ILUSTRASI DALAM BUKU AJAR SEKOLAH DASAR: KEKUATAN GAMBAR PADA PENCITRAAN

Lina Meilinawati Rahayu

Abstrak

Dalam artikel ini diteliti gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar pada tingkat sekolah dasar (SD). Buku-buku yang dijadikan objek penelitian adalah buku sekolah elektronik yang diterbitkan Pusat Perbukuan (Pusbuk) Depdiknas, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Pada kelas awal (khususnya kelas 1) gambar lebih mendominasi isi buku untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Ilustrasi/gambar memiliki kekuatan untuk mengonversi, suatu kekuatan yang harus dianalisis. Gambar dapat menimbulkan pencitraan tertentu yang kuat melekat dalam benak para siswa. Dengan kata lain, pemilihan gambar dalam buku ajar perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi peserta didik pada pencitraan. Analisis akan menggunakan prinsip pemaknaan faktor kinesik (gerak tubuh) pada gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar. Faktor kinesik yang menjadi fokus penelitian adalah gesture (gerak, isyarat, sikap) yang ditunjukkan pada gambar-gambar yang menampilkan relasi anak laki-laki dan anak perempuan. Gambar tesebut memposisikan anak perempuan sebagai sosok yang pemalu, penakut, pasif, dan perlu perlindungan memperlihatkan ada relasi kekuasaan yang bermain.  Penggambaran ini akan membawa pencitraan yang dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik.

 

Kata Kunci: ilustrasi/gambar, pencitraan, gestur, relasi kekuasaan

Abstract

This article discusses gender issues which manifests from the illustrations in elementary school textbooks. The textbooks under study are electronic textbooks for the Indonesian language subject published by Pusat Perbukuan, Department of National Education. The three books analysed are for year 1 and are examined using kinesic factor signification which looks into the gestures (movements, attitudes). Kinesic factors which become the locus of the study are those showing relations between boys and girls. The illustrations shows the subordinate positions of girls. Girls are assigned with traits such as shy, passive, needing protection which are indications of power relation at play. These illustrations might result in the making of images which might affect the learners’ way of thinking.

Key word: illustrations, images, gestures, power relation

  1. 1. Pengantar

1.1 Kekuatan Gambar

Gambar atau ilustrasi pada buku, khususnya buku untuk anak-anak, berfungsi untuk membantu memahami materi yang disampaikan. Dengan ilustrasi yang tepat pembaca akan terbantu untuk memahami gagasan yang akan disampaikan. Gambar/ilustrasi dapat menjadikan sebuah buku lebih menarik dan “hidup”. Gambar juga dapat mempengaruhi pembacanya. Masih lekat dalam pikiran saya, pada tahun 70-an beredar buku tentang sorga dan neraka, tokoh yang baik bernama  Sholeh dan tokoh yang jahat bernama Karma. Masih tersimpan dalam bayangan saya, gambar orang-orang yang terbelalak kesakitan atau yang ternganga menahan siksaan neraka. Sementara itu, Sholeh yang selalu berbuat baik melenggang ditemani oleh para bidadari di surga.

Tentu saja gambar tersebut hanya ilustrasi pembuat atau penerbit buku,  tetapi pengaruhnya luar biasa. Saya yang membaca komik tersebut kira-kira berusia 7 tahun masih merekamnya sampai sekarang. Hal yang sama mungkin dirasakan oleh anak-anak pada tahun 70-an. Salah satu yang dapat dijadikan contoh adalah pengakuan terpidana mati kasus bom Bali, Abdul Azis alias Imam Samudra, dalam bukunya Aku Melawan Teroris. Dalam buku yang diberi judul “Biografi Setengah hati” Iman Samudra mengungkapkan ketaatannya pada Allah karena membaca buku Surga dan Neraka itu. Berikut pengakuannya,

Disadari atau tidak, cerita tentang Jannah (surga) dan Nar (neraka)
sangat berpengaruh pada diriku. Apalagi jika membaca komik berjudul
Surga dan Neraka dengan peran utama bernama Sholeh dan Karma. Dalam
komik bergambar itu, tokoh Sholeh dengan amalnya yang sholeh seperti
shalat, ngaji, sedekah, hormat pada orangtua dan kebaikan lainnya
akhirnya masuk surga, sedangkan si Karma yang tidak shalat, tidak
ngaji, tidak sedekah dan selalu berbuat keburukan akhirnya masuk neraka.

