Ariyanti
Abstrak
Puisi merupakan salah satu produk budaya yang dihasilkan masyarakat pemiliknya. Puisi Sunda terlahir dari pemikiran, imajinasi dan rasa orang Sunda terhadap hidup dan kehidupannya. Wanita sebagai bagian dari kehidupan telah menjadi sumber inspirasi bagi para penyair Jawa Barat.
Seorang sastrawan kenamaan, Ajip Rosidi, mengumpulkan dan menerjemahkan puisi karya beberapa penyair Jawa Barat dalam sebuah buku berjudul Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa. Buku tersebut memuat beberapa puisi yang menjadikan wanita sebagai sumber inspirasinya. Setiap penyair mempunyai cara yang beragam dalam mengapresiasi wanita. Ada yang positif, ada pula yang negatif.
Tulisan ini menguak bagaimana citra wanita dari sudut pandang para penyair Jawa Barat.
Kata kunci: wanita, puisi Sunda modern
Abstract
Poetry is one of cultural products made by its people. Sundanese poetry expressed sundanese thought, imagination and respectation of life. Woman as part of life has inspired sundanese poet.
The famous Ajip Rosidi has collected and translated some of modern sundanese poetry into a book named Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa. It contains some poetry inspired by woman with different points of view.
The aim of this writing is to reveal how Sundanese male poets figured woman as part of their life.
Key word: woman, modern sundanese poetry
- 1. Pendahuluan
Herman J. Waluyo dalam buku Teori dan Apresiasi Puisi menyatakan bahwa puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua (1987:1). Setiap suku bangsa di Indonesia mengenal puisi, tak terkecuali suku Sunda. Hal ini dibuktikan oleh naskah Siksa Kandang Karesyan yang ditulis dalam bahasa Sunda Kuna tahun 1518. Naskah tersebut menyatakan adanya carita, pantun, mantra dan lagu. Carita yang disebutkan dalam naskah tersebut adalah Darmajati, Sanghyang Bayu, Ramayana, Adipurwa, Bimasonga dan Ranggalawe. Pantun yang disebutkan adalah Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi dan Haturwangi. Mantra yang disebutkan adalah Jampi, Geugeuning, Puspaan, Hurip-huripan dan Pasakwan. Lagu yang disebutkan dalam naskah tersebut adalah Kawih Sisindiran, Kawih Igel-igelan, dan Kawih Babahanan (Ajip Rosidi, 2001:9).
Puisi ialah produk budaya yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Puisi tidak hanya untuk ditulis dan dibaca, tetapi juga untuk dinyanyikan. Bentuk puisi yang paling populer ialah lagu. Lagu-lagu yang dinyanyikan ialah puisi-puisi yang memiliki nada dan irama. Puisi-puisi ini sangat beragam baik lirik, nada maupun cara pengekspresiannya. Keragaman inilah yang membuat puisi bisa terus bertahan dan berkembang hingga saat ini.
Di Jawa Barat ada beberapa penyair yang cukup intens membuat puisi dalam bahasa Sunda. Ajip Rosidi memilih beberapa diantara mereka dan menerjemahkan karya-karya mereka ke dalam bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Di antara karya-karya tersebut ada satu kesamaan tema yang diusung, yaitu wanita. Wanita sebagai seorang ibu yang melahirkan anaknya dan sebagai seorang istri.
Ibu ialah sosok yang sangat dekat dan berarti dalam kehidupan seorang penyair. Ibu bukan hanya sebagai sosok yang melahirkan, membesarkan, membimbing, dan mendorong. Ibu juga merupakan sosok yang sangat kompleks sebagai seorang manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya..
Setiap penyair memiliki sudut pandang yang berbeda-beda terhadap sosok seorang wanita. Hal inilah yang akan diungkap dalam tulisan ini.
