir pula nama-nama lain yang meramaikan dunia sastra Indonesia seperti, Asma Nadia, Abidah El-Khalieqi, Fira Basuki, Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, Eliza Fitri Handayani, Rukmi Wisnu Wardhani, Nukila Amal, Anggie D. Widowati, Naning Pranoto, Ana Maryam, Weka Gunawan, Agnes Jesicca, Ani Sekarningsih, Ratih Kumala, dan Dewi Sartika.</p>
<p>Hingga saat ini para perempuan pengarang baru mulai bermunculan menghadirkan karya sastra serius dan populer yang disadari atau tidak justru sedang mengubah peta perjalanan sastra Indonesia yang sebelumnya didominasi oleh kaum laki-laki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Perkembangan Pemikiran dalam Karya</strong></li>
</ol>
<p>Pendapat sebagian kalangan, misalnya Wilson Nadeak yang mengatakan bahwa karya sastra adalah cermin pada zamannya merupakan salah satu segi yang dapat dijadikan unsur penilaian terhadap sebuah karya sastra. Gagasan yang dihadirkan dalam karya sastra tidak terlepas dari gagasan yang secara umum dibangun dalam zaman ketika karya sastra tersebut lahir.</p>
<p>Hubungan antara gagasan dalam karya sastra dengan gagasan utama pada zamannya menyebabkan beberapa pakar membuat semacam periodisasi sastra. Istilahnya bermacam-macam. Di antara pakar sastra tersebut ada yang mengistilahkannya periode (Ajip Rosidi) atau angkatan (H.B. Jassin).</p>
<p>Dalam setiap periode tersebut karya-karya sastra yang dihasilkan oleh perempuan pengarang belum berhasil mengangkat kedudukan perempuan sebagai bagian sejarah sastra yang diperhitungkan. Gagasan-gagasan yang hadir dalam karya-karya mereka belum mampu mendominasi peranan yang dimainkan oleh para sastrawan laki-laki.</p>
<p>Para perempuan pengarang ini lebih banyak menghadirkan tema-tema yang berhubungan dengan kodratnya sebagai perempuan. Tema-tema sedih dan kerinduan kerap menjadi tema-tema favorit yang sering hadir dalam karya-karya mereka. Pengalaman pribadi menjadi sumber ilham bagi mereka dalam menghasilkan karya-karyanya. Perspektif perempuan dalam menghadapi masalah dan memandang dunia begitu kental terasa dalam karya-karya novel yang terbit pada masa tersebut. Persoalan-persoalan yang dihadirkan pun masih sekitar persoalan yang dihadapi perempuan dalam ranah domestik.</p>
<p>Namun demikian, perubahan cara pandang dari para perempuan pengarang tersebut mulai terlihat memasuki tahun 60-an hingga tahun 2000-an sekarang ini. Hal itu tidak terlepas dari pengaruh hadirnya aliran feminisme dari Barat yang mulai memperoleh tempat di kalangan sastrawan.</p>
<p>Pada era tahun 70-an dan tahun 80-an estetika yang diusung oleh para perempuan pengarang mulai bergerak ke arah pasar. Dalam periode ini novel-novel yang bergenre populer banyak ditulis oleh mereka. Hadirnya sejumlah majalah perempuan yang memberi keleluasaan tempat bagi para pengarang untuk memajangkan karyanya, baik berupa cerpen maupun cerber menyebabkan karya-karya mereka kemudian membanjiri pasar. Hal itu disebabkan pula oleh dukungan yang kuat dari sejumlah penerbit dalam menerbitkan karya-karya jenis ini atas dasar pertimbangan kuatnya daya serap pasar. Memang, pasar pun merespons novel-novel populer ini karena cerita yang disajikan mudah dicerna dan ceritanya pun lekat dengan keseharian. Genre ini kemudian melambungkan sejumlah nama perempuan pengarang sebagai pengarang yang banyak digemari. Nama-nama besar seperti N.H. Dini, Titiek W.Ss, Mira W., Titi Said, dan La Rose untuk menyebut sebagian saja mencatatkan diri sebagai pengarang favorit pembaca.</p>
<p>Meskipun begitu, kemunculan mereka tidak semenghentak Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, atau Fira Basuki yang muncul pada periode 90-an. Perubahan estetika yang sangat jelas dihadirkan oleh mereka. Situasi ini terutama sejak hadirnya novel <em>Saman</em> karya Ayu Utami yang sedikit banyak telah mengubah wajah estetika sastra yang selama ini dianut, baik oleh para perempuan pengarang maupun para sastrawan Indonesia pada umumnya.</p>
<p>Keberanian Ayu dalam mengeksploitasi tubuh dengan diksi-diksi yang menjurus seks telah menyentak dunia sastra. Apalagi kehadiran <em>Saman</em> pun didukung oleh berbagai pujian yang mengalir tidak henti-henti. Wilayah yang selama ini tabu dibicarakan dan diungkapkan karena bersinggungan dengan nilai-nilai budaya ketimuran yang selama ini dianut oleh masyarakat Indonesia dengan leluasa dihadirkan oleh Ayu.</p>
<p><em>Saman</em> dianggap sebagai pembuka jalan yang benar-benar mewakili suara zamannya karena di dalamnya penuh kritik, pemberontakan terhadap nilai yang mapan dan mencari tawaran dunia yang mungkin, dunia baru yang lebih melegakan karena terbebas dari belenggu nilai-nilai tradisional. Nada yang sama mengisi karya-karya Dee dan Jenar Mahesa Ayu. Hal itu diikuti pula oleh para perempuan pengarang seperti Dinar Rahayu dan Fira Basuki. Berbagai tudingan memang kemudian mengalir kepada mereka, bahkan ada yang menyebut karya-karya Dinar dan Fira sebagai masokhis sarat kekerasan seksual.</p>
<p>Di tengah maraknya estetika berwajah seks dan pemberontakan terhadap nilai-nilai tradisional tersebut secara perlahan, tetapi pasti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia,  dan sejumlah perempuan pengarang lain yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena kemudian menghadirkan estetika baru pula yang mengusung nilai-nilai estetika Islam dalam karya-karyanya.</p>
<p>Berbeda dengan Ayu Utami, karya-karya pengarang islami seperti Asma Nadia lebih banyak mengacu pada pengukuhan nilai-nilai, kepercayaan keagamaan, karya yang islami, dengan ketaatan pada ketentuan hukum agama.</p>
<p>Yang menarik sebenarnya adalah ada sisi lain yang menjadi kesamaan dari karya-karya mereka. Sejumlah karya yang ditulis para perempuan pengarang ini adalah usahanya untuk tidak lagi terikat oleh problem domestik. Karya-karya mereka tidak lagi berbicara tentang persoalan rumah tangga–suami-istri, tetapi persoalan seorang perempuan dalam berhubungan dengan masyarakat kosmopolitan. Maka, di sana tokoh-tokoh wanita yang menjadi pelaku utamanya seenaknya bergentayangan ke mancanegara atau berhubungan dengan masyarakat dunia.</p>
<p>Kehadiran novel <em>Dadaisme</em> (Mahatari, Yogyakarta, 2004) dan <em>Geni Jora</em> (Mahatari, Yogyakarta, 2004) di tengah masih maraknya fiksi-fiksi kaum perempuan yang mengusung seks atau yang berlabel &#8216;Islami&#8217; sangat menarik pula. Sebagai karya yang memenangi suatu sayembara bergengsi, kehadiran dua novel ini membuat perhatian dan pandangan para pengamat sastra menjadi beragam. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagai karya yang banyak dipuji oleh para juri sayembara yang notabene adalah para sastrawan kawakan, kedua novel ini justru tidak masuk ke dalam dua <em>mainstreams</em> tersebut meskipun sebagai &#8216;refleksi kehidupan&#8217; di sekitar pengarangnya seperti yang diistilahkan Umar Kayam, kedua novel tersebut tidak terbebas dari persoalan seks.</p>
<p>Dalam pandangan para pengamat sastra, karya fiksi yang ditulis kedua perempuan pengarang ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Keduanya mampu menjadi <em>trend</em> dan dibaca oleh kalangan yang kompleks, mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar.</p>
<p>Sejak itu estetika sastra Indonesia benar-benar seperti dikuasai oleh perempuan pengarang. Mengenai hal itu, Sapardi Djoko Damono dengan nada bercanda mengatakan bahwa masa depan sastra Indonesia berada di tangan perempuan pengarang. Sebuah pernyataan dari seorang sastrawan dan pakar sastra terkemuka yang telah mengubah paradigma selama ini dan mungkin sebuah keberhasilan dari upaya yang dilakukan oleh para perempuan pengarang yang tidak mungkin terjadi di masa lalu.</p>
<p>Kini perempuan pengarang bisa menepuk dada bahwa mereka bisa mengubah wajah sastra Indonesia menjadi begitu feminin. Mereka pun benar-benar telah menjadi bintang dalam hiruk-pikuk dunia sastra Indonesia modern hari ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5. </strong><strong>Simpulan</strong></li>
</ol>
<p>Sejak zaman Selasih, Maria Amin, N.H. Dini, hingga Ayu Utami dan Dewi Sartika, peta perkembangan estetika sastra yang diusung oleh perempuan pengarang telah mengalami perubahan yang berarti. Seiring dengan perkembangan pandangan terhadap dunia perempuan, pola pikir dan pola ucap mereka pun telah mengalami perubahan pula. Keberanian mereka dalam mengeksploitasi berbagai hal yang selama ini hanya dipendam di wilayah tertutup telah memberikan wacana baru dalam dunia sastra Indonesia bahwa menyepelekan perempuan pengarang atas karya-karyanya adalah sebuah kesalahan besar.</p>
<p>Ketika seorang perempuan telah keluar dari wilayah domestik yang mengungkungnya, mereka akan lebih mempunyai daya daripada yang dimiliki laki-laki dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah lingkungannya. Hal itu setidaknya dialami oleh para perempuan pengarang, seperti Ayu Utami dan Jenar Maesa Ayu.</p>
<p>Di sisi lain, ada pula yang menyadari bahwa kedudukannya sebagai perempuan tentu dibatasi oleh norma-norma yang selama ini diyakininya telah mampu menjadi benteng pertahanan.</p>
<p>Yang perlu dicatat dalam fenomena sastra dewasa ini—ketika perempuan pengarang mendominasi penciptaan karya sastra—adalah bahwa kehadiran mereka dalam pentas sastra sejak enam tahun terakhir bukanlah hanya sebatas kepentingan gaul. Patut dicatat pula bahwa sebenarnya mereka tidak lagi menjadi bayang-bayang keangkeran dunia sastra. Kehadiran para perempuan pengarang ini niscaya telah mengguratkan garis berbeda dengan para pengarang sebelumnya, termasuk ketika Selasih menulis novel <em>Kalau Tak Untung</em>, pada tahun 1933, yang dianggap sebagai tonggak kemunculan perempuan pengarang dalam khazanah sastra Indonesia.</p>
<p>Demikianlah posisi dan kedudukan perempuan pengarang dalam perkembangan sastra Indonesia. Posisi dan kedudukan perempuan pengarang yang pada awal perkembangan sastra Indonesia belum begitu mengemuka karena keterbatasan pengarang mulai menempati posisi yang penting, disejajarkan dengan laki-laki pengarang, bahkan mulai melebihi peranan yang dimainkan oleh laki-laki pengarang—meskipun premis ini tentu harus dikaji lebih lanjut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Adjikoesoemo, BSW. 2006. “Potret Buram Nasib Perempuan dalam Sastra”. <em>Republika</em> edisi Minggu, 06 Januari 2008.</p>
<p>Aminuddin, Mariana. 2005. Sosok Perempuan dalam ‘Sastra Lelaki’”. <em>Republika</em> edisi Minggu, 23 Januari 2005.</p>
<p>Bandel, Katrin. 2006. <em>Sastra, Perempuan, Seks</em>. Yogyakarta: Jalasutra.</p>
<p>Culler. 1983. <em>On Deconstruction Theory and Criticism after Structuralism</em>. London: Routledge Kegan Paul.</p>
<p>Herfanda, Ahmadun Yosi. 2006. “Kegairahan Perempuan dan Problem Estetika Sastra”. H.U. <em>Republika</em> edisi Minggu, 07 Mei 2006.</p>
<p>Kurniawan, Aris. “Sastra dan Pemberontakan Kaum Perempuan”. <em>Republika</em> edisi 14 Agustus 2005.</p>
<p>Kuntowijoyo. 1987. <em>Beberapa Perspektif Feminis dalam Menganalisis Permasalahan Wanita</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Moeliono, Anton M. (Penyunting). 1988. <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em>. Jakarta. Balai Pustaka.</p>
<p>Rosidi, Ajip. 1982. <em>Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. </em>Bandung: Bina Cipta.</p>
<p>Sugihastuti. 1991. <em>Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Winata, Reni. 1988. “Citra Wanita dalam Across the Seawall”. Makalah Seminar Sastra Modern. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=45&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/kedudukan-perempuan-pengarang-dalam-kehidupan-sastra-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENERAPAN TEKNIK PAGELARAN WAYANG BEBER DALAM PEMBELAJARAN  MENGARANG SISWA SEKOLAH DASAR</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/penerapan-teknik-pagelaran-wayang-beber-dalam-pembelajaran-mengarang-siswa-sekolah-dasar/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/penerapan-teknik-pagelaran-wayang-beber-dalam-pembelajaran-mengarang-siswa-sekolah-dasar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[media pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[mengarang]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah dasar]]></category>
		<category><![CDATA[teknik pagelaran wayang beber]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Ida Widia &#160; Abstrak Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Penyajian yang  menarik dan langsung akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkannya kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakannya. Pengajaran yang paling disenangi siswa jenjang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=43&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ida Widia</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Penyajian yang  menarik dan langsung akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkannya kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakannya.</p>
<p>Pengajaran yang paling disenangi siswa jenjang sekolah dasar adalah mendongeng. Mendongeng yang disertai dengan media akan membantu pemahaman siswa.Teknik pagelaran wayang, khususnya teknik pagelaran wayang beber sebagai media tradisional, dapat dijadikan alternatif lain oleh guru dalam kegiatan mendongeng.</p>
<p>Studi ini dilakukan untuk mengetahui tiga permasalahan, yaitu (1) mengetahui proses belajar mengajar dengan menggunakan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa sekolah dasar, (2) mengetahui cara penerapan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng oleh guru, (3) mengetahui hasil belajar mengarang siswa dengan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kata kunci: media pendidikan, teknik pagelaran wayang beber,  menulis<span id="more-43"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>The enjoyable teaching with the proper media can not only help student in understanding a message but also stimulate student language ability. The interesting teaching performance can give positive response so that student can review systematically based on what they hear, see, and feel.</em></p>
<p><em>The most interesting teaching method for elementary student is story telling. Doing. Telling story by using the media will help student understand the story. The puppet technique performance, especially beber  puppet performance as traditional media can be as an other alternative for teacher in doing story telling.</em></p>
<p><em>The aim of the study is to find three problems, namely, (1) knowing teaching learning activity by using beber puppet performance as a story telling media in improving writing ability of elementary school student, (2) knowing the applied technique of beber  puppet performance as story telling media for teacher, (3) knowing the result of student writing learning by using beber  puppet performance as story telling media.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key words: education media, beber puppet performance technique, writing</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses kegiatan yang menyebabkan guru dan murid melakukan suatu kegiatan bersama-sama atau bekerja sama dan berinteraksi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran ini tercapai, seorang guru harus mampu mempersiapkan komponen-komponen penunjang pembelajaran, mulai dari menjabarkan kurikulum hingga membuat skenario pembelajaran di kelas. Penjabaran tujuan ini harus sesuai dengan karakteristik siswanya agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan dan dapat diserap siswa dengan optimal. Untuk mengoptimalkannya guru harus dapat memilih media yang dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajarannya. Pembelajaran dengan mengintegrasikan media dianggap lebih efektif jika dibandingkan dengan tanpa mengintegrasikan media, apalagi pada tingkat pendidikan dasar. Namun amat disayangkan pada saat ini masih banyak guru yang belum mengintegrasikan media pendidikan dalam belajar mengajar mereka.</p>