Buku yang sarat gambar itu boleh jadi efektif dari satu sisi (misalnya anak-anak jadi rajin beribadah karena takut akan siksa neraka). Namun, di sisi yang lain ketaatan beribadah hanya dilandasi ketakutan, bukan kesadaran akan kebutuhan kepada-Nya. Seandainya buku itu tidak bergambar, pengaruhnya mungkin akan berbeda pada pembaca, khususnya anak-anak. Cerita itu merupakan sebuah contoh yang ilustrasi atau gambarnya dapat mempengaruhi pembaca dalam waktu yang cukup panjang.

Dalam buku Penulisan Bahan-Bahan Pelajaran: Buku Acuan bagi para Penulis Bahan-Bahan Pelajaran dan Buku-Buku Panduan Guru yang disusun oleh Ella Yulaelawati dkk, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994 menyebutkan bahwa seorang penulis perlu memikirkan penampilan akhir bukunya. Penulis buku itu menuliskan sepuluh bahan yang dapat dijadikan pertimbangan dalam penulisan sebuah buku, yaitu (1) ilustrasi untuk mendukung penulisan, (2) panjang uraian yang memadai, (3) keteraturan sebuah naskah ketikan, (4) bagian-bagian yang menunjukkan organisasi bahan, (5) penyajian yang beragam dan sesuai konteksnya, (6) perasaan keindahan, (7) daftar isi dan indeks, (8) ukuran halaman, lanskap dan potret, (9) perhatian terhadap cara anak memegang sebuah buku, dan (10) Antropomorfisme. Dari kesepuluh pertimbangan tersebut, ilustrasi ditempatkan pada nomor pertama. Hal ini menunjukkan pertimbangan utama yang perlu mendapatkan perhatian. Lebih jauh penulis menjelaskan bahwa ilustrasi dapat berupa diagram, gambar, dan foto. Dikatakan bahwa gambar dapat mewakili beberapa foto yang sukar didapat oleh penerbit, gambar dapat memberi nuansa realitas, gambar dapat menggambarkan keadaan/situasi, gambar dapat menggambarkan interaksi antarorang, dan gambar dapat memberi dampak yang kuat.

 

1.2 Identifikasi Masalah

Pernyataan terakhir itu adalah bahwa gambar dapat memberi dampak yang kuat akan dijadikan landasan dalam penelitian ini. Ilustrasi yang menjadi fokus penelitian adalah gambar-gambar yang berisi relasi anak laki-laki dan anak perempuan. Bagaimana  anak laki-laki dan anak perempuan ditampilkan dalam gambar pada buku-buku ajar, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 1 Sekolah Dasar.

 

1.3 Sumber Data

Buku-buku ajar yang dijadikan sebagai sumber penelitian adalah buku elektronik yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan tahun 2008. Objek penelitian adalah gambar-gambar dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 1, dengan asumsi bahwa buku pelajaran untuk tingkat awal lebih banyak memuat gambar. Buku yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah

  1. Indahnya Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SD/MI kelas 1 disusun oleh

H. Suyatno, dkk.;

  1. Belajar Bahasa Indonesia itu Menyenangkan untuk Kelas 1 SD/MI, disusun oleh

Ismail Kusmayadi, dkk.;

  1. Bahasa Kita Bahasa Indonesia untuk SD/MI kelas 1, disusun oleh Muhamad Jaruki.

 

1.4 Landasan Teori

Kinesika adalah ilmu tentang pemakaian gerak tubuh (tangan, muka, dan sebagainya) sebagai bagian dari proses komunikasi (KBBI, 2008:700). Salah satu faktor kinesik adalah gesture (gerak-isyarat, sikap). Morris (1977:4-55) menjelaskan dengan sangat terperinci tentang gesture. Ia menjelaskan bahwa “a gesture is any action that sends a visual signal to an onlooker” (hlm.4). Secara sederhana dapat diartikan bahwa gestur adalah sebuah gerakan yang mengirimkan gambaran kepada yang melihat. Dalam kaitannya dengan gambar pada buku, “yang melihat” adalah pembaca yang akan memaknai tampilan (gambar) yang disuguhkan dalam buku. Perbedaannya adalah di atas pentas gestur para aktor terlihat sekilas, tetapi dalam gambar akan abadi karena tercetak.  Pembaca akan memaknai lebih dalam karena gambar dapat dilihat dengan saksama dan berulang-ulang.