- 2. Sekilas tentang Buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa
Buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa ialah buku kumpulan puisi dalam bahasa Sunda karya 21 penyair yang dipilih dan diterjemahkan oleh Ajip Rosidi. Puisi yang diterjemahkan berjumlah 62 buah. Puisi-puisi tersebut terdiri dari tiga buah puisi Kis Ws., tiga buah puisi sayudi, satu puisi Eddi Tarmiddi, empat buah puisi Wahyu Wibisana, dua buah puisi Surahman R.M., tiga buah puisi Eson Sumardi, tiga buah puisi Ajip Rosidi sendiri, dua buah puisi Yus Rusyana, tiga buah puisi Apip Mustopa, empat buah puisi Ayatrohaedi, empat buah puisi Rachmat M. Sas. Karana, tiga buah puisi Abdullah Mustopa, tiga buah puisi Usep Romli H.M., tiga buah puisi Eddy D. Iskandar, tiga buah puisi Beni Setia, dua buah puisi Juniarso Ridwan, lima buah puisi Godi Suwarna, dua buah puisi Eddo Sy., tiga buah puisi Etti R.S., dua buah puisi Acep Zamzam Noor, dan empat buah puisi Chye Retty Isnendes.
Puisi-puisi tersebut memiliki tema yang beragam, salah satunya ialah tema ibu. Tulisan ini hanya akan mengulas puisi-puisi yang bertema ibu. Puisi-puisi yang akan diulas adalah puisi karya Sayudi yang berjudul Indung jeung Anak ‘Ibu dan Anak’, puisi karya Ayatrohaedi yang berjudul Pamanggih ‘Pendapat’ dan Indung ‘Ibu’, puisi karya Eddy D. Iskandar yang berjudul Hiji Nagri ‘Suatu Negeri’, puisi karya Beni Setia yang berjudul Sangkuriang, puisi karya Eddo Sy. yang berjudul Kahirupan Ma Anah ‘Kehidupan Mak Anah’.
2.1 Puisi Sayudi
Sayudi ialah seorang penyair yang biasanya menulis puisi dan cerita pendek dalam bahasa Indonesia. Ia menerbitkan buku kumpulan puisinya dalam bahasa Sunda pada tahun 1963 yang berjudul Lalaki di Tegalpati. Buku kumpulan puisinya yang kedua diterbitkan pada tahun 1983 dengan judul Madraji. Sayudi mendapat Hadiah Sastera Rancage pada tahun 1994. Hadiah ini dianugrahkan kepada Sayudi sebagai penghargaan atas jasanya menghubungkan puisi modern dengan akar puisi tradisi Sunda. Puisi Sayudi yang akan diulas dalam tulisan ini ialah puisi yang berjudul Indung jeung Anak. Puisi ini diterjemahkan oleh Ajip Rosidi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Ibu dan Anak. Puisi Ibu dan Anak dibuat menyerupai dialog seorang ibu dengan anaknya.
Indung jeung Anak
Anak: Ema naon eusi langit
jeung di mana tungtung langit
katut bentang nu baranang
Indung: Teu jauh ti dada ema
eusina napas jeung getih
bentang teu jauh ti ujang
Anak: Ema saha nu boga langit
jeung bentang anu baranang
saha nu boga bulan
katut beurang jeung peutingna
Indung: Kapan sagala nu ujang
paeh hirup anu ujang
(Rosidi, 2001:34)
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut
Ibu dan Anak
Anak: Ibu, apa isi langit
dan di mana ujungnya
serta bintang yang bertebaran
Ibu: Tidak jauh dari dada bunda
isinya napas dan darah
bintang tak jauh dari ananda
Anak: Ibu, siapa yang empunya langit
dan bintang yang bertebaran
siapa yang empunya bulan
serta siang dengan malam
Ibu: Semuanya kan punyamu
hidup dan mati punya ananda
(Rosidi, 2001:35)
Puisi di atas ditulis pada bulan Juli 1956. Hubungan antara ibu dan anak ditampilkan dalam puisi ini. Puisi ini dibuat layaknya sebuah dialog antara sang ibu dengan sang anak, dalam dialog tersebut ditunjukan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Besarnya kasih sayang sang ibu terlihat pada bait kedua yang menggambarkan sosok ibu yang pemaaf dan penyabar. Hal ini dinyatakan pada larik pertama, yaitu Teu jauh ti dada ema ‘tidak jauh dari dada bunda’. Maksud kalimat tersebut ialah langit tidak jauh dari dada bunda, ini berarti bahwa seorang ibu memiliki dada yang sangat lapang untuk memaafkan kesalahan sang anak, ini juga bisa diartikan bahwa ibu ialah sosok yang sangat penyabar.