<p>Menurut pengamatan guru, dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di kelas, siswa masih dianggap kurang optimal dalam menangkap apa yang dibicarakan guru di kelas, siswa kurang mampu mengungkapkan gagasan dengan runtut, siswa kurang mampu memilih kata yang tepat, dan siswa dianggap kurang mampu menyusun kalimat yang baik dan benar.</p>
<p>Hal tersebut terjadi karena pengajaran yang dilakukan oleh guru kurang menyenangkan. Pengajaran yang menyenangkan dengan media yang tepat, selain dapat membantu siswa dalam memahami suatu pesan, dianggap dapat merangsang kemampuan berbahasa siswa. Dengan penyajian yang  menarik dan langsung akan memberikan stimulus yang positif sehingga siswa dapat mengungkapkannya kembali dengan sistematis sesuai dengan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan.</p>
<p>Kehadiran media dalam kegiatan pembelajaran menjadi mutlak adanya agar tujuan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru dapat dicapai dengan optimal. Salah satu media yang ditawarkan ialah teknik pagelaran wayang, khususnya teknik pagelaran wayang beber sebagai media tradisional yang dapat dijadikan alternatif lain oleh guru dalam kegiatan mendongeng. Wayang beber memiliki dimensi yang berbeda jika dibandingkan dengan wayang lainnnya. Wayang beber tidak menggunakan dimensi bayang, seperti wayang kulit, dan tidak menggunakan dimensi bentuk manusia, seperti wayang golek atau wayang orang. Dalam penyajiannya, wayang beber berdimensi gambar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1.1 Tujuan Penelitian </strong></p>
<p>Penelitian ini bertujuan untuk:</p>
<ol>
<li>mengetahui proses belajar mengajar dengan mengintegrasikan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa sekolah dasar;</li>
<li>mengetahui cara penerapan teknik pagelaran wayang beber sebagai media pembelajaran sastra untuk meningkatkan kemampuan mengarang siswa oleh guru;</li>
<li>mengetahui hasil belajar mengarang siswa dengan teknik pagelaran wayang beber.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1.2 Manfaat Penelitian</strong></p>
<p>Sesuai dengan tujuan penelitian, manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini ialah</p>
<ol>
<li>untuk memperoleh gambaran alternatif media pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan mengarang dalam pengajaran sastra;</li>
<li>sebagai acuan pengembangan media pendidikan, khususnya pada tingkatan atau jenjang sekolah dasar.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2. Media Pengajaran Sastra dan Kemampuan Mengarang Anak</strong> <strong> </strong></p>
<p><strong>2.1 Media Pendidikan</strong></p>
<p>Media merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harfiah memiliki makna perantara atau pengantar. Kata ini berasal dari bahasa Latin dan secara gramatikal memiliki makna sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Sadiman, 2005:6).</p>
<p>Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (<em>National Education Association/NEA</em>) media merupakan bentuk-bentuk komunikasi, baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknnya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dan dibaca (Sadiman 2005:7). Dalam dunia pendidikan media diartikan sebagai suatu komponen atau alat fisik yang dapat merangsang siswa untuk belajar, misalnya buku, film, dan kaset.</p>
<p>Awalnya media merupakan alat bantu mengajar guru (<em>teaching aids</em>) yang dapat berupa alat bantu visual atau alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret pada siswa. Sekarang media merupakan suatu alat yang terintegrasikan dalam proses belajar mengajar karena fungsinya sebagai perantara pesan. Pesan disampaikan oleh pemberi pesan dalam hal ini guru dan seharusnya direspon oleh penerima pesan atau siswa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1.1 Fungsi Media Pendidikan</strong></p>
<p>Kita perlu tahu fungsi dan manfaat dari media pendidikan itu sendiri (Wirasasmita, 2002:4-6). Pertama, media pendidikan mempunyai fungsi edukatif. Kedua, media pendidikan mempunyai fungsi sosial karena media berperan dalam menyampaikan berbagai informasi, konsep, gagasan, serta pengalaman belajar yang diterima oleh setiap siswa secara bersamaan. Ketiga, media pendidikan memiliki fungsi ekonomi dalam pengertian efisien pencapaian tujuan instruksional. Keempat, media pendidikan mempunyai fungsi politis. Kelima, media pendidikan mempunyai fungsi seni budaya dalam hal mempercepat penyebarluasan informasi mengenai hasil seni budaya, ciptaan-ciptaan baru sebagai produk kemajuan yang dicapai di bidang ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi.</p>
<p>Selain fungsinya, media pendidikan memiliki banyak manfaat. Manfaat dari media pendidikan itu sendiri dapat ditinjau dari segi: 1) c<em>ontent</em> atau isi pelajaran, b) jumlah siswa, c) waktu, dan d) psikologis anak didik.</p>
<p>Hasil penelitian Iwamoto (Wirasasmita, 2002:15) menunjukkan bahwa materi pelajaran yang disampaikan dengan mengintegrasikan media ternyata lebih lama mengendap pada diri siswa.</p>
<p>Perincian berikut memperjelas pernyataan tersebut. Pelajaran yang diterima</p>
<ol>
<li>melalui pendengaran, 3 jam kemudian bisa diingat kembali sebanyak 70%, 3 hari kemudian hanya 10 %;</li>
<li>melalui pendengaran dan penglihatan, 3 jam kemudian dapat diingat kembali sebanyak 85%, 3 hari kemudian hanya 65%.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1.2 Jenis-Jenis Media Pendidikan </strong></p>
<p>Media pendidikan, menurut Hamidjojo (1970:5), digolongkan menurut metode penggunaannya. Penggolong tersebut ada tiga jenis, yaitu</p>
<ol>
<li>metode penggunaan secara masal;</li>
<li>alat-alat Auto Instruktif;
<ol>
<li>metode penggunaan secara konvensional, yaitu setiap guru secara individual memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Seluruh media pendidikan dan sumber belajar dapat dipergunakan untuk membantu guru dalam mengajar di ruang kelas kepada siswa, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok besar, mulai dari bentuk pengalaman tiruan sampai dengan jenis pengalaman langsung. <strong> </strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Dari kriteria penggunaan secara konvensional, teknik pagelaran wayang beber dapat dijadikan salah satu contohnya. <strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1.3 Wayang Beber</strong></p>
<p>Wayang secara harfiah berarti bayangan. kemudian makna bayangan berkembang menjadi seperti bayangan bentuk dan sifat orang Jawa yang dibentuk menjadi boneka kayu atau kulit (Holt, 2000:156). Dalam arti yang sangat luas wayang dapat berarti sebuah tontonan yang dramatis, dengan lakon dapat berupa manusia ataupun boneka.</p>
<p>Salah satu jenis wayang yang sudah sangat tua tradisinya ialah wayang kulit. Wayang kulit ini kemudian populer dengan sebutan wayang purwa dan wayang beber.</p>
<p>Menurut Sutarso (1981:1), wayang beber memiliki dimensi tersendiri dalam teater wayang karena wayang beber bukan suatu pentas bayangan, melainkan pentas gambar. Hal tersebut sesuai dengan makna dari wayang beber menurut <em>Sundanese English Dictionary Compiled. Wayang Beber is wayang scene-painted on oblong-shape cloth which is rolled out during the performance</em> wayang beber adalah wayang layar lukis yang dibuat di atas kain, kemudian gulungannya diputar saat ditampilkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.1.4 Teknik Pagelaran Wayang Beber</strong></p>
<p>Wayang beber dapat dijadikan salah satu alternatif penyampaian dongeng karena teknik pagelarannya tidak serumit pagelaran wayang yang lainnya. Teknik pagelaran wayang beber ini cukup dengan membeber gulungan kain atau kertas. Dalam gulungan tersebut ada gambar yang terdiri atas satu episode atau lebih. Gulungan akan berhenti di setiap episode, di sini pendongeng memaparkan cerita gambar tersebut.<em> </em></p>
<p>Wayang beber yang berdimensi gambar ini memiliki kesamaan dengan gambar seri yang disajikan melalui <em>flip chart,</em> yaitu sama-sama menyajikan gambar berseri dari gambar seri satu ke seri dua, dari seri dua ke seri tiga, dan seterusnya. Namun ada hal yang sangat prinsip yang membedakan antara penyajian cerita gambar dengan wayang beber dan penyajian cerita gambar dengan yang lainnya. Yang membedakan antara penyajian wayang beber dengan penyajian yang lainnya adalah bahwa cerita gambar dalam wayang beber harus disajikan dalam suasana mendongeng misalnya cara pendongeng duduk, suasana yang diciptakan pendongeng atau dalang saat bercerita, teknik pembuatan, dan teknik penyampaian gambar.<strong> </strong></p>
<p>Wayang beber adalah salah satu jenis permainan bayangan boneka (wayang). Wayang beber digambar di atas kulit, kertas, atau kain yang digulung dan ditarik pada bagian lainnya. Ukurannya sangat bervariasi, pada umumya lebar 20 centimeter dan panjang 12 meter. Dalam satu gulungan terdiri atas 17 episode.<strong> </strong></p>
<p>Pertunjukan wayang beber yang sesungguhnya dicatat oleh Ma Huan (Sutarso, 1981:72), yaitu orang itu duduk bersila di tanah dan menempatkan gambar di hadapnya, membentangkan bagian (adegan) yang satu ke yang lain dan menghadapkan (gambar adegan) itu ke arah penonton…</p>
<p>Untuk menyimpan wayang beber seorang dalang harus mempersiapkannya dengan baik dan memperhatikan bahan yang dibuat sebagai dasar lukisan atau gambar wayang beber. Kualitas warna harus tahan lama. Agar tidak pudar, tempat menyimpan wayang harus disesuaikan dengan bahan dasar dari wayang beber itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.2 Faktor yang Memengaruhi Kegiatan Pembelajaran</strong></p>
<p>Banyak faktor yang memengaruhi proses dan hasil pembelajaran yaitu faktor internal dan eksternal.  Menurut Iskandarwassid (2004:3) faktor yang memengaruhinya ialah siswa (<em>raw input</em>), faktor lingkungan (<em>environmental input</em>), faktor instrumen (<em>instrumental input</em>), dan proses belajar mengajar (<em>learning-teaching process</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Skema Faktor yang Memmengaruhi Proses Belajar Mengajar</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Iskandarwassid, 2004: 4</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari skema tersebut tergambar jelas bahwa proses belajar mengajar memengaruhi hasil belajar. Proses belajar mengajar sendiri didukung oleh faktor-faktor lain seperti, kualitas atau pengetahuan awal siswa, faktor lingkungan seperti lingkungan sosial-budaya dan alam,  dan faktor instrumen, seperti kurikulum, dan fasilitas.</p>
<p>Selain hal tersebut yang penting dalam proses belajar mengajar adalah kehadiran guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas adalah guru yang dapat memahami dan menguasai kompetensi keguruan yang telah disepakati secara umum.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2.1 Kompetensi Dasar Guru</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="256" height="37" bgcolor="white">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>Mampu meningkatkan kemampuan dirinya</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi (PGBK) atau  <em>Competency Based Teacher Education (CBTE) </em>membekali guru dengan sepuluh kemampuan dasar. Bekal ini dapat dijadikan salah satu acuan untuk melihat apakah seorang guru memenuhi syarat atau tidak. Sementara Tampubolon (2003:3) mengklasifikasikannya menjadi 11 Kompetensi Dasar Guru. Kesebelas kompetensi dasar digambarkan, seperti berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Skema Kompetensi Dasar Guru</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: Tampubolon (2003:3)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2.2 Model Pembelajaran di Sekolah Dasar</strong></p>
<p>Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajar dan memberi petunjuk kepada pengajaran di kelas dalam seting pengajaran ataupun seting lainnya. Untuk menentukan model yang dianggap tepat sangatlah sulit. Model mengajar itu banyak macamnya dan kebaikan model mengajar sangat tergantung pada tujuan pengajaran itu sendiri. Model mengajar, diantaranya ialah</p>
<ol>
<li>model Pembelajaran Klasikal,
<ol>
<li>model Pembelajaram PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan menyenangkan),</li>
<li>model Bermain Peran, dan</li>
<li>model Pembelajaran Karya Wisata.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.2.3 </strong><strong>Ciri Khusus Pengajaran Sastra di Sekolah Dasar</strong></p>
<p>Karya sastra merupakan suatu bentuk karya seni yang memiliki sifat memuaskan (<em>dulce</em>) dan bermanfaat (<em>utile</em>). Karena sifatnya itulah, karya sastra digemari oleh semua kalangan, termasuk anak-anak. Dari sekian banyak karya sastra yang ada di Indonesia dongeng memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak.</p>
<p>Kondisi inilah yang harus dimanfaatkan oleh para pengajar. Pada umumnya anak-anak senang menikmati karya sastra, maka karya sastra dapat dijadikan bahan ajar dalam pengajaran bahasa. Setelah siswa mempelajarinya siswa diharapkan akan senang belajar bahasa. Di samping menyebabkan anak merasa senang, ada juga nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, yaitu nilai keindahan dan nilai moral akan meresap dan berkembang dalam diri siswa.</p>
<p>Menurut Zuchdi (1996:84) sastra memiliki tempat khusus dalam perkembangan anak. Karya sastra, yang dibacakan kepada anak-anak dalam suasana yang penuh kehangatan dan pada kesempatan yang tepat, dapat merupakan wahana bagi mereka untuk mempelajari dunia sekitarnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3 Perkembangan Bahasa Anak </strong></p>
<p>Setiap anak akan mengalami proses perkembangan dan pemerolehan bahasa sejak lahir. Oleh karena itu, perkembangan dan pemerolehan bahasa berlaku pada siapa saja di muka bumi ini atau bersifat universal.</p>
<p>Labov dan Fishman menyatakan bahwa semakin tinggi usia seseorang maka semakin banyak kata yang dikuasainya, baik pemahamannya dalam struktur  bahasa, maupun dalam  pelajarannya. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang dimiliki oleh setiap manusia akan berkembang sepanjang hidupnya, mulai dari lahir hingga akhir hayatnya, seiring dengan bertambahnya usia dan kematangan jiwanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3.1 Hakikat Perkembangan Bahasa Anak</strong></p>
<p>Salah satu fungsi bahasa ialah sebagai alat komunikasi. Bahasa dapat dikomunikasikan secara lisan ataupun secara tulisan. Kemampuan berbahasa lisan meliputi kemampuan berbicara dan menyimak. Kemampuan berbahasa tulisan meliputi kemampuan membaca dan menulis.</p>
<p>Pada usia ini anak dianggap telah memiliki kosakata yang cukup untuk mengungkapkan hal yang dipikirkan dan dirasakannya. Mereka lebih mudah mengungkapkannya dalam bentuk lisan jika dibandingkan dengan tulisan. Pola bahasa yang digunakannya pun  masih merupakan tiruan pola bahasa orang dewasa.</p>
<p>Ketika memasuki usia sekolah dasar, anak-anak akan terkondisikan untuk mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi. Kemampuan berbahasa anak pun mengalami perkembangan.</p>
<p>Perkembangan bahasa anak berkembang seiring dengan perkembangan intelektual anak. Suatu kegiatan berpikir tidak dapat terjadi tanpa menggunakan bahasa. Vigatsky (dalam Zuchdi dan Budiasih, 1996:5) menyatakan bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Bahasa memiliki korelasi yang kuat dengan kegiatan berpikir. Oleh karena itu perkembangan bahasa memiliki keterkaitan dengan perkembangan intelektual anak.</p>
<p>Berkaitan    dengan    perkembangan    bahasa,   pada   masa    sensorimotor, fase perkembangan bahasa yang dimasuki anak adalah fase fonologis. Pada masa ini anak-anak dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dan mulai mengoceh  hingga dapat mengucapkan kata-kata sederhana.</p>
<p>Pada periode pra-operasional, fase kebahasaan yang dimasuki anak adalah fase sintaktik. Anak memiliki kemampuan gramatik berupa berbicara dalam bentuk kalimat.</p>
<p>Pada fase operasional, fase kebahasaan anak yang dimasuki adalah fase semantik. Dalam fase ini anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3.2</strong> <strong>Perkembangan Menulis </strong></p>
<p>Dalam perkembangan keterampilan menulis, biasanya dimulai dari melenturkan tangan dengan cara mengasah motorik halusnya bisa dengan menggambar bentuk lingkaran atau garis. Lanjutkan dengan membentuk huruf-huruf.</p>