Pencitraan adalah proses atau cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu (penggambaran) (KBBI, 2008:270). Selanjutnya, bagaimana proses gambar sebagai objek menghasilkan makna yang dapat digambarkan sebagai berikut.

 

Objek                                                     Retina

Sensasi

Cahaya         Impuls

Energi

Citra visual

Makna                                                                otak

Objek (gambar) memberi sensasi pada mata. Mata mengirimkan rangsangan pada otak untuk berpikir. Citraan visual yang diterima oleh otak akan menghasilkan makna tertentu.

Gender merupakan sebuah cara untuk mengukuhkan konstruksi sosial mengenai pembagian peran yang sudah semestinya karena berbedanya jenis kelamin (Scott, 1986). Gender, seperti juga kelas sosial dan ras, menjadi sebuah sistem baku untuk melakukan pembedaan dalam konteks kekuasaan. Konsep gender adalah konsep yang terkait dengan relasi kekuasaan. Oleh sebab itu, gender menjadi konstruksi yang alamiah dalam konteks relasi kekuasaan. Dengan demikian, analisis akan bergerak dari gambar-gambar dan memaknai hubungan antara anak laki-laki dan anak perempuan dengan melihat faktor kinesik dalam gambar tersebut.

 

  1. 2. Pembahasan

Dari ketiga buku yang dijadikan sebagai objek penelitian, diambil dari gambar-gambar yang menunjukkan interaksi antara anak laki-laki dan anak perempuan.

2.1 Pencitraan Anak Laki-laki dan Anak Perempuan dalam Sampul Muka

Seperti sudah dijelaskan, buku Bahasa Indonesia yang dijadikan sumber data adalah tiga buku yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) melalui buku elektronik. Analisis akan diawali dengan sampul muka (cover) ketiga buku tersebut. Dalam gambar sampul muka ketiga buku itu ditampilkan anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, anak laki-laki dan anak perempuan ditampilkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Perhatikan gambar sampul muka ketiga buku berikut.

 

 

 

Gambar 1                               Gambar 2                   Gambar 3

 

Dalam Gambar 1 ukuran gambar anak laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan gambar anak perempuan. Pada Gambar 2 Anak perempuan digambarkan lebih besar daripada anak laki-laki. Dalam Gambar 3 anak laki-laki dan anak perempuan digambarkan dengan sama besar.

Ukuran gambar yang berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan pengutamaan pada salah satu. Dalam Gambar 1 terlihat anak laki-laki sedang duduk dengan pakaian lengkap seragam sekolah dan topi. Sementara itu,  anak perempuan yang digambarkan lebih kecil juga memakai seragam tanpa topi. Anak laki-laki tampak antusias melihat buku yang diambil dari sebuah kotak. Pancaran antusias tergambar dari sorot matanya yang besar dan terlihat ceria. Di bagian belakang anak perempuan sedang memperhatikan anak laki-laki dengan posisi berlutut,  tangan dikepalkan di depan dada, kepala sedikit tertunduk ke arah kiri, dan raut muka yang tidak gembira. Anak perempuan sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh anak laki-laki, sedangkan anak laki-laki terlihat tidak peduli akan kehadiran anak perempuan di dekatnya.

Dalam Gambar 2 gambar anak perempuan lebih besar daripada gambar anak laki-laki. Anak perempuan sedang memegang kertas yang bertuliskan huruf “abc”, sedangkan anak laki-laki tampak sedang berjalan dengan menggendong tas dan memegang buku. Mimik muka kedua anak itu tampak berbeda. Mimik anak perempuan tampak ceria dengan mata yang bersinar besar serta mulut yang sedikit terbuka, memperlihatkan seorang anak yang bersemangat. Sementara itu, mimik anak laki-laki tampak lesu dan tidak bersemangat. Gaya berjalan dan sikap tubuh yang ditunjukkan oleh anak laki-laki bertentangan dengan sikap tubuh dan gaya yang ditunjukkan oleh anak perempuan.