Pada bait kedua juga digambarkan bagaimana besarnya pengorbanan seorang ibu. Hal ini terlihat pada larik kedua, yaitu eusina napas jeung getih ‘isinya napas dan darah’. Napas bisa diartikan sebagai kerja keras sang ibu. Sang ibu bekerja keras untuk menjaga, menghidupi, menyayangi dan membimbing anaknya. Darah ialah pengorbanan sang ibu dalam melahirkan dan membesarkan anaknya.
Puncak ketulusan dan dedikasi seorang ibu digambarkan pada bait terakhir. Hal ini digambarkan dengan pernyataan Kapan sagala nu ujang, paeh hirup anu ujang ‘semuanya kan punyamu, hidup dan mati punya ananda’. Pada bait terakhir ini sosok ibu digambarkan memiliki kerelaan untuk memberikan segalanya bahkan hidup dan matinya pun didedikasikan untuk anaknya.
Puisi yang berjudul Indung Jeung Anak ‘Ibu dan Anak’ ini telah menggambarkan sosok ibu yang penyabar, pemaaf, penuh pengorbanan dan sangat menyayangi anaknya. Ini gambaran seorang ibu secara umum.
Kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan sosok seorang ibu ini ialah kata-kata yang mengandung makna konotatif, seperti langit, napas, dan geutih ‘darah’.
2.2 Puisi Ayatrohaedi
Dalam buku Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa ini, dari empat puisi karya Ayatrohaedi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ada dua buah judul puisi yang bertemakan ibu, yaitu puisi yang berjudul Pamanggih yang diterjemahkan menjadi Pendapat, dan puisi yang berjudul Indung yang diterjemahkan menjadi Ibu. Kedua puisi ini mencerminkan pandangan Ayatrohaedi terhadap sosok seorang ibu. Berikut ini akan diulas secara berturut-turut puisi berjudul pamanggih dan Indung.
Pamanggih
Salapan bulan ngakandung
Moal aya hiji jalma
leuwih ti indung micinta
indung gudang hampura
Salapan bulan dikandung
Moal aya hiji jalma
leuwih ti anak rumasa
anak gudang dosa
Salapan bulan ngakandung
Pinuh rasa jeung rumasa
Salapan bulan dikandung
Pinuh dosa jeung rumasa
(Rosidi,2001:84)
Ajip Rosidi menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.
Pendapat
Sembilan bulan mengandung
Takkan ada manusia
yang seperti ibu mencinta
ibu gudang ampunan
Sembilan bulan dikandung
Takkan ada manusia
melebihi anak sadar merasa
anak gudang dosa
Sembilan bulan mengandung
Penuh rasa dan kesadaran
Sembilan bulan dikandung
Penuh dosa dan kesadaran
(Rosidi, 2001:85)
Puisi Pamanggih ditulis pada tahun 1956. Puisi ini menggambarkan sosok seorang ibu yang mengandung anaknya selama sembilan bulan, menjaganya dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus. Sembilan bulan merupakan waktu normal seorang ibu mengandung anaknya. Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat dan mengandung seorang anak bukanlah hal yang gampang atau sepele. Banyak hal yang harus dijaga dan diperhatikan demi keselamatan anak yang dikandungnya, banyak pula pengorbanan yang dilakukan seorang ibu selama ia mengandung. Pengorbanan itu dimulai dari perubahan bentuk tubuhnya. Bentuk tubuh bagi seorang wanita sangatlah penting. Namun demi sang anak, ibu rela menjadi gemuk dan tak sintal lagi, kemudian sang ibu harus melewati masa-masa sulit saat rasa mual menyerang selama tiga bulan pertama. Jika saat melahirkan tiba, sang ibu memulai perjuangan antara hidup dan mati. Penderitaan dan pengorbanan yang sangat besar dari seorang ibu untuk anaknya, semua ini dilakukan atas nama cinta. Hal ini tidak bisa ditebus atau diganti dengan uang atau apapun di dunia ini. Namun, tatkala sang anak telah dilahirkan, ia melakukan banyak kesalahan dan dosa, melupakan semua yang telah dilakukan sang ibu untuknya. Sang ibu dengan kebesaran cintanya akan tetap memaafkan anaknya. Sosok ibu yang pemaaf telihat jelas dalam puisi berjudul Pamanggih ini pada bait ke dua larik ketiga yang mengatakan indung gudang hampura ‘ibu gudang ampunan’ dan bait kelima larik kedua, yaitu Pinuh rasa jeung rumasa ‘Penuh rasa dan kesadaran’.