<p>Dalam tahapan pembelajaran menulis di sekolah anak-anak mulai  menulis huruf yang dirangkaikan dengan huruf lainnya. Untuk memudahkan pengajaran menulis hendaknya kata-kata yang dijadikan bahan tulisan merupakan kata-kata yang dikenal dan dipahami anak. Pengenalan huruf pada kata-kata yang dikenal anak akan memudahkan anak dalam mengenal huruf yang berbeda dalam melambangkan bunyi.</p>
<p>Anak-anak belajar menulis berkaitan dengan kebutuhan  membaca. Pada saat anak berusia enam tahun anak kurang memperhatikan ejaan dan tanda baca. Hal ini merupakan suatu yang lazim terjadi. Anak-anak pada usia ini kurang memperhatikan pembaca.</p>
<p>Pada saat mereka berusia delapan sampai sembilan tahun mulai terjadi peubahan mereka mulai memperhatikan reaksi pembaca. Karya tulisnya lebih baik daripada usia sebelumnya. Pemilihan kata atau diksi, ejaan, gaya bahasa, alur cerita keterkaitan setiap paragraf mulai diperhatikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4 Kemampuan Menulis</strong></p>
<p>Tarigan mengemukakan bahwa setiap komponen keterampilan berbahasa, menyimak-berbicara-membaca-menulis erat sekali hubungannya. Salah satunya akan berikatan dengan tiga komponen lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut menulis merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang besifat kompleks.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4.1 Pengertian Menulis</strong></p>
<p>Kemampuan yang dipergunakan antara lain kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan pikiran atau gagasan secara jelas, penggunaan bahasa yang efektif, dan kemampuan menerapkan kaidah tulis menulis dengan baik.</p>
<p>Menulis adalah menurunkan atau membuat lambang-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut jika mereka memahami bahasa dan lambang grafis itu. Menulis berbeda dengan melukis dan menggambar. Walaupun lukisan dapat menyampaikan makna-makna, tetapi media yang digunakan berbeda dengan tulisan. Menulis menyampaikan makna dengan kata-kata sedangkan menggambar atau melukis menyampaikan makna dengan garis-garis dan warna (Lado, 1979: l43; Tarigan,1993:21).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4.2 Tujuan Tulisan</strong></p>
<p>Setiap  jenis  tulisan  mengandung  tujuan  penulisan  tertentu. Analisis  tujuan penulisan yang dilihat para penulis, dalam hal ini siswa sekolah dasar akan memberi gambaran kepada kita tentang kecenderungan tujuan tulisan pada anak-anak yang pada gilirannya akan dapat memberikan masukan bagi pengajaran bahasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4.3 Bentuk Tulisan</strong></p>
<p>Ada beberapa orang ahli yang telah mengklasifikasikan bentuk tulisan antara lain Salisbury (1955), Weaver (1950), Coon (1960), Morris dkk. (1966), Chenfeld (1978), Brooks dan Worren (1979). Di antara pengklasifikasian mereka yang paling banyak persamaannya adalah pembagian atas empat bentuk, yakni : (a) narasi, (b) deskripsi, (c) eksposisi, dan (d) argumentasi (Tarigan, 1993: 26&#8211;29; 1984; 8&#8211;10).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.4.4 Bahasa Tulisan</strong></p>
<p>Dalam jurnal tersebut dikemukakan juga tentang penelaahan akan bahasa tulisan. Ada dua aspek yang patut menjadi fokus perhatian, yaitu sebagai beirkut.</p>
<p>a. Aspek tata bahasa, mencakup:</p>
<p>1) penggunaan kalimat yang lengkap, yang sedikitnya mempunyai subjek dan   predikat,</p>
<p>2) penggunaan urutan kata dalam kalimat depan tepat dan besar,</p>
<p>3)   penggunaan bentuk kata, baik kata dasar maupun kata jadian, dengan tepat, dan</p>
<p>4) penggunaan kata penghubung, kata depan, serta kata tugas yang lainnya dengan tepat.</p>
<p>b. Aspek ejaan, mencakup:</p>
<p>l)   penggunaan huruf kapital, baik untuk nama diri maupun bukan nama diri,</p>
<p>2) penulisan kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang gabungan kata, singkatan serta penulisan suku kata dengan tepat, dan</p>
<p>3)  penggunaan tanda baca baik tanda baca akhir kalimat maupun tanda baca dalam kalimat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Metode dan Teknik Penelitian</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>3.1 </strong><strong>Metode Penelitian</strong></p>
<p>Penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian dan menjawab pertanyaan yang diajukan adalah penelitian tindakan kelas (<em>classroom action research</em>). Penelitian ini juga dimaksudkan agar peneliti mendapatkan informasi yang terrinci tentang aktivitas proses belajar mengajar yang mengintegrasikan media sebab penelitian yang tepat untuk mengembangkan bidang pendidikan adalah penelitian tindakan kelas pendapat Ortrun Zuber-Skerritt dalam bukunya <em>New Direction in Action Research </em>(1996: 3). Penelitian tindakan yang dipilih adalah penelitian tindakan kolaboratif. Peneliti mengamti proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.</p>
<p>Penelitian ini dilakukan sekurang-kurangnya tiga siklus. Setiap siklus penelitian tindakan kelas ini didasari materi dan tujuan pembelajaran yang telah tercantum dalam kurikulum, khususnya pembelajaran sastra dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengarang siswa. Di setiap siklus akan disertakan format observasi dan format refleksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.2 </strong><strong>Instrumen Penelitian</strong></p>
<p>Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini, terutama instrumen pengumpulan data ialah:</p>
<p>a)      rencana pelajaran atau silabus,</p>
<p>b)      format pengamatan kegiatan guru dan siswa di kelas, serta</p>
<p>c)      alat evaluasi (tes) keberhasilan belajar siswa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3 </strong><strong>Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data</strong></p>
<p><strong>3.3.1 </strong><strong>Teknik Pengumpulan Data</strong></p>
<p>Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut .</p>
<p>a)      Observasi, dilakukan sebelum tindakan dimulai dan saat tindakan berlangsung.</p>
<p>b)      Wawancara, dilakukan sebelum penelitian dilakukan untuk mengetahui kebutuhan dalam pembelajaran sastra.</p>
<p>c)      Kuesioner, dilakukan untuk mengetahui sikap guru dan siswa terhadap proses pembelajaran sastra dengan teknik pagelaran wayang beber sebagai media mendongeng.</p>
<p>d)     Tes, dilakukan untuk mengukur kemampuan mengarang siswa.</p>
<p>e)      Studi pustaka, dilakukan untuk mendukung data lainnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3.3.2 </strong><strong>Teknik Penganalisisan Data</strong></p>
<p>Dalam menganalisis data peneliti melakukannya dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu Metode Tindakan Kelas. Penelitians Tindakan Kelas ini digunakan untuk mendeskripsikan seluruh penelitian sehingga diperoleh gambaran yang terperinci mengenai variabel-variabel yang diteliti.</p>
<p>Penganalisisan data pun dilakukan selama penelitian berlangsung, yaitu dari persiapan hingga penelitian berakhir.</p>
<p>Variabel yang diselidiki ialah: (1) variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi variabel yang lainnya, yaitu minat dan kemampuan guru dalam menggunakan teknik pagelaran wayang beber pada pengajaran sastra, dan (2) variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi, yaitu hasil belajar siswa berupa karangan siswa. Di sini juga hadir kegiatan mendongeng yang dijadikan variabel moderator atau variabel yang menghubungkan antara variabel bebas dan variabel terikat, tetapi kehadirannya tidak berpengaruh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Deskripsi Hasil Penelitian</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>4.1 </strong><strong>Hasil Analisis Kebutuhan Kegiatan Belajar Mengajar</strong></p>
<p>Dari hasil analisis kebutuhan ditemukan bahwa dalam merencanakan strategi pembelajaran guru sedapat mungkin mengintegrasikan media, demikian pula dalam usaha meningkatkan kemampuan mengarang siswa. Media dianggap dapat mengoptimalkan kemampuan siswa ketika menerima informasi dari gurunya. Apalagi media tersebut menarik, penuh dengan gambar dan warna, serta sesuai dengan materi pelajarannya.</p>
<p>Penyajian gambar bentuk tokoh, warna, latar cerita, dan urutan gambar tidak ada bedanya dengan penyajian gambar seri pada umumnya. Perbedaannya ada pada cara menyampaikan gambar tersebut pada siswa. Penyampaiannya harus didukung dengan kemampuan mendongeng, seperti yang dilakukan oleh guru SD Laboratorium UPI di Kampus Cibiru. Hal ini sesuai dengan pendapat Pelowski yang menyatakan bahwa aliran mendongeng kontemporer juga menggunakan media tradisional yang dimodifikasi tanpa menghilangkan unsur utama dari media tradisional tersebut. Kemampuan guru dalam mencapaikan dongeng pun telah sesuai dengan teknik mendongeng, seperti pendapat Bunanta (2004), bahwa pendongeng harus memperhatikan kualitas suara, penggunaan waktu, dan adanya peniruan bunyi hewan atau benda lainnya. Cara menyampaikan dongeng sesuai dengan harapan peneliti, yaitu (1) memberikan pengetahuan wayang beber dan (2) mendongeng dengan teknik pagelaran wayang beber, yaitu dengan cara duduk bersila dan guru mulai membentangkan gulungan kertas tersebut dan berhenti di setiap episode untuk memaparkan dongeng. Format pagelaran ini merupakan format yang harus dilakukan oleh setiap pendongeng yang ditulis oleh Ma Tung.</p>
<p>Media ini dapat menambah pemahaman siswa secara mendalam dan dapat bertahan lama. Hal ini terbukti dari apersepsi yang dilakukan guru di siklus kedua dan siklus ketiga. Siswa dapat menceritakan dongeng yang telah disampaikan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mampu mengingat cerita lebih dari tiga hari. Seperti hasil penelitian yang dilakukan Iwamoto yang menyatakan bahwa pengajaran dengan mengintegrasikan media akan menambah daya ingat yang lebih tinggi dan lama,  80% dalam 3 jam pertama dan 3 hari kemudian masih tersisa sebanyak 65%.</p>
<p>Model pembelajaran yang digunakan oleh guru merupakan model yang biasa digunakan di jenjang sekolah dasar. Model tersebut adalah model PAKEM atau model Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Media yang telah dipersiapkan guru tampak lebih menarik dengan kemasan model pembelajaran ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2 </strong><strong>Deskripsi Karangan Siswa</strong></p>
<p>Karangan siswa yang akan dianalisis berjumlah 21 karangan, sesuai dengan jumlah siswa kelas V, pada siklus pertama, 16 karangan pada siklus kedua, dan 15 karangan pada siklus ketiga. Karangan siswa dianalisis dengan cara menghitung banyaknya kosakata yang digunakan dalam karangan yang dibuatnya, untuk dihitung banyaknya kosakata yang dimiliki siswa. Kemudian akan dihitung pula berapa banyak karakteriktik simbol grafis yang muncul.  Selain itu dianalisis juga, kesesuaian antara tema dan isi, penggambaran alur cerita, penggambaran penokohan, serta penggambaran latar (tempat dan waktu) kejadian.</p>
<p>Penilaian ini dilakukan berdasarkan tujuan pembelajaran yang tercantum dalam silabus yang telah dibuat. Format penilaian kemampuan menulis atau mengarang yang digunakan merupakan modifikasi dari Pedoman Penilaian mengarang dari Pusat Penilaian Pendidikan (2003:39) dan <em>ESL Composition Profile</em> dari Javon dan kawan-kawan (1981:101).</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tabel </strong></p>
<p><strong>Pedoman Penilaian Karangan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>No</strong></td>
<td width="292" valign="top"><strong>Aspek Penilaian</strong></td>
<td width="99" valign="top"><strong>Interval Skor</strong></td>
<td width="107" valign="top"><strong>Bobot Maksimal</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>1</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="292" valign="top">Kesesuaian antara isi cerita dan tema.</p>
<ol>
<li>Isi cerita sangat   sesuai dengan tema.</li>
<li>Isi cerita sesuai   dengan tema.</li>
<li>Isi cerita agak   sesuai dengan tema.</li>
<li>Isi cerita tidak   sesuai dengan tema.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="99" valign="top">13&#8211;30</p>
<p>27&#8211;30</p>
<p>22&#8211;26</p>
<p>17&#8211;21</p>
<p>13&#8211;16</td>
<td width="107" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
<p>30</p>
<p>26</p>
<p>21</p>
<p>16</td>
</tr>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>2</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="292" valign="top">Penggambaran alur cerita.</p>
<ol>
<li>Pembukaan, konflik   cerita sangat jelas dan penyelesaian cerita sangat tepat.</li>
<li>Pembukaan, konflik   cerita jelas dan penyelesaian cerita tepat.</li>
<li>Pembukaan, konflik   cerita kurang jelas dan penyelesaian cerita kurang tepat.</li>
<li>Pembukaan, konflik   cerita tidak jelas dan penyelesaian cerita tidak ada.</li>
</ol>
</td>
<td width="99" valign="top">7&#8211;20</p>
<p>18&#8211;20</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>14&#8211;17</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>10&#8211;13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>7&#8211;9</td>
<td width="107" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
<p>20</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>17</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>9</td>
</tr>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>3</strong></td>
<td width="292" valign="top">Penggambaran tokoh dan karakter tokoh</p>
<ol>
<li>Gambaran fisik dan   karakter tokoh sangat jelas.</li>
<li>Gambaran fisik dan   karakter tokoh jelas.</li>
<li>Gambaran fisik dan   karakter tokoh kurang jelas.</li>
<li>Gambaran fisik dan   karakter tokoh tidak jelas.</li>
</ol>
</td>
<td width="99" valign="top">7&#8211;20</p>
<p>18&#8211;20</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>14&#8211;17</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>10&#8211;13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>7&#8211;9</td>
<td width="107" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
<p>20</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>17</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>13</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>9</td>
</tr>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>4</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></td>
<td width="292" valign="top">Penggambaran latar tempat, waktu dan ruang kejadian.</p>
<ol>
<li>Latar tempat serta   waktu sangat jelas, dan ruang kejadian peristiwa sangat mendukung.</li>
<li>Latar tempat serta   waktu jelas dan ruang kejadian peristiwa mendukung.</li>
<li>Latar  tempat serta waktu kurang jelas dan ruang   kejadian peristiwa kurang mendukung.</li>
<li>Latar tempatserta  waktu tidak jelas dan ruang kejadian peristiwa   tidak mendukung.</li>
</ol>
</td>
<td width="99" valign="top">1&#8211;15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>11&#8211;15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>6&#8211;10</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2&#8211;5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>0&#8211;1</td>
<td width="107" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>10</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1</td>
</tr>
<tr>
<td width="61" valign="top"><strong>5</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
<td width="292" valign="top">Ketepatan pemilihan kata dan penggunaan ejaan.</p>
<ol>
<li>Amat menguasai kaidah   penulisan kata dan ejaan.</li>
<li>Menguasai kaidah   penulisan kata dan ejaan dengan banyak kesalahan.</li>
<li>Kurang menguasai   kaidah penulisan kata dan ejaan dengan banyak kesalahan.</li>
<li>Tidak menguasai   kaidah penulisan kata dan ejaan dengan banyak kesalahan.</li>
</ol>
</td>
<td width="99" valign="top">1&#8211;15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>11&#8211;15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>6&#8211;10</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2&#8211;5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>0&#8211;1</td>
<td width="107" valign="top">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>15</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>10</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>5</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1</p>
