D. ZAWAWI IMRON: MADURA DALAM PUISI INDONESIA

Wan Anwar

Abstrak

D. Zawawi Imron adalah seorang penyair yang setia menghadirkan nuansa tanah kelahirannya, Madura dalam puisi-puisinya. Kekhasan gaya pengucapan dan konsistensinya membuat dirinya menempati posisi yang khas dalam sejarah perpuisian Indonesia.

Tulisan ini mengupas lebih dalam mengenai gagasan D. Zawawi Imron, terutama gagasan dalam puisi-puisi yang berlatarkan Madura dikaitkan dengan keindonesiaan.

 

Kata Kunci: D. Zawawi Imron, Madura, puisi, keindonesiaan

 

Abstract

D. Zawawi Imron was a loyal poet presented nuances of his birth land, Madura in his poetries. His unique style in pronunciation and his consistency have made him get his own position in the history Indonesian poetry. This article concerns with the D. Zawawi Imron idea, especially the idea in poetries with Maduranese background connected in an Indonesianess.

Key word: D. Zawawi Imron, Madura, poetry, Indonesianess

1. Pendahuluan

Sastra Indonesia modern pada dasarnya merupakan bentuk ekspresi baru yang ditransformasi dari peradaban Barat. Oleh karena itu, sejak awal kelahirannya pertentangan (konflik) dunia modern dengan dunia tradisi merupakan tema utama yang muncul dalam sastra Indonesia. Karya-karya Balai Pustaka dan Pujangga Baru, misalnya, menggambarkan pertentangan budaya tersebut. Polemik Kebudayaan (tahun 30-an) tidak lepas dari situasi kebudayaan saat itu: kehadiran dunia baru/modern (Barat) di tengah dunia lama (tradisi). Sastra Indonesia kemudian berkembang dalam “rindu-dendam” pertentangan budaya tersebut, bahkan hingga kini masih terasa dengan versi dan variasi yang berbeda.

Hingga kini bentuk ekspresi sastrawan kita masih dapat dikatakan bentuk ucap baru karena mereka umumnya memiliki “bahasa/budaya ibu” (tradisi). Hampir seluruh sastrawan kita menggauli bahasa (budaya) Indonesia sebagai bahasa (budaya) kedua karena bahasa/budaya pertama mereka adalah bahasa/budaya daerah. Tarik menarik antara “kedaerahan dan keindonesiaan” tidak terelakkan, bahkan ketika globalisasi kini makin merangsek ke berbagai sendi kehidupan. Pada taraf tertentu wawasan keindonesiaan dan/atau  globalisasi yang memungkinkan terjadinya penyeragaman budaya, justru melahirkan sikap makin peduli pada budaya (tradisi) sendiri. Pada masa awal pembangunan keindonesiaan “semangat kedaerahan” memang sering tergusur dan terlupakan, tetapi kini terbuka untuk melakukan “reaktualisasi kedaerahan”, termasuk dalam bidang sastra dan budaya.

Di tengah pergulatan dan saling silang komunikasi beragam kebudayaan, perkembangan sastra Indonesia sekurang-kurangnya memperlihatkan dua arus tarikan; pertama, arus yang kental berorientasi pada budaya Barat dan kedua yang cenderung menggali khazanah budaya daerah. Demikian dikatakan Mursal Esten dalam suatu seminar di Padang (1988) melalui makalahnya “Sastra Indonesia dan Akar Budaya Indonesia”. Dalam makalah itu Mursal Esten  menegaskan arus pertama tampak pada karya-karya STA serta Chairil Anwar dan arus kedua terlihat pada karya-karya Ajip Rosidi, Rendra, Umar Kayam, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Wisran Hadi, Abdul Hadi W.M., Zawawi Imron, Ahmad Tohari, dan S.M. Ardan, misalnya. Perkembangan arus kedua itu dimulai tahun 60-an dan makin subur tahun 70-an.