Sosok anak yang banyak melakukan kesalahan digambarkan pada bait keempat larik ketiga, yaitu anak gudang dosa ‘anak gudang dosa’ dan bait keenam larik kedua, yaitu pinuh dosa jeung rumasa ‘penuh dosa dan kesadaran’. Puisi ini sangat cocok dengan pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepenggalah. Sebesar-besarnya kasih seorang anak kepada ibunya, masih lebih besar kasih seorang ibu kepada anaknya.
Puisi lain karya Ayatrohaedi yang bertemakan ibu ialah puisi berjudul Indung yang diterjemahkan oleh Ajip Rosidi ke dalam bahasa Indonesia menjadi Ibu.
Indung
Iuh tanjung seungitna marganing wuyung
liuh indung perbawa nu cadu nundung
mun di dunya ngan aya indung jeung bapa
bakal bisa ngawasa sajagat raa
Ngan indung memeh miang dielingan,
“Lamun hirup ngan ngumbar karep sorangan
temahna poho ka indung
kaduhung nunggu di tuntung
nya hanjakal bakal jadi incu cikal.”
(Rosidi, 2001:88)
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.
Ibu
Teduh tanjung wangi kembangnya membikin kuatir
teduh wajahnya tanda ibu haram mengusir
kalau di dunia hanya ada ayah dan bunda
niscaya akan dapat menguasai jagat raya
Tapi sebelum berangkat ibu memberi nasihat
“Kalau hidup mengumbar napsu sendiri saja
akibatnya akan lupa sama bunda
penyesalan yang menunggu di ujung
sebagai cucu sulung.”
(Rosidi, 2001:89)
Puisi Indung ditulis pada tahun 1957. Puisi ini juga berbicara tentang sosok seorang ibu. Seperti puisi-puisi yang telah diulas sebelumnya, puisi ini pun menggambarkan sosok ibu yang pemaaf dan penyabar.
Puisi Indung terdiri dari dua bait. Bait pertama menggambarkan sosok seorang ibu yang walaupun dalam keadaan marah, ia tetap berwajah teduh. Ia tidak akan tega melukai atau menyakiti hati anaknya. Hal ini dapat dilihat pada larik pertama dan kedua, yaitu Iuh tanjung seungitna marganing wuyung, liuh indung perbawa nu cadu nundung ‘Teduh tanjung wangi kembangnya membikin kuatir, teduh wajahnya tanda ibu haram mengusir’. Kemarahan sang ibu dilambangkan dengan bunga Tanjung yang sedang mekar mewangi. Bunga Tanjung ialah bunga yang biasanya tumbuh dipekuburan.
Larik kedua menggambarkan sosok ibu yang mampu memaafkan anaknya walau telah membuatnya marah. Larik ketiga dan keempat menggambarkan pujian dan penghormatan sang anak kepada kedua orang tuanya.