<p>&nbsp;</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2.1 </strong><strong>Hasil Analisis Karangan pada Siklus I</strong></p>
<p>Hasil analisis karangan siswa pada siklus pertama pada umumnya karangan terdiri atas tiga paragraf. Ada pula yang hanya menulis satu paragraf saja yang terdiri atas tiga baris. Namun ada juga siswa yang membuat karangan sampai delapan paragraf.</p>
<p>Jumlah kata yang digunakan dalam setiap karangan sangat bervariasi. Paling sedikit karangan tersebut terdiri atas 27 kata, ini adalah jumlah kata yang paling sedikit dari seluruh karangan yang dikumpulkan.  Pada umumnya siswa mampu mengarang di atas 110 kata. Bahkan, ada yang mampu mengarang dengan jumlah kata sebanyak 259 kata.</p>
<p>Siswa menggunakan kata yang beragam. Tidak ada pengulangan kata yang sama dalam satu paragraf. Dalam setiap karangan tokoh sang Kancil sering muncul jika dibandingkan tokoh yang lainnya.</p>
<p>Pada siklus pertama semua karangan siswa tidak selesai. Terbukti dengan kata <em>bersambung</em> di setiap akhir karangan siswa. Walaupun demikian kemampuan siswa untuk mengaitkan isi karangan dengan tema telah sesuai. Dari 21 karangan yang ada 12 karangan yang temanya sesuai dengan isi cerita. 8 karangan siswa dianggap cukup sesuai dengan tema yang telah ditentukan guru, dan 1 karangan dinilai tidak sesuai jika dilihat dari kesesuaian antara isi dan tema. Karangan tersebut dinilai tidak ada kesesuaian karena karangan yang dibuatnya hanya ada satu paragraf saja dan isinya hanya menceritakan suasana hutan saja.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4.2.2 </strong><strong>Hasil Analisis Karangan pada Siklus II</strong></p>
<p>Dari 16 karangan ada satu karangan yang dalam penggambaran alur cerita, seperti pembukaan, konflik cerita, penyelesaian sangat tepat. Hasil lainnya ialah 7 karangan cukup jelas dan tepat dalam membuka, membuat konflik, dan menyelesaian cerita. 6 karangan dan dianggap kurang tepat dalam menyelesaikan konflik karena cerita yang dibuatnya belum selesai.</p>
<p>Untuk penggambaran tokoh dan karakter tokoh, 7 karangan dikategorikan sebagai karangan yang jelas mendeskripsikan tokoh yang ada dalam cerita. Dan 8 karangan lainnya dianggap kurang jelas.</p>
<p>Untuk penggambaran latar tempat, waktu dan ruang kejadian termasuk kategori mendukung terbukti dari 16 karangan, sebanyak 11 karangan masuk kategori ini. Satu karangan dinilai mempunyai keterkaitan antara latar tempat, waktu, dan ruang kejadian yang sangat mendukung dan 4 karangan dianggap kurang mendukung satu sama lainnya.</p>
<p>Pada siklus kedua ini, ada 8 karangan siswa dinilai telah menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan dengan banyak kesalahan, dan 8 karangan siswa kurang menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan dengan banyak kesalahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4.2.3 </strong><strong>Hasil Analisis  Karangan pada Siklus III</strong></p>
<p>Pada siklus ketiga ini guru menggunakan media teknik pagelaran wayang beber seperti yang digunakan pada siklus kedua. Kualitas karangan siswa pada siklus ketiga ini hampir sama dengan kualitas karangan pada siklus kedua. Ada kenaikan, tetapi tidak signifikan.</p>
<p>Karangan yang terkumpul pada siklus ketiga ini hanya 15 karangan, berkurang dari jumlah karangan siklus sebelumnya. Pada siklus pertama ada 21 karangan dan pada siklus kedua ada 17 karangan.</p>
<p>Jumlah kata yang digunakan dalam karangan siswa pada siklus ketiga ini lebih banyak daripada siklus-siklus sebelumnya. Rata-rata mereka mampu mengarang di atas 250 kata, bahkan ada yang sampai 739 kata. Jumlah kata yang paling sedikit kurang lebih sebanyak 95 kata.</p>
<p>Kata yang sering muncul adalah kancil, raksasa, dan harimau. Kancil adalah tokoh utama dalam dongeng Petualangan Sang Kancil II, sedangkan Raksasa adalah tokoh yang pemarah, dan harimau adalah tokoh yang membantu kancil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5. </strong><strong>Simpulan </strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Setelah menganalisis data penelitian dan mendapatkan temuan-temuan empiris dalam penelitian, dapat ditarik beberapa simpulan. Simpulan yang dibuat merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian sebelumnya. Simpulan yang diambil dari penelitian tersebut ialah sebagai berikut ini.</p>
<ol>
<li>Simpulan dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknik pagelaran wayang beber dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif media yang dapat dimanfaatkan dalam pengajaran sastra. Media ini termasuk media yang memberikan pengalaman langsung sehingga siswa tampak antusias terhadap kegiatan mendongeng dengan memanfaatkan teknik pagelaran wayang beber.</li>
<li>Kemampuan guru dalam menggunakan teknik pagelaran wayang beber ditunjang oleh kemampuan mendongeng. Guru mampu menggunakan media teknik pagelaran wayang beber dan juga mampu menyampaikan pesan dengan menarik. Materi yang disampaikan dapat terserap dengan optimal. Hal tersebut tergambarkan oleh hasil penganalisisan karangan.</li>
<li>Hasil karangan siswa dalam pembelajaran sastra dengan mengintegrasikan media teknik pagelaran wayang beber meningkat jika dilihat dari perbedaan hasil analisis karangan siswa di siklus pertama, siklus kedua, dan siklus ketiga.</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bunanta, M. 2004. <em>Buku, Mendongeng dan Minat Membaca</em>. Jakarta: Pustaka</p>
<p>Tangga.</p>
<p>Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1981. <em>Wayang Beber di Gelaran</em>. Jakarta: Depdikbud.</p>
<p>Desmita. 2005. <em>Psikologi Perkembangan</em>. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.</p>
<p>Gerlach, V. 1980. <em>Teaching and Media</em>. United State of America: Prentice-Hall.</p>
<p>Hamidjojo, S. 1970. <em>Perkembangan Media dan Teknologi Pendidikan</em>. Bandung: PPSP.</p>
<p>Holt, C. 2000. <em>Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia</em>. Bandung: arti.line.</p>
<p>Iskandarwassid. 2004. “Tiga Pilar Pengajaran Sastra”<em>. </em>Pidato Pengukuhan. UPI Bandung.</p>
<p>Ismail, Taufik. 2003. “Agar Anak Bangsa Tak Rabun Membaca Tak Pincang Mengarang”. Pidato Pengukuhan. UNY Yogyakarta.</p>
<h2>Lembaga Pengembangan Insani. 2006. “Mendongeng, Membangun Karakter Anak Tercinta”. Diunduh dari <span style="text-decoration:underline;">http://<a href="http://www.lpi-dd.net/artikel/dongeng">www.lpi-dd.net/artikel/dongeng</a></span> .</h2>
<p>Moleong, L. 1989. <em>Metodologi Penelitian Kualitatif</em>. Bandung: Penerbit Remadja Karya CV.</p>
<p>Rivai, A. 1978. <em>Apa dan Mengapa Media Pendidikan</em>. Bandung: LPP BPP IKIP Bandung.</p>
<p>Rofi’uddin, A. Dkk. 1999.<em> Pendidikan</em> <em>Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi</em>. Jakarta: Depdiknas.</p>
<p>Rusyana, Y. 1984. <em>Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan</em>. Bandung: CV Diponegoro.</p>
<p>Rusyana, Y. 1986. <em>Keterampilan Menulis</em>. Jakarta: UT</p>
<p>Sadiman, A. 2005. <em>Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya</em>. Jakarta: PT Raja Grafindo.</p>
<p>Sayuti, S. 2003. “Taufik Ismail dalam Konstelasi Pendidikan Sastra”<em>.</em> Pidato Pengukuhan. UNY Yogyakarta.</p>
<p>Suryabrata, S. 1983. <em>Metodologi Penelitian</em>. Jakarta: CV. Rajawali.</p>
<p>Suryana. J. 2002. <em>Wayang Golek Sunda: Kajian Estetika Rupa Tokoh Golek.</em> Bandung: PT Kiblat Buku Utama.</p>
<p>Suyanto Dkk. 1996. <em>Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas</em>. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.</p>
<p>Tarigan, H. G. 1984. <em>Prinsip-prinsip Dasar Sastra</em>. Bandung: Penerbit Angkasa.</p>
<p>Tarigan, H. G. 1993. <em>Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa</em>. Bandung: PT. Angkasa.</p>
<p>Wirasasmita, S. 2002. <em>Kemampuan Guru dalam Penggunaan Media di SLTP Kota Bandung</em>. Bandung: UPI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=43&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/penerapan-teknik-pagelaran-wayang-beber-dalam-pembelajaran-mengarang-siswa-sekolah-dasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REPRESENTASI JAWARA  DALAM CERPEN “PEMBELAAN BAH BELA”  KARYA MOH. WAN ANWAR</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/representasi-jawara-dalam-cerpen-%e2%80%9cpembelaan-bah-bela%e2%80%9d-karya-moh-wan-anwar/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/representasi-jawara-dalam-cerpen-%e2%80%9cpembelaan-bah-bela%e2%80%9d-karya-moh-wan-anwar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[budaya Banten]]></category>
		<category><![CDATA[jawara]]></category>
		<category><![CDATA[representasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Asep Muhyidin &#160; &#160; Abstrak &#160; Sastra merupakan produk budaya. Sastra merupakan hasil dari karya cipta manusia. Sebuah karya sastra yang baik tentunya menyodorkan pengetahuan tentang fakta sosial ataupun budaya. Pengarang merupakan anggota masyarakat yang hidup dan berhubungan dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, maka proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=41&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Asep Muhyidin</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sastra merupakan produk budaya. Sastra merupakan hasil dari karya cipta manusia. Sebuah karya sastra yang baik tentunya menyodorkan pengetahuan tentang fakta sosial ataupun budaya. Pengarang merupakan anggota masyarakat yang hidup dan berhubungan dengan orang-orang yang berada di sekitarnya, maka proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra menampilkan gambaran pola pikir, perubahan tingkah laku, dan tata nilai budaya. Dengan kata lain, karya sastra merupakan potret segala aspek kehidupan sosial dengan segala permasalahannya yang terjadi di masyarakat. Jawara adalah realitas sosial masyarakat Banten. Sejumlah literatur memasukkan jawara sebagai subkultur di samping kiai atau ulama. Dalam cerpen “Pembelaan Bah Bela” karya Moh. Wan Anwar, sosok jawara tercermin dari perselisihan dan persaingan yang terjadi antara keluarga Bah Bela dan keluarga Bah Kahot. Perkenalan keduanya diawali dengan sebuah perkelahian yang sengit demi membela kebenaran yang diyakini oleh keduanya. Sosok jawara muncul pada tokoh Bah Kahot dan Bah Bela. Karena kelebihannya dalam ilmu kedigjayaan, mereka dapat menjadi  tokoh yang karismatik. Bah Kahot menjadi seorang ketua organisasi dan Bah Bela menjadi ketua dewan pakar. Jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten pada umumnya sehingga jawara tidak hanya menggambarkan suatu sosok, tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai,  norma,  dan  pandangan  hidup  yang khas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata kunci:  Representasi, jawara, budaya Banten<span id="more-41"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em> Literature is cultural product. Literature is also a result of the human creation. A good literary work should be able to provide  knowledge about either social fact or culture. A writer is one of society members interacting with society and their environment, therefore, in creation process he cannot ignore the influence of his experience in his environment. As the result, literary work shows the reflection of mind set, behavior change, and cultural value pattern. In other word, a literary work is portrait of the whole aspect of social life with every problem happening in the society. Jawara is social reality of Banten society. A number of literature is as subculture besides kia or ulama. In the short story of Pembelaan Bah Bela  written by Moh Wan Anwar is the reflection of a knight shown in the fight and competition happening between Bah Bela and Bah Kahot family. Because of their high qualification in fighting, they turn to be charismatic character. Bah Kahot became a head of the organization and Bah Bela was chosen a chairman of the board. Jawara  creates its own culture which is different from  the dominant culture of Banten society in general. Consequently, jawara not only describes a strong character but also reflects the group owning value, norm, and a certain stereotype.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word : Representation, a knight, Banten culture</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. Pendahuluan</strong></p>
<p>Sastra merupakan produk budaya. Sastra merupakan hasil dari karya cipta manusia. Sebuah karya sastra yang baik tentunya menyodorkan pengetahuan tentang fakta sosial ataupun budaya. Aspek sosial budaya dapat disimpulkan sebagai sistem nilai atau pandangan-pandangan yang terutama tergambar dalam diri tokoh utama.</p>
<p>Pengarang merupakan anggota yang hidup dan berhubungan dengan orang- orang yang berada di sekitarnya, maka dalam proses penciptaan karya sastra seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, karya sastra yang lahir ditengah-tengah masyarakat merupakan hasil pengungkapan jiwa pengarang tentang kehidupan, peristiwa, serta pengalaman hidup yang telah dihayatinya.</p>
<p>Sebagai anggota masyarakat, pengarang dalam menciptakan suatu karya sastra mencerminkan kondisi masyarakatnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial. Artinya, karya sastra tersebut ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya. Karya sastra tidak berdasar kekosongan budaya. Artinya, latar belakang sosial budaya, politik, ekonomi atau lingkungan tempat hidup pengarang banyak mendasari dan mengilhami kehadiran karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra menampilkan gambaran pola pikir, perubahan tingkah laku, dan tata nilai budaya. Dengan kata lain, karya sastra merupakan potret segala aspek kehidupan sosial dengan segala permasalahannya yang terjadi dimasyarakat. Aspek latar sosial budaya merupakan hal-hal yang berkaitan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat, seperti kebiasaan hidup, adat sitiadat, tradisi, pandangan hidup, cara berfikir, status sosial, dan stratifikasi sosial.</p>
<p>Menurut pandangan Teeuw (1984:11), seniman atau pengarang menjadikan fenomena sosial budaya yang mengitarinya sebagai bahan untuk meracik sebuah karya sastra yang dilahirkan, sekaligus sarana memasukkan ide-ide atau pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikiran dari seniman atau pengarang itu sendiri terhadap fenomena sosial buadaya tersebut. Dengan demikian, karya sastra itu merupakan refleksi atau cerminan kehidupan yang diamati oleh pengarang, dibumbui respons atau tanggapan, dan imaginasi pengarang terhadap kehidupan itu. Dalam upaya mengungkapkan kembali pengamatannya terhadap kehidupan dalam bentuk karya sastra, pengarang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.</p>
<p>Rusyana (1984:81) mengemukakan bahwa cerpen adalah cerita rekaaan yang pendek yang mengisahkan peristiwa secara rasioal. Kejadian-kejadian dalam cerpen disuguhkan sedemikian rupa sehingga seolah-olah benar-benar terjadi, sedangkan Sumardjo dan Saini (1991:37) menyatakan bahwa cerpen adalah cerita atau narasi yang fiktif (tidak benar-benar terjadi) serta relatif pendek.</p>
<p>Kajian dalam tulisan ini memusatkan perhatian dan telaah pada tafsir sosiologis atas wacana atau teks  sastra  sebagai cerminan masyarakat . Dalam hal ini Moh. Wan Anwar  dalam cerpennya yang berjudul “Pembelaan Bah Bela”<em> </em>berusaha mengambarkan keadaan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Banten. Cerpen “Pembelaan Bah Bela” ini merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen <em>Sepasang Maut.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.  Representasi Jawara dalam Cerpen “Pembelaan Bah Bela” (PBB) Karya </strong></p>
<p><strong>Moh. Wan Anwar</strong></p>
<p>Jawara adalah realitas sosial masyarakat Banten. Sejumlah literatur memasukkan jawara sebagai subkultur di samping kiai atau ulama. Pada mulanya jawara tidak dapat dipisahkan dengan kiai. Umum terjadi di dunia pesantren, seorang kiai tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan  kepada santri-santrinya, tetapi juga silat, ilmu kedigdayaan, kesaktian, bahkan kebatinan. Murid kiai yang memiliki intelektualitas disebut santri, yang bertugas menyebarkan ilmu agama, sedangkan santri yang memiliki kecenderungan dalam bidang kesaktian dan kedigdayaan dikenal sebagai jawara.</p>