Dalam Gambar 3 anak laki-laki dan anak perempuan sedang berjalan beriingan. Gambar dibuat dengan sama besar. Sikap yang ditunjukkan oleh keduanya tidak berbeda. Yang berbeda adalah anak perempuan tampak mengangkat tangan kanannya kepada seorang wanita dewasa yang berdiri di pintu gerbang. Wanita dewasa (mungkin ibu guru) juga mengangkat tangan kanannya.

Gambar pada ketiga sampul buku pelajaran Bahasa Indonesia ini menampilkan citra yang berbeda antara anak laki-laki dan anak perempuan. Gambar 1 lebih mengutamakan anak laki-laki. Anak perempuan hanya merupakan pelengkap. Dalam Gambar 2 sikap yang ditunjukkan oleh anak perempuan lebih antusias, sedangkan anak laki-laki digambarkan tidak bergairah. Pada Gambar 3 posisi anak laki-laki dan anak perempuan seimbang.  Setelah menganalisis sampul buku, akan dilanjutkan dengan menganalisis  gambar yang terdapat dalam buku.

 

 

2.2 Relasi tidak Seimbang antara Anak laki-laki dan Anak Perempuan

Dalam gambar-gambar yang ditampilkan pada ketiga buku ajar itu ada relasi tidak seimbang antara anak laki-laki dan anak perempuan. Pencitraan ini meliputi anak perempuan yang digambarkan dengan (a) pemalu, (b) pasif, (c) penakut/lemah, dan (d) tidak matang.

  1. a. Pencitraan Anak Perempuan Pemalu

Dalam Gambar 4 tampak gambar anak laki-laki sedang berjabat tangan dengan anak perempuan. Anak laki-laki digambarkan lebih tinggi daripada anak perempuan. Anak laki-laki menyodorkan tangan lebih panjang jika dibandingkan dengan anak perempuan.  Mimik muka anak laki-laki lebih hidup: mulut terbuka pertanda sedang berbicara dan mata bersinar. Mimik muka anak perempuan tampak pemalu dengan kepala sedikit tertunduk dan tangan kiri memegang tali tas yang agak diangkat sedikit hampir menutupi mulutnya.

 

Gambar 4

 

Sikap yang tidak jauh berbeda dengan Gambar 4 ditunjukkan oleh Gambar 5 walaupun gambar yang ditampilkan tidak seekspresif Gambar 4. Anak laki-laki memasukkan sebelah tangannya pada kantong celana, sedangkan anak perempuan menyatukan jari-jari tangannya dan melipatnya di depan badan (menunjukkan sikap malu). Mata anak laki-laki sedang terbuka dan mata anak perempuan sedikit tertutup.

 

 

Gambar 5

 

Dalam Gambar 6 anak laki-laki dan anak perempuan sedang di muka kelas. Namun, keduanya digambarkan dalam gestur yang berbeda. Tangan anak laki-laki tengah menunjuk sesuatu, sedangkan anak perempuan menumpukkan kedua tangan di depan badan.

 

 

Gambar 6

Dari ketiga gambar itu gestur yang ditunjukkan oleh anak laki-laki dan gestur yang ditunjukkan oleh anak perempuan sangat berbeda. Dalam Gambar 4 anak perempuan terlihat pemalu saat berjabat tangan dengan anak laki-laki (terlihat dari sodoran tangan yang lebih pendek). Sikap tubuh dan mimik muka keduanya dibuat berlawanan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Gambar 5 dan Gambar 6, yaitu posisi tangan yang ditunjukkan oleh anak perempuan menunjukkan sikap pemalu dan tidak percaya diri. Pencitraan seperti yang tampak dari Gambar 4, Gambar 5, dan Gambar 6 menunjukkan relasi yang tidak seimbang antara anak laki-laki dan anak perempuan.

 

  1. b. Pencitraan Anak Perempuan Pasif

 

Gambar 7

 

Dalam Gambar 7 tampak aktivitas menggambar yang dilakukan di luar kelas. Ada dua anak laki-laki yang sedang asyik menggambar dan anak perempuan yang sedang melihat pekerjaan seorang anak laki-laki. Di tangan anak perempuan ada buku gambar yang sama dengan yang dipegang oleh anak laki-laki, tetapi anak perempuan tidak sedang melakukan aktivitas menggambar.