Jika dilihat dari kedua arus itu, Zawawi Imron teranglah berada dalam arus kedua. Itu sebabnya alam-budaya (khazanah) Madura kental terasa, juga khasanah Makasar (dalam Berlayar di Pamor Badik), khazanah Gorontalo (dalam Zamrud Serambi Mekah), bahkan dalam Refrein di Sudut Dam (2003) yang ditulis ketika ia mengunjungi Belanda/Eropa tahun 2002. Singkat kata, alam budaya daerah, khususnya daerah Madura, merupakan orientasi utama kerja kepenyairan Zawawi Imron.

 

2.  Madura dalam Puisi

Buku puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996; cetakan kedua, 2000) terdiri atas 4 bagian (subkumpulan puisi): Semerbak Mayang (24 sajak), Madura, Akulah Lautmu (11 sajak), Tembang Dusun Siwalan (17 sajak), dan Bantalku Ombak Selimutku Angin (7 sajak). Amat jelas puisi-puisi dalam buku ini menghadirkan gambaran alam budaya Madura bagi khazanah keindonesiaan.

Kekayaan alam Madura, terutama dalam buku puisi ini, muncul dominan hampir dalam setiap bait puisinya. Diksi siwalan, nira atau lahang, lenguh sapi, bulan purnama, bukit dan lembah, tongkol pisang, kopyor, gula, lokan-lokan dan mutiara, sawah dan petani, laut dan nelayan, musim kemarau, sumur kering, tanah coklat, garam, angin dan  gelombang, misalnya, tersebar dalam puisi-puisinya. Diksi-diksi itu secara khusus mengacu pada keberadaan alam Madura yang dikelilingi laut, dihiasi bukit-bukit dan lembah, dihuni para petani dan nelayan, serta menghasilkan produk pertanian dan hasil-hasil lautan. Jika dilihat dari diksi saja, puisi-puisi Zawawi jelas berpijak pada alam dan berbicara tentang khazanah masyarakat Madura.

Alam dalam kerja kepenyairan Zawawi Imron, sebagaimana dalam Priangan si Jelita, Ramadhan K.H., misalnya, merupakan inspirasi utama yang kemudian tampil menjadi idiom (metafora atau perbandingan) dalam puisinya. Majas-majas itu umumnya digunakan untuk mengungkapkan “sesuatu” atau disandingkan dengan perasaan/kegelisahan aku lirik ketika mengungkapkan sesuatu/segugus makna. Tentu saja diksi-diksi alam dalam puisi-puisi Zawawi tidak selalu hadir sebagai idiom, tetapi juga sebagai gambaran realitas alam itu sendiri. Puisi di situ tampil penuh dengan ambiguitas baik sebagai teks itu sendiri (potensi ambigu dalam jalinan teks) maupun dalam resepsi pembacanya (potensi ambigu dalam pencerapan pembaca).

Susunan diksi alam sebagai idiom/majas yang disandingkan dengan kegelisahan/perasaan aku lirik dengan sendirinya menghasilkan ungkapan-ungkapan yang segar: nira kecut yang bersumber dari makna (“Anak Malang”), mayat semerbak mayang (“Sajak Ungu Lembah Tamidun”), seteguk nira yang bening yang menetes dari matamu (“Pesan”), restuku semerbak mayang (“Semerbak Mayang”), sedap kopyor susu dan ronta kenakalanku (“Ibu”), lalu kuteruskan perjalanan/jalan berdebu, aku jalan kaki/pohon siwalan di kana kiri/lahang atau hatinyakah/yang kuminum barusan ini?/mengapa dadaku semakin dahaga/malam-malam tiba di rumah/hanya tubuhku yang bisa pulang/hatiku tertinggal di kebun siwalan (“Di Kebun Siwalan”), anakku, tumpuan harapanku/wangi hati ayahmu/dimulai di pohon itu (“Senja yang Merah”), jika kini kuteguk air kelapa muda/yang kubeli pada orang dusun yang sederhana/apa kau nanti merasakan seperti aku/dahaga ribuan jiwa? (“Di Pantai Salopeng”), dan varian-varian larik lain yang mengesankan sekaligus menyaran pada pesan atau makna yang ingin dikomunikasikan.