Bait kedua kembali menggambarkan sosok ibu yang selalu membimbing anaknya untuk menjalani hidup. Sang ibu selalu mengingatkan anaknya untuk menjalani hidup dengan benar, jangan sampai hidup sang anak berujung penyesalan. Penyesalan selalu berada di akhir, tak pernah di awal. Inilah yang diingatkan sang ibu agar hidup sang anak menjadi bermakna dan berbahagia. Nasihat yang diberikan seorang ibu kepada anaknya merupakan bentuk kasih sayang dan cintanya pada sang anak. Namun, sang anak tidak selalu berpendapat sama. Ada kalanya sang anak menganggap nasihat itu sebagai omelan yang membosankan.
2.3 Puisi Rachmat M. Sas. Karana
Salaki Pamajikan dina Hiji Sore
Manehna hayang lalajo pilem drama
Kuring hayang lalajo pilem perang
Manehna hayangeun ngucurkeun cimata
Kuring hayang ngabarkeun pedang
Puisi berjudul Salaki Pamajikan dina Hiji Sore ini diterjemahkan oleh Ajip Rosidi sebagai berikut.
Suami-isteri pada Suatu Sore
Ia ingin menonton filem drama
Aku ingin menonton filem perang
Dia ingin mencucurkan airmata
Aku ingin mengancam dengan pedang
Puisi berjudul Salaki Pamajikan dina Hiji Sore hanya terdiri atas satu bait. Namun, satu bait ternyata telah cukup bagi seorang penyair untuk menggambarkan perbedaan pria dan wanita.
Pada puisi ini penyair menggambarkan sifat pria yang keras dan sifat wanita yang melankolis dan halus perasaannya. Sifat keras pria tergambarkan dalam larik kedua dan keempat, yaitu kuring hayang lalajo pilem perang, kuring hayang ngabarkeun pedang ‘aku ingin menonton filem perang, aku ingin mengancam dengan pedang’. Filem perang dan pedang adalah simbol kekerasan. Pedang dan perang memiliki keterkaitan makna, keduanya sama-sama menggandung makna kekerasan, kekejaman, darah dan penderitaan. Sifat keras pria dianologikan dengan perang dan pedang.
Sifat melankolis seorang wanita dinyatakan dalam larik pertama dan ketiga, yaitu manehna hayang lalajo pilem drama, manehna hayang ngucurkeun cimata ‘ ia ingin menonton filem drama, ia ingin mencucurkan air mata’. Filem drama dan menangis (mencucurkan air mata) dijadikan sebagai simbol sifat wanita.
2.4 Puisi Eddy D. Iskandar
Eddy D. Iskandar terkenal sebagai penulis roman pop dalam bahasa Indonesia. Tulisannya dalam bahasa Sunda berupa sajak, cerita pendek dan roman dimuat dalam Mangle, Handjuang, dan Galura. Puisi-puisinya yang berbahasa Sunda diterbitkan dalam buku Nu Ngarongheap Mangsa Surup pada tahun 1977, Jamparing pada tahun 1989, Waruga Garba pada tahun 1984, dan Kasidah Langit pada tahun 1992. Puisi di bawah ini ialah salah satu karya Eddy D. Iskandar dalam bahasa Sunda yang berjudul Hiji Nagri.
Hiji Nagri
hiji nagri
di lemah euweuh
ngancik ‘na sagara rasa
hiji nagri
di uwung-uwung awang-awang
ngait ‘na hate kaula
hiji nagri
nu dipigandrung
aya ‘na suku indung
(Rosidi, 2001:118)
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut.
Suatu Negeri
suatu negeri
di ranah tiada
tertanam dalam lautan rasa
suatu negeri
diuwung-uwung awang-awang
terkait dalam hatiku
suatu negeri
yang selalu termimpi-mimpi
terletak di telapak kaki ibu
(Rosidi, 2001:119)
Puisi Eddy D. Iskandar ini menggambarkan penghormatan sang penyair terhadap sosok ibu. Puisi ini juga mengungkapkan sisi religiositas sang penyair. Sang penyair begitu mendambakan surga sehingga ia selalu mengangan-angankan dan memimpikannya. Negeri yang dimaksud sang penyair ialah surga, hal ini tersirat pada bait ketiga yang menyatakan hiji nagri, nu dipigandrung, aya ‘na suku indung (suatu negeri, yang selalu termimpi-mimpi, terletak di telapak kaki ibu). Bait ketiga ini sesuai dengan sebuah pepatah yang mengatakan surga terletak di bawah kaki ibu. Jika ingin mencapai surga, kita harus menghormati dan menyayangi ibu kita.