 

 

 

Gambar 8

 

Dalam Gambar 8 anak laki-laki sedang berdiskusi atau mengobrol di dalam kelas. Sebelah tangan anak laki-laki terangkat, sedangkan mulutnya terbuka, pertanda sedang berbicara, sedangkan anak perempuan dalam posisi diam. pertanda sedang mendengarkan yang dibicarakan anak laki-laki.

 

Gambar 9

 

Gambar 9 menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan di pantai. Anak laki-laki sedang berlari sambil mengejar kapal-kapalan dan anak perempuan sedang duduk sambil membuat bangunan dari pasir.

Ketiga gambar tersebut (Gambar 7, Gambar 8, dan Gambar 9) menunjukkan aktivitas yang dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan. Gambar 7 aktivitas yang dilakukan di luar kelas, Gambar 8 aktivitas yang dilakukan di dalam kelas, dan Gambar 9 aktivitas yang dilakukan di luar sekolah. Ketiga gambar itu menunjukkan kesamaan sikap yang ditunjukkan oleh anak perempuan. Gambar 7 menunjukkan dua anak laki-laki yang sedang menggambar, sedangkan anak perempuan tidak menggambar (walau memegang kertas gambar), tetapi melihat pekerjaan anak laki-laki. Anak laki-laki yang sedang dilihat gambarnya tampak tidak peduli atau tidak tahu bahwa dia sedang diperhatikan. Pencitraan yang terdapat dalam Gambar 7 bukan hanya menunjukkan perempuan pasif (tidak mampu menggambar), melainkan juga tidak percaya diri karena harus melihat-lihat pekerjaan orang lain (anak laki-laki). Pada Gambar 8 posisi anak perempuan yang sedang mendengarkan lebih sejajar (bandingkan dengan Gambar 10), tetapi tetap posisi anak perempuan bukanlah posisi yang aktif. Pada Gambar 9 keduanya sama-sama melakukan aktivitas, tetapi aktivitas yang dilakukan berbeda. Anak laki-laki lebih aktif bergerak (berlari), sedangkan anak perempuan  pasif (duduk).

Berikut adalah gambar rangkaian cerita yang terdapat dalam dua buah buku yang berbeda (Gambar 10 dan Gambar 11). Dalam kedua gambar tersebut posisi anak perempuan bukan saja tidak aktif, melainkan tidak berkontribusi sama sekali. Perhatikan kedua gambar ini.

 

Gambar 10                                         Gambar 11

 

Gambar 10 dan Gambar 11 itu adalah sebuah rangkaian cerita. Gambar 10 terdiri atas tiga bagian gambar. Gambar dimulai dari seorang anak laki-laki yang sedang berjalan, gambar selanjutnya tiga anak laki-laki, dan gambar terakhir tiga anak laki-laki berikut seorang anak perempuan. Yang menarik, anak perempuan itu berdiri di belakang ketiga anak laki-laki. Dia bukanlah bagian dari percakapan yang dilakukan oleh ketiga anak laki-laki tersebut.

Gambar 11 juga merupakan rangkaian cerita. Gambar diawali dengan seorang lelaki yang sedang memancing ikan. Tampak ikan sudah menyangkut di ujung kailnya. Lelaki itu memancing dengan ditemani oleh anak perempuan yang sedang memegang buku. Di sisi lain tampak anak laki-laki berbadan besar yang sedang memegang daun berulat. Gambar berikutnya, anak laki-laki dan anak perempuan berdiri bersisian. Anak laki-laki terbuka mulutnya menandakan sedang berbicara dan anak perempuan sedang memperhatikan yang dipegang oleh anak laki-laki itu. Gambar terakhir lelaki dewasa sedang berbicara sambil mengangkat tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang ikan hasil tangkapan.

Gambar 10 dan 11 adalah rangkaian gambar yang membentuk rangkaian cerita. Dalam Gambar 10 anak perempuan hanya pelengkap, bahkan keberadaannya tidak penting sama sekali. Kedudukan anak perempuan bukanlah bagian dari kelompok itu, melainkan orang di luar kelompok yang berusaha untuk ingin tahu (bediri di belakang kelompok anak laki-kali yang sedang bercakap-cakap). Dengan kata lain, keberadaan anak perempuan dalam gambar itu sama sekali tidak diperlukan atau tidak berkontribusi dalam rangkaian cerita tersebut. Pada  Gambar 11 posisi anak perempuan lebih beruntung karena berdiri sejajar di samping ayahnya sambil memegang buku. Namun, kedudukannya tetap sebagai pelengkap. Keberadaan anak perempuan dalam Gambar 11 tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap cerita.