<p>Sunatra menggolongkan jawara ke dalam dua golongan. Pertama, jawara ulama adalah jawara yang kemudian mendalami agama. Kedua, jawara yang menggunakan <em>elmu hideung</em> yang merupakan ilmu kedigjayaan, salah satunya adalah ilmu untuk memperoleh kekebalan diri yang tidak berdasarkan ajaran agama Islam. Untuk mengembangkan ilmu kedigdayaan, mereka mendirikan  <em>perguron</em> (padepokan).  Jawara kini dikenal sebagai seorang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatan-kekuatan untuk memanipulasi kekuatan supranatural, seperti penggunaan jimat, sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sosok seorang jawara memiliki karakter yang khas. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Hal kepemimpinan biasanya didasarkan pada konsensus di antara para jawara, umumnya senioritas menentukan siapa yang akan menjadi <em>kokolot</em> atau yang dituakan (Sunatra dalam Lubis, 2003:127—129).</p>
<p>Dalam cerpen <em>“</em>Pembelaan Bah Bela<em>”</em> karya Moh. Wan Anwar, sosok jawara tercermin dari perselisihan dan persaingan yang terjadi antara keluarga Bah Bela dan keluarga Bah Kahot. Perkenalan keduanya diawali dengan sebuah perkelahian yang sengit demi membela kebenaran yang diyakini oleh keduanya. Bah Kahot dengan kukuh membela majikannya, seorang juragan berkebangsaan Cina, sedangkan Bah Bela berusaha menjadi pembela masyarakat kecil yang tertindas oleh perilaku juragan tersebut. Perkelahian tersebut pada akhirnya malah memunculkan persahabatan setelah keduanya tahu bahwa jurus-jurus yang dikeluarkan mereka ternyata sama. Itu artinya asal-muasal ilmu kedigjayaan mereka berasal dari guru yang sama. Persahabatan tersebut bukanlah persahabatan yang tulus karena keduanya berebut pengaruh di seantero kota, terutama terjadi persaingan antara anak sulung Bah Kahot dan anak sulungnya Bah Bela. Persaingan tersebut terjadi dalam segala hal mulai dari persaingan bisnis, politik, bahkan dalam hal perempuan.</p>
<p>Sosok jawara digambarkan  selalu identik berpakaian hitam-hitam dengan pernak-pernik, seperti batu akik, jimat atau wafak, dan golok teronggok di pinggang yang seolah-olah mencerminkan kekuatan fisik yang disertai kekuatan supranatural. Seorang jawara memiliki perlengkapan yang berbeda dari masyarakat pada umumnya. Justru, cara berpakaianlah yang membedakan jawara dengan masyarakat biasa.</p>
<p>&#8230;.Bah Bela keluar dengan mata semerah saga, berpakaian hitam-hitam sebagai jawara. Batu mirah sebesar buah ceruluk di jari tengahnya memancarkan rasa marah. Golok pusaka yang sekian lama disimpan, yang minggu lalu dicari-cari si Sulung, bertengger di pinggangnya.(PBB:49)</p>
<p>Jawara juga selalu menampakkan sosok yang karismatik dan berwibawa. Selain kepandaian dalam bersilat, tentunya seorang jawara pun harus memiliki pengalaman dan wawasan yang luas, baik dalam ilmu keduniaan maupun dalam ilmu agama. Dalam keduniawian, umumnya para jawara hidup berkecukupan,  bahkan bisa menikmati hidup mewah, sedangkan dalam hal ilmu agama, mereka umumnya penganut ajaran agama Islam yang taat. Ia dituntut berbuat arif dan bijaksana dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat. Penghayatan akan terjalnya kehidupan yang diimplementasikan dengan sikap yang teguh memegang adat istiadat nenek moyang  akan membuat seorang jawara dihormati dan juga dikagumi oleh masyarakat.</p>
<p>&#8230;Saya palingkan muka ke  Bah Bela yang sedang mengamati sekitar dengan pandangan yang tajam. Ia selalu tampak berwibawa. Jidatnya yang lebar, kopiah hajinya, tonjolan tulang pipinya menyiratkan kedalaman pengalaman, keluasan wawasan, kerasnya sikap, kearifan, dan kekayaan penghayatan. Begitu juga dengan Bah Kahot, peci hitamnya, ikat pinggangnya, pakaian dan sarungnya, mengukuhkan keteguhan dan kekerasan pengalaman&#8230;. (PBB:60)</p>
<p>Sebagian besar masyarakat Banten memang memandang jawara  sebagai sosok yang memiliki keberanian untuk berkelahi membela kebenaran, agresif, cenderung <em>sompral</em> (tutur kata yang keras dan terkesan sombong), dan terbuka (blak-blakan) untuk menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan fisik yang hebat dan kekuatan supranatural yang <em>mumpuni</em>. Kekuatan fisik yang kuat direpresentasikan dengan  cara berpakaian dengan segala aksesori yang dipakai. Kekuatan supranatural akan terejawantahkan dengan sikap yang jarang berbicara, tetapi sekali berbicara terkadang kata-katanya terasa pedas dan mengancam orang lain.</p>
<p>Para jawara pun  akan membela sepenuhnya apabila ada salah seorang dari kerabatnya itu dihina atau disakiti orang lain. Begitu pula para jawara akan mengutamakan para kerabatnya, terutama anak laki-lakinya. Anak laki-laki biasanya secara turun-temurun akan mewarisi ilmu <em>kanuragan</em> (kedigjayaan) yang dimiliki oleh seorang jawara. Rasa solidaritas yang tinggi terhadap keluarga itu tidak lepas dari nilai-nilai yang sering didengungkan dalam kehidupan mereka. Selain terhadap keluarga, terhadap perguruan pun rasa solidaritas mereka begitu tinggi. Apabila ada di antara anggota keluarga mereka ada yang disakiti atau dihina orang lain, biasanya mereka akan menuntut balas. Ibaratnya <em>hutang nyawa dibayar nyawa</em>.</p>
<p>&#8230;Anak adalah anak, darah daging yang dilahirkan segunung kasih, dipelihara sesamudera cinta. Dia anak sulung. Kini jadi mayat. Abah tidak terima!”</p>
<p>“Tetapi apa yang akan Abah lakukan?”</p>
<p>“Balasan setimpal! (PBB:49)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para jawara sering menekankan bahwa nenek moyang mereka selalu berpesan  jika menjadi jawara harus memiliki sekurang-kurangnya tiga sifat, yaitu  1) <em>leber wawanen</em> (berani dan militan), 2), <em>silih wawangi</em> (sikap kekeluargaan), dan 3) <em>kukuh kana janji</em> (memiliki komitmen yang kuat untuk menepati janji).</p>
<p><em>Leber wawanen</em> berarti berani membela kebenaran. Hal ini dilakukan demi membela harga diri dan juga terkadang dilakukan demi membela orang yang teraniaya. Selain itu, para jawara memiliki kesetiaan yang begitu militan pada kelompoknya, bahkan juga kepada juragannya. Para jawara berani mempertaruhkan nyawanya sekalipun demi membela sang juragan, tak peduli apakah sang juragan tersebut orang baik atau orang jahat, yang penting siapa yang membayar, maka dia pasti akan membelanya dengan sekuat tenaga. Tokoh Bah Kahot merepresentasikan hal tersebut. Keberanian membela orang miskin yang kelaparan terepresentasi pada tokoh Bah Bela. Keberanian seorang jawara adalah keberanian dalam perkelahian yang menonjolkan kekuatan fisik, baik dengan tangan kosong maupun memakai golok sebagai senjata khas para jawara. Bahkan, perkelahian terkadang dilakukan secara halus, yaitu dengan memakai kekuatan supranatural.</p>
<p>&#8230;Kata Bah Bela mereka dulu berkenalan setelah berkelahi habis-habisan. Sebagai centeng saudagar bernama Tek Seng, Bah Kahot merasa harus bertanggung jawab atas harta majikan. Sementara itu sebagai jawara muda, Bah Bela merasa wajib membela orang miskin yang kelaparan&#8230;. (PBB:54)</p>
<p>&#8230;Si Sulung selama ini bisa memahami, tetapi sekarang masalahnya harga diri. Bagaimana mungkin gadis yang sangat dicintainya, di tengah usianya yang terus merangkak, harus lepas diambil orang dengan tidak senonoh, apalagi oleh orang yang sudah banyak mengambil berbagai hal di kota ini. Si Sulung tidak terima. Bahkan, kata istri Bah Bela, sejujurnya ia pun tidak terima. Begitu pula adik-adik si Sulung. Ini masalah kehormatan keluarga&#8230;. (PBB:58)</p>
<p>Dari penggalan tersebut terlihat bahwa bagi seorang jawara harga diri adalah segalanya. Barangsiapa menginjak harga diri beserta keluarganya, tentunya ini akan menjadikan perselisihan dengan sang jawara. Si Sulung selama ini selalu mengalah kepada anak Bah Kahot, itu pun karena nasihat dari Bah Bela supaya si Sulung mengalah kepada dia karena Bah Bela pernah berutang budi kepada bapaknya.</p>
<p>Jawara harus siap mati dalam pertarungan karena batas antara hidup dan mati bagi seorang jawara sangat tipis. Jika menang dalam pertarungan, dia hidup dan jika kalah, dia tentunya mati. Itulah yang dialami oleh si Sulung, yang akhirnya tewas mengenaskan di tepi Pantai Karang Bolong. Tubuhnya <em>gembung</em> dengan sejumlah bekas bacokan serta tangan dan kaki terikat. Tidak jelas siapa yang melakukan itu.</p>
<p><em>Silih wawangi</em> artinya mengutamakan sikap kekeluargaan. Dalam terminologi persilatan ada jargon yang berbunyi “satu guru satu ilmu jangan ganggu”. Hal ini pun berlaku bagi para jawara. Mereka umumnya memiliki  perguruan  silat yang berbeda-beda, setiap jurus yang dikeluarkan akan mencerminkan ciri khas perguruan silat tersebut. Seandainya dalam jurus silatnya ada kesamaan, itu berarti mereka berasal dari satu guru yang sama. Kekeluargaan akan terjadi sangat erat seandainya mereka berasal dari guru yang sama. Kekeluargaan harus dipegang teguh oleh setiap anggota perguruan silat demi mengharumkan <em>komara</em> perguruan tersebut.</p>
<p>&#8230;Perkelahian tak terhindarkan, tetapi di tengah perkelahian Bah Bela dan Bah Kahot sadar bahwa jurus-jurus mereka sama. Mereka lalu menghentikan perkelahian setelah keduanya bersiap mengeluarkan jurus pamungkas. Mereka berpikir jangan-jangan guru mereka sama. Mereka pun berkenalan pada akhirnya dan ketika sama-sama mengurut silsilah guru mereka, diketahuilah bahwa sumber ilmu silat mereka memang dari perguruan yang sama, perguruan Dampu Awang namanya. (PBB:54)</p>
<p><em>Kukuh kana janji</em> artinya seorang jawara harus memiliki komitmen yang kuat untuk menepati janji. Sebesar apa pun risiko yang akan terjadi bagi seorang jawara, ia harus tetap melakukan apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Ibaratnya, jika layar sudah dibentangkan, pantang surut ke belakang, jika golok sudah dicabut dari sarangnya, pantang dimasukkan kembali sebelum pertarungan usai. Janji yang sudah diucapkan pantang untuk dicabut kembali, seperti orang yang telah meludah pantang untuk dijilat kembali.</p>
<p>&#8230;Ingin rasanya membelokkan vewe tua ini ke arah lain, menghindari rumah Bah Kahot. Tapi apa mungkin darah jawara berpaling dari tekad yang sudah diteguhkan, dari golok yang telah dicabut dari sarungnya? (PBB:64)</p>
<p>Peran-peran tradisional sosial jawara dalam masyarakat Banten berlangsung turun naik. Hal ini pula yang mengubah persepsi masyarakat terhadap jawara. Pada waktu situasi sosial yang kurang stabil, peran jawara biasanya sangat penting, tetapi ketika masyarakat dalam keadaan damai, peran mereka kurang diperlukan, bahkan sering dipandang negatif karena perilakunya yang sering melakukan kekacauan dan kekerasan dalam masyarakat dan sebagian kecil ada yang melakukan tindakan kriminal. Namun, peran-peran sosial yang sering dimainkan oleh para jawara adalah di seputar kepemimpinan, seperti menjadi <em>jaro</em> (lurah), penjaga keamanan, dan guru silat, serta guru ilmu magis (Kartodirjo,1984:83).</p>
<p>Perubahan sosial yang cukup besar yang terjadi pada rakyat Banten saat  ini  telah mengubah persepsi masyarakat tentang peran-peran jawara. Bahkan,  sebagian  masyarakat ada yang  menginginkan  istilah  jawara   dihilangkan  sehingga  citra  budaya kekerasan yang  selama  ini melekat terhadap  masyarakat Banten, tentunya dalam pandangan orang luar Banten, dapat dihilangkan. Meskipun   demikian, peran-peran  sosial dan  politik yang dimainkan   oleh orang-orang  yang  selama  ini  dikenal   jawara  saat ini masih terasa di wilayah Banten. Kini, peran dan kedudukan tradisional jawara mulai digerogoti arus modernisasi seiring dengan berdirinya perusahaan-perusahaan besar di wilayah Banten. Hal inilah yang mendorong  perubahan budaya masyarakat Banten dari budaya pertanian ke budaya industri.</p>
<p><strong>3. Simpulan</strong></p>
<p>Jawara dalam pandangan masyarakat Banten merupakan sumber kepemimpinan tradisional informal, terutama masyarakat pedesaan. Jawara adalah seorang  yang memiliki kekuatan fisik dalam bersilat dan mempunyai ilmu-ilmu kesaktian (kadigjayaan), seperti kekebalan tubuh dari senjata tajam dan dapat memukul dari jarak jauh sehingga bagi orang lain dapat membangkitkan rasa hormat dan takut serta kagum. Sosok jawara tersebut muncul pada tokoh Bah Kahot dan Bah Bela. Karena kelebihannya itu, mereka dapat menjadi tokoh yang karismatik. Bah Kahot menjadi seorang ketua organisasi dan Bah Bela menjadi ketua dewan pakar. Jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten sehingga jawara tidak hanya menggambarkan suatu sosok, tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai,  norma, dan  pandangan  hidup  yang khas.</p>
<p>Kini jawara berusaha untuk tampil lebih ramah sehingga dapat diterima masyarakat. Mereka tidak hanya memainkan peran tradisional mereka, tetapi juga merambah sektor-sektor ekonomi dan politik di Banten. Apalagi setelah Banten menjadi sebuah provinsi yang mandiri, lepas dari wilayah Jawa Barat, peran jawara dalam percaturan bidang politik dan ekonomi memainkan peran yang sangat besar.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Djajadiningrat, Hosein. 1983. <em>Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten</em>. Jakarta:</p>
<p>Djambatan.</p>
<p>Lubis, Nina. 2003. <em>Banten dalam Pergumulan Sejarah</em>. Jakarta: LP3ES.</p>
<p>Kartodirdjo, Sartono.1984. <em>Pemberontakan Petani Banten 1888</em>. Jakarta:</p>
<p>Pustaka Jaya</p>
<p>Rusyana Yus. 1984. <em>Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan</em>. Bandung:</p>
<p>Diponegoro.</p>
<p>Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1991. <em>Apresiasi Kesusastraan</em>. Jakarta: Gramedia.</p>
<p>Teew, A. 1984. <em>Sastra dan Ilmu Sastra</em>. Jakarta: Pustaka Jaya.</p>
<p>Wellek, Rene dan Austin Warren. 1968. <em>Theory of Literature</em>. Harmondswort:</p>
<p>Penguin Books.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=41&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/representasi-jawara-dalam-cerpen-%e2%80%9cpembelaan-bah-bela%e2%80%9d-karya-moh-wan-anwar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SOSOK WANITA DALAM PUISI SUNDA MODERN</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/sosok-wanita-dalam-puisi-sunda-modern/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/sosok-wanita-dalam-puisi-sunda-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:51:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[modern]]></category>
		<category><![CDATA[puisi Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Ariyanti Abstrak Puisi merupakan salah satu produk budaya yang dihasilkan masyarakat pemiliknya. Puisi Sunda terlahir dari pemikiran, imajinasi dan rasa orang Sunda terhadap hidup dan kehidupannya. Wanita sebagai bagian dari kehidupan telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair Jawa Barat. Seorang sastrawan kenamaan, Ajip Rosidi, mengumpulkan dan menerjemahkan puisi karya beberapa penyair Jawa Barat dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=39&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ariyanti</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Puisi merupakan salah satu produk budaya yang dihasilkan masyarakat pemiliknya. Puisi Sunda terlahir dari pemikiran, imajinasi dan rasa orang Sunda terhadap hidup dan kehidupannya. Wanita sebagai bagian dari kehidupan telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair Jawa Barat.</p>
<p>Seorang sastrawan kenamaan, Ajip Rosidi, mengumpulkan dan menerjemahkan puisi karya beberapa penyair Jawa Barat dalam sebuah buku berjudul <em>Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa.</em> Buku tersebut memuat beberapa puisi yang menjadikan wanita sebagai sumber inspirasinya. Setiap penyair mempunyai cara yang beragam dalam mengapresiasi wanita. Ada yang positif, ada pula yang negatif.</p>
<p>Tulisan ini menguak bagaimana citra wanita dari sudut pandang para penyair Jawa Barat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata kunci: wanita, puisi Sunda modern<span id="more-39"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Abstract</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Poetry is one of cultural products made by its people. Sundanese poetry expressed sundanese thought, imagination and respectation of life. Woman as part of life has inspired sundanese poet. </em></p>