Kehadiran diksi alam sebagai idiom/majas berpadu dengan diksi-diksi dari lingkungan budaya, kebiasaan (tradisi) masyarakat Madura, misalnya: saronen, kerapan sapi, pisau (belati), celurit, berlayar, merantau, pukat, gong dan gendang, suara bonang, doa, gembala, salampar, dan lesung.

Sebagaimana diksi-diksi dan idiom-idiom alam, diksi-diksi dari lingkungan budaya Madura pun sering disandingkan dengan perasaan/kegelisahan aku lirik untuk memperkuat sesuatu yang disarankan puisi. Dengan pola ucap seperti itu kerap sulit dibedakan mana diksi alam dan mana diksi budaya, keduanya tampil menyatu sebagai sesuatu (budaya) yang tampak khas Madura.

Perpaduan (menyatunya) diksi alam dengan perasaan/kegelisahan aku lirik terlihat misalnya pada larik-larik: bunyi saronen/suara sedih penghuni (“Puisi Hitam”), di palung bukit di batang-batang/talu lesung berlentung-lentung/lantara ibuku menumbuk padi/sisa panen semusim lalu/maka akan kamu biarkankan angin semilir ini/tanpa kamu naikkan layang-layangmu/untuk menentang kesepian? (“Kembang-kembang Tanah Sumekar”), hati-hati memasak garam!/pagar bermata/ angin akan sampai/berbisik ke setiap telinga (“Pembunuh”), Kiai Poleng mengidung di atas bubungan/–Cung kuncung konce/wadon mutamat lanang sejati/telah diminum getah jarak/telah dikunyah pinang muda/yang genap telah ganjil/yang ganjil telah genap (“Sepasang Mempelai”), Hai, perempuan-perempuan di atas bukit!/kabar amis bagimu/sediakan daun widara/dan rautlah kayu cendana (“Padang Kaduwang”), dan  tanah kelahiran yang besok mulai kusungkal!/sepuluh tahun engkau kutinggal/karena di atasmu aku tak sudi/ada selaput pecah/di luar nikah (“Jumarit”).

Orientasi Zawawi Imron sebagai penyair yang mengerahkan energi kreatifnya untuk menghadirkan Madura dalam puisi Indonesia dengan memetik diksi alam dan budaya (tradisi) Madura agaknya merupakan upaya untuk menelisik manusia dan kehidupan sosial masyarakat Madura. Dalam hal ini manusia dan masyarakat Madura hidup di dua alam, yakni alam budaya modern (kota) dan budaya tradisi (kampung). Itu sebabnya hubungan desa dan kota menjadi tema utama yang digelisahkan Zawawi Imron, selain tema eksistensi diri beserta kegelisahan, kesunyian, dan perenungan hakikat hidup yang menyertainya. Jika dilihat dari sudut ini, ada banyak puisi Zawawi yang sesungguhnya merupakan protes sosial meski dilantunkan sebagai nyanyian pilu, bukan teriakan dari tangan yang dikepalkan.

Hubungan antara desa (tradisi) dan kota (modernitas) dalam puisi-puisi Zawawi Imron agaknya memang merupakan masalah sosial yang membelit manusia (masyarakat) Madura dewasa ini. Desa yang sunyi, miskin, dan terlupakan dengan sendirinya mendorong penyair bertanya, misalnya, arti kemerdekaan bagi orang dusun (“Puisi Hitam”), kemiskinan dan nasib menyedihkan di tanah Madura yang kerontang (“Dari Kamal ke Kalianget”), kebiasaan merantau dan kesepian para petani (“Pengembara”), makna dan hakikat merantau untuk menghapus kemiskinan, memperluas persahabatan dan memperdalam pengalaman (“Ayah”), dan nasib tragis yang mengharukan bagi orangtua/kakek-nenek yang ditinggal anak/cucunya mengembara/merantau (“Mawar dan Nenek Tua”).