 

  1. c. Pencitraan Anak Perempuan Penakut dan Lemah

Berikut ini akan dibahas gambar-gambar yang memosisikan anak perempuan yang menjadi objek anak laki-laki. Kondisi seperti ini mendudukkan anak perempuan dalam posisi yang lemah. Perhatikan Gambar12 ini.

 

 

Gambar 12

 

Dalam Gambar 12 tampak anak laki-laki yang sedang berlari sambil membawa boneka, sedangkan di bagian belakang anak perempuan sedang menangis sambil berdiri tegak.

 

 

 

Gambar 13

 

Dalam Gambar 13 tampak anak laki-laki yang sedang menarik ikatan rambut anak perempuan dengan mimik muka ceria. Anak perempuan mengangkat kedua tangannya dan posisi badannya condong ke belakang. Mulut anak perempuan terbuka dan membulat. Hal ini menunjukkan kesakitan atau kekagetan.

 

 

Gambar 14

 

Dalam Gambar 14 anak perempuan sedang berlindung di balik badan anak laki-laki, sedangkan anak laki-laki menjaga dengan posisi kaki dan tangan terbuka. Di hadapan mereka berlalu seeokor kucing (?) yang sedang berjalan biasa (tidak sedang menyerang).

Dalam ketiga gambar itu (Gambar 12, Gambar 13, dan Gambar 14) kedudukan anak perempuan digambarkan dengan sangat tidak berdaya, sangat lemah, dan penakut. Dalam Gambar 12 anak perempuan berdiri tegak sambil menangis saat bonekanya direbut. Sementara itu, mimik muka anak laki-laki yang merebut boneka seperti mengolok-olok. Dalam kondisi ini perempuan bukan saja digambarkan dengan tidak berdaya (tidak melawan atau mengejar anak laki-laki), tetapi juga diposisikan sangat lemah (menangis). Hal yang sama tampak dalam Gambar 13, anak perempuan yang sedang dijambak rambutnya. Dalam gambar ini anak perempuan digambarkan sebagai sosok yang dapat diperdaya (dijambak rambutnya). Selain itu, anak perempuan juga digambarkan dengan lemah dalam Gambar 13 karena tidak mampu melawan perlakuan kasar dari anak laki-laki. Pencitraan yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari Gambar 14, yaitu perempuan bukan hanya takut (hanya) pada seekor kucing, melainkan butuh perlindungan anak laki-laki atas ketakutannya. Anak laki-laki berusaha untuk melindungi anak perempuan (terlihat dari posisi kaki dan tangan yang lebih terbuka). Namun, sungguh ironis ketakutan yang tergambar karena kucing tersebut tidak sedang menyerang dan anak perempuan tidak dalam posisi yang membutuhkan perlindungan. Pencitraan anak perempuan (Gambar 14) lemah, penakut, juga sekaligus digambarkan sebagai sosok yang memerlukan perlindungan laki-laki dalam ketakberdayaannya.

 

  1. d. Pencitraan Anak Perempuan yang Tidak Matang

Selain sosok anak perempuan yang dicitrakan pemalu, penakut, lemah, dan pasif, sosok anak perempuan juga digambarkan sebagai anak yang belum matang. Hal ini terlihat dalam Gambar 15 ini.

Gambar 15

 

Gambar 15 menunjukkan sebuah keluarga: orang tua dan dua orang anak. Anak perempuan (lebih kecil) sedang menarik tangan ayahnya (tangan ayah dan anak sama-sama terentang), sedangkan anak laki-laki (lebih besar) sedang mencium tangan ibunya. Gambar 15 itu menunjukkan anak laki-laki yang lebih matang (mencium tangan ibunya), sedangkan anak perempuan menarik tangan ayahnya (bukan mencium tangan ayahnya). Sikap yang ditunjukkan oleh anak perempuan dan anak laki-laki dibuat berlawanan. Dari satu sisi ini mungkin dapat dimaklumi karena anak perempuan lebih muda usianya daripada anak laki-laki. Namun, keberadaan anak perempuan dalam gambar tersebut menunjukkan bahwa anak perempuan tersebut belum matang.