<p><em>The famous Ajip Rosidi has collected and translated some of modern sundanese poetry into a book named <strong>Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa</strong>. It contains some poetry inspired by woman with different points of view. </em></p>
<p><em>The aim of this writing is to reveal how Sundanese male poets  figured woman as part of their life.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Key word: woman</em><strong>, </strong><em>modern sundanese poetry</em><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Herman J. Waluyo dalam buku <em>Teori dan Apresiasi Puisi</em> menyatakan bahwa puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua (1987:1). Setiap suku bangsa di Indonesia mengenal puisi, tak terkecuali suku Sunda. Hal ini dibuktikan oleh naskah <em>Siksa Kandang Karesyan</em> yang ditulis dalam bahasa Sunda Kuna tahun 1518. Naskah tersebut menyatakan adanya <em>carita</em>, pantun, mantra dan lagu<em>.</em> <em>Carita</em> yang disebutkan dalam naskah tersebut adalah Darmajati, Sanghyang Bayu, Ramayana, Adipurwa, Bimasonga dan Ranggalawe<em>.</em> Pantun yang disebutkan adalah Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi dan Haturwangi. Mantra yang disebutkan adalah <em>Jampi</em>, <em>Geugeuning, Puspaan, Hurip-huripan </em>dan<em> Pasakwan. </em>Lagu yang disebutkan dalam naskah tersebut adalah <em>Kawih Sisindiran, Kawih Igel-igelan, </em>dan<em> Kawih Babahanan </em>(Ajip Rosidi, 2001:9).</p>
<p>Puisi ialah produk budaya yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Puisi tidak hanya untuk ditulis dan dibaca, tetapi juga untuk dinyanyikan. Bentuk puisi yang paling populer ialah lagu. Lagu-lagu yang dinyanyikan ialah puisi-puisi yang memiliki nada dan irama. Puisi-puisi ini sangat beragam baik lirik, nada maupun cara pengekspresiannya. Keragaman inilah yang membuat puisi bisa terus bertahan dan berkembang hingga saat ini.</p>
<p>Di Jawa Barat ada beberapa penyair yang cukup intens membuat puisi dalam bahasa Sunda. Ajip Rosidi memilih beberapa diantara mereka dan menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Di antara karya-karya tersebut ada satu kesamaan tema yang diusung, yaitu wanita. Wanita sebagai seorang ibu yang melahirkan anaknya dan sebagai seorang istri.</p>
<p>Ibu ialah sosok yang sangat dekat dan berarti dalam kehidupan seorang penyair. Ibu bukan hanya sebagai sosok yang melahirkan, membesarkan, membimbing, dan mendorong. Ibu juga merupakan sosok yang sangat kompleks sebagai seorang manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya..</p>
<p>Setiap penyair memiliki sudut pandang yang berbeda-beda terhadap sosok seorang wanita. Hal inilah yang akan diungkap dalam tulisan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Sekilas tentang Buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa</strong></li>
</ol>
<p>Buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa ialah buku kumpulan puisi dalam bahasa Sunda karya 21 penyair yang dipilih dan diterjemahkan oleh Ajip Rosidi. Puisi yang diterjemahkan berjumlah 62 buah. Puisi-puisi tersebut terdiri dari tiga buah puisi Kis Ws., tiga buah puisi sayudi, satu puisi Eddi Tarmiddi, empat buah puisi Wahyu Wibisana, dua buah puisi Surahman R.M., tiga buah puisi Eson Sumardi, tiga buah puisi Ajip Rosidi sendiri, dua buah puisi Yus Rusyana, tiga buah puisi Apip Mustopa, empat buah puisi Ayatrohaedi, empat buah puisi Rachmat M. Sas. Karana, tiga buah puisi Abdullah Mustopa, tiga buah puisi Usep Romli H.M., tiga buah puisi Eddy D. Iskandar, tiga buah puisi Beni Setia, dua buah puisi Juniarso Ridwan, lima buah puisi Godi Suwarna, dua buah puisi Eddo Sy., tiga buah puisi Etti R.S., dua buah puisi Acep Zamzam Noor, dan empat buah puisi Chye Retty Isnendes.</p>
<p>Puisi-puisi tersebut memiliki tema yang beragam, salah satunya ialah tema ibu. Tulisan ini hanya akan mengulas puisi-puisi yang bertema ibu. Puisi-puisi yang akan diulas adalah puisi karya Sayudi yang berjudul <em>Indung jeung Anak</em> ‘Ibu dan Anak’, puisi karya Ayatrohaedi yang berjudul <em>Pamanggih </em>‘Pendapat’ dan <em>Indung </em>‘Ibu’, puisi karya Eddy D. Iskandar yang berjudul <em>Hiji Nagri </em>‘Suatu Negeri’, puisi karya Beni Setia yang berjudul <em>Sangkuriang</em>, puisi karya Eddo Sy. yang berjudul <em>Kahirupan Ma Anah</em> ‘Kehidupan Mak Anah’.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.1 </strong><strong> Puisi Sayudi</strong></p>
<p><strong> </strong>Sayudi ialah seorang penyair yang biasanya menulis puisi dan cerita pendek dalam bahasa Indonesia. Ia menerbitkan buku kumpulan puisinya dalam bahasa Sunda pada tahun 1963 yang berjudul <em>Lalaki di Tegalpati. </em>Buku kumpulan puisinya yang kedua diterbitkan pada tahun 1983 dengan judul <em>Madraji</em>. Sayudi mendapat Hadiah Sastera Rancage pada tahun 1994. Hadiah ini dianugrahkan kepada Sayudi sebagai penghargaan atas jasanya menghubungkan puisi modern dengan akar puisi tradisi Sunda. Puisi Sayudi yang akan diulas dalam tulisan ini ialah puisi yang berjudul <em>Indung jeung Anak. </em>Puisi ini  diterjemahkan oleh Ajip Rosidi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul <em>Ibu dan Anak</em>. Puisi <em>Ibu dan Anak</em> dibuat menyerupai dialog seorang ibu dengan anaknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em> Indung jeung Anak</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>Anak:      Ema naon eusi langit</em></p>
<p><em> jeung di mana tungtung langit</em></p>
<p><em> katut bentang nu baranang</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Indung:   Teu jauh ti dada ema</em></p>
<p><em> eusina napas jeung getih</em></p>
<p><em> bentang teu jauh ti ujang </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Anak:      Ema saha nu boga langit</em></p>
<p><em> jeung bentang anu baranang</em></p>
<p><em> saha nu boga bulan</em></p>
<p><em> katut beurang jeung peutingna</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Indung:   Kapan sagala nu ujang</em></p>
<p><em> paeh hirup anu ujang</em></p>
<p>(Rosidi, 2001:34)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ibu dan Anak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Anak:     Ibu, apa isi langit</p>
<p>dan di mana ujungnya</p>
<p>serta bintang yang bertebaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibu:         Tidak jauh dari dada bunda</p>
<p>isinya napas dan darah</p>
<p>bintang tak jauh dari ananda</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anak:     Ibu, siapa yang empunya langit</p>
<p>dan bintang yang bertebaran</p>
<p>siapa yang empunya bulan</p>
<p>serta siang dengan malam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibu:         Semuanya kan punyamu</p>
<p>hidup dan mati punya ananda</p>
<p>(Rosidi, 2001:35)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi di atas ditulis pada bulan Juli 1956. Hubungan antara ibu dan anak ditampilkan dalam puisi ini. Puisi ini dibuat layaknya sebuah dialog antara sang ibu dengan sang anak, dalam dialog tersebut ditunjukan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.</p>
<p>Besarnya kasih sayang sang ibu terlihat pada bait kedua yang menggambarkan sosok ibu yang pemaaf dan penyabar. Hal ini dinyatakan pada larik pertama, yaitu <em>Teu jauh ti dada ema</em> ‘tidak jauh dari dada bunda’. Maksud kalimat tersebut ialah langit tidak jauh dari dada bunda, ini berarti bahwa seorang ibu memiliki dada yang sangat lapang untuk memaafkan kesalahan sang anak, ini juga bisa diartikan bahwa ibu ialah sosok yang sangat penyabar.</p>
<p>Pada bait kedua juga digambarkan bagaimana besarnya pengorbanan seorang ibu. Hal ini terlihat pada larik kedua, yaitu <em>eusina napas jeung getih</em> ‘isinya napas dan darah’. Napas bisa diartikan sebagai kerja keras sang ibu. Sang ibu bekerja keras untuk menjaga, menghidupi, menyayangi dan membimbing anaknya. Darah ialah pengorbanan sang ibu dalam melahirkan dan membesarkan anaknya.</p>
<p>Puncak ketulusan dan dedikasi seorang ibu digambarkan pada bait terakhir. Hal ini digambarkan dengan pernyataan <em>Kapan sagala nu ujang, paeh hirup anu ujang</em> ‘semuanya kan punyamu, hidup dan mati punya ananda’. Pada bait terakhir ini sosok ibu digambarkan memiliki kerelaan untuk memberikan segalanya bahkan hidup dan matinya pun didedikasikan untuk anaknya.</p>
<p>Puisi yang berjudul <em>Indung Jeung Anak</em> ‘Ibu dan Anak’ ini telah menggambarkan sosok ibu yang penyabar, pemaaf, penuh pengorbanan dan sangat menyayangi anaknya. Ini gambaran seorang ibu secara umum.</p>
<p>Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan sosok seorang ibu ini ialah kata-kata yang mengandung makna konotatif, seperti langit, napas, dan <em>geutih</em> ‘darah’.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2 </strong><strong>Puisi Ayatrohaedi</strong></p>
<p>Dalam buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa ini, dari empat puisi karya Ayatrohaedi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ada dua buah judul puisi yang bertemakan ibu, yaitu puisi yang berjudul <em>Pamanggih</em> yang diterjemahkan menjadi <em>Pendapat,</em> dan puisi yang berjudul <em>Indung</em> yang diterjemahkan menjadi <em>Ibu. </em>Kedua puisi ini mencerminkan pandangan Ayatrohaedi terhadap sosok seorang ibu. Berikut ini akan diulas secara berturut-turut puisi berjudul <em>pamanggih </em>dan <em>Indung.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em> Pamanggih</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong><em>Salapan bulan ngakandung</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Moal aya hiji jalma</em></p>
<p><em> leuwih ti indung micinta</em></p>
<p><em> indung gudang hampura</em></p>
<p><em> Salapan bulan dikandung</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Moal aya hiji jalma</em></p>
<p><em> leuwih ti anak rumasa</em></p>
<p><em> anak gudang dosa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Salapan bulan ngakandung</em></p>
<p><em> Pinuh rasa jeung rumasa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Salapan bulan dikandung</em></p>
<p><em> Pinuh dosa jeung rumasa</em></p>
<p>(Rosidi,2001:84)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ajip Rosidi menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Pendapat</strong></p>
<p><strong> </strong>Sembilan bulan mengandung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Takkan ada manusia</p>
<p>yang seperti ibu mencinta</p>
<p>ibu gudang ampunan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sembilan bulan dikandung</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Takkan ada manusia</p>
<p>melebihi anak sadar merasa</p>
<p>anak gudang dosa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sembilan bulan mengandung</p>
<p>Penuh rasa dan kesadaran</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sembilan bulan dikandung</p>
<p>Penuh dosa dan kesadaran</p>
<p>(Rosidi, 2001:85)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi <em>Pamanggih </em>ditulis pada tahun 1956. Puisi ini menggambarkan sosok seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, menjaganya dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus. Sembilan bulan merupakan waktu normal seorang ibu mengandung anaknya. Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat dan mengandung seorang anak bukanlah hal yang gampang atau sepele. Banyak hal yang harus dijaga dan diperhatikan demi keselamatan anak yang dikandungnya, banyak pula pengorbanan yang dilakukan seorang ibu selama ia mengandung. Pengorbanan itu dimulai dari perubahan bentuk tubuhnya. Bentuk tubuh bagi seorang wanita sangatlah penting. Namun demi sang anak, ibu  rela menjadi gemuk dan tak sintal lagi, kemudian sang ibu harus melewati masa-masa sulit saat rasa mual menyerang selama tiga bulan pertama. Jika saat melahirkan tiba, sang ibu memulai perjuangan antara hidup dan mati. Penderitaan dan pengorbanan yang sangat besar dari seorang ibu untuk anaknya, semua ini dilakukan atas nama cinta. Hal ini tidak bisa ditebus atau diganti dengan uang atau apapun di dunia ini. Namun,  tatkala sang anak telah dilahirkan, ia melakukan banyak kesalahan dan dosa, melupakan semua yang telah dilakukan sang ibu untuknya. Sang ibu dengan kebesaran cintanya akan tetap memaafkan anaknya. Sosok ibu yang pemaaf telihat jelas dalam puisi berjudul <em>Pamanggih </em>ini pada bait ke dua larik ketiga yang mengatakan <em>indung gudang hampura </em>‘ibu gudang ampunan’ dan bait kelima larik kedua, yaitu <em>Pinuh rasa jeung rumasa ‘</em>Penuh rasa dan kesadaran’.</p>
<p>Sosok anak yang banyak melakukan kesalahan digambarkan pada bait keempat larik ketiga, yaitu <em>anak gudang dosa</em> ‘anak gudang dosa’ dan bait keenam larik kedua, yaitu <em>pinuh dosa jeung rumasa</em> ‘penuh dosa dan kesadaran’. Puisi ini sangat cocok dengan pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah. Sebesar-besarnya kasih seorang anak kepada ibunya, masih lebih besar kasih seorang ibu kepada anaknya.</p>
<p>Puisi lain karya Ayatrohaedi yang bertemakan ibu ialah puisi berjudul <em>Indung</em> yang diterjemahkan oleh Ajip Rosidi ke dalam bahasa Indonesia menjadi <em>Ibu</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Indung</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Iuh tanjung seungitna marganing wuyung</em></p>
<p><em> liuh indung perbawa nu cadu nundung</em></p>
<p><em> mun di dunya ngan aya indung jeung bapa</em></p>
<p><em> bakal bisa ngawasa sajagat raa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Ngan indung memeh miang dielingan,</em></p>
<p><em> “Lamun hirup ngan ngumbar karep sorangan</em></p>
<p><em> temahna poho ka indung</em></p>
<p><em> kaduhung nunggu di tuntung</em></p>
<p><em> nya hanjakal bakal jadi incu cikal.”</em></p>
<p><em> </em>(Rosidi, 2001:88)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ibu</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teduh tanjung wangi kembangnya membikin kuatir</p>
<p>teduh wajahnya tanda ibu haram mengusir</p>
<p>kalau di dunia hanya ada ayah dan bunda</p>
<p>niscaya akan dapat menguasai jagat raya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi sebelum berangkat ibu memberi nasihat</p>
<p>“Kalau hidup mengumbar napsu sendiri saja</p>
<p>akibatnya akan lupa sama bunda</p>
<p>penyesalan yang menunggu di ujung</p>
<p>sebagai cucu sulung.”</p>
<p>(Rosidi, 2001:89)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi <em>Indung </em>ditulis pada tahun 1957. Puisi ini juga berbicara tentang sosok seorang ibu. Seperti puisi-puisi yang telah diulas sebelumnya, puisi ini pun menggambarkan sosok ibu yang pemaaf dan penyabar.</p>
<p>Puisi <em>Indung</em> terdiri dari dua bait. Bait pertama menggambarkan sosok seorang ibu yang walaupun dalam keadaan marah, ia tetap berwajah teduh. Ia tidak akan tega melukai atau menyakiti hati anaknya. Hal ini dapat dilihat pada larik pertama dan kedua, yaitu  <em>Iuh tanjung seungitna marganing wuyung, liuh indung perbawa nu cadu nundung</em> ‘Teduh tanjung wangi kembangnya membikin kuatir, teduh wajahnya tanda ibu haram mengusir’. Kemarahan sang ibu dilambangkan dengan bunga Tanjung yang sedang mekar mewangi. Bunga Tanjung ialah bunga yang biasanya tumbuh dipekuburan.</p>
<p>Larik kedua menggambarkan sosok ibu yang mampu memaafkan anaknya walau telah membuatnya marah. Larik ketiga dan keempat menggambarkan pujian dan penghormatan sang anak kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Bait kedua kembali menggambarkan sosok ibu yang selalu membimbing anaknya untuk menjalani hidup. Sang ibu selalu mengingatkan anaknya untuk menjalani hidup dengan benar, jangan sampai hidup sang anak berujung penyesalan. Penyesalan selalu berada di akhir, tak pernah di awal. Inilah yang diingatkan sang ibu agar hidup sang anak menjadi bermakna dan berbahagia. Nasihat yang diberikan seorang ibu kepada anaknya merupakan bentuk kasih sayang dan cintanya pada sang anak. Namun, sang anak tidak selalu berpendapat sama. Ada kalanya sang anak menganggap nasihat itu sebagai omelan yang membosankan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.3 </strong><strong>Puisi Rachmat M. Sas. Karana</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Salaki Pamajikan dina Hiji Sore</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong><em>Manehna hayang lalajo pilem drama</em></p>