Seperti umumnya kondisi daerah-daerah di Indonesia, Madura dalam puisi-puisi Zawawi hadir sebagai masyarakat yang dirundung kemiskinan. Sebagaimana juga terlihat dari puisi-puisinya, baik eksplisit maupun implisit,  kemiskinan itu terjadi karena pembangunan di negeri ini terlalu berpusat di kota-kota besar, terutama Jakarta, bahkan ketika era Reformasi atau politik desentralisasi (otonomi daerah) sudah hampir 10 tahun kini bergulir. Di Indonesia kata “daerah” sering langsung berkonotasi negatif karena merupakan tanda kemiskinan, pinggiran, udik, kurang beradab, kurang maju, terbelakang, baik dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan. Orang-orang daerah dalam konteks ini dapat dikatakan mengalami semacam perasaan homeless karena di satu sisi berhadapan dengan dunia modern (budaya kota) yang tidak mudah untuk dimasuki, di sisi lain akar budaya (tradisinya) mulai lepas dari jiwa dan raganya.

Gambaran kondisi Madura sebagai daerah miskin dan terpinggirkan memang tidak sulit ditemukan dalam puisi-puisi Zawawi Imron. Akan tetapi, meskipun Madura itu miskin, ternyata penduduknya amat mencintainya sehingga mereka yang merantau selalu merindukan untuk kembali ke kampung halaman. Pulang menjadi sesuatu yang dirindukan karena meskipun Madura itu miskin dan kerontang, pada akhirnya merupakan tempat yang kepadanya segala cinta dan luka dilekatkan. Madura –perhatikan puisi “Madura, Akulah Lautmu”, “Madura, Akulah Darahmu”, atau puisi “Ibu”–bagi Zawawi rupanya adalah darah, tangis, jantung, dan hati yang senantiasa memompa gairah hidup orang Madura meskipun dalam kondisi miskin, kesepian, dan terlupakan. Dalam penggambaran semacam ini terasa nada umum puisi-puisi Zawawi Imron adalah semacam ode (pujaan) untuk “tanah air” atau “tanah kelahiran” yang bernama Madura itu.

Perhatikan beberapa contoh larik yang menggambarkan kemiskinan Madura dan ketenteraman hati penduduknya: kalau di rantau tak ada rumput menghijau/wahai, sapi kerapanku!/segeralah pulang ke kandang teduh!/ke ribaan bunda yang kosong/nasi ubi dan sayur singkong (“Ibu Bersama Rindu”), tentang merantau sebagai suatu keharusan/kebiasaan, tetapi juga kepulangan yang juga keharusan/kebiasaan (“Nyanyian Kampung Halaman”), di tanah wangi siwalan ada sepi, ada petani yang miskin, ada nyanyian pilu, tetapi di situ pula makna hidup tumbuh (“Musim Labuh”), kalau aku merantau lalu datang musim kemarau,/sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting/hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir (“Ibu”).

Demikianlah, Madura adalah kampung halaman yang dirindukan, sepahit dan sesakit apa pun keadaannya. Itu sebabnya barangkali yang menyebabkan Zawawi Imron senantiasa khusuk mencintai dan memujanya. Gaya ode/pemujaan lebih jelas lagi pada puisi-puisi persembahan untuk pahlawan (baik pahlawan Madura maupun dalam konteks keindonesiaan), misalnya puisi “Kepada Patimura”, “Padang Kaduwang”, “Padang Parapat”, “Padang Landing”, “Pertemuan dengan Pak Dirman”, “Di Bawah Layar”, “Pahlawan dari Sampang”, dan tentu sosok ibu yang ditempatkan sebagai “pahlawan paling utama dan pertama” dalam puisi berjudul “Ibu”.