 

2.3 Relasi Seimbang antara Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan

Selain gambar-gambar itu (Gambar 4 dan Gambar 15) yang menunjukkan relasi tidak seimbang antara anak laki-laki dan anak perempuan, ada gambar-gambar yang menunjukkan relasi harmonis dan seimbang antara anak laki-laki dan anak perempuan. Perhatikan rangkaian gambar-gambar berikut.

 

 

Gambar 16

 

 

 

Gambar 17

 

 

 

Gambar 18

 

 

Gambar 19

 

Aktivitas yang ditunjukkan oleh Gambar 16, Gambar 17. Gambar 18, dan Gambar 19 menunjukkan relasi yang harmonis antara anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam Gambar 16 anak perempuan sama-sama berlari dengan mimik muka gembira bersama-sama dengan dua anak laki-laki yang lainnya. Pada Gambar 17 tampak aktivitas yang dilakukan di rumah. Semua anggota keluarga berperan serta. Anak laki-laki dan anak perempuan bersama-sama melakukan pekerjaan rumah. Dalam Gambar 18 anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama sedang bernyanyi dan bermain musik. Pada Gambar 19 anak perempuan dan anak laki-laki bersama-sama sedang mengikuti kegiatan baris-berbaris. Citra positif yang ditunjukkan oleh anak laki-laki dan anak perempuan akan memberi pengaruh positif pada peserta didik. Anak perempuan bukan dijadikan pelengkap dalam berbagai kegiatan, melainkan sama berperan serta dalam semua kegiatan yang dilakukan.

 

2.4 Membaca Ideologi Gender dalam Gambar pada Buku Ajar

Goodman dalam Literature and Gender menjelaskan bahwa gender adalah hasil dari konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh stereotipe-stereotipe mengenai apa yang dikategorikan sebagai sifat atau perilaku perempuan yang berbeda dari laki-laki yang dicerminkan oleh perilaku dan cara pandang masyarakat. Pengertian gender dibedakan dari pengertian jenis kelamin seseorang yang merupakan faktor biologis dan tidak dapat diubah. Menurut Butler (1999), gender merupakan konstruksi sosial. Dengan demikian, gender tidak bersifat universal, tetapi plural. Makna gender tidak bersifat stabil karena konsep gender berubah dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat. Gender selalu terkait seperti ras, kelas, entitas, seksualitas, dan lokalitas. Jadi, tidak dapat bebas dari politik dan budaya yang memproduksi dan mempertahankannya.

Dalam sejarah filsafat, perempuan selalu direpresentasikan lewat tubuhnya dan laki-laki lewat rasionya. Sebagai dampak dari cara pandang tersebut terbentuklah stereotipe-stereotipe yang memosisikan perempuan sebagai kaum yang perlu dilindungi secara fisik dan perlu dipimpin secara intelektual. Hal ini menyebabkan perempuan ditempatkan sebagai kaum yang didominasi oleh laki-laki. Walaupun berbagai gerakan feminisme menolak perlakuan seksis tersebut, gambar-gambar dalam buku ajar, khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 1, masih menempatkan anak perempuan sebagaimana yang telah disebutkan.

Walaupun dalam beberapa gambar sudah menunjukkan posisi anak perempuan yang sejajar, pembuat ilustrasi masih menempatkan anak perempuan dalam perlakuan seksis, seperti telah dianalisis pada gambar-gambar yang dijadikan sebagai objek penelitian ini. Perempuan yang digambarkan dengan pemalu (Gambar 4, Gambar 5, dan Gambar 6) merupakan representasi dari cara pandang sekelompok orang yang diterima sebagai kebenaran bahwa perempuan yang baik hendaknya tidak agresif atau “harus” malu-malu. Perempuan pasif (Gambar 7, Gambar 8, dan Gambar 9), perempuan lemah dan panakut (Gambar 10, Gambar 11, dan Gambar 12) adalah cara pandang universal dan tampak bersifat alamiah dalam sebuah relasi kekuasaan. Cara pandang yang sebenarnya merupakan hasil sebuah konstruksi sosial yang langsung diinternalisasi sebagai kebenaran hakiki agar kelompok-kelompok yang diuntungkan (laki-laki) dari pandangan tersebut tetap dapat mempertahankan kekuasaannya.