2.5 Puisi Beni Setia
Sangkuriang
Aya nu ngambang di walungan
Basa muara diranjah banjir cileuncang
Urang basisir, kolot budak
Ngagarimbung dina jambatan tingharewos
“anak saha?”
euweuh nu pasti, walungan nu panjang
imeut mapay kota, loba nu nampa kiriman
ngan laut bangun teu suka
cua nenjo nu ngambang kabawa hujan
pokna—mana indung bapana?
(Rosidi, 2001:128)
Ajip Rosidi menerjemahkan puisi di atas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut
Sangkuriang
Ada yang hanyut di kali
Waktu muara dilanda banjir kiriman
Penduduk pesisir, tua-muda
Berkerumun di jembatan berbisik-bisik
“anak siapa?”
tak ada yang pasti, sungai yang panjang
cermat menyusur kota, banyak menerima kiriman
Cuma laut seperti tak suka
Kecewa melihat yang hanyut dibawa air hujan
Katanya: “mana ibu-bapanya?”
(Rosidi, 2001:129)
Judul puisi ini diambil dari sebuah legenda rakyat Jawa Barat, yaitu Sangkuriang. Sangkuriang ialah salah nama satu tokoh dalam legenda gunung Tangkubanperahu. Dalam legenda tersebut, Sangkuriang merupakan anak semata wayang Dayang Sumbi. Saat kecil ia melakukan kesalahan yang membuat ibunya murka hingga ia diusir. Cerita tentang anak yang terbuang inilah yang mungkin menjadi alasan penyair untuk memilih judul Sangkuriang.
Sosok ibu yang diangkat dalam puisi ini agak berbeda dengan sosok ibu yang ditampilkan dalam puisi-puisi sebelumnya. Puisi Sangkuriang ini dapat ditafsirkan secara berbeda. Pertama, puisi ini menggambarkan sosok ibu sebagai orang tua yang teledor hingga menyebabkan terjadinya sebuah kecelakaan, yaitu hanyutnya sang anak di sungai. Kedua, sosok ibu digambarkan sebagai seorang ibu yang tidak bertanggung jawab, yaitu membuang anaknya karena kehadirannya di muka bumi ini tidak diinginkan. Hal ini biasanya terjadi karena sang anak terlahir dari hubungan yang terlarang. Saat dilahirkan, sang anak langsung dibuang oleh ibunya dengan cara dihanyutkan ke kali atau ke sungai. Perlakuan yang sangat tidak manusiawi ini sangat dibenci oleh masyarakat bahkan alam pun tidak menyukainya.
Aya nu ngambang di walungan ‘ada yang hanyut dikali’ berarti sang anak sudah hanyut dikali dalam keadaan sudah menjadi mayat, “anak saha?” (“anak siapa?”) saat masyarakat menemukan mayat sang anak, mereka akan bertanya-tanya, anak siapa ia gerangan, tidak ada yang tahu. Peristiwa yang biadab dan tidak bertanggung jawab, membunuh seorang anak yang tak berdosa, bahkan laut pun menghujat, mana indung bapana? ‘mana ibu-bapanya?’. Membesarkan dan menjaga anak merupakan kewajiban orang tua, tapi dalam puisi ini orang tua, terutama sosok seorang ibu tega melakukan perbuatan yang nista, yaitu membunuh dan membuang anaknya sendiri. Inilah gambaran sosok seorang ibu sebagai manusia biasa yang juga punya banyak kelemahan dan kesalahan.