Zawawi Imron dengan demikian adalah penyair yang mencintai dan memuja “tanah kelahiran dan tempat tinggalnya” sebagai kampung yang setia dipuisikan, bahkan dijadikan tempat tinggal jiwa dan raganya. Tentu saja ini tidak berarti Zawawi tidak peduli pada khazanah keindonesiaan. Kecintaannya pada Madura sepatutnya dipandang sebagai bentuk cinta terhadap keberagaman Indonesia yang dibangun oleh kekayaan alam/budaya daerah-daerah di Indonesia, termasuk Madura. Lagi pula, ia sendiri menulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi tanda sekaligus alat persatuan Indonesia. Dalam bahasa Louis Althusser, puisi-puisi Zawawi Imron, sebagaimana puisi-puisi penyair Indonesia lainnya, merupakan bagian dari “aparatus Negara ideologis” untuk melanggengkan suatu “ideologi” kebangsaan yang bernama Indonesia, sekalipun ia mengisinya dengan kekayaan budaya dan spiritual yang lahir dan hidup di sebuah masyarakat etnis (daerah/budaya daerah) bernama Madura.

Selain mencintai dan memuja Madura, Zawawi Imron adalah penyair yang amat mencintai dan memuja sosok ibu, baik ibu sebagai ibu biologis maupun ibu sebagai “spirit” yang dalam hal ini boleh jadi adalah Madura sendiri. Bagi Zawawi, ibu (perempuan) tegas memiliki makna luhur sehingga leluhurnya (kesedihan, penderitaan) adalah nenek moyang (nenek moyangku airmata, katanya!). Maka, Zawawi tidak menyebut leluhur dalam pengertian manusia pendahulu dengan sebutan “nenek moyang”, melainkan “kakek moyang” karena nenek moyang adalah air mata (Madura) itu.

Jika dilihat dari cara bertutur, puisi-puisi Zawawi Imron umumnya bersifat (puisi) lirik. Oleh karena itu, ia tidak lain adalah seorang penyair lirik yang memiliki kepekaan kuat terhadap geliat dan “putih tulang” kata yang disentuhnya. Memang dalam Bantalku Ombak Selimutku Angin terdapat pula sejumlah puisi naratif-dramatik atau paling tidak paduan lirik-naratif, seperti tampak pada puisi-puisinya yang mengisahkan suatu peristiwa, termasuk ode untuk para pahlawan, leluhur, dan sejenisnya. Namun, kekuatannya dalam menemukan kata, menyusun kata-kata dalam suatu rangkaian majas yang segar, tidak bisa tidak memperkuat keberadaannya sebagai penyair lirik penting di Indonesia.

Uraian tersebut memang sengaja difokuskan pada puisi-puisi Zawawi Imron yang terkumpul dalam Bantalku Ombak Selimutku Angin (merangkum karya-karya dalam rentang 1963 hingga 1995, dari masa paling awal kepenyairan hingga perkembangannya 30 tahun kemudian). Namun, sejauh terlihat dari puisi-puisi dalam buku itu, puisi-puisi yang ditulis belakangan tidak dengan sendirinya menunjukkan kualitas yang lebih (matang) jika dibandingkan dengan puisi-puisi yang ditulis pada masa awal kepenyairannya. Dapat dikatakan bahwa di setiap masa penulisan lahir puisi yang matang, kuat, baik dari segi diksi, idiom, maupun kesatuan suasana dan makna, selain itu terdapat pula puisi yang belum dapat dikatakan berhasil. Namun, satu hal yang amat jelas bahwa representasi alam budaya Madura dalam kumpulan puisi ini lebih tampak menonjol jika dibandingkan, misalnya, dengan puisi-puisi dalam Bulan Tertusuk Lalang (1982), Nenekmoyangku Airmata (1985), hingga Refrein di Sudut Dam (2003). Pada ketiga buku puisi terakhir khazanah Madura tidak tampil secara fisikal (eksplisit), tetapi lebih implisit menjadi gambaran pengalaman universal, meski diksi atau idiom Madura tetap terasa.