<p><em> Kuring hayang lalajo pilem perang</em></p>
<p><em> Manehna hayangeun ngucurkeun cimata</em></p>
<p><em> Kuring hayang ngabarkeun pedang</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi berjudul <em>Salaki Pamajikan dina Hiji Sore </em>ini diterjemahkan oleh Ajip Rosidi sebagai berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Suami-isteri pada Suatu Sore</strong></p>
<p><strong> </strong>Ia ingin menonton filem drama</p>
<p>Aku ingin menonton filem perang</p>
<p>Dia ingin mencucurkan airmata</p>
<p>Aku ingin mengancam dengan pedang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi berjudul <em>Salaki Pamajikan dina Hiji Sore</em> hanya terdiri atas satu bait. Namun, satu bait  ternyata telah cukup bagi seorang penyair untuk menggambarkan perbedaan pria dan wanita.</p>
<p>Pada puisi ini penyair menggambarkan sifat pria yang keras dan sifat wanita yang melankolis dan halus perasaannya. Sifat keras pria tergambarkan dalam larik kedua dan keempat, yaitu <em>kuring hayang lalajo pilem perang, kuring hayang ngabarkeun pedang</em> ‘aku ingin menonton filem perang, aku ingin mengancam dengan pedang’. Filem perang dan pedang adalah simbol kekerasan. Pedang dan perang memiliki keterkaitan makna, keduanya sama-sama menggandung makna kekerasan, kekejaman, darah dan penderitaan. Sifat keras pria dianologikan dengan perang dan pedang.</p>
<p>Sifat melankolis seorang wanita dinyatakan dalam larik pertama dan ketiga, yaitu <em>manehna hayang lalajo pilem drama, manehna hayang ngucurkeun cimata</em> ‘ ia ingin menonton filem drama, ia ingin mencucurkan air mata’. Filem drama dan menangis (mencucurkan air mata) dijadikan sebagai simbol sifat wanita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.4 </strong><strong>Puisi Eddy D. Iskandar</strong></p>
<p><strong> </strong>Eddy D. Iskandar terkenal sebagai penulis roman pop dalam bahasa Indonesia. Tulisannya dalam bahasa Sunda berupa sajak, cerita pendek dan roman dimuat dalam  <em>Mangle, Handjuang, </em>dan <em>Galura.</em> Puisi-puisinya yang berbahasa Sunda diterbitkan dalam buku <em>Nu Ngarongheap Mangsa Surup</em> pada tahun 1977, <em>Jamparing</em> pada tahun 1989, <em>Waruga Garba </em>pada tahun 1984, dan <em>Kasidah Langit</em> pada tahun 1992. Puisi di bawah ini ialah salah satu karya Eddy D. Iskandar dalam bahasa Sunda yang berjudul <em>Hiji Nagri.</em></p>
<p><strong><em> Hiji Nagri</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong><em>hiji nagri</em></p>
<p><em> di lemah euweuh</em></p>
<p><em> ngancik ‘na sagara rasa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> hiji nagri</em></p>
<p><em> di uwung-uwung awang-awang</em></p>
<p><em> ngait ‘na hate kaula</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> hiji nagri</em></p>
<p><em> nu dipigandrung</em></p>
<p><em> aya ‘na suku indung</em></p>
<p><em> </em>(Rosidi, 2001:118)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Suatu Negeri</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>suatu negeri</p>
<p>di ranah tiada</p>
<p>tertanam dalam lautan rasa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>suatu negeri</p>
<p>diuwung-uwung awang-awang</p>
<p>terkait dalam hatiku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>suatu negeri</p>
<p>yang selalu termimpi-mimpi</p>
<p>terletak di telapak kaki ibu</p>
<p>(Rosidi, 2001:119)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi Eddy D. Iskandar ini menggambarkan penghormatan sang penyair terhadap sosok ibu. Puisi ini juga mengungkapkan sisi religiositas sang penyair. Sang penyair begitu mendambakan surga sehingga ia selalu mengangan-angankan dan memimpikannya. Negeri yang dimaksud sang penyair ialah surga, hal ini tersirat pada bait ketiga yang menyatakan <em>hiji nagri, nu dipigandrung, aya ‘na suku indung</em> (suatu negeri, yang selalu termimpi-mimpi, terletak di telapak kaki ibu). Bait ketiga ini sesuai dengan sebuah pepatah yang mengatakan surga terletak di bawah kaki ibu. Jika ingin mencapai surga, kita harus menghormati dan menyayangi ibu kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.5 </strong><strong>Puisi Beni Setia</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Sangkuriang</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Aya nu ngambang di walungan</em></p>
<p><em> Basa muara diranjah banjir cileuncang</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Urang basisir, kolot budak</em></p>
<p><em> Ngagarimbung dina jambatan tingharewos</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> “anak saha?”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> euweuh nu pasti, walungan nu panjang</em></p>
<p><em> imeut mapay kota, loba nu nampa kiriman</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> ngan laut bangun teu suka</em></p>
<p><em> cua nenjo nu ngambang kabawa hujan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> pokna—mana indung bapana?</em></p>
<p><em> </em>(Rosidi, 2001:128)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ajip Rosidi menerjemahkan puisi di atas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sangkuriang</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada yang hanyut di kali</p>
<p>Waktu muara dilanda banjir kiriman</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penduduk pesisir, tua-muda</p>
<p>Berkerumun di jembatan berbisik-bisik</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“anak siapa?”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tak ada yang pasti, sungai yang panjang</p>
<p>cermat menyusur kota, banyak menerima kiriman</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cuma laut seperti tak suka</p>
<p>Kecewa melihat yang hanyut dibawa air hujan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Katanya: “mana ibu-bapanya?”</p>
<p>(Rosidi, 2001:129)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Judul puisi ini diambil dari sebuah legenda rakyat Jawa Barat, yaitu Sangkuriang. Sangkuriang ialah salah nama satu tokoh dalam legenda gunung Tangkubanperahu. Dalam legenda tersebut, Sangkuriang merupakan anak semata wayang Dayang Sumbi. Saat kecil ia melakukan kesalahan yang membuat ibunya murka hingga ia diusir. Cerita tentang anak yang terbuang inilah yang mungkin menjadi alasan penyair untuk memilih judul Sangkuriang.</p>
<p>Sosok ibu yang diangkat dalam puisi ini agak berbeda dengan sosok ibu yang ditampilkan dalam puisi-puisi sebelumnya. Puisi <em>Sangkuriang</em> ini dapat ditafsirkan secara berbeda. Pertama, puisi ini menggambarkan sosok ibu sebagai orang tua yang teledor hingga menyebabkan terjadinya sebuah kecelakaan, yaitu hanyutnya sang anak di sungai. Kedua, sosok ibu digambarkan sebagai seorang ibu yang tidak bertanggung jawab, yaitu membuang anaknya karena kehadirannya di muka bumi ini tidak diinginkan. Hal ini biasanya terjadi karena sang anak terlahir dari hubungan yang terlarang. Saat dilahirkan, sang anak langsung dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke kali atau ke sungai. Perlakuan yang sangat tidak manusiawi ini sangat dibenci oleh masyarakat bahkan alam pun tidak menyukainya.</p>
<p><em>Aya nu ngambang di walungan</em> ‘ada yang hanyut dikali’ berarti sang anak sudah hanyut dikali dalam keadaan sudah menjadi mayat,<em> “anak saha?” </em>(“anak siapa?”) saat masyarakat menemukan mayat sang anak, mereka akan bertanya-tanya, anak siapa ia gerangan, tidak ada yang tahu. Peristiwa yang biadab dan tidak bertanggung jawab, membunuh seorang anak yang tak berdosa, bahkan laut pun menghujat, <em>mana indung bapana?</em> ‘mana ibu-bapanya?’. Membesarkan dan menjaga anak merupakan kewajiban orang tua, tapi dalam puisi ini orang tua, terutama sosok seorang ibu tega melakukan perbuatan yang nista, yaitu membunuh dan membuang anaknya sendiri. Inilah gambaran sosok seorang ibu sebagai manusia biasa yang juga punya banyak kelemahan dan kesalahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2.6 </strong><strong>Puisi Eddo Sy.</strong></p>
<p><strong><em>Kahirupan Mak Anah</em></strong></p>
<p><em> Mak Anah tukang surabi</em></p>
<p><em> sore subuh satia nganti nu meuli</em></p>
<p><em> satuhu usaha ngadago rijki</em></p>
<p><em> ceuk paribasa najan ngan payu sasiki</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Ma Anah dagang surabi</em></p>
<p><em> teuing geus ngaliwatan pirang rewu janari</em></p>
<p><em> aya rame aya sepi</em></p>
<p><em> kauntungan heunteu pasti</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> “Ema oge lin teu hayang jiga batur</em></p>
<p><em> ema yakin rijki mah aya Nu Ngatur</em></p>
<p><em> ku kituna heunteu kudu jadi catur</em></p>
<p><em> gede leutik ema tetep ngucap sukur”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> Ma Anah tukang surabi</em></p>
<p><em> satia usaha nganti nu meuli</em></p>
<p><em> rek rame rek sepi</em></p>
<p><em> tetep sumujud ka Gusti.</em></p>
<p><em> </em>(Rosidi, 2001:148)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terjemahan puisi di atas dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kehidupan Mak Anah</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mak Anah penjual serabi</p>
<p>sore subuh setia menanti pembeli</p>
<p>patuh pada usaha mencari rijki</p>
<p>meski yang terjual cuma sebiji</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mak Anah berjualan serabi</p>
<p>entah sudah melewati berapa ribu dinihari</p>
<p>kadang ramai kadang sepi</p>
<p>keuntungan tak pernah pasti</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Aku pun bukan tak mau seperti orang</p>
<p>aku yakin rizki kita ada yang mengatur</p>
<p>karena itu tak usah jadi omongan</p>
<p>besar atau kecil kan tetap mengucap syukur.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mak Anah tukang serabi</p>
<p>setia berusaha menanti pembeli</p>
<p>baik ramai maupun sepi</p>
<p>tetap berbakti kepada Gusti.</p>
<p>(Rosidi, 2001:149)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em> Kahirupan Mak Anah</em> ‘Kehidupan Mak Anah’ merupakan sebuah puisi yang menggambarkan sosok wanita terus berjuang mengarungi kehidupan yang keras. Mak Anah mencari nafkah dengan berdagang. Ia seorang wanita yang penyabar dan tangguh. Berdagang dari sore hingga subuh menjelang terus ia lakoni, walau keuntungannya tak pasti. Mak Anah juga merupakan sosok wanita yang religius, dalam kesusahan ia tetap berbakti kepada Tuhannya dan tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Simpulan</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Wanita merupakan sosok yang paling menarik di muka bumi ini. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Wanita memiliki peran sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Banyak permasalahan dan dilema yang dihadapi wanita sebagai sosok yang sering dijadikan panutan. Para pria pun memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai sosok seorang wanita. Namun, sosok wanita sebagai ibu secara umum ialah sosok manusia yang penuh cinta, maaf dan dedikasi yang tinggi untuk kehidupan sang anak. Puisi- puisi yang menggambarkan sosok seorang ibu yang pemaaf, penyabar, penuh cinta dan selalu siap berkorban demi anaknya adalah puisi yang berjudul <em>Indung jeung Anak </em>karya penyair Sayudi<em>, Pamanggih, </em>dan <em>Indung </em>karya Ayatrohaedi. Sosok wanita yang penyabar, suka bekerja keras, dan religius tergambar dalam puisi karya  Eddo Sy. Yang berjudul <em>Kahirupan Mak Anah. </em>Sisi lain dari sosok seorang wanita ialah seorang manusia biasa yang juga sering alpa, penuh dosa dan kesalahan. Puisi yang menggambarkan sosok seorang ibu teledor dalam menjaga anaknya hingga sang anak hanyut di sungai ialah puisi yang berjudul <em>Sangkuriang </em>karya Beni Setia.</p>
<p>Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang sosok seorang ibu, betapapun demikian, sebagai seorang anak kita wajib menghormati dan menyayangi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tanpa seorang ibu takkan pernah terlahir seorang anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>J. Waluyo, Herman. 1987. <em>Teori dan Apresiasi Puisi</em>. Jakarta: Penerbit Erlangga</p>
<p>Rosidi, Ajip. 2001. <em>Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa</em>. Jakarta: Pustaka Jaya</p>
<p>Sarumpaet, Riris K. Toha. 2002. <em>Apresiasi Puisi Remaja, Catatan Mengolah Cerita.</em> Jakarta: Grasindo</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=39&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/sosok-wanita-dalam-puisi-sunda-modern/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TOKOH PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN KEDUA: ANTARA PENDIDIKAN, KARIER, DAN RUMAH TANGGA</title>
		<link>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/tokoh-perempuan-dalam-kumpulan-cerpen-perempuan-kedua-antara-pendidikan-karier-dan-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/tokoh-perempuan-dalam-kumpulan-cerpen-perempuan-kedua-antara-pendidikan-karier-dan-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 06:49:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>metasastra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Vol. 1, No. 2, Desember 2008]]></category>
		<category><![CDATA[dominasi laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[karier]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metasastra.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Jujun Herlina &#160; Abstrak Kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik semakin terbuka lebar bagi perempuan. Mereka juga mampu menempati posisi-posisi penting di wilayah publik. Namun, keberhasilan perempuan dalam pendidikan dan karier belum berdampak positif terhadap perannya di wilayah domestik. &#160; Kata kunci: pendidikan, karier, dominasi laki-laki &#160; Abstract The opportunity to receive better education is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=37&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jujun Herlina</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik semakin terbuka lebar bagi perempuan. Mereka juga mampu menempati posisi-posisi penting di wilayah publik. Namun, keberhasilan perempuan dalam pendidikan dan karier belum berdampak positif terhadap perannya di wilayah domestik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata kunci:<em> </em>pendidikan, karier, dominasi laki-laki<span id="more-37"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Abstrac</em></strong><em>t</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>The opportunity to receive better education is increasingly open widely for the woman. They can also occupy important positions in the public&#8217;s territory. However, the success of the woman in education and the career has not yet had a positive impact on her role in the domestic territory. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Key word:</em><strong><em> </em></strong><em>education, the career, man domination </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Dalam tulisan-tulisan pejuang emansipasi perempuan, seperti R.A. Kartini dan Roehanna Koeddoes, banyak dibicarakan pentingnya pendidikan bagi para perempuan Indonesia. Roehanna juga menulis artikel dalam koran <em>Soenting Melayu</em> pada tahun 1912 yang mengumumkan tuntutan perempuan Indonesia kala itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak, gizi yang baik, dan pendidikan bagi anak yang setara dengan pendidikan untuk anak-anak keluarga Belanda. Melalui sarana pendidikan diharapkan perempuan dapat berdiri sejajar dengan laki-laki. Sekolah dianggap sebagai pembuka jalan yang memungkinkan perempuan dapat berkiprah di dunia luas. Beberapa sekolah akhirnya didirikan. Salah satu sekolah perempuan di Bandung, bahkan dipimpin oleh seorang perempuan bernama Dewi Sartika.</p>