 

  1. 3. Simpulan

Dari pembahasan tersebut penggambaran anak laki-laki dan anak perempuan dalam ilustrasi buku Bahasa Indonesia untuk kelas 1 diringkas sebagai berikut.

 

No. Pencitraan Anak Perempuan dan Anak Laki-Laki dalam gambar pada  Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Kelas 1

Anak Laki-Laki

Anak Perempuan

1. Pencitraan Anak Perempuan Pemalu Sikap Tubuh
Bersalaman dengan tangan menyodorkan sebagian tangan Bersalaman dengan menyodorkan seluruh tangan dan tangan yang lain berusaha menutupi mulut. Kepala tertunduk.
Berdiri saat bercakap-cakap: badan tegak, tangan yang satu dimasukan dalam kantong celanan Badan tidak tegap, jari-jari bersilangan dan tangan disimpan di depan badan
Mimik Muka
Mata terbuka lebar, mulut terbuka dengan sikap antusias Mata tertutup, mulut terbuka sedikit, tidak antusias
2. Pencitraan Anak Perempuan Pasif Sikap Tubuh

 

 

Melakukan aktivitas fisik (bergerak/pindah): menggambar, berbicara, berlari Tidak melakukan aktivitas fisik: melihat, mendengarkan, duduk
3. Pencitraan Anak Perempuan Lemah dan Penakut Sikap
Merebut, menjambak, melindungi Menangis, berteriak, berlindung
Mimik muka
Mengejek, senang, bengis, Sedih, kesakitan, ketakutan
4. Pencitraan Anak Perempuan Tidak Matang Sikap
Bersalaman & mencium tangan orang tua (ibunya) Menarik tangan ayahnya
5. Posisi Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan dalam Gambar Subjek Objek
Subjek

Menjambak

Merebut

Melindungi

Bercerita

Menyalami

Objek

Dijambak

Direbut

Dilindungi

Diceritai

Disalami

6. Kedudukan Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan dalam Gambar (cerita) Berperan aktif dalam kelompok (berdiskusi)

 

Memperhatikan dari belakang
Melakukan aktivitas (percobaan, dll) Melihat aktivitas yang dilakukan oleh anak laki-laki

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembuat ilustrasi/gambar dalam buku-buku ajar masih memberikan stigma negatif kepada anak perempuan walaupun pada kenyataan yang sesungguhnya tidaklah demikian. Pembuat ilustrasi secara umum melihat anak perempuan sebagai sosok pemalu, pasif, penakut, dan perlu perlindungan. Kondisi yang lebih buruk menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap tanpa memberikan kontribusi apa pun dalam gambar tersebut.

Pencitraan itu dapat memberi pengaruh yang kuat kepada peserta didik, khususnya anak-anak pada kelas awal (kelas 1). Mengingat gambar memberi pengaruh yang kuat kepada anak-anak, hendaknya dipilih gambar-gambar yang memberikan stigma positif, baik pada laki-laki maupun perempuan.

 

 

Daftar Pustaka

Butler, Judith. 1999. Gender Trouble. New York and London: Routledge.

Goodman (ed.). 1996. Literature and Gender. New York and London: Routledge.

Jaruki, Muhamad. 2008. Bahasa Kita Bahasa Indonesia untuk kelas 1 SD/MI. Buku Elektronik Pusat Perbukuan. Jakarta.

Kusmayadi, Ismail. Dkk. 2008. Belajar Bahasa Indonesia itu Menyenangkan untuk Kelas 1 SD/MI. Buku Elektronik Pusat Perbukuan. Jakarta.

Morris, Desmond. 1977. Man Watching. Harr n. Abrams, Inc., Publishers. New York.

Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sarwono, Jonathan dan Hary Lubis. 2007. Metode Riset untuk Desain Komunikasi Visual. Andi. Yogyakarta.

Suyatno, H.;dkk. 2008. Indahnya Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SD/MI kelas 1. Buku Elektronik Pusat Perbukuan. Jakarta

Tong, Rosmarie Putnam. 1998. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikir Feminis. Aquarini Prabasmoro (penerjemah). Yogyakarta: Jalasutra.

Yulaelawati, Ella dkk. 1994. Penulisan Bahan-Bahan Pelajaran: Buku Acuan bagi Penulis Bahan-Bahan Pelajaran dan Buku-Buku Panduan Guru. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s