2.6 Puisi Eddo Sy.
Kahirupan Mak Anah
Mak Anah tukang surabi
sore subuh satia nganti nu meuli
satuhu usaha ngadago rijki
ceuk paribasa najan ngan payu sasiki
Ma Anah dagang surabi
teuing geus ngaliwatan pirang rewu janari
aya rame aya sepi
kauntungan heunteu pasti
“Ema oge lin teu hayang jiga batur
ema yakin rijki mah aya Nu Ngatur
ku kituna heunteu kudu jadi catur
gede leutik ema tetep ngucap sukur”
Ma Anah tukang surabi
satia usaha nganti nu meuli
rek rame rek sepi
tetep sumujud ka Gusti.
(Rosidi, 2001:148)
Terjemahan puisi di atas dalam bahasa Indonesia ialah sebagai berikut
Kehidupan Mak Anah
Mak Anah penjual serabi
sore subuh setia menanti pembeli
patuh pada usaha mencari rijki
meski yang terjual cuma sebiji
Mak Anah berjualan serabi
entah sudah melewati berapa ribu dinihari
kadang ramai kadang sepi
keuntungan tak pernah pasti
“Aku pun bukan tak mau seperti orang
aku yakin rizki kita ada yang mengatur
karena itu tak usah jadi omongan
besar atau kecil kan tetap mengucap syukur.”
Mak Anah tukang serabi
setia berusaha menanti pembeli
baik ramai maupun sepi
tetap berbakti kepada Gusti.
(Rosidi, 2001:149)
Kahirupan Mak Anah ‘Kehidupan Mak Anah’ merupakan sebuah puisi yang menggambarkan sosok wanita terus berjuang mengarungi kehidupan yang keras. Mak Anah mencari nafkah dengan berdagang. Ia seorang wanita yang penyabar dan tangguh. Berdagang dari sore hingga subuh menjelang terus ia lakoni, walau keuntungannya tak pasti. Mak Anah juga merupakan sosok wanita yang religius, dalam kesusahan ia tetap berbakti kepada Tuhannya dan tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.
- 3. Simpulan
Wanita merupakan sosok yang paling menarik di muka bumi ini. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Wanita memiliki peran sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Banyak permasalahan dan dilema yang dihadapi wanita sebagai sosok yang sering dijadikan panutan. Para pria pun memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai sosok seorang wanita. Namun, sosok wanita sebagai ibu secara umum ialah sosok manusia yang penuh cinta, maaf dan dedikasi yang tinggi untuk kehidupan sang anak. Puisi- puisi yang menggambarkan sosok seorang ibu yang pemaaf, penyabar, penuh cinta dan selalu siap berkorban demi anaknya adalah puisi yang berjudul Indung jeung Anak karya penyair Sayudi, Pamanggih, dan Indung karya Ayatrohaedi. Sosok wanita yang penyabar, suka bekerja keras, dan religius tergambar dalam puisi karya Eddo Sy. Yang berjudul Kahirupan Mak Anah. Sisi lain dari sosok seorang wanita ialah seorang manusia biasa yang juga sering alpa, penuh dosa dan kesalahan. Puisi yang menggambarkan sosok seorang ibu teledor dalam menjaga anaknya hingga sang anak hanyut di sungai ialah puisi yang berjudul Sangkuriang karya Beni Setia.
Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang sosok seorang ibu, betapapun demikian, sebagai seorang anak kita wajib menghormati dan menyayangi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tanpa seorang ibu takkan pernah terlahir seorang anak.
Daftar Pustaka
J. Waluyo, Herman. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Penerbit Erlangga
Rosidi, Ajip. 2001. Puisi Sunda Modern dalam Dua Bahasa. Jakarta: Pustaka Jaya
Sarumpaet, Riris K. Toha. 2002. Apresiasi Puisi Remaja, Catatan Mengolah Cerita. Jakarta: Grasindo
wah bagus banget ya puisinya ada artinya lagi
keren buanget………………
puisinya bagus banget apalagi pas puisi untuk ibu pke bahasa sunda….