<p>Dewey dalam Rajab (2008) menyatakan bahwa pendidikan berfungsi sebagai alat transformasi sosial. Pengajaran di sekolah tidak hanya mengarahkan orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tetapi juga merekonstruksinya sehingga memungkinkan mereka dapat hidup dalam tatanan kemasyarakatan yang demokratis, yang menyediakan peluang yang sama bagi setiap orang tanpa kecuali. Dari hasil pendidikan sekolah itu ada di antara kaum perempuan yang dapat menempati posisi-posisi strategis pada lembaga-lembaga publik.</p>
<p>Meningkatnya jenjang pendidikan dan meluasnya pekerjaan perempuan di sektor publik merupakan indikator terjadinya perubahan peran perempuan. Namun, Rajab (2008), staf pengajar Jurusan Antropologi, melihat perubahan itu masih berada di bawah bayang-bayang sistem dan nilai patriarki, yaitu perempuan dimarjinalkan dan termasuk kelompok yang inferior. Rajab memberi contoh pada buku-buku teks pelajaran di sekolah yang selalu menggambarkan kegiatan ibu di sektor domestik, sedangkan ayah berada di sektor publik. Dengan demikian, Rajab semakin yakin bahwa pendidikan sekolah itu sendiri masih merupakan bagian dari sistem yang mengukuhkan pembedaan peran antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Fakih (1999:7) mengemukakan bahwa konsep gender lebih mengarah pada pensifatan yang melekat pada laki-laki ataupun perempuan yang dikonstruksi, baik secara sosial maupun kultural, misalnya laki-laki harus bersifat kuat, agresif, dan berkuasa, sedangkan perempuan harus lemah lembut, setia, dan penuh pengabdian. Perempuan dianggap harus dilindungi, dihormati, dan dihargai. Malangnya, perempuan juga sering menjadi korban tindak kriminal karena dianggap mempunyai rasa takut yang lebih tinggi, lemah, gampang menyerah, dapat dipaksa, mudah disuruh-suruh, dan tidak mudah melawan. Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana dalam Febriane (2008), perempuan merupakan <em>potential victim </em>‘korban potensial’<em> </em>tindak kejahatan. Persepsi terhadap kaum perempuan itu memengaruhi realitas kejahatan itu sendiri. Fakih dalam Siswanti (2003) menyebut delapan kekerasan yang disebabkan oleh bias gender, antara lain pelacuran, perkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga.</p>
<p>Jika menyikapi hal tersebut, banyak gerakan-gerakan perempuan yang muncul dan berusaha meluruskan persepsi yang merugikan pihak perempuan. Dalam dunia kesusastraan pun banyak penulis-penulis perempuan yang menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan ideologi gender. Salah seorang pengarang perempuan yang tulisannya banyak mengangkat persoalan yang berkaitan dengan perempuan ialah Labibah Zain. Pada Agustus 2008 Labibah menerbitkan kumpulan cerpen <em>Perempuan Kedua</em> yang berkisah tentang berbagai persoalan yang melibatkan perempuan, mulai dari persoalan rumah tangga, pendidikan, kesetaraan derajat, hingga kemiskinan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Tokoh Perempuan dalam Kumpulan Cerpen Perempuan Kedua</strong></p>
<p>Kumpulan cerpen <em>Perempuan Kedua</em> memuat tiga belas cerpen yang mengisahkan kehidupan perempuan dari berbagai sudut. Dari ketiga belas cerpen itu hanya empat cerpen yang akan dianalisis. Keempat cerpen itu ialah “Aina”, “Perempuan Kedua”, “Perempuan Pencari Dada Ibu”, dan “Layli”. Tokoh perempuan pada cerpen-cerpen itu umumnya berpendidikan dan mempunyai karier yang lumayan. Akan tetapi, apakah keterlibatan perempuan di luar rumah berbanding lurus dengan posisinya di wilayah domestik dan apakah semakin tinggi keterlibatan perempuan di luar rumah berarti semakin tinggi pula posisinya di wilayah domestik?</p>
<p>Pada cerpen “Aina”, ada dua tokoh perempuan yang berasal dari keluarga yang memegang teguh adat yang berprinsip seorang keturunan syarifah harus menikah dengan habib. Kedua tokoh tersebut pernah mengenyam pendidikan tinggi. Setelah lulus, Aina langsung menikah dan tidak bekerja, sedangkan Salma, setelah menikah, kemudian menjadi guru kesenian di sebuah SMP. Cerpen “Perempuan Kedua” bertokoh Gami dan Gini. Tokoh Gini adalah seorang guru Bahasa Inggris dan Gami setelah melahirkan memutuskan keluar dari pekerjaannya atas permintaan suami. Pada cerpen “Perempuan Pencari Dada Ibu”, tokoh perempuannya ialah seorang novelis yang tulisannya selalu <em>bestseller</em>, mempunyai latar belakang keluarga yang <em>broken home</em>. Pada cerpen “Layli”, tokoh utama perempuannya bergelar master dan mempunyai pekerjaan yang lebih baik daripada suaminya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Posisi Perempuan di antara Pendidikan, Karier, dan Rumah Tangga</strong></p>
<p>Semua tokoh perempuan pada tulisan ini mengenyam pendidikan tinggi dan berhasil dalam karier. Aina yang berasal dari keluarga yang memegang teguh adat keturunan Arab akhirnya harus mengikuti aturan, yaitu seorang syarifah (sebutan untuk perempuan yang punya garis keturunan langsung dari Fatimah, putri Nabi Muhammad saw.) harus menikah dengan seorang habib<em> </em>(sebutan untuk laki-laki yang punya garis keturunan langsung dari Fatimah). Selama kuliah, Aina mempunyai keberanian untuk mendobrak tradisi itu dan menjalin cinta dengan Hartanto, laki-laki yang bukan seorang habib. Namun, setelah lulus, Aina malah memilih mengikuti aturan keluarga. Ia berkaca dari pengalaman Salma, temansnya, yang akhirnya dikucilkan keluarga karena memilih menikah dengan <em>ahwal </em>(sebutan untuk orang yang tidak punya garis keturunan langsung dari Fatimah). Di satu pihak Aina terikat pada aturan itu, seolah-olah sebagai perempuan ia tidak mempunyai hak untuk memilih pendamping hidup, tetapi di sisi lain Aina juga memikirkan dampaknya apabila mencoba keluar dari tradisi itu. Namun, pengorbanan Aina tidak lantas membuatnya bahagia. Ia malah diperlakukan buruk oleh suaminya. Sebagai seorang perempuan berpendidikan, kata-kata yang keluar dari mulut Aina sangat terjaga. Ia tidak mengumbar emosi dan tidak membuka rahasia perkawinannya. Ia lebih banyak diam. Akibatnya, pergaulan Aina menjadi sangat terbatas.</p>
<p>Ibu sakit jantung. Aku takut memperparah penyakitnya. Akhirnya aku diam saja. Aku pun menghindari pergaulan karena cemas bisa membuka luka-lukaku lewat kata-kata yang akan tersebar ke mana-mana. (Labibah, 2008: 6-7)</p>
<p>Kesetiaan seorang istri pada cerpen “Aina” juga terdapat pada cerpen lainnya. Hal ini menyiratkan berlakunya ideologi gender. Ada dominasi pria terhadap wanita. Para istri harus setia pada suaminya, tetapi suami mereka sebaliknya. Umumnya pengkhianatan suami karena motif balas dendam, penampilan, anak, dan cinta. Para istri tidak dihargai walaupun berhasil dalam menyelesaikan pendidikan ataupun berhasil dalam meniti karir.</p>
<p>Sebagai seorang istri yang menyadari perannya dalam keluarga, Gami yang pernah berkarir di luar rumah berhenti dari pekerjaannya dan menyibukkan diri dalam rumah tangga. Namun, pengorbanan Gami tidak membuat suaminya betah di rumah. Kesibukan Gami mengurus rumah tangga membuatnya tidak sempat merawat diri. Hal ini menjadi senjata suaminya bermain cinta dengan perempuan lain.</p>
<p>Ketidaksukaan Poly, suami Gami, terhadap penampilan istrinya mengimplikasikan bahwa perempuan harus tampil bagus di hadapan suami. Perempuan lebih dihargai berdasarkan tampilan fisiknya. Poly lebih tertarik pada Gini daripada Gami, istrinya sendiri, karena secara fisik Gini lebih menarik daripada Gami.</p>
<p>Andai istriku bisa serapi Gini, pasti aku tambah betah di rumah. Andai perut istriku serata Gini, pastilah aku tak harus mencari-cari foto wanita setengah telanjang di tabloid jalanan hanya untuk meningkatkan gairah di kasur. &#8230; Begitu membuka mata, yang kulihat hanya tubuh Gami mulai berlemak di sana-sini. (Labibah, 2008: 12)</p>
<p>Hal yang sama menimpa Layli. Suami Layli menjadikan ketidakhadiran anak sebagai senjata untuk menikahi wanita lain. Perkawinan rahasia itu akhirnya terungkap setelah Layli diusir oleh suaminya. Motif balas dendam juga menjadi alasan mengapa seorang suami memutuskan menikahi wanita lain. Hartanto, suami Aina, menikahi wanita lain hanya berselang tiga bulan dari pernikahan pertamanya. Dia merasa sakit hati atas perlakuan Aina yang memilih pergi dengan pacarnya daripada dengannya semasa kuliah dulu.</p>
<p>Faktor tidak adanya cinta menjadi alasan suami sang novelis memutuskan pisah ranjang. Ia lebih memilih tinggal di kamar belakang rumah mereka. Sang novelis tidak tahu bahwa dari awal pernikahan mereka suaminya tidak mencintainya. Segala cara dia lakukan agar suaminya kembali. Namun, semuanya sia-sia, sebagaimana terungkap dalam kutipan berikut.</p>
<p>Aku pun sibuk berkaca. Salon jadi tempat kunjungan wajib setiap minggu. Dari <em>pedicure</em>, <em>manicure</em>, <em>facial</em>, spa, hingga gurah vagina, aku jalani semua. Tetapi tetap saja gagal memindahkan tubuh suami agar tidur di sebelahku. (Labibah, 2008: 48)</p>
<p>Gami, Aina, dan Layli ditempatkan pada posisi yang harus menerima apa pun putusan laki-laki, dalam hal ini suaminya. Atas permintaan suami, Gami harus rela meninggalkan karir demi keluarga. Gami juga menerima saran suaminya agar Gini memberi les bahasa Inggris untuk anak mereka. Gami tidak tahu jika les itu hanya alasan agar suaminya bisa dekat dengan Gini yang menjadi guru les. Keputusan-keputusan penting juga diambil oleh suami Layli tanpa mempertimbangkan perasaan Layli. Hal ini terungkap pada kutipan berikut.</p>
<p>Aku terdiam. Tak mengatakan setuju atau menolak. Dan seperti biasa suamiku mengambil keputusan dengan cepat. (Labibah, 2008: 74)</p>
<p>Pada kasus Aina, suaminya hanya menengok sebulan sekali pascapernikahan keduanya. Sebagai istri pertama, Aina tidak mendapat hak yang sama dengan istri kedua. Ia tidak punya keberanian untuk memberontak karena takut dicerai dan disiksa oleh suaminya. Secara ekonomi, Aina sangat bergantung pada suaminya.</p>
<p>Hak sebagai istri juga tidak didapat oleh sang novelis. Manisnya hidup berumah tangga hanya dinikmati di awal pernikahan. Setelah itu, sang novelis harus melewati hari-harinya sendirian.</p>
<p>Kekuasaan yang diperlihatkan para suami menggambarkan masyarakat yang memberlakukan sistem patriarkat. Pada empat cerpen tersebut, tindakan tokoh perempuan kemudian mengarah pada tuntutan persamaan hak. Perempuan juga dapat mengambil keputusan secara tegas untuk berpisah dari kekasih atau suami ketika diperlakukan sewenang-wenang. Gami memutuskan meminta bercerai ketika suaminya hendak menikah lagi. Hal ini terungkap dalam kutipan berikut.</p>
<p>Mas memilih hendak membawa tanaman lain dengan cara menikah lagi. Bagiku, dua orang istri terlalu banyak dalam sebuah pernikahan dan susah bagiku untuk berbagi perasaan. Daripada tertekan, akhirnya kuputuskan untuk melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. (Labibah, 2008: 20)</p>
<p>Keputusan Gami berpisah dengan suaminya berbarengan dengan keputusan Gini berpisah dengan suami Gami. Gini memutuskan menerima pinangan lelaki lain. Keputusan meninggalkan suami juga dilakukan oleh Aina setelah ibunya meninggal. Tidak ada lagi orang yang akan menderita oleh sikapnya. Begitu pikirnya. Kematian ibu Aina seolah membuka jalan bagi Aina untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali.</p>
<p>Berbeda dengan Gami, Gini, dan Aina, tokoh Layli tidak langsung bertindak menyelamatkan diri begitu suaminya melakukan kekerasan. Meskipun karir Layli lebih tinggi daripada suaminya dan memegang posisi penting di perguruan tinggi tempatnya bekerja, dalam rumah tangga posisi Layli menjadi subordinasi. Layli harus patuh pada suami. Pola pikir Layli masih dipengaruhi konsep patriarki. Baginya meninggalkan rumah merupakan aib, sebagaimana terungkap dalam kutipan berikut.</p>
<p>Istri meninggalkan suami memang aib yang tak terkira dan pantas diperlakukan apa saja. Kalau perlu dibunuhlah hukumannya. (Labibah, 2008: 77)</p>
<p>Layli menyadari bahwa tugas-tugas penelitian dan pendidikan di luar negeri membuat harga diri suaminya terganggu. Karenanya, Layli menerima saja perlakuan buruk suaminya. Keputusan Layli meninggalkan suami justru datang pada saat suaminya mengusir Layli atas kesalahan kecil yang dilakukannya.</p>
<p>Pada cerpen “Layli”, pengarang menyuguhkan suatu ironi ketika menyadari adanya kekerasan yang menimpa perempuan pada umumnya, justru tokoh perempuan mengalami sendiri peristiwa itu. Layli mengangkat isu tentang kekerasan terhadap perempuan Indonesia menjadi tema tesisnya. Ironisnya, pada saat Layli tengah merampungkan tesisnya itu, sang suami menikah diam-diam. Perbuatan tidak menyenangkan ini ditengarai sebagai bagian dari kekerasan dalam rumah tangga karena menimbulkan kepincangan dalam rumah tangga Layli. Suaminya menjadi kasar dan memperlakukan Layli dengan sewenang-wenang.</p>
<p>Latar belakang keluarga sang novelis pada cerpen “Perempuan Pencari Dada Ibu” tidak harmonis. Ibu dan ayahnya berpisah setelah melalui pertengkaran demi pertengkaran. Otomatis ia lebih dekat dengan ibunya. Di dada sang ibu ia dapat menumpahkan semua keluh kesahnya. Kematian ibu sang novelis menyisakan duka berkepanjangan. Dekapan hangat ibu tidak lagi dirasakannya. Karir cemerlang sebagai seorang novelis yang membuatnya cukup bergelimang harta tidak mampu membuatnya bahagia karena ada kebutuhan lain yang tidak dapat dipenuhinya. Suami yang diharapkannya menjadi pengganti ibu justru meninggalkannya. Kegagalannya dalam mempertahankan rumah tangga juga dialami sang ibu.</p>
<p>Aku dan ibu sama saja. Sama-sama merasakan kepedihan amat sangat karena musykil membahagiakan suami tercinta. (Labibah, 2008: 50)</p>
<p>Secara ekonomi, sang novelis sangat mandiri sehingga perpisahan yang harus dijalaninya tidak membuatnya kesulitan dalam keuangan. Pengakuan suaminya yang telah mempunyai kekasih membuat sang novelis merefleksikan kesedihannya dengan mencari kesejukan di dada pria hidung belang. Tanpa disadarinya ia terjebak dalam dunia pelacuran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Simpulan</strong></p>
<p>Tokoh utama perempuan dari keempat cerpen tersebut merefleksikan keinginan dan harapan perempuan pada umumnya. Pendidikan tinggi dan berhasil dalam karir didapat Gami, Layli, dan sang novelis. Mereka pun mendambakan rumah tangga yang bahagia. Namun, keberhasilan dalam karier tidak berimbas pada kehidupan berumah tangga mereka.</p>
<p>Ketika dihadapkan pada peran laki-laki (suami) yang dominan, perempuan lebih bersifat menerima karena keterikatannya secara ekonomi dan sosial. Namun, latar belakang pendidikan yang cukup tinggi juga memengaruhi pola pikir perempuan. Mereka mencari jalan keluar untuk lepas dari kesewenang-wenangan para suami. Aina dan Layli meninggalkan suami karena faktor “keberuntungan”, yaitu kematian ibu Aina, kecelakaan pesawat, dan diusir dari rumah. Gami melayangkan gugatan cerai dan memutuskan menerima pinangan seorang perjaka tua, sedangkan sang novelis mencari kebahagiaan di tempat pelacuran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Fakih, Mansoer. 1999. <strong> </strong><em>Analisis Gender dan Transformasi Sosial</em>. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</p>
<p>Febriane, Sarie dan Iwan Santosa. “Perempuan di Sarang Penyamun”. <em>Kompas</em>, 28 Oktober 2008.</p>
<p>Luviana. 2007. “Identitas Perempuan Indonesia dalam Koran dan Majalah”. Dalam <em>Jurnal Perempuan</em> Nomor 52 hlm. 47—58.</p>
<p>Rajab, Budi. “Perempuan dan Pendidikan”. <em>Pikiran Rakyat</em>, 30 Oktober 2008.</p>
<p>Siswanti, Endriani Dwi. 2003. “’Perempuan di Titik Nol’ Perlawanan Perempuan Melawan Tatanan Konservatif”. Dalam <em>Jurnal Perempuan</em> Nomor 30 hlm. 33.</p>
<p>Zain, Labibah. 2008. <em>Perempuan Kedua</em>. Yogyakarta &amp; Bandung: Jalasutra.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metasastra.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metasastra.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metasastra.wordpress.com&amp;blog=10503509&amp;post=37&amp;subd=metasastra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metasastra.wordpress.com/2009/11/15/tokoh-perempuan-dalam-kumpulan-cerpen-perempuan-kedua-antara-pendidikan-karier-dan-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c47fbf6fc8f51c491421a7cbbc46fcef?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">metasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