Masalah kualitas atau kematangan puisi tentulah tidak bergantung pada masa penulisan. Melalui esei “Sajak tentang Sajak” ketika membicarakan puisi-puisi Zawawi Imron, Subagio Sastrowardoyo dengan kritis membuktikannya. Subagio mengira puisi-puisi dalam Nenekmoyangku Airmata ditulis lebih kemudian jika dibandingkan Bulan Tertusuk Lalang karena puisi dalam buku pertama lebih matang dan dewasa, baik dalam hal tema maupun daya ucap. Ternyata, masa penulisan kedua buku itu nyaris berlangsung pada tahun bersamaan, yakni 1974-1981.  Itu berarti bahwa pada setiap masa penulisan memang lahir puisi-puisi matang sekaligus puisi-puisi yang dianggap kurang berhasil.

Sudah dikatakan di muka, secara umum puisi-puisi Zawawi Imron adalah puisi-puisi yang memperlihatkan rasa cinta yang dalam terhadap alam budaya Madura. Dengan mengambil contoh puisi “Madura, Akulah Darahmu” dan puisi “Ibu”, melalui esei “D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia” Jamal D. Rahman, bahkan menegaskan bahwa cinta Zawawi terhadap Madura adalah cinta yang aktif, hal yang berbeda dengan cinta pada sosok ibu yang bersifat pasif.

Agaknya cinta yang mendalam dan aktif terhadap Madura itulah yang membuat Zawawi Imron terus berproses menulis puisi yang senantiasa berakar pada alam dan budaya Madura, meskipun pada karya-karyanya yang kemudian alam budaya Madura tidak lagi tampil eksplisit, sebagaimana dalam buku Bantalku Ombak Selimutku Angin yang kita bicarakan ini. Cara pandang terhadap Madura seperti itu terlihat pula dalam Berlayar di Pamor Badik (berpijak pada khazanah Bugis-Makasar) atau Serambi Zamrud Madinah (berpijak pada khazanah Gorontalo). Dalam puisi-puisi itu tegas terasa bahwa sepahit apa pun kampung halaman tetaplah tampil sebagai kampung halaman yang dirindukan. Cara pandang semacam ini dalam beberapa hal membuat sajak menjadi tipikal sehingga keutuhan sebagai sosok (alam, manusia, dan budaya) adakalanya kurang tergambar utuh. Contoh yang paling gampang adalah puisi-puisi ode untuk pahlawan yang dicitrakan sebagai sosok tanpa cela dan cacat. Dengan kata lain pandangan dunia yang digunakan untuk menulis tidak lain adalah kampung halaman sendiri yang didambakan: Madura!

 

3. Zawawi Imron dan Keindonesiaan

Sejak awal Zawawi Imron memang menulis dalam bahasa Indonesia. Ia menulis dalam bahasa Indonesia bukan karena bahasa Madura adalah “labu busuk yang dikerumuni lalat” (istilah Okot p’Bitek dalam Afrika yang Resah) dan ia pun kental menghadirkan alam-budaya Madura bukan karena “keindonesiaan” merupakan sumber masalah yang harus dihujat dan dikritik. Bagi Zawawi, Madura adalah kampung halaman (budaya tradisi/daerah) yang dirindukan, yang pada gilirannya memiliki peluang untuk turut merespons kelemahan-kelemahan keindonesiaan sekaligus memberikan kontribusi nyata baginya.

Hal itu membedakan Zawawi dari sejumlah sastrawan kini, terutama setelah Soeharto jatuh, yang menulis sastra Indonesia warna lokal (budaya daerah) karena menganggap pusat “kemodernan Indonesia” (Jakarta dan cara pandang sosial-politik-nasionalnya) sebagai “sumber masalah”. Oleh karena itu karya-karya Zawawi tidak tampil beringas, tetapi lembut sebagai nyanyian atau semacam ode (pujaan) kepada alam, sosial, dan budaya. Pemujaan itu tidak lahir dari kebencian terhadap “kemodernan Indonesia”, meskipun dalam beberapa karya dihadirkan kemiskinan Madura (sisi lain Indonesia) yang terpinggirkan.

Berbeda pula dengan Chairil Anwar yang memuja Barat, pemujaan Zawawi terhadap Madura dibarengi penerimaan wajar terhadap kemodernan Indonesia sehingga ia tidak dirundung gelisah dalam bentuk ucap puisinya. Zawawi tidak pernah terlepas dari akar lokal budaya (Madura) dan juga tidak menjauhkan diri dari kemodernan Indonesia sebagai kenyataan yang wajar. Justru di antara keduanya berjalan beriringan, saling mengisi, memahami, dan memberi.

Sebagaimana sastrawan Indonesia lainnya, Zawawi pada dasarnya merupakan  “manusia perbatasan” karena kehadiran modernitas sebagai budaya baru “bertabrakan” dengan budaya tradisi yang berakar di hati manusia Indonesia. Sebagai manusia perbatasan, tentu ia dilanda kegelisahan, terombang-ambing pilihan, yang akhirnya memunculkan konflik, baik fisik maupun batin.  Berkaitan dengan keterombang-ambingan, Ajip Rosidi pernah mengutarakan perasaannya. Ketika ia hidup di Jatiwangi, Jakarta dibayangkannya sebagai kota impian dan harapan. Akan tetapi, ketika ia hidup di Jakarta, Jatiwangilah yang dirindukan. Namun, manakala kembali ke Jatiwangi justru Jatiwangi tidak lagi memberikan rasa betah. Maka, mengembara ke luar negeri, secara batin ataupun fisik, merupakan alternatif untuk meredakan ketegangan. Itu sebabnya (mungkin) Ajip betah tinggal di Jepang, meski akhirnya kembali ke kampung halamannya: tanah Sunda dan segala masalahnya!

Berbeda dengan kebanyakan sastrawan Indonesia yang tidak betah di “kampung halaman”, Zawawi Imron hingga kini menetap di Madura dan terus menulis puisi dengan muatan kemaduraan. Adakah ia merasa jemu sebagaimana Ajip Rosidi dan sastrawan lain yang kemudian menjadi “Malinkundang”, sebagaimana tampak pada banyak karya sastra kita?!

Mungkin hanya Zawawi yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Namun, patut dicatat bahwa Zawawi tidak melulu hidup dan menulis tentang Madura. Ia intens menulis khazanah Bugis-Makasar (Berlayar di Pamor Badik, 1994), menulis persentuhannya dengan Eropa (Refrein di Sudut Dam, 2003), bahkan menulis masyarakat Gorontalo (Zamrud Serambi Madinah, 2004). Dengan kata lain ia “merantau” juga ke alam budaya di luar Madura, sekaligus mengembara ke banyak kota/daerah, baik di Indonesia maupun di mancanegara. ***

 

Daftar Pustaka

Miharja, Achdiat K. 1977. Polemik Kebudayaan.

Esten, Mursal. 1999. Kajian Transformasi Budaya.

Sastrowardoyo, Subagio. 1992. “Menilai Karya Berwarna Lokal”. Dalam Sekilas Soal Sastra dan Budaya

Althusser, Louis. 2008. Tentang Ideologi (Essay on Ideology). Diterjemahkan oleh Olsy Vinoli Arnof.

Sastrowardoyo, Subagio. 1989. “Sajak tentang Sajak” dalam Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan.

Rahman, Jamal D. 2001. “Duta Madura untuk Sastra Indonesia”. Artikel dalam Jurnal Puisi No. 1 Tahun 2001

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s